Satu Lagi, Tentang Hujan

Rabu, 11 Maret 2015





Adakah orang yang dapat mengalahkan hujan?

Manusia Indonesia dikenal tukang nekat dan tidak takut apapun.

Menyeberang jalan tidak pada tempatnya karena jembatan penyeberangan dianggap menyusahkan dan zebra cross letaknya kejauhan.

Melintasi pintu kereta yg sudah tertutup dengan jalan santai sudah biasa karena dianggap keretanya masih jauh.

Mengendarai motor yang tidak ada polisinya yaa...tidak perlu pakai helm-lah. Toh cuma sebentar dan jaraknya dekat.

Sudah tahu terlambat kuliah tapi masih juga berjalan santai, beranggapan 'dosennya baik kok'.


Tapi ketika hujan turun....


Semua berlari, mencari tempat berteduh. Terutama bagi mereka yang tidak membawa payung. Mereka berlari seperti harus mengejar sesuatu yang sangat penting atau berusaha sekencang mungkin menghindar dari sesuatu yang tidak mereka sukai. Mereka berlari hanya karena, HUJAN?

sumber: www.askville.com

 Adakah orang yang dapat mengalahkan hujan?

Saat seorang anak mau menikah, orang tua mengundang pawang hujan. Berharap hujan tidak turun di hari istimewa anaknya agar acara berjalan dengan lancar. Ternyata hujan turun deras tepat di hari-H. Tenda basah, pelaminan terkena cipratan hujan. Suasana tidak nyaman, pasangan pengantin bete seharian.  Kalau ternyata hujan tetap turun, siapakah yang bersalah? Pawang hujan atau awan hujannya? (Padahal hari hujan lihat saja di ramalan cuaca..)

Saat seorang mahasiswa sedang membawa tugas makalah dan begitu bersemangatnya untuk dikumpulkan kepada asisten, hujan turun tiba-tiba di tengah jalan. Tugas makalah yang ditentengnya kebasahan. Ia marah dan moodnya jadi bete seharian.

Saat seorang pembicara ulung hendak tampil di depan umum, ia sudah begitu percaya diri. Materi sudah dipersiapkan dengan sangat baik. Alat bantu sudah stand by siap digunakan kapanpun. Jam terbangnya yang tinggi membuatnya semakin yakin kalau presentasinya akan berjalan dengan sangat sukses dan lancar. Ternyata hujan turun tepat ketika ia mulai berbicara. Ruangan yang tidak kedap suara mulai terganggu oleh bunyi hujan. Pendengar mulai tidak fokus. Petir mulai menyambar dan tiba-tiba saja aliran listrik putus. Presentasi dibatalkan. Pembicara pulang dan bete seharian.


Suasana hati yang begitu baik, penuh semangat dan keyakinan tinggi ternyata dapat runtuh hanya dalam tempo yang sangat singkat. Bukan karena masalah besar yang tiba-tiba menimpa. Bukan karena musuh yang tiba-tiba datang menyerang. Bukan akibat tertabrak sesuatu yang menyakitkan. Hanya karena sekumpulan tetes air. Bahkan mungkin hanya setetes, tapi sudah cukup membuatnya marah-marah. Suasana hati menjadi tidak enak, hanya karena HUJAN?


Adakah orang yg dapat mengalahkan hujan?

Di kereta ekonomi jurusan Jakarta-Bogor, semua orang berebut tempat duduk. Para pemuda yang tampak gagah duduk berpura-pura tidur dan tidak melihat bahwa di depannya ada nenek-nenek berdiri, bersusah payah memegang besi yang jauh lebih tinggi darinya, atau ada ibu yang sedang menggendong anaknya. Atau sekadar ada mahasiswi yang tampak kerepotan karena beratnya bobot tas yang tidak seimbang dengan bobot tubuhnya sendiri (itu aku dong, hehe).

Namun, begitu hujan deras mengguyur, satu per satu orang yang duduk mulai berdiri. Jendela kereta tidak bisa ditutup, beberapa bahkan memang sudah tidak memiliki kaca lagi, membuat air hujan dengan bebas masuk ke dalam gerbong. Kursi-kursi banjir. Lantai gerbong basah. Semua orang berdiri ke tengah dan mencari area yang cukup aman dari serangan hujan dalam kereta.Aku selalu menyebutnya, badai di dalam kereta.


Orang-orang yang tadinya berebut tempat duduk, berangsur-angsur berdiri hanya karena HUJAN?


Sungguh istimewa HUJAN ciptaan Allah. Ia mampu mengalahkan kerasnya hati manusia, ia mampu melemahkan kepercayaan diri manusia, ia mampu mematahkan kecongkakan dan rasa sombong dalam diri manusia. Tak sadarkah bahwa untuk mengalahkan kumpulan air hujan dari langit saja manusia tak mampu? Sebelum mengeluh ketika hujan turun, apakah kita sudah bersyukur ketika langit begitu cerah? Ketika cuaca begitu panas dan kita kembali mengeluh, apakah tidak malu saat Allah turunkan hujan kita masih juga mengeluh?


HUJAN itu keajaiban. Badai di dalam kereta yang sangat 'lucu' sanggup membuat para penumpang tertawa (aku salah satunya) atau sekedar membuat mereka tersenyum (sebagian senyum karena kesal, sih). Kalau orang-orang tidak suka hujan, aku ingin berkata bahwa hujan selalu dapat membuat kondisi hatiku yang buruk jadi membaik.


This is the other side of the rain....


-catatan 15 November 2010-

0 komentar:

Posting Komentar