Tentang Kita Nak (2)

Kamis, 16 November 2017

source: ummionline.com


Susu, vitamin, dan suplemen ibu hamil

Memasuki trimester kedua dan ketiga kehamilan, mual hamil akibat perubahan hormon mulai berkurang. Sebaliknya, nafsu makan semakin meningkat. Bawaannya ingin mengunyah, mengunyah, dan mengunyah... haha....

Pada umumnya ibu hamil meminum susu hamil untuk tambahan nutrisi. Saya memilih untuk tidak minum susu khusus ibu hamil secara rutin. Mengapa? Pertama, dari beberapa info yang saya peroleh, minum susu khusus ibu hamil itu tidak wajib. Susu biasa pun tidak masalah. Saya lebih senang minum susu cair pasteurisasi, selain lebih praktis, kandungan gizi susu pasteurisasi juga ditengarai sebagai yang paling baik dibandingkan produk susu lainnya (UHT dan bubuk). Kedua, rasa susu khusus ibu hamil itu lebih memicu mual. Dasarnya saya memang tidak terlalu suka susu sejak kecil, hampir selalu muntah setiap minum susu, dan ini susu khusus ditambah zat besi yang aromanya kuat pula. Semakin menolak lah diri ini, huuufft... Tetapi demi janin yang sehat, pintar, kuat, dan bertakwa, saya memutuskan harus tetap minum susu. Akhirnya saya memilih minum sari kedelai organik sebagai pengganti sumil. Loh, kok susu kedelai? Bukan susu kedelai, melainkan sari kedelai. Soalnya kedelai tidak punya puting susu, jadi kata para senior di kampus harusnya tidak disebut susu kedelai, wkwk. Lalu susu sapinya bagaimana? Tetap minum kok, kadang-kadang. Kadang pas beli, kadang pas dapet gratisan promo sumil, kadang-kadang saja. Hehe. Tetap yang rutin saya konsumsi adalah sari kedelai organik. Lebih enak, gizinya tinggi, dan bagus untuk melancarkan serta memperbanyak produksi ASI pasca melahirkan nanti.

Vitamin hamil juga salah satu hal utama yang tidak boleh dilupakan para ibu hamil. Pertama kali saya periksa kandungan di bidan, saya hanya diberi vitamin penambah darah. Saat berikutnya periksa kandungan di dokter, saya ditanya sudah memiliki vitamin atau belum. Saya jawab sudah. Di rumah sudah ada suplemen penambah darah, minyak ikan, kalsium, madu, kurma, pokoknya komplit saya jabarkan. Akhirnya sang dokter tidak memberikan resep vitamin apapun. Mungkin beliau mengerti akan kekhawatiran saya jika diberi resep vitamin mahal, haha. Namun, selanjutnnya saya rutin membeli sendiri suplemen ibu hamil ber-merk Obimin. Kandungannya cukup lengkap. Harganya tidak sampai membuat dompet tersedak.

Suplemen lain yang saya juga minum adalah salah satu resep dari bidan ber-merk Gestiamin. Suplemen ini lebih lengkap lagi kandungannya dibandingkan Obimin. Selain kandungan vitamin lengkap ABCD, kalsium, asam folat, dan besi, di Gestiamin juga ada tambahan AA dan DHA, serta tambahan kalium juga. Harganya? Tetap ramah di kantong (asumsi ramah di kantong adalah kurang dari 100 ribu rupiah untuk kebutuhan suplemen selama sebulan, hehe..). Jadi, setelah Obimin saya habis, saya beralih ke Gestiamin.

Memilih lokasi persalinan

Sejak awal kehamilan, saya dan suami sudah berbeda pendapat terkait lokasi bersalin. Suami bersikukuh agar saya melahirkan di rumah sakit, sementara saya lebih nyaman untuk bersalin di bidan saja. Alasan suami memilih rumah sakit? Lebih aman dan cepat penanganannya jika terjadi sesuatu. Alasan saya memilih bidan? Lebih sepi dan lebih hemat yang pasti (ckck.. lagi lagi urusan hemat :p). “Jangan pikirkan uang, Neng. Insya Allah rezeki nanti ada. Itu tugas Aa. Yang penting Neng sama dede aman, sehat, selamat.”

Bagaimana ya? Namanya emak-emak ya tidak mungkin tidak memikirkan masalah uang. Terlebih lagi, saya paling tidak ingin membuat suami susah dan pusing masalah uang. Akhirnya demi tidak membuat suami semakin pusing saat itu, saya menyetujui untuk bersalin di rumah sakit. Kami mencari rumah sakit khusus bersalin yang tidak terlalu ramai, dekat dari rumah, dan dokter-dokter kandungannya terekomendasi dari beberapa teman. Alhamdulillah, RSIA Bunda Suryatni yang berjarak tidak sampai 5 km dari rumah kami, memenuhi kriteria tersebut.

Saya rutin kontrol kandungan setiap bulan. Di bidan. Lah? Wkwk, tadi katanya tidak ingin membuat suami pusing? Yaaaa kalau suami sedang libur kerja dan bisa menemani kontrol kandungan, kami kontrol di dokter. Kalau saya harus kontrol sendiri, saya pergi ke bidan atau ke puskesmas yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari rumah. Bisa dijangkau hanya dengan jalan kaki.

Selama perjalanan kehamilan pertama ini, mobilisasi saya ke luar kota cukup tinggi: Bogor, Bandung, Jakarta, Serang, dan Depok. Oleh karena itu, saya kontrol kandungan sesuai posisi saya saat jadwal kontrol tiba. Kalau dijumlahkan, saya kontrol kandungan berganti-ganti diantara tiga dokter dan tiga bidan pada tiga rumah sakit dan tiga tempat praktik bidan yang berbeda. Saya tidak terlalu masalah berganti-ganti bidan atau dokter, karena bisa sambil survei juga saya cocoknya dengan dokter/bidan yang mana. Saya juga bisa survei tempat yang kira-kira paling nyaman untuk saya bersalin nantinya. Yang terpenting adalah catatan kehamilan alias rekam medik kehamilan kita tertulis pada satu buku yang sama. Jadi, setiap saya pergi kemanapun (bahkan walau hanya pergi ke kampus), saya selalu membawa buku rekam medik tersebut.

Lalu, akhirnya dimana lokasi bersalin tempat saya melahirkan anak pertama? Rumah sakit, bidan, rumah, mobil, atau angkot? Wkwk... masak di angkot? Kemungkinan inilah yang disampaikan oleh bidan sehingga saya harus melakukan suntik tetanus. Kalau ternyata keburu brojol di perjalanan/kendaraan yang tidak steril tempatnya, setidaknya aman dari infeksi tetanus. Jadi, saya lahiran dimana? Tunggu di episode selanjutnya ya.

Ikat panggul pashmina

Melihat aktivitas dan mobilisasi saya selama hamil yang cukup tinggi, salah satu tetangga rumah yang sudah seperti keluarga sendiri menyarankan saya untuk mengikat panggul dengan kain jika bepergian. Terlebih karena saya sempat mengalami flek saat awal-awal hamil, beliau mewanti-wanti agar saya lebih berhati-hati. Mengikat panggul dengan kain akan membantu menopang perut sehingga janin di dalah rahim tidak mudah terguncang.

Saya sedikit mengobrak-abrik lemari, mencari kain panjang yang kira-kira bisa dipakai layaknya ikat pinggang. Saya belum memiliki kain jarik saat itu, jadi agak bingung juga. Kain sarung kurang panjang, kain selendang yang saya miliki terlalu tipis, kurang nyaman untuk menopang perut. Celana panjang suami? Ya masak saya pakai, wkwk. Akhirnya pilihan saya jatuh pada kain pashmina warna putih yang biasa saya pakai ke kondangan. Kerudung pashmina ini cukup panjang dengan bahan wol, sehingga nyaman untuk saya ikatkan ke panggul. Tidak terlalu tipis, tidak juga terlalu tebal, pas.

Saya juga berhenti mengendarai motor setelah usia kandungan empat bulan. Beberapa orang berpendapat bahwa setelah usia empat bulan atau masuk trimester dua  kehamilan merupakan masa yang paling aman. Namun, karena pada masa ini saya justru mengalami flek, saya memutuskan untuk cuti bermotor-motor ria. Lalu saya naik apa kalau ke kampus atau ke tempat lainnya? Naik angkot, mobil, atau menumpang bonceng motor dengan teman. Tentu tetap dengan mengenakan ikat panggul pashmina, hehe.

Asisten dosen

Saya bersyukur penelitian saya telah selesai dan revisi tesis saya pun telah usai saat testpack hamil menunjukkan tanda positif. Aktivitas saya di kampus hanya tinggal mengurus persyaratan wisuda yang ternyata itu pun tertunda hampir tiga bulan. Sampai saya diprotes oleh pihak administrasi kampus karena dinilai lambat mengurus kelulusan sendiri. Ketika beliau mengetahui saya terhambat datang ke kampus karena ngidam mual dan muntah, berangsur wajahnya berubah sumringah dan mengucapkan selamat. Hihi, bersyukur sekali, kabar hamil selalu membawa gembira hati tidak hanya keluarga, tetapi juga hampir setiap orang yang mendengarnya.

Pasca mengurus adminstrasi kelulusan dan mendaftar wisuda, tibalah saya pada hari bersejarah kedua tersebut. Wisuda magister. Hari yang sama, lokasi yang sama, dan rektor yang sama. Jika pada wisuda sarjana yang lalu saya mempersembahkan kelulusan untuk ibunda tercinta, maka pada wisuda magister ini saya mempersembahkannya untuk ayahanda saya yang telah begitu besar memberikan percaya dan cintanya untuk saya. Bedanya, pada wisuda ini saya lebih beruntung karena tidak hanya didampingi oleh orangtua di dalam gedung prosesi, tetapi juga ditemani oleh suami, adik, dan janin yang ada dalam kandungan. Peluk hangat berjuta terima kasih untuk sahabat paling kece Shafira Adlina yang berbaik hati memberikan undangan wisudanya, sehingga jatah untukku jadi bertambah. FYI, Shafira ini salah satu sahabat paling inspiratif yang berhasil menyelesaikan studinya tepat waktu, padahal dalam masa studi itu ia menikah, hamil, melahirkan, dan mengasuh anak. Daebak!

Pasca lulus dan wisuda, awalnya saya berniat untuk bersantai-santai menikmati kehamilan sambil meningkatkan ibadah. Rupanya Allah menakdirkan agar saya tidak hanya berleha-leha di rumah, haha. Dosen pembimbing tesisku meminta tolong untuk membantunya dalam mengasuh salah satu mata kuliah di S2. Setelah meminta izin pada suami sambil merayu dan meyakinkannya bahwa kehamilanku baik-baik saja, dan menjelaskan panjang lebar kali tinggi bahwa mata kuliah ini tidak ada praktikum lapang-nya (walau sebenarnya saya sangat suka pada praktikum lapang ^^”), saya diizinkan untuk menjadi asisten dosen. Hanya untuk satu semester, hehe. Sampai hari perkiraan lahir (HPL) saya tiba.

Alhamdulillah, aktivitas di kampus walau hanya seminggu sekali ini cukup banyak membantu saya lepas dari kejenuhan. Saya merasa lebih bersemangat dan tidak gampang letih. Walaupun amunisi saya pergi ke kampus harus lolos screening pertimbangan ekstra, saya merasa gembira. Mencukupkan asupan makanan sebelum dan setelah kuliah praktikum, membawa bekal praktis dan memakannya diam-diam sambil mendengarkan penjelasan dosen, serta membawa tumblr minum  ukuran satu liter.

Saya tidak hanya mendampingi dosen saat kuliah, mengabsen mahasiswa yang hadir, dan memimpin sesi praktikum presentasi saja, tetapi saya diberikan hak oleh dosen untuk menyusun konten praktikum dan menentukan topik untuk pekan praktikum tertentu. Saya juga diberikan keleluasaan untuk menilai hasil praktikum mahasiswa. Hal ini membuat saya sangat senang karena merasa begitu dihargai. Kalau menggunakan istilah suami saya, salah satu kebutuhan orang dalam berkarir adalah acknowledgment. And i got it even just a little bit. And I was so happy. Buat para ibu hamil, tetaplah melakukan hal yang membuatmu gembira :)

Senam hamil
source: mommys-daily.com

Senam hamil mulai saya lakukan saat usia kehamilan 32 minggu. Pertama kali saya mengikuti senam di RS Hermina, Bogor. Selain di Hermina, saya juga mengikuti senam di Bidan Srie Dodi yang berada di belakang pasar Gunung Batu, Bogor. Senam hamil di kedua tempat ini sangat menyenangkan.

Ada perbedaan dan persamaan antara senam di RS dan bidan. Di RS, tempatnya lebih nyaman, ber-AC, dan matrasnya lebih empuk. Hanya saja durasi waktunya lebih singkat (sekitar 30 menit) dan gerakan senam yang diajarkan lebih soft. Kalau di bidan, durasi waktunya lebih lama (sekitar 60 menit), dan gerakan-gerakannya lebih variatif. Ada gerakan lembut, gerakan dinamis, sampai gerakan berpasangan dengan sesama ibu hamil. Lebih seru! Persamaannya, instruktur senam di kedua tempat ini sama-sama dipimpin oleh bidan. Kedua, biaya senam di kedua tempat ini sama-sama murah, hehe. Di Hermina hanya 15 ribu rupiah, sudah plus teh manis hangat dan makanan ringan. Di bidan Srie Dodi hanya 20 ribu rupiah dengan durasi senam panjang plus tausiyah tambahan yang menyejukkan hati dari instrukturnya ^^.

Selain senam di RS dan bidan, sesekali saya juga senam di rumah. Aktivitas rutin yang saya lakukan untuk mendukung kelancaran persalinan selain senam hamil, adalah jalan kaki pagi dan melakukan gerakan jongkok berdiri (seperti bending) setiap pagi dan malam hari. Tujuannya untuk menguatkan pernafasan dan melenturkan otot pintu jalan lahir. Saya juga sempat berenang dua kali sepanjang masa hamil. Namun, setelah berenang yang terakhir kali, saya berhenti. Karena tidak lama setelah itu saya masuk rumah sakit.

Kontraksi prematur

Pada bulan ke-8, saya meminta tolong suami untuk menemani saya ke RS di luar jadwal kontrol kandungan. Sudah beberapa hari perut terasa kencang di luar kebiasaan. Meskipun saya tidak merasakan sakit atau mulas yang sangat, saya ingin memastikan janin kami dalam keadaan baik. Sebelum melakukan USG, dokter menanyakan keluhan yang saya rasakan. Saya bilang perut terasa kencang sekali. Ternyata benar, dokter pun mengatakan hal yang sama. Perut saya sangat kencang. Dokter melanjutkan pemeriksaan dengan alat USG (alhamdulillah air ketuban masih banyak dan bagus), lalu menyarankan saya untuk lanjut tes CTG (cardiotocography). Tes CTG ini bertujuan untuk mengetahui benar tidaknya terjadi kontraksi dan memeriksa frekuensi gerakan janin di rahim.

Saya melakukan tes CTG di salah satu ruang bersalin. Berbaring selama kurang lebih 30 menit dengan dua alat yang ditempelkan di perut. Satu untuk memantau detak jantung janin, satu lagi untuk memeriksa level kontraksi rahim. Bidan yang memeriksa saya menjelaskan bahwa seharusnya grafik pada kertas CTG tidak boleh naik untuk menandakan saya tidak mengalami kontraksi. Hasilnya? Grafik yang tercetak pada kertas naik tiga kali dalam 30 menit pemantauan dengan angka yang cukup tinggi (sekitar 50 dari skala kontraksi maksimal 100). Dokter pun memberikan saya obat anti kontraksi dan penguat paru bagi janin, serta menyarankan saya untuk rawat inap selama dua hari. Saya harus bedrest.

Pasca keluar rumah sakit, saya tidak diizinkan lagi untuk mengikuti senam hamil ataupun aktivitas berat lainnya. Namun, saya tetap diperbolehkan melakukan senam ringan di rumah untuk sekedar melenturkan otot dan melatih pernapasan. Tidak untuk gerakan yang memicu kontraksi.

Pengalaman mengalami kontraksi prematur ini membuat saya mempelajari beberapa hal baru. Tentang CTG, tentang obat penguat paru pada janin, dan yang pasti membuat saya pertama kalinya mencicipi peran sebagai pasien rawat inap di rumah sakit. Pertama kalinya diinfus. Hoo... begini yah rasanya.

Kalau kontraksi prematur itu sendiri apa sih? Apa bedanya dengan kontraksi palsu? Pertanyaan itu yang saya lontarkan pertama pada perawat saat hasil CTG keluar. Kontraksi prematur ya terjadinya kontraksi sebelum waktunya. Kontraksi prematur berpotensi pada terjadinya kelahiran prematur. Oleh karena itu obat penguat paru pada janin dibutuhkan. Kalau kontraksi palsu, misalnya saya merasakan perut keras atau kejang seperti yang saya keluhkan sebelumnya, tetapi saat diperiksa oleh CTG tidak tampak adanya kontraksi. Itu baru kontraksi palsu.

Oke, sehat-sehat selalu ya para bumil disana. Be pretty, be happy ^6^.


Sampai jumpa di episode selanjutnya...

Tentang Kita Nak (1)

Sabtu, 05 Agustus 2017


4 November 2016

Bada salat Asar, aku bersimpuh lebih lama setelah berdoa di atas sajadah. Itu hari Jumat, hari besarnya umat muslim. Hari itu perasaanku sedikit berkecamuk. Betapa inginnya aku mengikuti AKSI 4/11 di Jakarta yang bagiku seperti panggilan jihad tersebut. Apalah daya, oleh sebab beberapa hal, aku tidak bisa turut serta.

Sore itu, aku berbicara sambil mengelus perut, “Nak, walaupun raga kita tidak ikut ke sana, semangat juang kita jangan pernah sirna ya. Untuk membela agama, untuk berjihad di jalan-Nya.”

Dan aku sungguh tidak tahu bahwa saat itu memang sedang bertumbuh bakal janin dalam rahimku!

***

Sejak awal menikah pada Oktober 2015, hampir setiap bulan aku membeli alat tes kehamilan di apotek. Pernah sekali membeli alat tes kehamilan yang harganya lumayan, Rp 40.000. Mungkin hasilnya lebih akurat, kupikir. Lebih jauh dan tidak logisnya lagi, aku berpikir saat menggunakan alat tes kehamilan mahal ini, mungkin hasilnya bisa ‘garis dua’. Haha.... yang membuat ‘garis dua’ itu kan bukan alatnya, melainkan kadar HCG dalam urin sebagai indikator kehamilan. Yaa siapa tahu karena alat ini harganya mahal, terus aku jadi hamil, wkwk. Well, jangan ditiru yah sodara-sodara, pola pikir lulusan S2 ini yang kalau lagi berharap punya anak, logikanya mendadak hilang tenggelam di dasar bumi. Nyatanya, garis yang muncul saat aku melakukan tes tetap satu. Negatif. Aku pun menghela nafas dan tidak pernah lagi membeli alat tes yang mahal. Bulan-bulan berikutnya, setiap ke apotek untuk membeli alat tes kehamilan dan ditanya mau yang mana, dengan tegas aku menjawab, “Yang harganya Rp 4.000 saja.”

Selain kebiasaan membeli testpack (alat tes kehamilan) setiap bulan, kebiasaanku yang lainnya adalah mengajak ngobrol perutku di saat-saat tertentu. Terkadang aku berimajinasi bahwa aku sedang hamil, dan mengajak bicara anak dalam kandunganku tentang apa saja. Bagiku realisasi imajinasi adalah salah satu bentuk ikhtiar mewujudkan doa dan harapan. Atau anggap saja aku sedang berlatih cara mengobrol dengan janin dalam kandungan. Padahal berkali-kali yang saat itu sedang aku ajak bicara sesungguhnya adalah baso, tahu, atau nasi goreng di dalam perut!

Aku rasa sudah menjadi hal yang umum terjadi pada setiap pasangan baru menikah jika ditanya perihal momongan. Bulan pertama menikah, tetangga sebelah bertanya, “Sudah isi belum?”... Bulan kedua menikah, keluarga dari pihak istri bertanya, “Sudah isi belum?”... Bulan ketiga, keluarga dari pihak suami giliran bertanya, “Sudah isi belum?”... Dan bulan-bulan berikutnya, setiap orang yang ditemui seolah-olah mendapat giliran pesan berantai untuk menanyakan hal serupa.

Dan aku? Saat suasana hati sedang tenang, aku dengan santai akan menjawab, “Alhamdulillah, tadi baru isi nasi,” atau “sudah isi lontong tadi,” atau “tadi barusan isi risol.” Atau minimal menjawab dengan kalimat normal, seperti “mohon doanya”. Namun, terkadang mendapat pertanyaan demikian juga bisa mencipta baper. Aku pun mengalami pasang surut emosi tersebut. Mulai dari hati yang penuh harap bahwa aku bisa segera hamil, mendadak risih dengan pertanyaan orang-orang, meminta doa dari banyak orang, berpikir apakah aku bisa hamil?, sampai............... sampai sampai aku lupa emosi apa saja yang pernah kurasakan ^^”.

Aku dan suami beberapa kali membahas tentang perlu tidaknya kami mengikuti program hamil, tetapi pada akhirnya kami memutuskan untuk menjalaninya secara alami. Toh, tesisku saat itu belum selesai. Kami baru menikah dan masih banyak adaptasi dalam berbagai hal. Awal-awal menikah juga diriku masih disibukkan oleh beberapa proyek dari konsultan tempatku bekerja. Bagaimanapun, ketenangan hati dan kesehatan fisik diperlukan untuk suksesnya proses pembuahan, bukan?

Aku menyelesaikannya satu per satu. Setelah usai beberapa proyek, aku memutuskan untuk off terlebih dahulu dari dunia perproyekan. Suamiku terus memberikan semangat dan dukungan agar aku segera menyelesaikan studi. Dinamika dalam rumah tangga juga kami coba kelola dengan komunikasi yang baik. Aku terus menanamkan afirmasi positif bahwa semua akan selalu hadir tepat pada waktunya. Toh, Rasulullah Saw dan Khadijah pun baru memiliki anak setelah tiga tahun pernikahan mereka. Sudah sepatutnya aku mampu untuk lebih bersabar, kan?

Akhirnya aku memutuskan untuk sungguh-sungguh menikmati masa berdua. Agar tidak perlu ada keluhan di masa mendatang saat anggota keluarga kami nanti bertambah, lalu aku berkata, “Pengen bisa berduaan lagi deh, sekarang susah sekali mau jalan berduaan kayak dulu.” Pun aku bertekad dan berdoa agar tidak sampai keluar dari lisanku ucapan, “Duh, anak banyak kayak gini repot banget yah, beda sama kayak dulu waktu masih satu.” Nikmati...nikmati...syukuri.... Saat sudah ada anak nanti, pasti akan berbeda dengan saat masih berdua. Saat punya anak dua, tiga, atau empat, pasti berbeda juga dengan saat masih baru punya satu anak. Jadi, aku ingin sungguh-sungguh menikmati setiap fase yang kulalui. Dan diantara semua rasa harap dan cemas akan hadirnya buah hati, aku terdiam saat ayahku mengatakan, “Itu hak prerogatif Allah.” Entah kenapa, kalimat tersebut membuat hatiku begitu tenang. Mengingatkanku kembali bahwa setelah ikhtiar dan doa, kewajiban berikutnya adalah tawakal. Tidak seharusnya aku merasa terlalu cemas ataupun terpengaruh karena pertanyaan dari orang-orang.

***

17 November 2016

Kejutan itu pun datang. Pagi hari selepas suamiku berangkat kerja, aku penasaran ingin melakukan tes, walaupun baru telat dua hari. Jeng... jeng... jeng...!!! Dua garis!!!!! Subhanallah, ini sungguhan? Apa alat testpack-nya valid? Biasanya aku sudah telat seminggu saja hasilnya tetap satu garis. Masih dalam rasa tidak percaya, aku mengulangi tes. Hasilnya sama, dua garis. Dengan mata nyaris tak berkedip dan hati yang mulai meletup-letup takjub, aku pun mengucap hamdalah. “Alhamdulillah.... Alhamdulillah.... Alhamdulillah....”

Aku mengirimkan foto hasil tes ke suami melalui whatsapp tanpa penjelasan apapun. Penasaran mengetahui reaksinya. Satu menit, dua menit, kok tidak direspon? Padahal sudah dibaca, hmmm... Menit ketiga, teleponku berdering. Suara suamiku terdengar serak di ujung sana. “Neng? Neng hamil?”

Aku mengangguk. Lupa bahwa itu telepon, bukan video call. Buru-buru aku ralat, “Iya A, alhamdulillah.”

Dan suamiku mengucap hamdalah berkali-kali. Mengatakan ingin menangis, tetapi malu karena sedang berada di dalam kereta. Itu pertama kalinya suamiku berbicara di telepon dengan begitu ekspresif. Aku yang tadinya tidak terpikir untuk menangis, jadi ikutan menangis karena mendengar suamiku ingin menangis. Dan akhirnya aku pun menangis, sambil tersenyum. Haduh, apa sih ini bolak-balik gini kalimatnya >D<....

Hari itu, aku pun periksa kehamilan di bidan untuk pertama kalinya. Bu bidan meyakinkanku bahwa hasil tes-ku memang positif dengan usia kehamilan kurang lebih empat minggu. Beliau menanyakan kondisiku, menyemangatiku untuk bersiap-siap jika terjadi perubahan fisik dan psikis, dan memberiku selamat atas kehamilan pertamaku. Alhamdulillah, ternyata tanda cinta itu datang, tepat satu tahun pernikahan kami. Dan tepat setelah aku menyelesaikan revisi tesis pasca sidang di bulan lalu.

Awalnya kupikir aku tidak akan merasakan mual dan muntah, seperti diwanti-wanti oleh bidan. Ternyata aku mengalami masa-masa tersebut. Memasuki bulan kedua kehamilan, aku mulai merasakan mual. Bukan di pagi hari seperti teori umum bercerita (morning sick), melainkan siang sampai sore. Terkadang, sepanjang hari juga sih mualnya, tetapi dalam kadar yang ringan.

Sempat mual mencium bau ikan dan bau-bau tajam lainnya juga. Sempat kesulitan untuk mencuci piring, karena tidak tahan oleh bau piring kotor. Alhamdulillah, suami beberapa kali dengan sigap mengambil alih tugasku. Beberapa kali juga muntah selama trimester pertama tersebut, apalagi kalau mencium bau asap kendaraan di jalan. Setiap pagi aku menjadi sebal sama orang-orang yang berangkat kerja atau sekolah dengan kendaraan bermotor dan asapnya tercium hingga ke kamar. Suami pun menjadi korban mualnya istri saat pulang kerja. Maklum, sepanjang perjalanan pergi-pulang kantor, pasti banyak asap dan debu yang menempel. Alhasil saat aku mencium tangan suami, bereaksi-lah hormon-hormon mualnya, hehe.


Kontrol hamilku berganti-ganti antara bidan dan dokter. Saat ada suami yang bisa mendampingi, aku kontrol ke dokter di rumah sakit. Bisa sekalian USG juga. Kalau sedang sendiri, aku cukup kontrol ke bidan saja, haha. Hemat. Urusan hemat perhematan ini sempat menjadi dinamika rumah tangga juga selama proses kehamilan, khususnya dalam memutuskan tempat persalinan nanti. Tunggu ya, aku akan menceritakannya di episode berikutnya, insyaallah.

Cerita seru selama trimester awal kehamilan ini adalah saat aku masih harus bolak-balik kampus mengurus perbanyakan tesis dan daftar wisuda. Aku juga harus mengurus pengembalian biaya SPP semester ganjil yang sudah sempat kubayarkan sebelumnya karena jadwal sidangku yang sudah masuk semester baru. Lumayan bisa kembali 30%. Itu harus diperjuangkan. Namun, apalah daya sebab mualku kian hari kian bertambah. Aku tidak bisa setiap hari ke kampus. Akhirnya menyelesaikan segala tetek bengek administrasi pun berjalan lebih lambat dari yang seharusnya. Saat petugas TU Pascasarjana IPB melihat tanda pengambilan berkasku, ia pun heran.

“Kok baru diambil sekarang, Mbak?”

“Lagi hamil muda, Pak. Mual-mual saya.”

Mimik wajah si bapak yang awalnya agak jengah, seolah berkata ‘Males gue ngurusin mahasiswa yang lambat ngurus administrasi’ berubah menjadi sumringah, dan sambil tersenyum mengucapkan selamat padaku. Masih ditambah pula dengan sedikit ramah tamah menanyakan kondisi kehamilanku dan asal daerahku darimana, wkwk. Jadi ramah banget pokoknya! Bersyukurnya tinggal dengan budaya timur itu adalah fakta ibu hamil selalu bisa menjadi alasan dan dispensasi untuk banyak hal :p...

Contoh lainnya adalah saat naik kereta commuter Jadebotabek. Kondisi hamil muda tentunya belum terlalu kelihatan seperti orang hamil, karena perutnya belum membesar. Namun, setiap kali aku harus naik kereta, suamiku akan mengajakku ke arah kursi prioritas dan meminta penumpang yang kurang berhak untuk memberikan kursinya padaku. Jikapun aku harus naik kereta sendiri (tanpa suami), aku pun akan mengatakan bahwa aku sedang hamil. Untuk berjaga-jaga, aku selalu membawa buku rekam medik kehamilan kemana-mana. Supaya kalau ada oknum penumpang yang tidak percaya tentang kehamilanku, aku akan langsung mengeluarkan buku tersebut agar mereka paham bahwa ‘Nih, gue beneran hamil!’ wkwk... Tapi alhamdulillah sih, penumpang selalu percaya. Jadi aku tidak perlu sampai mengeluarkan buku rekam medik kehamilan, hhe.

Poin penting saat di tempat publik seperti kereta adalah kita harus mengatakan dan meminta dengan jelas hal yang kita butuhkan. Jangan selalu berharap bahwa orang-orang di sekitar kita harus paham dengan kode-kode yang kita berikan, seperti memaju-majukan perut (supaya orang tahu kita sedang hamil), atau misalnya pura-pura mual (tapi kalau aku memang mual sungguhan sih ^^”). Katakan dengan jelas, “Permisi, boleh gantian duduknya? Saya sedang hamil.” Urusan orangnya percaya atau tidak, bukan tanggung jawab kita.

Cara menyiasati lainnya adalah dengan naik ke gerbong campuran. Kalau sedang hamil, sebisa mungkin hindari naik kereta khusus wanita di jam-jam sibuk. Persaingan antar-wanita itu bisa lebih kejam daripada soal ujian nasional!!! Lagipula, kursi prioritas di gerbong wanita biasanya cepat penuh dengan orang-orang yang memang prioritas, seperti para lansia. Jadi, aku selalu memilih gerbong campuran dan mencari kursi prioritas yang isinya ‘tidak prioritas’. Kalau kondisi di gerbong sedang sulit karena terlalu penuh atau penumpangnya pada tidur semua (haha, ini lebay sih,,,), cara jitu terakhir adalah dengan mencari petugas dan meminta tolong, wkwk.

It’s really happy moment to be a pregnant woman. Alhamdulillah.... :D

Nantikan cerita berikutnya yah ^.^  



-to be continued-

sumber gambar:
1. soloraya.net/mendorong-keberfungsian-kelas-ibu-hamil/kartun-ibu-hamil-muslimah/
2. https://www.brilio.net/life/13-ilustrasi-ini-ungkap-suka-duka-jadi-ibu-hamil-jangan-durhaka-ya-1603026.html