Random #1

Sabtu, 28 Maret 2015



Ibu,
laki-laki datang atas nama cinta
mengetuk dan menyapa hati hingga berbunga
hingga dengannya aku terlupa
hujan yang turun 'kan berganti panas pula

Ibu,
senangku datang bersilih nestapa
sembunyikan sepi di balik tawa
seperti ilmu air yang pernah kau bawa dalam cerita
agar ku tetap mengalir, bergerak walau dalam duka

Ibu,
cahaya di langit masih sama seperti sedia kala
ia tidak berpindah tempat seperti yang orang-orang kira
tetapi waktu terus bergulir mengikuti masa
apakah kesabaran juga dapat berlipat ganda,
hingga kita tak perlu lagi mengukur jarak berdepa-depa?

Ibu,
berkali masa selalu kau tanamkan di jiwa
bahwa rezeki tak akan tertukar walau segenggam saja
dan jika sekali lagi aku dihadapkan
di antara harta dan manusia
aku akan tetap memilih membahagiakan sesama

# Mentari esok pagi mungkin 'kan bersinar layaknya biasa
seperti kawanan burung yang selalu terbang
di atas rumahku yang lama
namun bangku ini masih tetap kosong, Bu
ah... kau bilang biar saja
biar pepohonan tetap meneduhkannya dalam terjaga
dan bilakah cinta kembali datang lewat untaian kata
biarkanlah ia temukan jiwa dengan caranya

Ibu,
adakah lagi kau dongengkan untukku
tentang negeri para pengelana?
yang tak kenal kata menyerah dan putus asa
yang dengannya aku selalu bangkit meski terjatuh terhalang baja
ceritakanlah satu, satu saja....

untuk cinta, cita, dan semangat yang tak mengenal usia

-POLARIS-

-catatan Bogor, 1 Agustus 2013-

photo edited by: ikh wan

0 komentar:

Posting Komentar