Menjemput Pulang #bagian1

Selasa, 31 Maret 2015



“Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.” (QS. Al-Insyirah: 7-8)

Dan aku tak menyangka bahwa puzzle kematian itu begitu dekat.

25/01/14

Pagi itu aku sedang mengunyah sepotong pisang coklat jualannya tetangga dan menyeruput secangkir kopi Aceh campur jahe yang sesungguhnya dibuatkan Mama untuk Ayah. Ayah dan adik bungsuku sedang jalan-jalan menuju tukang ketoprak untuk sarapan pagi. Rasanya lega setelah menyelesaikan UAS yang kuakhiri siang hari sebelumnya via email. Setelah terlalu sering begadang selama tiga pekan mengerjakan ujian take home, tugas-tugas laporan, dan fieldtrip ke luar kota, aku berniat untuk tidur lebih banyak di rumah orang tua. Badan ini rasanya sudah di ambang batas meminta hak-nya, mulai menghangat dengan kepala setengah berputar.

Tiba-tiba telepon selular Ayah berdering dari lemari seberang tempatku bersantai. Aku agak malas bangkit dari duduk, hingga bunyi itu mati saat aku  baru hendak mengangkatnya. Kulihat layar handphone. Om Heri, suami Tante Yayu. Aku segera menelepon balik. Ini pasti telepon penting. Sore hari ini aku, Ayah, Mama, dan A’Ikhwan memang berencana menengok Tante Yayu yang dikabarkan dirawat di RS PMI sejak Kamis kemarin karena mendadak tensi dan gula darahnya naik. Sejak lama Tante mengidap darah tinggi yang kadang-kadang kambuh. Oleh karena itulah ia harus selalu melakukan caesar saat melahirkan. Namun, gula darahnya yang tinggi baru diketahui setahun belakangan ini. Kuharap penanganan segera dari rumah sakit membuat kondisinya segera membaik.
Tante adalah seorang perawat senior di PMI yang sudah bekerja lebih dari 20 tahun. Meskipun ia tidak pernah naik pangkat atau jabatan karena statusnya yang hanya lulusan SPK, namun layanan dan penghargaan rumah sakit terhadapnya sangatlah baik. Pernah ia berniat untuk berhenti karena alasan kesehatan mata atau karena alasan lainnya, tetapi rumah sakit mempertahankannya dengan memberinya jadwal dinas yang selalu pagi hari agar beban kerjanya tidak terlalu berat (biasanya perawat selalu digilir antara dinas pagi, siang, atau malam).

“Teh, jam berapa Ayah mau ke PMI? Yayu tadi telepon, tangan sama kaki kanannya nggak bisa gerak. Ngomongnya pelo. Om masih ngurusin anak-anak. Yayu telepon nangis-nangis. Teteh telepon Tante Yayu yah.”

Deg. Kudengar suara panik Om di telinga. Aku berusaha mencerna dengan tenang apa yang barusan kudengar. Segera kutekan nomor telepon Tante yang saat ini terbaring sendirian di RS. Tante menjawab teleponku lemah. Benar, suaranya mulai kurang jelas di telinga. Aku menghiburnya dengan mengatakan bahwa aku dan Ayah akan menengoknya hari ini. Kuminta agar Tante memanggil teman perawatnya untuk menyuapi sarapan jika tangannya kesemutan dan sulit digerakkan. Apakah ini gejala sementara karena kadar gula darahnya yang tinggi? Atau darah tinggi tante bisa menyebabkan tangan dan kaki kesemutan? Otak bodohku sibuk mencari alasan yang menyatakan bahwa kondisi Tante tidaklah memburuk, sampai Tante mengatakan di telepon, “Iya Teh, ini udah stroke kayaknya.”

STROKE. Sejak awal aku mendapat penjelasan dari Om Heri, kata itulah yang pertama kali kutolak dari logika. Tidak. Tanteku baik-baik saja. Tidak ada riwayat stroke selama ini, dan tidak pula riwayat itu mampir pada kedua orangtua Tante yang juga merupakan kakek-nenekku. Darah tinggi Tante hanya sedang kambuh, bukan stroke.

Aku berusaha menenangkan dan menghibur Tante, padahal detak jantungku sendiri mulai tidak karuan. Aku tahu, tidak ada waktu istirahat untukku setelah medengar kabar itu. Tidak boleh ada tidur yang lebih banyak. Ayah pasti akan memajukan rencana jam keberangkatan ke Bogor menjadi lebih cepat. Dan tentu saja aku harus bersiap-siap.

Begitu Ayah pulang dari jalan-jalannya, aku segera menyampaikan kabar dengan kalimat yang agak melompat-lompat. Tiba-tiba saja air mataku mengalir deras dan tenggorokanku mulai sesengukan, membuat bicaraku semakin tidak jelas. Ayah paham maksudku dan segera menelepon Tante di RS.

Mungkin ini firasat. Biasanya kalau Tante sakit, aku tidak pernah sekhawatir ini. Begitu pula ketika Tante harus menjalani operasi mata tahun sebelumnya di RSCM yang merupakan RS rujukan PMI. Aku selalu yakin kalau Tante akan baik-baik saja.

Selesai menelepon, Ayah memutuskan bahwa jam 10 kami berangkat ke RS. Sesampainya di sana, aku segera masuk melalui Paviliun Melati yang lobinya kini menjadi pintu masuk utama sebab RS sedang renovasi pembangunan gedung dan ruangan-ruangan baru. Aku masuk ke lobi yang tidak terlalu besar, melewati pos informasi sementara di sebelah kanan, dan keluar lobi menuju lorong RS yang berlantaikan marmer model lama dengan warna krem-nya yang klasik. Terus berbelok kanan melewati pagar abu-abu yang biasanya ditutup dan dijaga satpam jika belum waktunya jam besuk pasien. Melewati ruang tunggu ICU yang jendela-jendela besarnya begitu mencolok berjajar di sisi kanan. Mengamati hamparan rumput dan beberapa pohon palem yang ditanam di taman berukuran cukup luas di sisi kiriku, dan terus berjalan lurus menuju persimpangan tempat signage penunjuk arah ruangan berada.

Tidak, aku tidak membaca signage tersebut. Aku cukup hafal seluk-beluk rumah sakit ini, terutama bangunan-bangunan lamanya. Dimana ruang Seruni, Soka, Anggrek, Dahlia, atau Cempaka. Dimana tempat karyawan RS menempelkan sidik jari saat absen datang dan pulang. Dimana pintu alternatif, sehingga walaupun pagar pembatas masih ditutup, aku tetap bisa keluar-masuk lewat pintu tersebut. Dimana jalan tembus dari satu ruangan ke ruangan lainnya, atau dimana letak dapur ruangan.

Aku terbiasa masuk RS PMI sejak kecil mengikuti Tante bekerja. Saat Tante sedang bertugas, aku menunggunya di ruang karyawan, atau duduk-duduk di meja perawat memainkan pulpen dan tip-ex. Kadang-kadang kubaca dokumen pasien sambil memasang wajah pintar pura-pura mengerti. Pernah perawat magang di ruangan Tante mengajarkanku membuat gantungan kunci berbentuk ikan dari selang infus yang tidak terpakai. Hal paling menyenangkan adalah kalau rekan sejawat Tante mengajakku mengobrol lalu memberiku makanan atau uang jajan.

Sampai usiaku agak lebih besar, 11 atau 12 tahun saat itu, Tante masih suka mengajakku jika RS mengadakan wisata untuk para karyawan. Kadang ke Anyer, kadang hanya mengadakan gathering dan doorprize di Kebun Raya. Setiap tahun fasilitas dan penghargaan bagi karyawan semakin baik sepertinya. Terakhir kali Tante jalan-jalan ke Bali bersama beberapa karyawan yang lain. Fasilitas jalan-jalan ke Bali ini digilir dan dibagi menjadi beberapa kloter keberangkatan. Namun sayangnya, biaya perjalanan hanya gratis bagi karyawan yang bersangkutan saja, tidak untuk keluarganya jika ada yang mau ikut. Akhirnya karena alasan biaya, Tante hanya berangkat sendiri tanpa suami, tanpa anak-anaknya yang masih SD, juga tanpaku (siape gue? -,-). Dua hari sebelum keberangkatan, Tante main ke rumahku untuk meminjam ransel. Dan sepulang dari Bali, aku dibawakan oleh-oleh kacang Bali, kacang asin, dan pie khas Bali yang konon sangat terkenal itu.

Kembali ke rumah sakit. Aku berbelok kiri menuju ruang Seruni dan Soka. Jika selanjutnya ruang Seruni (ruang perawatan ibu pasca persalinan), -ruangan tempat Tante bekerja- berbelok kanan melewati jalur yang agak menanjak, aku berjalan lurus menuju ruang Soka tempat Tante sekarang dirawat. Ruang Soka dulunya hanya diperuntukkan bagi pasien laki-laki, tetapi sekarang beberapa kamar diperuntukkan pula bagi pasien wanita. Tante dirawat di r.Soka IIb, ruangan keempat dari pintu pagar setelah ruang oksigen, gudang, dan r.Soka IIa.

Hak rawat Tante sebagai karyawan sebenarnya adalah di ruang Anggrek kelas II yang fasilitasnya agak lebih mewah, ber-AC, dan kamar mandinya lebih luas. Namun karena kondisi r.Anggrek sedang penuh, Tante dirawat sementara di r.Soka, ruang perawatan kelas II yang merupakan bangunan lama. Kamar ini berukuran 4x3 m dengan 1 kamar mandi dalam dan 2 tempat tidur. Fasilitas meja+lemari kecil, 2 kursi untuk penunggu, 1 kipas angin, 1 TV, dan 1 jemuran handuk. Beruntung kasur di sebelah Tante kosong, sehingga kapasitas kamar untuk 2 pasien ini bisa dimanfaatkan oleh kami yang menunggui Tante dengan lebih leluasa.  

Jendela kamar rawat Tante berukuran besar dan terletak agak rendah sehingga pandangan dan cahaya matahari pagi bisa bebas keluar masuk. Kamarnya menghadap ke timur, berbatasan dengan taman rumput dan pohon palem yang diselingi pagar dan koridor. Dua buah bangku panjang model klasik terletak berjajar di depan dinding kamar. Di dinding samping bangku menempel hand sanitizer yang bebas digunakan oleh keluarga atau para pembesuk lainnya. Kupikir kondisi dan suasana kamar sudah cukup baik. Terlebih letak kamar tidak jauh dari ruang perawat jaga dan dekat dengan teman-teman sejawatnya di r.Seruni. Oleh karena itu, saat manajemen RS menawarkan untuk pindah ruang ke Anggrek dua hari berikutnya dan aku melihat kondisi kamar Anggrek yang tersedia ternyata jauh dari ruang perawat, jendelanya kecil dan tanpa cahaya matahari masuk, meskipun ber-AC dan tersedia bangku panjang yang lebih empuk bagi keluarga yang menunggui, aku memutuskan untuk tidak jadi pindah. Rupanya petugas yang biasa menyiapkan makanan dan mengaku bahwa tante adalah soulmate-nya mendukung keputusanku. Ia mengatakan lebih baik di Soka saja, makannya lebih terawasi dan mudah jika tiba-tiba butuh bantuan.

Siang hari itu aku menyuapi Tante makan, bergantian dengan Mama, lalu meminuminya obat. Rupanya Tante juga sulit untuk menelan, sehingga beberapa kali tampak ia menggerung dan kesakitan menahan agar tidak terbatuk. Pakaiannya basah penuh keringat akibat menahan sakit. Om Heri harus pulang untuk mengambil pakaian yang baru, sekaligus menjemput kedua anak mereka, Anwar dan Faisal, untuk diajak menginap menemani Tante Sabtu malam itu. Mumpung esoknya libur.

Sekitar jam dua siang Ayah, Mama, dan A’Ikhwan pulang. Aku menemani Tante. Sesekali kembali menyuapi Tante bubur makan siang yang belum habis, membantunya minum air, atau sekedar memijat-mijat tangan dan kakinya lembut. Tante sempat menggigil kedinginan, mungkin karena sudah hampir tiga hari jarum infusnya tidak diganti, katanya. Aku pun memanggil perawat dan meminta untuk ganti jarum. Perawat pun mengganti jarum dan memindahkan infus yang tadinya di tangan kiri ke tangan kanan. Tante bertakbir kesakitan saat jarum infus ditusukkan ke pergelangannya. Perawat sempat kesulitan mencari pembuluh vena di tangan kanan, sehingga jarum terpaksa ditusukkan dua kali. Ternyata, walaupun Tante juga terbiasa menusukkan jarum ke pasien dalam pekerjaan sehari-harinya, jika diri sendiri yang harus dimasukkan jarum, sakitnya tetap saja tak tertahankan.

Bada magrib aku kembali menyuapinya makan malam. Tante makan semakin sedikit saja. Selain kerongkongannya yang makin sulit menelan, ia mulai bosan dengan menu bubur saring yang kupikir rasanya pasti tidak enak. Setidaknya ada makanan yang masuk walaupun sedikit. Selesai makan yang hanya dua-tiga ujung sendok itu, aku membantunya meminum obat. Selain dua pil berukuran kecil, kali ini ada obat dalam bentuk kapsul. Tante memprotes karena ukuran kapsul terlalu besar. Akupun membuka kapsul dan menuangkannya ke sendok menjadi puyer. Selanjutnya aku meminta perawat untuk menjadikan obat Tante dalam bentuk puyer semua saja.

Tante salat jamak magrib dan isya. Ia bertayamum dengan menggosokkan telapak tangannya ke dinding, meniup lalu mengusapkan debunya ke wajah dan tangan. Aku membantunya memakai bagian atas mukena, dan Tantepun salat dengan tenang.

Om Heri datang sekitar pukul tujuh malam bersama anak-anak.  Setelah mengobrol sebentar, aku pun pamit pulang. Berjanji esok sore akan datang untuk gantian berjaga dan menginap di RS, sementara om pulang dan menyiapkan untuk sekolah hari Senin bagi Anwar yang kelas 4 dan Faisal yang baru kelas 1.

26/01/14

Aku baru datang kembali ke RS sekitar pukul delapan malam. Om Heri dan anak-anak pulang ke rumah. Om tampak lelah, sedangkan dua bocah yang tidak mau diam itu masih saja terlihat segar meski hari semakin larut. Mereka pamit pada Tante, menciumi tangan dan pipi kanan-kiri Tante.

Aku menarik kursi duduk di samping tempat tidur Tante dan meletakkan tas berisi laptop dan beberapa perkakas lainnya di atas tempat tidur yang lain. Untuk apa aku membawa laptop? Ceritanya ingin sambilan mengerjakan tugas, karena ternyata pasca-UAS masih ada laporan praktikum yang harus direvisi. Tetapi “ingin” tinggallah “ingin”. Nyatanya semalaman berjaga aku sama sekali tak sempat menyentuh laptop karena Tante gelisah.

Aku berusaha menyuapinya makan karena kabarnya hampir seharian makanan sulit masuk ke kerongkongan. Jangankan makanan, ternyata untuk minum juga sudah semakin sulit. Sekarang aku tidak memberikannya gelas dengan sedotan, tetapi aku menjadikan sedotan seperti fungsi pipet dan  mengalirkan air setetes demi setetes ke mulut Tante agar bisa minum dengan lebih mudah. Aku semakin khawatir saat membantunya minum obat sekitar jam 11 malam. Tante tampak sangat kesakitan dan kesulitan untuk menelan obat puyer yang kuminumkan dengan sendok. Ia menggerung, nyaris terbatuk. Ia memintaku membangunkannya duduk dan memukul-mukul punggungnya agar obat masuk.

Setelah minum obat kondisinya tidak membaik. Begitu gelisah dan kesakitan. Barkali-kali Tante mengucap takbir, istigfar, dan terus-menerus menyebut asma Allah. Aku pun mengajaknya mengucap tahlil dan bershalawat. Tante mengikuti. Kerap kali Tante mengalami “kejut” pada tangan kirinya. Tangan kanan dan kaki kanan Tante sudah sangat sulit untuk digerakkan, tangan dan kaki kiri juga sudah mulai kebas dan kesemutan. Aku bertambah cemas dan khawatir. Keringat Tante banyak sekali dan salin pakaian bersihnya juga sudah habis. Tante harus ganti baju agar tidak masuk angin. 

Jika melihat kondisi Tante begini, jadi terlintas bermacam prasangka. Mengapa setelah dirawat di RS kondisinya justru menurun? Mengapa yang tadinya tidak ada gejala stroke jadi muncul gejala ke arah sana dan semakin memburuk? Apakah obat yang diberikan benar? Apakah ada efek dari obat injeksinya? Mengapa belum ada penjelasan terkait penyebab kondisi Tante seperti ini? Puluhan pertanyaan dan tuntutan berputar-putar di kepalaku yang mulai penat. Kadang dalam kondisi lelah, rasa ingin tahu bisa berubah jadi amarah. Aku pun mengeluarkan catatan dan menuliskan segala keluhan dan kondisi Tante saat itu. Tidak lupa mendaftar semua pertanyaan yang akan kutanyakan pada dokter esok harinya. Ini cukup membantuku meredakan marah, harap, dan cemas yang campur aduk menjadi satu.

27/01/14

Bagaimanapun dokter adalah manusia. Bukan Tuhan yang tahu segala. Bukan pula dewa yang menyembuhkan hanya dengan sekejap mata. Setiap observasi adalah proses untuk mengetahui penyebab utama penyakit Tante. Dokter spesialis syaraf menjawab pertanyaanku bahwa infarct di kepalanya belum terlihat jelas pada scanning pertama. Belum diketahui penyumbatannya terletak di pembuluh mana dan berapa luasannya.  Aku mendapat penjelasan lengkap mengenai kondisi klinis dan segala kemungkinan penyebab kondisi Tante yang demikian. Termasuk mengapa ia begitu gelisah dan sering mengalami “kejut” pada malam hari tadi. Mungkin itu demam, katanya. Obat yang diminumkan sudah benar. Obat injeksi yang dimasukkan juga sudah benar. Harus dilihat bagaimana perkembangannya.

Dokter memutuskan Tante untuk di-MRI di RSCM. Ia meminta perawat mengurus segala keperluan administrasi dan birokrasi. Entahlah. Pagi itu amarahku reda seketika. Perawat dengan segera mengontak RSCM meminta jadwal kosong MRI dan mengubungi bagian SDM untuk segera menyiapkan dana. Aku lega mendengar dokter yang mengambil keputusan dengan cepat dan terharu karena hampir semua rekan sejawat Tante begitu sigap memberikan empatinya. Banyak sekali perawat dan pegawai dari hampir semua ruang bagian di RS datang berkunjung. Kepala perawat, wakil direktur SDM, kepala ruangan, sampai ibu-ibu cleaning service dari ruangan lain yang mengaku dekat dengan Tante dan begitu kaget mendengar Tante dirawat. Salah satu hal yang kupelajari dari sini adalah betapa Tante bisa berhubungan baik dengan siapa saja. Dulu aku sering kesal karena Tante selalu menyuruhku untuk menyapu dan mencuci piring saat aku tinggal dengannya. Tapi hal yang tidak bisa kupungkiri adalah Tante orang yang sangat dermawan, terutama soal makanan. Betapa sering aku ditraktir Tante dulu. Mungkin itu pula yang suka dilakukannya terhadap rekan-rekan sejawat dan petugas lainnya di RS. Kalau para atasan mengenalnya sebagai perawat yang  berdedikasi. Tidak banyak bicara, tetapi pekerjaannya beres. Ia senior bagi banyak perawat lain yang baru, namun tidak pernah menggurui apalagi bersikap senioritas terhadap junior. Yang kulihat pada beberapa kunjungan terakhirku di ruang kerjanya masih sama seperti dulu. Sikap hangat diantara para perawat. Bahkan beberapa kali aku mendengarnya memanggil “sayang” kepada perawat profesi yang masih muda saat ia meminta tolong. Aku saja lupa, apa pernah dulu Tante memanggilku “sayang”? Hfffff *ceritanyacemburu*.

Back to topic. Jadwal MRI sudah keluar. Tante diputuskan akan melakukan MRI di RSCM esok hari, 28/01/14, pukul 16.30. Artinya bada zuhur kami sudah harus berangkat dari Bogor dengan ambulans. Aku berharap suamiku mengizinkanku menemani Tante ke RSCM. Aku berencana untuk bicara padanya sepulang ia bekerja nanti.

Kondisi Tante di pagi hari lebih tenang. Ia bisa tidur dengan lebih nyaman dan lendir di tenggorokannya tidak sebanyak di malam hari. Hal yang semakin sulit dilakukan adalah menelan. Dokter memaksa Tante untuk pasang selang NGT karena makanan dan obat harus masuk secara optimal dan agar Tante jangan sampai tersedak. Itu bisa sangat berbahaya. Akhirnya Tante bersedia setelah hari kemarin Tante menolaknya dengan alasan sakit. Dibantu oleh dua perawat selang NGT sudah kembali terpasang. Kini aku tidak menyuapinya lagi karena perawat yang langsung memasukkan makanan melalui selang tersebut.  Aku hanya sesekali membasahi bibir Tante agar tidak kering.

Om Heri datang sekitar jam 2 siang. Aku makan siang bersamanya sambil mengobrol di lantai kamar, sementara Tante terpejam di kasurnya. Kurasa Tante kesulitan lagi untuk tidur. Ia tampak tidak nyaman, mungkin karena selang NGT yang kini terpasang. Tante masih bisa diajak mengobrol. Tekanan darahnya sejak semalam sudah menuju normal walaupun kadar gula darahnya masih naik turun. Aku merasa optimis bahwa kondisi Tante akan membaik setelah ini.

Selesai makan dan menyampaikan segala informasi pada om, akupun pulang untuk gantian istirahat. Bukan istirahat tepatnya, tetapi untuk mengerjakan tugas laporan yang harus dikumpul esok pagi. Ternyata di RS aku hanya sempat menulis satu kalimat saja di layar laptop.

Aku pulang naik angkot 03 menuju rumah. Belum sampai angkotku berhenti di depan gang, Ayah menelepon. Kupikir ia hanya akan menanyakan kondisi Tante dan memberi kabar kalau sore hari akan menengok lagi ke RS. Aku mengabarkan kalau aku sedang berada di jalan pulang ke rumah, jadi mungkin tidak bisa bertemu Ayah di RS.

“Sudah sampai rumah? Tante masuk ICU.”

Suara Ayah terdengar begitu terang di tengah riuhnya bunyi angkot dan kendaraan di sekitarnya. Aku terdiam, berharap telingaku salah mendengar.

-catatan 12 Februari 2014-

sumber foto: RezaDewangga

0 komentar:

Posting Komentar