Kyoto in Summer

Rabu, 09 Oktober 2019

12 Juni 2019

Rabu pagi di bandara Osaka, Kansai International Airport. Pertama kalinya diri ini menjejak di buminya Kenshin Himura. Kyoto Infern
o. Wkwk. Yup, dalam dua tahun ke depan saya dan keluarga akan tinggal di kota Kyoto atas izin Allah. Namun, tidak seperti Kyoto Inferno (neraka Kyoto) yang dibakar oleh Shisio, yang kutemui di kota ini adalah rasa damai. Kota ini damai sekali. Terlebih saya tinggal di pinggiran kota sebelah timur, cukup jauh dari pusat kota yang ramai. Benar seperti yang dikatakan oleh banyak orang bahwa Kyoto itu laksana Yogyakarta-nya Jepang. Kental oleh budaya, damai kotanya, dan cukup ramah pula warganya (walau masih kalah jauh sih, sama ramahnya warga Jogja :p). Dan yang terpenting, hati saya sangat damai bisa berkumpul kembali bersama keluarga (baca: suami tercinta *uhuk*).

sumber: madman.com.au

Asrama

Asrama yang kami tinggali adalah asrama khusus untuk mahasiswa internasional yang kuliah di Kyoto Daigaku (Kyodai). Shugakuin International House, namanya. Kami tinggal di kawasan Shugakuin, berjarak sekitar 3 km di utara kampus Yoshida. Terdapat tiga jenis tipe kamar di sini. Single room, couple room, dan family room. Kami menempati tipe yang paling besar, family room.

Rumah baru kami memiliki tiga ruangan, ditambah dengan satu kamar mandi. Seperti kebanyakan rumah model apartemen lainnya, tata letak pertama setelah pintu adalah rak sepatu dan tempat payung. Lalu, disambung kamar mandi yang terletak di sisi kiri. Kalau kamar sebelah biasanya tata letak ruangnya berlawanan, kamar mandi ada di sebelah kanan. Dari lorong masuk tersebut langsung menyambung ke ruang makan. Di ruangan ini ada meja dan kursi makan untuk sekeluarga, kompor, tempat cuci piring, kulkas, dan microwave. Ruangan ini juga menjadi penghubung menuju teras balkon tempat mesin cuci berada. Di sebelah kiri ruang makan adalah kamar tidur utama, sedangkan di sebelah kanan adalah ruang kerja. Saya dan anak-anak selalu menyebutnya ‘kantor’. Kalau kamar utama disebut ‘kamar’, sementara ruang makan kami sebut ‘dapur’. Kamar, dapur, dan kantor terletak sejajar. Setelahnya terdapat teras balkon selebar kurang lebih satu meter, tempat mesin cuci, blower AC, dan jemuran berada. Antara ruang dalam dan ruang luar (teras balkon) hanya dipisahkan oleh pintu geser kaca, tidak ada yang disekat oleh dinding bata.

Asrama kami memiliki beberapa failitas umum, seperti perpustakaan, lounge yang sekaligus menjadi ruang olahraga, ruang bersama / japanese room yang hanya dibuka pada saat khusus, dan lobby yang ada pianonya. Kereeen…. Oh ya, di lantai 1 juga ada fasilitas dapur umum, kamar mandi, dan mesin cuci koin. Soalnya tipe kamar single room, khususnya yang di lantai 1, tidak memiliki ofuro (bath tub untuk berendam) dan shower untuk mandi. Jadi mereka menggunakan kamar mandi bersama. Mereka juga tidak memiliki mesin cuci sendiri. Kalau mau mencuci baju, tinggal memasukkan koin 200 yen ke mesin cuci. Asyiknya, di sini kami tidak perlu mencuci seprei atau pun selimut. Pengelola menyediakan seprei, sarung bantal, dan futon gratis untuk digunakan. Kalau seprei kotor, tinggal diletakkan di tempat yang disediakan, lalu kita mengambil seprei baru yang bersih. Alhamdulillah.


Belanja

Asrama tempat kami tinggal tergolong strategis, karena dekat dengan halte bis, stasiun, maupun tempat belanja. Ada berbagai pilihan tempat belanja disini, dengan hari diskon yang berbeda-beda. Uniknya, rata-rata tempat belanja disini tidak seperti supermarket besar di Indonesia yang segala ada di satu lokasi. Disini tempat belanja sayur dan bahan makanan terpisah dari toko yang menjual kebutuhan toiletries sebagai komoditi utama.

Saat saya hendak belanja sayur-mayur, toko Fresco atau Yaotami adalah pilihan terdekat dari asrama. Fresco tempatnya lebih modern dan lebih lengkap isinya. Namun, saya lebih sering belanja di Yaotami yang agak tradisional, karena lebih nyaman. Tempatnya tidak seramai Fresco. Dan untuk beberapa jenis sayuran, Yaotami lebih murah. Kalau di Fresco, harga telur dan udangnya yang lebih murah. Toko yang menyediakan sayur mayur dan berbagai produk pangan di sini disebut sebagai ‘supa’.

Untuk kebutuhan toiletries, seperti sabun, sampo, dan pospak, tempat terdekat dari asrama adalah Welcia dan Kentboys. Welcia terletak di pertigaan jalan utama, sekitar 100 meter dari asrama, sementara Kentboys terletak berdekatan dengan Fresco dan Yaotami. Tinggal pilih mau jalan ke mana. Walaupun menyediakan kebutuhan toletries, tetapi di sana juga ada produk cemilan dan minuman. Bahkan terkadang ada telur dan buah pisang yang harganya lebih murah daripada di supa.    


Transportasi

Jepang sudah terkenal dengan kemajuannya dalam transportasi umum. Bus dan kereta adalah moda kendaraan yang menjadi pilihan sehari-hari hampir seluruh warga, muda dan tua, bahkan para difabel. Ya, kaum difabel sangat terfasilitasi di sini. Mereka mampu hidup mandiri dan beraktivitas seperti orang kebanyakan lainnya. Tidak ada satu pun trotoar yang tidak memiliki marka untuk para tuna netra. Bus kota selalu mendahulukan mereka yang berkursi roda. Setiap stasiun kereta, walaupun stasiun kecil pinggiran, selalu memiliki ramp atau lift untuk naik dan turun. Di sini, saya benar-benar mempraktikkan hal-hal yang sebelumnya saya pelajari di kelas tentang elemen lanskap.

Selain transportasi umum, sepeda adalah kendaraan yang paling banyak ditemui di jalan. Bahkan di kampus, tempat parkir sepeda selalu penuh, sampai berdesak-desak. Kalau sudah sekali tertiup angin kencang, amboiii… rangkaian sepeda jatuh layaknya kartu domino. Entah siapa yang akan membereskan. Dulu sewaktu saya masih kuliah S1 dan selalu bersepeda ke kampus di Bogor, saya biasanya akan mengembalikan sepeda yang jatuh di tempat parkir ke posisinya semula. Namun, di sini saya hanya lewat dan melirik sekilas. Haha. Sepeda yang jatuhnya puluhan!

Orang-orang yang hidup di sini sudah terbiasa hidup mandiri. Ibu rumah tangga yang berbelanja dan beraktivitas sambil membawa anak, para lansia, mereka juga terbiasa bersepeda. Oleh karena itu, memiliki sepeda menjadi sebuah hal wajib. Suami saya langsung membeli sepeda baru saat awal kedatangan untuk aktivitasnya pergi pulang kampus. Saat saya dan anak-anak tiba, saya pun membeli sepeda dari teman yang pulang ke Indonesia. Sepeda ‘mamachari’ yang sudah terdapat boncengan anak di belakangnya. Sepeda ‘mamachari’ adalah sepeda yang umum digunakan untuk beraktivitas para ‘mama’. Bentuknya seperti sepeda mini kalau di Indonesia. Modelnya rata-rata memiliki keranjang di depan dan boncengan di belakang. Ada yang depan belakang jadi keranjang. Ada pula yang depan belakang jadi boncengan anak. Tipe sepeda yang biasa, bergigi, dan elektrik. Kalau untuk ‘mamachari’ dengan boncengan khusus anak, paling enak adalah yang elektrik, atau minimal bergigi.
  

Kyoto in Summe
r

Satu-satunya yang menjadikan episode ini mirip sama Kyoto Inferno-nya Kenshin adalah musim panasnya! Musim panas di Kyoto ditengarai sebagai yang terpanas di seluruh Jepang. Nyaris 40 derajat celcius, mungkin. Udara sangat panas dan kering. Bulan Juli-Agustus adalah saat panas-panasnya. Barulah pada bulan September, udara mulai menyejuk. Masih panas, tetapi anginnya mulai terasa sejuk. Kalau bulan sebelumnya, angin yang berhembus pun terasa panas. Bagi mereka yang gemar bersepeda akan terasa sekali bedanya.

Kalau hal yang paling unik dan menyenangkan hati banyak sekali bahkan saat kita bermimpi sekarang ganti ba…STOP! Ini bukan sedang bernyanyi lagu maruko-chan, oke?! Jadi hal yang paling unik sekaligus menyenangkan di musim panas ini adalah….. suara TONGGERET! yang hampir setiap pagi dan sepanjang hari berbunyi. Hmmm kalau di Indonesia kita adanya jangkrik kali yah, yang biasanya berbunyi di sore menjelang malam hari. Terkadang jika saya merasa suara tonggeret ini berisik sekali, buru-buru saya beristighfar dan berkata di kepala, “Suara ini indah! Suaranya indah sekali!” atau segera saya teringat pada Yotsuba yang sangat suka pada tonggeret. Mumpung lagi di Jepang. Mumpung lagi musim panas. Mumpung tonggeretnya ada. Dan benar saja. Memasuki bulan September, suara tonggeret pun serta merta menghilang.

Hal unik lainnya di musim panas adalah buah dan sayur. Katanya buah peach (persik) yang khas Jepang hanya ada di musim panas. Sayur kangkung juga hanya ada di musim panas. Pokoknya yang hanya ada di musim panas, saya beli! Haha, saya jadi curiga jangan-jangan ini adalah strategi marketing pihak tertentu (yakalee bundoooyy). Jadi, demi rasa penasaran dengan dalih ‘wajib mencicipi ragam ciptaan Allah agar semakin bersyukur’, saya pun membeli buah persik yang harganya menduduki peringkat atas di kalangan buah. “Sekali ini aja kok, Bi. Katanya enak sekali rasanya. Dan hanya ada di musim panas. Gak apa-apa ya?” bujuk saya pada suami. Bukan membujuk sih, melainkan laporan. Toh, buahnya sudah masuk kulkas, wkwk. Kalau harga kangkung tergolong relatif. Jika dibandingkan dengan harga sayuran lain, kangkung juga menempati papan atas harga premium alias mahal. Iyalah mahal, kalau dibandingkannya dengan harga kangkung di tukang sayur keliling di Bogor mah 7-10 kali lipat. Berhenti mengonversi, oke? Yah, intinya disini juga mahal karena tergolong langka. Sebenarnya tidak terlalu mahal juga, karena sayuran lain juga relatif sama harganya. Saya nya saja yang biasanya beli sayur-mayur murah atau harga promo. Yah, pokoknya harus beli persik dan kangkung.

Selain buah dan sayur khas musim panas Jepang, saya juga membeli pot bunga. Suka meleleh rasanya hati, saat melihat bunga-bunga cantik subur bermekaran di tepi jalan atau di halaman rumah orang. Kalau mengaitkan antara musim panas dan bunga, ingatan saya pasti langusng terbang ke Summer Scent. Drama Korea lawas yang menjadi salah satu alasan saya mendaftar kuliah di Arsitektur Lanskap. Saya ingin menjadi florist! Lah? Ternyata di kampus belajar arsitektur. Haha, yo wis lah. Yang penting “Arsitektur Lanskap tetap paling jitu, ugh!”.




Komunikasi Efektif dan Berpengaruh pada Anak (resume seminar)

Kamis, 26 April 2018

Metode hypnosis menjelang anak tidur


Peringatan Hari Kartini di Kota Bogor tahun ini dimeriahkan oleh salah satu kegiatan peragaan busana adat untuk anak dan seminar parenting bersama seorang praktisi hypnoparenting, Ibu Titik Maryani, SE.Ak. CHt. dengan tema “Tips & Trik Membangun Komunikasi yang Efektif dan Berpengaruh pada Anak”. Saya ingin sedikit berbagi hasil seminar yang saya ikuti bersama komunitas Cacabun (Cerita Cinta Ibu dan Anak). Semoga bermanfaat ya.

Seminar ini dibawakan oleh seorang praktisi hypnoparenting, Ibu Titik Maryani, SE.Ak. CHt. Acara seminar diawali dengan melakukan senam otak bersama, dilanjutkan dengan permainan ilusi mata untuk menguji konsentrasi para peserta seminar. Lumayan, penyegaran di siang hari yang biasanya membawa kantuk dan sulit fokus. Hehe... Setelah para peserta yang didominasi kaum ibu fokus, barulah materi dimulai.

Secara singkat materi seminar berisi tentang definisi komunikasi efektif dan penerapan metode hypnoparenting dalam mencapai komunikasi efektif terhadap anak. Komunikasi dibagi menjadi komunikasi verbal (tulis, lisan) dan komunikasi non-verbal (mimik, intonasi, ekspresi, sentuhan, isyarat, gerakan tubuh, dll.). Efektif  dalam komunikasi bermakna tepat sasaran dan sesuai dengan tujuan komunikasi. Lalu apa sajakah tantangan berkomunikasi dengan anak pada masa sekarang?

Beberapa orangtua menyampaikan bahwa kondisi anak-anak sekarang lebih cuek, susah kalau dipanggil atau diminta tolong. Ada pula yang mengeluhkan bahwa kalau anak sudah fokus sama televisi dan gadget, akan menjadi lebih cuek dan apatis lagi. Tantangan lainnnya adalah anak-anak zaman sekarang lebih ‘berani’ pada orangtua. Orangtua berkata satu kata, mereka membalas seribu kata. Ada banyak tantangan dan permasalahan lainnya yang dikeluhkan oleh para orangtua.

Sejenak marilah kita saksikan video tentang “Nilai Mama” terhadap anak berikut  https://www.youtube.com/watch?v=pxt5S4ZgTAU (“Nilai Mama”).

Bagi para orangtua, khususnya ibu yang lebih banyak berinteraksi dengan anak, ada berbagai macam perilaku anak yang membuat ibu kesal dan lelah. Sang ibu pun memberikan nilai negatif terhadap anak. Namun, tahukah bahwa bagi anak, sosok ibu adalah ‘dunia’ baginya?

Pada dasarnya, tidak ada anak yang bermasalah. Semua kesalahan yang dilakukan anak adalah karena kesalahan program yang dimasukkan ke dalam pikiran anak. Bu Titik menyampaikan bahwa secara umum 77% program yang dimasukkan ke pikiran anak adalah salah. Darimana sajakah program-program tersebut masuk? Dari lingkungan. Dan lingkungan terdekat anak adalah orangtua. Selanjutnya kerabat (termasuk yang tinggal bersama di rumah), teman, guru, televisi, internet, dan buku. Padahal setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, orangtua-nya lah yang menjadikan ia seorang yahudi, nasrani, atau majusi (HR. Bukhari no.1296). Termasuk perilaku anak juga adalah cerminan dari orangtua dan lingkungannya.
Lihat video https://www.youtube.com/watch?v=5JrtpCM4yMM (“Children See Children Do”).

Selanjutnya adalah pembahasan mengenai hypnoparenting. Hypnoparenting merupakan seni berkomunikasi dengan anak melalui pikiran bawah sadar. Jadi, orangtua memasukkan program-program positif melalui pikiran bawah sadar anak. Konsep dasarnya membentuk perilaku awal yang di-intervensi oleh metode hypnosis sehiungga terbentuk perilaku baru.



Hypnoparenting terbagi menjadi dua, yakni berkomunikasi dengan anak dan selftalk (komunikasi dengan diri sendiri). Kedua hal ini menjadi sangat penting dalam penerapan hypnoparenting, karena sebelum kita (orangtua) memberikan afirmasi positif terhadap anak, tentunya kita harus membentuk afirmasi positif terlebih dahulu pada diri sendiri. Cara berkomunikasi dengan anak pun terbagi lagi menjadi hypnosis formal (terdiri dari 20 teknik) dan hypnosis informal.

Baik hypnosis formal maupun hypnosis informal, keduanya dilakukan terhadap pikiran bawah sadar. Pikiran bawah sadar ini lah yang sesungguhnya secara dominan mengendalikan aktivitas dan perilaku anak sehari-hari, meliputi keyakinan, intuisi, persepsi, memori jangka panjang, dan kebiasaan (88%). Sementara pikiran sadar yang meliputi logika, analisis, dan kemampuan untuk memutuskan hanya berperan sebesar 12% saja.


Melakukan hypnosis terhadap pikiran bawah sadar bisa dilakukan terhadap siapapun pada usia berapapun. Namun, pada usia kanak-kanak 0-8 tahun, penerapan metode ini akan lebih efektif, karena pintu RAS (Reticular Activating System) atau penghubung antara pikiran sadar-bawah sadar selalu terbuka.

Secara umum, pintu RAS ini akan terbuka pada empat kondisi:

1.     1.  Gelombang alpha dan tetha, biasa dikenal juga dengan hypnosleep. Afirmasi positif dimasukkan menjelang tidur dan saat baru bangun tidur.
2.   2. Emosional. Saat emosi sedang memuncak merupakan saat yang tepat untuk memberikan pengaruh, misalnya saat sedang marah, sedih, dan bahagia.
3.     3.  Fokus. Dalam kondisi fokus, justru merupakan saat yang tepat untuk melakukan hypnosis. Jadi, saat anak sedang fokus bermain atau menonton TV (kondisi yang sering dikeluhkan orangtua sebagai penyebab anak cuek), berikanlah afirmasi positif tersebut secara ringkas, sederhana, dan berulang-ulang. Hypnosis bukanlah memberikan perintah, tetapi melakukan aktivasi terhadap pikiran bawah sadar. Wajar jika kita memberi suatu perintah lugas saat anak sedang fokus menonton TV tidak didengar, karena hal tersebut masuk ke pikiran sadar. Sedangkan yang kita lakukan dengan hypnosis adalah masuk ke dalam pikiran bawah sadar.
4.     4. Terkejut. Saat sedang terkejut juga merupakan kondisi saat pintu RAS yang menghubungkan pikiran sadar-bawah sadar terbuka.
Cara melakukan hypnosis adalah dengan bahasa sugesti. Bahasa sugesti ini memiliki persyaratan, yakni harus jelas dan sederhana, positif, personal, menggunakan time present tense, dan persisten (berulang-ulang).  Salah satu model kalimat hypnosis adalah mengawali afirmasi positif dengan kata “Entah mengapa”. Misalnya, “Entah mengapa, mulai hari ini, Aisyah adalah anak yang mudah mengucapkan maaf.” atau “entah mengapa, mulai hari ini, Rasyid rajin mendirikan salat lima waktu.”

Sebagai orangtua, kita juga harus sering melakukan selftalk positif untuk selalu berprasangka baik terhadap anak. Mengenali modalitas belajar anak juga penting dalam berkomunikasi efektif terhadap anak (karakter visual, auditi, kinestetik).
Sebagai simpulan, ada empat langkah untuk mencapai komunikasi efektif dan berpengaruh pada anak. Pertama, menjadi teladan yang baik. Kedua, melakukan hypnosis pada saat yang tepat. Ketiga, menerapkan selftalk positif. Keempat, mengenali modalitas belajar anak.


Tanya-Jawab

1.    1.   Bagaimana caranya menghilangkan bayangan buruk masa lalu, sehingga kita tidak mengulangi kesalahan yang sama dalam mendidik anak? Misalnya agar tidak marah saat anak tantrum?

Jawab: Menghilangkan sampah emosi, caranya dengan 1. Relaksasi (tarik nafas 3x), 2. Ubah gerakan (dari berdiri ke duduk), 3. Melihat ke atas dan mengucapkan syukur (“Alhamdulillah saya masih punya anak, dll..), dan 4. Buat anchor/engker dengan cara memeluk atau membatasi ruang dengan menghilangkan benda-benda berbahaya sampai tantrum anak selesai.


2.    2.   Bagaimana caranya menyamakan nilai dengan kerabat (misalnya kakek nenek) sehingga program-program yang masuk ke pikiran anak tidak kontradiktif?

Jawab: cara paling mudah adalah dengan menimpa program negatif dengan program positif. Jika sulit menyamakan nilai, tidak perlu dipaksa. Pikiran bawah sadar anak yang kita kendalikan agar pengaruh positif kita lebih besar.


3.       3. Sebagai guru, mengapa kalau ke anak orang lain lebih sabar daripada kepada anak sendiri?

Jawab: karena dalam mindset kita itu adalah amanah dari orang lain. Kita dibayar oleh sekolah/negara untuk mendidik mereka. Padahal, anak sendiri adalah amanah yang lebih besar, karena Allah Swt yang telah menitipkannya kepada kita untuk kita asuh dan kita didik. Jadi, seyogyanya anak sendiri bukanlah milik kita, melainkan juga titipan yang harus kita jaga baik-baik fitrahnya, jiwanya, dan raganya.

Wallahu a’lam bisshawab.

Kontak narasumber: 0818-0747-368 (Ibu Titik)

Tentang Kita Nak (2)

Kamis, 16 November 2017

source: ummionline.com


Susu, vitamin, dan suplemen ibu hamil

Memasuki trimester kedua dan ketiga kehamilan, mual hamil akibat perubahan hormon mulai berkurang. Sebaliknya, nafsu makan semakin meningkat. Bawaannya ingin mengunyah, mengunyah, dan mengunyah... haha....

Pada umumnya ibu hamil meminum susu hamil untuk tambahan nutrisi. Saya memilih untuk tidak minum susu khusus ibu hamil secara rutin. Mengapa? Pertama, dari beberapa info yang saya peroleh, minum susu khusus ibu hamil itu tidak wajib. Susu biasa pun tidak masalah. Saya lebih senang minum susu cair pasteurisasi, selain lebih praktis, kandungan gizi susu pasteurisasi juga ditengarai sebagai yang paling baik dibandingkan produk susu lainnya (UHT dan bubuk). Kedua, rasa susu khusus ibu hamil itu lebih memicu mual. Dasarnya saya memang tidak terlalu suka susu sejak kecil, hampir selalu muntah setiap minum susu, dan ini susu khusus ditambah zat besi yang aromanya kuat pula. Semakin menolak lah diri ini, huuufft... Tetapi demi janin yang sehat, pintar, kuat, dan bertakwa, saya memutuskan harus tetap minum susu. Akhirnya saya memilih minum sari kedelai organik sebagai pengganti sumil. Loh, kok susu kedelai? Bukan susu kedelai, melainkan sari kedelai. Soalnya kedelai tidak punya puting susu, jadi kata para senior di kampus harusnya tidak disebut susu kedelai, wkwk. Lalu susu sapinya bagaimana? Tetap minum kok, kadang-kadang. Kadang pas beli, kadang pas dapet gratisan promo sumil, kadang-kadang saja. Hehe. Tetap yang rutin saya konsumsi adalah sari kedelai organik. Lebih enak, gizinya tinggi, dan bagus untuk melancarkan serta memperbanyak produksi ASI pasca melahirkan nanti.

Vitamin hamil juga salah satu hal utama yang tidak boleh dilupakan para ibu hamil. Pertama kali saya periksa kandungan di bidan, saya hanya diberi vitamin penambah darah. Saat berikutnya periksa kandungan di dokter, saya ditanya sudah memiliki vitamin atau belum. Saya jawab sudah. Di rumah sudah ada suplemen penambah darah, minyak ikan, kalsium, madu, kurma, pokoknya komplit saya jabarkan. Akhirnya sang dokter tidak memberikan resep vitamin apapun. Mungkin beliau mengerti akan kekhawatiran saya jika diberi resep vitamin mahal, haha. Namun, selanjutnnya saya rutin membeli sendiri suplemen ibu hamil ber-merk Obimin. Kandungannya cukup lengkap. Harganya tidak sampai membuat dompet tersedak.

Suplemen lain yang saya juga minum adalah salah satu resep dari bidan ber-merk Gestiamin. Suplemen ini lebih lengkap lagi kandungannya dibandingkan Obimin. Selain kandungan vitamin lengkap ABCD, kalsium, asam folat, dan besi, di Gestiamin juga ada tambahan AA dan DHA, serta tambahan kalium juga. Harganya? Tetap ramah di kantong (asumsi ramah di kantong adalah kurang dari 100 ribu rupiah untuk kebutuhan suplemen selama sebulan, hehe..). Jadi, setelah Obimin saya habis, saya beralih ke Gestiamin.

Memilih lokasi persalinan

Sejak awal kehamilan, saya dan suami sudah berbeda pendapat terkait lokasi bersalin. Suami bersikukuh agar saya melahirkan di rumah sakit, sementara saya lebih nyaman untuk bersalin di bidan saja. Alasan suami memilih rumah sakit? Lebih aman dan cepat penanganannya jika terjadi sesuatu. Alasan saya memilih bidan? Lebih sepi dan lebih hemat yang pasti (ckck.. lagi lagi urusan hemat :p). “Jangan pikirkan uang, Neng. Insya Allah rezeki nanti ada. Itu tugas Aa. Yang penting Neng sama dede aman, sehat, selamat.”

Bagaimana ya? Namanya emak-emak ya tidak mungkin tidak memikirkan masalah uang. Terlebih lagi, saya paling tidak ingin membuat suami susah dan pusing masalah uang. Akhirnya demi tidak membuat suami semakin pusing saat itu, saya menyetujui untuk bersalin di rumah sakit. Kami mencari rumah sakit khusus bersalin yang tidak terlalu ramai, dekat dari rumah, dan dokter-dokter kandungannya terekomendasi dari beberapa teman. Alhamdulillah, RSIA Bunda Suryatni yang berjarak tidak sampai 5 km dari rumah kami, memenuhi kriteria tersebut.

Saya rutin kontrol kandungan setiap bulan. Di bidan. Lah? Wkwk, tadi katanya tidak ingin membuat suami pusing? Yaaaa kalau suami sedang libur kerja dan bisa menemani kontrol kandungan, kami kontrol di dokter. Kalau saya harus kontrol sendiri, saya pergi ke bidan atau ke puskesmas yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari rumah. Bisa dijangkau hanya dengan jalan kaki.

Selama perjalanan kehamilan pertama ini, mobilisasi saya ke luar kota cukup tinggi: Bogor, Bandung, Jakarta, Serang, dan Depok. Oleh karena itu, saya kontrol kandungan sesuai posisi saya saat jadwal kontrol tiba. Kalau dijumlahkan, saya kontrol kandungan berganti-ganti diantara tiga dokter dan tiga bidan pada tiga rumah sakit dan tiga tempat praktik bidan yang berbeda. Saya tidak terlalu masalah berganti-ganti bidan atau dokter, karena bisa sambil survei juga saya cocoknya dengan dokter/bidan yang mana. Saya juga bisa survei tempat yang kira-kira paling nyaman untuk saya bersalin nantinya. Yang terpenting adalah catatan kehamilan alias rekam medik kehamilan kita tertulis pada satu buku yang sama. Jadi, setiap saya pergi kemanapun (bahkan walau hanya pergi ke kampus), saya selalu membawa buku rekam medik tersebut.

Lalu, akhirnya dimana lokasi bersalin tempat saya melahirkan anak pertama? Rumah sakit, bidan, rumah, mobil, atau angkot? Wkwk... masak di angkot? Kemungkinan inilah yang disampaikan oleh bidan sehingga saya harus melakukan suntik tetanus. Kalau ternyata keburu brojol di perjalanan/kendaraan yang tidak steril tempatnya, setidaknya aman dari infeksi tetanus. Jadi, saya lahiran dimana? Tunggu di episode selanjutnya ya.

Ikat panggul pashmina

Melihat aktivitas dan mobilisasi saya selama hamil yang cukup tinggi, salah satu tetangga rumah yang sudah seperti keluarga sendiri menyarankan saya untuk mengikat panggul dengan kain jika bepergian. Terlebih karena saya sempat mengalami flek saat awal-awal hamil, beliau mewanti-wanti agar saya lebih berhati-hati. Mengikat panggul dengan kain akan membantu menopang perut sehingga janin di dalah rahim tidak mudah terguncang.

Saya sedikit mengobrak-abrik lemari, mencari kain panjang yang kira-kira bisa dipakai layaknya ikat pinggang. Saya belum memiliki kain jarik saat itu, jadi agak bingung juga. Kain sarung kurang panjang, kain selendang yang saya miliki terlalu tipis, kurang nyaman untuk menopang perut. Celana panjang suami? Ya masak saya pakai, wkwk. Akhirnya pilihan saya jatuh pada kain pashmina warna putih yang biasa saya pakai ke kondangan. Kerudung pashmina ini cukup panjang dengan bahan wol, sehingga nyaman untuk saya ikatkan ke panggul. Tidak terlalu tipis, tidak juga terlalu tebal, pas.

Saya juga berhenti mengendarai motor setelah usia kandungan empat bulan. Beberapa orang berpendapat bahwa setelah usia empat bulan atau masuk trimester dua  kehamilan merupakan masa yang paling aman. Namun, karena pada masa ini saya justru mengalami flek, saya memutuskan untuk cuti bermotor-motor ria. Lalu saya naik apa kalau ke kampus atau ke tempat lainnya? Naik angkot, mobil, atau menumpang bonceng motor dengan teman. Tentu tetap dengan mengenakan ikat panggul pashmina, hehe.

Asisten dosen

Saya bersyukur penelitian saya telah selesai dan revisi tesis saya pun telah usai saat testpack hamil menunjukkan tanda positif. Aktivitas saya di kampus hanya tinggal mengurus persyaratan wisuda yang ternyata itu pun tertunda hampir tiga bulan. Sampai saya diprotes oleh pihak administrasi kampus karena dinilai lambat mengurus kelulusan sendiri. Ketika beliau mengetahui saya terhambat datang ke kampus karena ngidam mual dan muntah, berangsur wajahnya berubah sumringah dan mengucapkan selamat. Hihi, bersyukur sekali, kabar hamil selalu membawa gembira hati tidak hanya keluarga, tetapi juga hampir setiap orang yang mendengarnya.

Pasca mengurus adminstrasi kelulusan dan mendaftar wisuda, tibalah saya pada hari bersejarah kedua tersebut. Wisuda magister. Hari yang sama, lokasi yang sama, dan rektor yang sama. Jika pada wisuda sarjana yang lalu saya mempersembahkan kelulusan untuk ibunda tercinta, maka pada wisuda magister ini saya mempersembahkannya untuk ayahanda saya yang telah begitu besar memberikan percaya dan cintanya untuk saya. Bedanya, pada wisuda ini saya lebih beruntung karena tidak hanya didampingi oleh orangtua di dalam gedung prosesi, tetapi juga ditemani oleh suami, adik, dan janin yang ada dalam kandungan. Peluk hangat berjuta terima kasih untuk sahabat paling kece Shafira Adlina yang berbaik hati memberikan undangan wisudanya, sehingga jatah untukku jadi bertambah. FYI, Shafira ini salah satu sahabat paling inspiratif yang berhasil menyelesaikan studinya tepat waktu, padahal dalam masa studi itu ia menikah, hamil, melahirkan, dan mengasuh anak. Daebak!

Pasca lulus dan wisuda, awalnya saya berniat untuk bersantai-santai menikmati kehamilan sambil meningkatkan ibadah. Rupanya Allah menakdirkan agar saya tidak hanya berleha-leha di rumah, haha. Dosen pembimbing tesisku meminta tolong untuk membantunya dalam mengasuh salah satu mata kuliah di S2. Setelah meminta izin pada suami sambil merayu dan meyakinkannya bahwa kehamilanku baik-baik saja, dan menjelaskan panjang lebar kali tinggi bahwa mata kuliah ini tidak ada praktikum lapang-nya (walau sebenarnya saya sangat suka pada praktikum lapang ^^”), saya diizinkan untuk menjadi asisten dosen. Hanya untuk satu semester, hehe. Sampai hari perkiraan lahir (HPL) saya tiba.

Alhamdulillah, aktivitas di kampus walau hanya seminggu sekali ini cukup banyak membantu saya lepas dari kejenuhan. Saya merasa lebih bersemangat dan tidak gampang letih. Walaupun amunisi saya pergi ke kampus harus lolos screening pertimbangan ekstra, saya merasa gembira. Mencukupkan asupan makanan sebelum dan setelah kuliah praktikum, membawa bekal praktis dan memakannya diam-diam sambil mendengarkan penjelasan dosen, serta membawa tumblr minum  ukuran satu liter.

Saya tidak hanya mendampingi dosen saat kuliah, mengabsen mahasiswa yang hadir, dan memimpin sesi praktikum presentasi saja, tetapi saya diberikan hak oleh dosen untuk menyusun konten praktikum dan menentukan topik untuk pekan praktikum tertentu. Saya juga diberikan keleluasaan untuk menilai hasil praktikum mahasiswa. Hal ini membuat saya sangat senang karena merasa begitu dihargai. Kalau menggunakan istilah suami saya, salah satu kebutuhan orang dalam berkarir adalah acknowledgment. And i got it even just a little bit. And I was so happy. Buat para ibu hamil, tetaplah melakukan hal yang membuatmu gembira :)

Senam hamil
source: mommys-daily.com

Senam hamil mulai saya lakukan saat usia kehamilan 32 minggu. Pertama kali saya mengikuti senam di RS Hermina, Bogor. Selain di Hermina, saya juga mengikuti senam di Bidan Srie Dodi yang berada di belakang pasar Gunung Batu, Bogor. Senam hamil di kedua tempat ini sangat menyenangkan.

Ada perbedaan dan persamaan antara senam di RS dan bidan. Di RS, tempatnya lebih nyaman, ber-AC, dan matrasnya lebih empuk. Hanya saja durasi waktunya lebih singkat (sekitar 30 menit) dan gerakan senam yang diajarkan lebih soft. Kalau di bidan, durasi waktunya lebih lama (sekitar 60 menit), dan gerakan-gerakannya lebih variatif. Ada gerakan lembut, gerakan dinamis, sampai gerakan berpasangan dengan sesama ibu hamil. Lebih seru! Persamaannya, instruktur senam di kedua tempat ini sama-sama dipimpin oleh bidan. Kedua, biaya senam di kedua tempat ini sama-sama murah, hehe. Di Hermina hanya 15 ribu rupiah, sudah plus teh manis hangat dan makanan ringan. Di bidan Srie Dodi hanya 20 ribu rupiah dengan durasi senam panjang plus tausiyah tambahan yang menyejukkan hati dari instrukturnya ^^.

Selain senam di RS dan bidan, sesekali saya juga senam di rumah. Aktivitas rutin yang saya lakukan untuk mendukung kelancaran persalinan selain senam hamil, adalah jalan kaki pagi dan melakukan gerakan jongkok berdiri (seperti bending) setiap pagi dan malam hari. Tujuannya untuk menguatkan pernafasan dan melenturkan otot pintu jalan lahir. Saya juga sempat berenang dua kali sepanjang masa hamil. Namun, setelah berenang yang terakhir kali, saya berhenti. Karena tidak lama setelah itu saya masuk rumah sakit.

Kontraksi prematur

Pada bulan ke-8, saya meminta tolong suami untuk menemani saya ke RS di luar jadwal kontrol kandungan. Sudah beberapa hari perut terasa kencang di luar kebiasaan. Meskipun saya tidak merasakan sakit atau mulas yang sangat, saya ingin memastikan janin kami dalam keadaan baik. Sebelum melakukan USG, dokter menanyakan keluhan yang saya rasakan. Saya bilang perut terasa kencang sekali. Ternyata benar, dokter pun mengatakan hal yang sama. Perut saya sangat kencang. Dokter melanjutkan pemeriksaan dengan alat USG (alhamdulillah air ketuban masih banyak dan bagus), lalu menyarankan saya untuk lanjut tes CTG (cardiotocography). Tes CTG ini bertujuan untuk mengetahui benar tidaknya terjadi kontraksi dan memeriksa frekuensi gerakan janin di rahim.

Saya melakukan tes CTG di salah satu ruang bersalin. Berbaring selama kurang lebih 30 menit dengan dua alat yang ditempelkan di perut. Satu untuk memantau detak jantung janin, satu lagi untuk memeriksa level kontraksi rahim. Bidan yang memeriksa saya menjelaskan bahwa seharusnya grafik pada kertas CTG tidak boleh naik untuk menandakan saya tidak mengalami kontraksi. Hasilnya? Grafik yang tercetak pada kertas naik tiga kali dalam 30 menit pemantauan dengan angka yang cukup tinggi (sekitar 50 dari skala kontraksi maksimal 100). Dokter pun memberikan saya obat anti kontraksi dan penguat paru bagi janin, serta menyarankan saya untuk rawat inap selama dua hari. Saya harus bedrest.

Pasca keluar rumah sakit, saya tidak diizinkan lagi untuk mengikuti senam hamil ataupun aktivitas berat lainnya. Namun, saya tetap diperbolehkan melakukan senam ringan di rumah untuk sekedar melenturkan otot dan melatih pernapasan. Tidak untuk gerakan yang memicu kontraksi.

Pengalaman mengalami kontraksi prematur ini membuat saya mempelajari beberapa hal baru. Tentang CTG, tentang obat penguat paru pada janin, dan yang pasti membuat saya pertama kalinya mencicipi peran sebagai pasien rawat inap di rumah sakit. Pertama kalinya diinfus. Hoo... begini yah rasanya.

Kalau kontraksi prematur itu sendiri apa sih? Apa bedanya dengan kontraksi palsu? Pertanyaan itu yang saya lontarkan pertama pada perawat saat hasil CTG keluar. Kontraksi prematur ya terjadinya kontraksi sebelum waktunya. Kontraksi prematur berpotensi pada terjadinya kelahiran prematur. Oleh karena itu obat penguat paru pada janin dibutuhkan. Kalau kontraksi palsu, misalnya saya merasakan perut keras atau kejang seperti yang saya keluhkan sebelumnya, tetapi saat diperiksa oleh CTG tidak tampak adanya kontraksi. Itu baru kontraksi palsu.

Oke, sehat-sehat selalu ya para bumil disana. Be pretty, be happy ^6^.


Sampai jumpa di episode selanjutnya...

Tentang Kita Nak (1)

Sabtu, 05 Agustus 2017


4 November 2016

Bada salat Asar, aku bersimpuh lebih lama setelah berdoa di atas sajadah. Itu hari Jumat, hari besarnya umat muslim. Hari itu perasaanku sedikit berkecamuk. Betapa inginnya aku mengikuti AKSI 4/11 di Jakarta yang bagiku seperti panggilan jihad tersebut. Apalah daya, oleh sebab beberapa hal, aku tidak bisa turut serta.

Sore itu, aku berbicara sambil mengelus perut, “Nak, walaupun raga kita tidak ikut ke sana, semangat juang kita jangan pernah sirna ya. Untuk membela agama, untuk berjihad di jalan-Nya.”

Dan aku sungguh tidak tahu bahwa saat itu memang sedang bertumbuh bakal janin dalam rahimku!

***

Sejak awal menikah pada Oktober 2015, hampir setiap bulan aku membeli alat tes kehamilan di apotek. Pernah sekali membeli alat tes kehamilan yang harganya lumayan, Rp 40.000. Mungkin hasilnya lebih akurat, kupikir. Lebih jauh dan tidak logisnya lagi, aku berpikir saat menggunakan alat tes kehamilan mahal ini, mungkin hasilnya bisa ‘garis dua’. Haha.... yang membuat ‘garis dua’ itu kan bukan alatnya, melainkan kadar HCG dalam urin sebagai indikator kehamilan. Yaa siapa tahu karena alat ini harganya mahal, terus aku jadi hamil, wkwk. Well, jangan ditiru yah sodara-sodara, pola pikir lulusan S2 ini yang kalau lagi berharap punya anak, logikanya mendadak hilang tenggelam di dasar bumi. Nyatanya, garis yang muncul saat aku melakukan tes tetap satu. Negatif. Aku pun menghela nafas dan tidak pernah lagi membeli alat tes yang mahal. Bulan-bulan berikutnya, setiap ke apotek untuk membeli alat tes kehamilan dan ditanya mau yang mana, dengan tegas aku menjawab, “Yang harganya Rp 4.000 saja.”

Selain kebiasaan membeli testpack (alat tes kehamilan) setiap bulan, kebiasaanku yang lainnya adalah mengajak ngobrol perutku di saat-saat tertentu. Terkadang aku berimajinasi bahwa aku sedang hamil, dan mengajak bicara anak dalam kandunganku tentang apa saja. Bagiku realisasi imajinasi adalah salah satu bentuk ikhtiar mewujudkan doa dan harapan. Atau anggap saja aku sedang berlatih cara mengobrol dengan janin dalam kandungan. Padahal berkali-kali yang saat itu sedang aku ajak bicara sesungguhnya adalah baso, tahu, atau nasi goreng di dalam perut!

Aku rasa sudah menjadi hal yang umum terjadi pada setiap pasangan baru menikah jika ditanya perihal momongan. Bulan pertama menikah, tetangga sebelah bertanya, “Sudah isi belum?”... Bulan kedua menikah, keluarga dari pihak istri bertanya, “Sudah isi belum?”... Bulan ketiga, keluarga dari pihak suami giliran bertanya, “Sudah isi belum?”... Dan bulan-bulan berikutnya, setiap orang yang ditemui seolah-olah mendapat giliran pesan berantai untuk menanyakan hal serupa.

Dan aku? Saat suasana hati sedang tenang, aku dengan santai akan menjawab, “Alhamdulillah, tadi baru isi nasi,” atau “sudah isi lontong tadi,” atau “tadi barusan isi risol.” Atau minimal menjawab dengan kalimat normal, seperti “mohon doanya”. Namun, terkadang mendapat pertanyaan demikian juga bisa mencipta baper. Aku pun mengalami pasang surut emosi tersebut. Mulai dari hati yang penuh harap bahwa aku bisa segera hamil, mendadak risih dengan pertanyaan orang-orang, meminta doa dari banyak orang, berpikir apakah aku bisa hamil?, sampai............... sampai sampai aku lupa emosi apa saja yang pernah kurasakan ^^”.

Aku dan suami beberapa kali membahas tentang perlu tidaknya kami mengikuti program hamil, tetapi pada akhirnya kami memutuskan untuk menjalaninya secara alami. Toh, tesisku saat itu belum selesai. Kami baru menikah dan masih banyak adaptasi dalam berbagai hal. Awal-awal menikah juga diriku masih disibukkan oleh beberapa proyek dari konsultan tempatku bekerja. Bagaimanapun, ketenangan hati dan kesehatan fisik diperlukan untuk suksesnya proses pembuahan, bukan?

Aku menyelesaikannya satu per satu. Setelah usai beberapa proyek, aku memutuskan untuk off terlebih dahulu dari dunia perproyekan. Suamiku terus memberikan semangat dan dukungan agar aku segera menyelesaikan studi. Dinamika dalam rumah tangga juga kami coba kelola dengan komunikasi yang baik. Aku terus menanamkan afirmasi positif bahwa semua akan selalu hadir tepat pada waktunya. Toh, Rasulullah Saw dan Khadijah pun baru memiliki anak setelah tiga tahun pernikahan mereka. Sudah sepatutnya aku mampu untuk lebih bersabar, kan?

Akhirnya aku memutuskan untuk sungguh-sungguh menikmati masa berdua. Agar tidak perlu ada keluhan di masa mendatang saat anggota keluarga kami nanti bertambah, lalu aku berkata, “Pengen bisa berduaan lagi deh, sekarang susah sekali mau jalan berduaan kayak dulu.” Pun aku bertekad dan berdoa agar tidak sampai keluar dari lisanku ucapan, “Duh, anak banyak kayak gini repot banget yah, beda sama kayak dulu waktu masih satu.” Nikmati...nikmati...syukuri.... Saat sudah ada anak nanti, pasti akan berbeda dengan saat masih berdua. Saat punya anak dua, tiga, atau empat, pasti berbeda juga dengan saat masih baru punya satu anak. Jadi, aku ingin sungguh-sungguh menikmati setiap fase yang kulalui. Dan diantara semua rasa harap dan cemas akan hadirnya buah hati, aku terdiam saat ayahku mengatakan, “Itu hak prerogatif Allah.” Entah kenapa, kalimat tersebut membuat hatiku begitu tenang. Mengingatkanku kembali bahwa setelah ikhtiar dan doa, kewajiban berikutnya adalah tawakal. Tidak seharusnya aku merasa terlalu cemas ataupun terpengaruh karena pertanyaan dari orang-orang.

***

17 November 2016

Kejutan itu pun datang. Pagi hari selepas suamiku berangkat kerja, aku penasaran ingin melakukan tes, walaupun baru telat dua hari. Jeng... jeng... jeng...!!! Dua garis!!!!! Subhanallah, ini sungguhan? Apa alat testpack-nya valid? Biasanya aku sudah telat seminggu saja hasilnya tetap satu garis. Masih dalam rasa tidak percaya, aku mengulangi tes. Hasilnya sama, dua garis. Dengan mata nyaris tak berkedip dan hati yang mulai meletup-letup takjub, aku pun mengucap hamdalah. “Alhamdulillah.... Alhamdulillah.... Alhamdulillah....”

Aku mengirimkan foto hasil tes ke suami melalui whatsapp tanpa penjelasan apapun. Penasaran mengetahui reaksinya. Satu menit, dua menit, kok tidak direspon? Padahal sudah dibaca, hmmm... Menit ketiga, teleponku berdering. Suara suamiku terdengar serak di ujung sana. “Neng? Neng hamil?”

Aku mengangguk. Lupa bahwa itu telepon, bukan video call. Buru-buru aku ralat, “Iya A, alhamdulillah.”

Dan suamiku mengucap hamdalah berkali-kali. Mengatakan ingin menangis, tetapi malu karena sedang berada di dalam kereta. Itu pertama kalinya suamiku berbicara di telepon dengan begitu ekspresif. Aku yang tadinya tidak terpikir untuk menangis, jadi ikutan menangis karena mendengar suamiku ingin menangis. Dan akhirnya aku pun menangis, sambil tersenyum. Haduh, apa sih ini bolak-balik gini kalimatnya >D<....

Hari itu, aku pun periksa kehamilan di bidan untuk pertama kalinya. Bu bidan meyakinkanku bahwa hasil tes-ku memang positif dengan usia kehamilan kurang lebih empat minggu. Beliau menanyakan kondisiku, menyemangatiku untuk bersiap-siap jika terjadi perubahan fisik dan psikis, dan memberiku selamat atas kehamilan pertamaku. Alhamdulillah, ternyata tanda cinta itu datang, tepat satu tahun pernikahan kami. Dan tepat setelah aku menyelesaikan revisi tesis pasca sidang di bulan lalu.

Awalnya kupikir aku tidak akan merasakan mual dan muntah, seperti diwanti-wanti oleh bidan. Ternyata aku mengalami masa-masa tersebut. Memasuki bulan kedua kehamilan, aku mulai merasakan mual. Bukan di pagi hari seperti teori umum bercerita (morning sick), melainkan siang sampai sore. Terkadang, sepanjang hari juga sih mualnya, tetapi dalam kadar yang ringan.

Sempat mual mencium bau ikan dan bau-bau tajam lainnya juga. Sempat kesulitan untuk mencuci piring, karena tidak tahan oleh bau piring kotor. Alhamdulillah, suami beberapa kali dengan sigap mengambil alih tugasku. Beberapa kali juga muntah selama trimester pertama tersebut, apalagi kalau mencium bau asap kendaraan di jalan. Setiap pagi aku menjadi sebal sama orang-orang yang berangkat kerja atau sekolah dengan kendaraan bermotor dan asapnya tercium hingga ke kamar. Suami pun menjadi korban mualnya istri saat pulang kerja. Maklum, sepanjang perjalanan pergi-pulang kantor, pasti banyak asap dan debu yang menempel. Alhasil saat aku mencium tangan suami, bereaksi-lah hormon-hormon mualnya, hehe.


Kontrol hamilku berganti-ganti antara bidan dan dokter. Saat ada suami yang bisa mendampingi, aku kontrol ke dokter di rumah sakit. Bisa sekalian USG juga. Kalau sedang sendiri, aku cukup kontrol ke bidan saja, haha. Hemat. Urusan hemat perhematan ini sempat menjadi dinamika rumah tangga juga selama proses kehamilan, khususnya dalam memutuskan tempat persalinan nanti. Tunggu ya, aku akan menceritakannya di episode berikutnya, insyaallah.

Cerita seru selama trimester awal kehamilan ini adalah saat aku masih harus bolak-balik kampus mengurus perbanyakan tesis dan daftar wisuda. Aku juga harus mengurus pengembalian biaya SPP semester ganjil yang sudah sempat kubayarkan sebelumnya karena jadwal sidangku yang sudah masuk semester baru. Lumayan bisa kembali 30%. Itu harus diperjuangkan. Namun, apalah daya sebab mualku kian hari kian bertambah. Aku tidak bisa setiap hari ke kampus. Akhirnya menyelesaikan segala tetek bengek administrasi pun berjalan lebih lambat dari yang seharusnya. Saat petugas TU Pascasarjana IPB melihat tanda pengambilan berkasku, ia pun heran.

“Kok baru diambil sekarang, Mbak?”

“Lagi hamil muda, Pak. Mual-mual saya.”

Mimik wajah si bapak yang awalnya agak jengah, seolah berkata ‘Males gue ngurusin mahasiswa yang lambat ngurus administrasi’ berubah menjadi sumringah, dan sambil tersenyum mengucapkan selamat padaku. Masih ditambah pula dengan sedikit ramah tamah menanyakan kondisi kehamilanku dan asal daerahku darimana, wkwk. Jadi ramah banget pokoknya! Bersyukurnya tinggal dengan budaya timur itu adalah fakta ibu hamil selalu bisa menjadi alasan dan dispensasi untuk banyak hal :p...

Contoh lainnya adalah saat naik kereta commuter Jadebotabek. Kondisi hamil muda tentunya belum terlalu kelihatan seperti orang hamil, karena perutnya belum membesar. Namun, setiap kali aku harus naik kereta, suamiku akan mengajakku ke arah kursi prioritas dan meminta penumpang yang kurang berhak untuk memberikan kursinya padaku. Jikapun aku harus naik kereta sendiri (tanpa suami), aku pun akan mengatakan bahwa aku sedang hamil. Untuk berjaga-jaga, aku selalu membawa buku rekam medik kehamilan kemana-mana. Supaya kalau ada oknum penumpang yang tidak percaya tentang kehamilanku, aku akan langsung mengeluarkan buku tersebut agar mereka paham bahwa ‘Nih, gue beneran hamil!’ wkwk... Tapi alhamdulillah sih, penumpang selalu percaya. Jadi aku tidak perlu sampai mengeluarkan buku rekam medik kehamilan, hhe.

Poin penting saat di tempat publik seperti kereta adalah kita harus mengatakan dan meminta dengan jelas hal yang kita butuhkan. Jangan selalu berharap bahwa orang-orang di sekitar kita harus paham dengan kode-kode yang kita berikan, seperti memaju-majukan perut (supaya orang tahu kita sedang hamil), atau misalnya pura-pura mual (tapi kalau aku memang mual sungguhan sih ^^”). Katakan dengan jelas, “Permisi, boleh gantian duduknya? Saya sedang hamil.” Urusan orangnya percaya atau tidak, bukan tanggung jawab kita.

Cara menyiasati lainnya adalah dengan naik ke gerbong campuran. Kalau sedang hamil, sebisa mungkin hindari naik kereta khusus wanita di jam-jam sibuk. Persaingan antar-wanita itu bisa lebih kejam daripada soal ujian nasional!!! Lagipula, kursi prioritas di gerbong wanita biasanya cepat penuh dengan orang-orang yang memang prioritas, seperti para lansia. Jadi, aku selalu memilih gerbong campuran dan mencari kursi prioritas yang isinya ‘tidak prioritas’. Kalau kondisi di gerbong sedang sulit karena terlalu penuh atau penumpangnya pada tidur semua (haha, ini lebay sih,,,), cara jitu terakhir adalah dengan mencari petugas dan meminta tolong, wkwk.

It’s really happy moment to be a pregnant woman. Alhamdulillah.... :D

Nantikan cerita berikutnya yah ^.^  



-to be continued-

sumber gambar:
1. soloraya.net/mendorong-keberfungsian-kelas-ibu-hamil/kartun-ibu-hamil-muslimah/
2. https://www.brilio.net/life/13-ilustrasi-ini-ungkap-suka-duka-jadi-ibu-hamil-jangan-durhaka-ya-1603026.html

Dia

Selasa, 04 Oktober 2016

Dieng, 2013

Pagiku berganti lagi

Ditelusup cahaya menembus tirai

Beramai kicau burung sahut-menyahut

Aku ingin berlari dengannya

Mengejar hujan sampai pelangi

Dibalut mimpi untuk selalu bersamanya

Pada bulan baru yang dikatakan sunnah untuk bercinta

Bahkan tembikar di rumahku pun tertawa

Melihatku merengek manja

Hingga melepasnya membuatku biasa

Dan meskipun esok kan terjadi lagi

Aku ingin pagi yang menyejukkan mengerti

Rindu itu selalu ada

Setiap hari


-POLARIS-
Bogor, 12 Juli 2016

Saatnya Lebaran, Saatnya Kondangan :p

sumber gambar: katakata.me

Suasana lebaran di negeri ini, biasanya tidak jauh-jauh dari suasana hajatan dan memenuhi undangan walimahan kawan, rekan, ataupun sanak-saudara. Bulan Syawal (lebaran Idul Fitri) yang lalu ramai rasanya undangan datang silih berganti. Memasuki Bulan Dzulhijah (lebaran Idul Adha) sampai tahun baru di Bulan Muharam sekarang, masih berduyun-duyun undangan datang melalui bentuk tercetak ataupun pesan elektronik.

Seharusnya aku juga tidak boleh lupa bahwa tahun lalu aku pun menikah di bulan “musim nikah”, wkwk... Aku menikah di penghujung Bulan Dzulhijah. Dan sekarang sudah masuk tahun baru lagi di Bulan Muharam. Baru kusadari kembali saat tadi pagi berpapasan dengan pawai tahun baru Hijriyah yang disemarakkan oleh anak-anak sekolah dengan berkeliling jalan dan komplek, membawa poster sambil membagikan permen, serta memainkan musik dan bunyi-bunyian sepanjang perjalanan. Iring-iringan pawai yang kutaksir mencapai panjang satu kilometer. Seingatku, tahun lalu aku menyaksikan pawai yang begitu ramai di sepanjang jalan lingkar Kebun Raya Bogor setelah aku menikah pada 10 Oktober. Kenapa sekarang sudah pawai lagi yah, padahal belum waktunya anniversary?

“Ukuran tahun Hijriyah ‘kan lebih pendek dari tahun Masehi, duduuuul....” otak bagian logika-ku berkomentar sebal.

Oh iya, benar juga. 

Well, senang sekali rasanya bisa berpapasan dengan pawai tahun baru hari ini. Seperti sedang menonton pertunjukan yang tidak kurencanakan sebelumnya. Seperti tahun lalu yang tidak kusangka-sangka. Suamiku jatuh sakit selepas acara pernikahan, sehingga rencana jalan-jalan bulan madu kami ke luar kota pun batal. Namun, dalam sakitnya ia tetap memaksakan diri mengajakku berkeliling kota. Walaupun itu hanya mengunjungi stasiun dan makan bersama di kafe, tetapi nyatanya aku beroleh gembira lebih dari yang kukira. Aku bisa menyaksikan pawai kolosal yang begitu seru di jalan. Aku bisa menikmati hujan sambil ditemani sup panas dalam temaram lilin yang romantis. Dan... aku jadi berharap bahwa aku bisa menyaksikan pawai seperti ini setiap tahun. Pawai Tahun Baru Islam. Pengingat bahwa aku harus memulai segalanya dengan penuh syukur. Pengingat bahwa aku harus memulai kembali berkarya dan menebar sebanyak-banyaknya manfaat. Pengingat bahwa aku telah memulai untuk memberikan baktiku pada seseorang yang disebut suami, hehe....

***

Baiklah, di episode kali ini, aku ingin bercerita tentang salah satu undangan pernikahan yang kuhadiri beberapa waktu lalu bersama suamiku. Pernikahan dua orang teman SMA yang proses perjalanannya unik. Kita sebut saja mereka sebagai Dono dan Manda. Dono adalah temanku dari SMP-SMA, satu organisasi di Rohis, dan pernah satu tempat les bahasa Inggris juga saat SMP. Manda baru kukenal saat bertemu di SMA, satu organisasi juga di Rohis, dan satu tempat bimbingan belajar saat kelas 3 SMA.

Proses perjalanan mereka menuju pernikahan membuatku begitu penasaran, karena aku cukup dekat dengan keduanya saat masa sekolah dulu. Aku dan sahabatku, Irma, sering sekali membicarakan Dono sejak SMP kala kami membahas tentang dinamika organisasi sekolah ataupun tentang ragam uniknya teman-teman kami. Dan tidak pernah nama Dono tidak disebut dalam setiap obrolan. Bagi kami, Dono adalah teman yang paling kami apresiasi tinggi atas “catatan bersih”-nya dalam pergaulan. Saat SMP dan banyak dari teman kami di Rohis terjerat ‘virus merah jambu’ dan mengekspresikan masa puber dengan saling memberi perhatian pada lawan jenis, menolak untuk berpacaran tetapi menjalani HTS (hubungan tanpa status), ataupun mengatakan hanya berteman tetapi sering terlihat jalan bersama berdua, Dono adalah satu-satunya anggota Rohis laki-laki yang tidak kami kirimkan surat kaleng. Yup, dalam kepengurusan Irma sebagai ketua keputrian saat itu dan aku sebagai penasihat bayangannya (haha... beneran, dulu itu jabatanku ^^”), kami berdua memutuskan untuk menuliskan surat kaleng yang kami kirimkan diam-diam sebagai bentuk peringatan dan kepedulian kami kepada saudara-saudara kami di Rohis. Hampir seluruh pengurus Rohis laki-laki dalam kepengurusan kami saat itu mendapatkan surat kaleng tersebut, kecuali Dono. Aku lupa bagaimana Dono sampai bisa memiliki catatan paling bersih dalam catatanku dan Irma, padahal perilakunya di kelas tak jarang membuat kami berdua sebal. Namun, selain pintar dan rajin, Dono memang ringan tangan untuk membantu teman, tidak pernah menyontek saat ujian, dan tidak pernah sekalipun pacaran.

Rupanya saat masuk SMA, Dono jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu Manda, alumni SMP sebelah. Aku baru tahu menjelang pernikahan mereka, bahwa sebagai remaja, Dono juga pernah melakukan seperti kebanyakan remaja yang jatuh cinta lainnya, pedekate. Dono sering mengirimkan pesan singkat pada Manda sebagai ekspresi perasaannya, walaupun tidak secara langsung. Sahabat Manda, kita panggil saja Aisha, melihat itu seperti sebuah kode. Aisha pun mengomeli Dono untuk lebih menjaga sikap. Dan, perilakunya itu tidak tertangkap oleh rekam jejak aku dan Irma, haha. Bagi kami berdua, ia tetaplah teman satu pemahaman yang sangat kami hargai atas keteguhannya dalam menjaga hati.

Saat lulus SMA, Dono dan Manda berada pada fakultas yang berbeda (saat SMA juga sudah beda jurusan sih ^^”), tetapi mereka masih berada pada universitas yang sama. Selama empat tahun kuliah, Dono tidak berkutat pada perasaan yang sempat menyapanya semasa SMA itu, bahkan mungkin ia sempat lupa dan tidak lagi memikirkan Manda karena padatnya aktivitas, perkuliahan, dan tugas-tugas. Barulah setelah lulus sarjana, ia mulai menata kembali rencana masa depan dan memikirkan perkara pendamping hidup. Dono mengajak Manda untuk berproses ke arah yang serius. Manda menolak. Ia belum berencana untuk menikah saat itu, alasannya.

Dono pun pergi ke Edinburg untuk melanjutkan studi program magister. Selama di sana, ia masih berusaha  untuk menghubungi Manda, dan mencoba kembali untuk meluluhkan hati Manda agar besedia berproses untuk menikah dengannya. Rencana Dono adalah Manda bersedia untuk berproses jarak jauh, sehingga saat ia kembali ke Indonesia, mereka tinggal melangsungkan acara pernikahan. Apalah mau dikata, takdir selalu mengajarkan bahwa kenyataan tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan. Komunikasi diantara mereka tidak berjalan mulus. Dono merasa ‘digantung’, sedangkan Manda berpikir tidak ada kejelasan dan kepastian dari komunikasi yang mereka jalani. Untuk kedua kalinya, Dono merasa bahwa Manda menolaknya.  

Aku membayangkan kisah Dono yang mirip dengan Arai. Ditolak dan diabaikan oleh Zakiah Nurmala berkali-kali. Terdampar di benua Eropa, lalu membacakan puisi untuk Zakiah dan mengungkapkan segala resah rindunya dalam penghayatan yang begitu dalam di hadapan orang-orang asing yang tidak mengerti bahasa Indonesia, hehe... 

Sayangnya, hal tersebut hanya ada dalam bayangan hiperbola-ku. Dono bukan tipe orang galau yang suka mendramatisasi perasaan. Ia menyelesaikan studinya tepat waktu, pulang ke Indonesia, dan mencoba memperjuangkan Manda kembali. Salah seorang sahabat Manda mencoba menjembatani mereka, hingga akhirnya mereka memulai proses ke arah serius dengan murabbi mereka sebagai perantara-nya. Di tengah jalan, Dono menghentikan proses. Ada hal tertentu yang dirasa tidak sesuai dengannya. Mereka pun kembali berjalan sendiri-sendiri.

Dono sempat hendak berproses dengan yang lain, begitu pula dengan Manda. Tidak ada yang cocok. Dan sekali lagi, begitulah takdir berbicara. Sejauh apapun kita melangkah, sebanyak apapun jarak memisahkan, orang-orang yang ditakdirkan bersama, pasti akan bertemu kembali. Dan untuk kesekian kalinya, setelah meminta maaf berkali-kail, Dono memohon kembali untuk berproses serius dengan Manda. Perjuangannya kali ini berbuah manis. Manda telah menjadi istrinya, kini.

***

Aku mengingat beberapa petuah tentang layaknya rasa suka dan perjuangan akan cinta. Salah satu orangtua ideologisku yang biasa kupanggil dengan sebutan Pa’e, selalu berkata untuk

“Jangan menyerah sebelum ditolak 21 kali!”

Fitrahnya laki-laki adalah untuk mengejar dan memperjuangkan. Kisah Dono dan Manda menjadi bukti nyata yang kurasakan langsung dari mereka yang pernah berinteraksi dekat denganku. Dono tidak menyerah dan berputus asa, walaupun Manda pernah menolaknya. Dan begitulah seharusnya mental pejuang! Tunjukkan kesungguhan dengan tidak mudah menyerah, sebelum ditolak 21 kali, hehe... Kalau ingin tahu kenapa harus 21 kali, ikut pelatihan Forum Indonesia Muda dulu, kuy! Nanti dikasih tahu langsung rumusnya oleh Pa’e ^.^....

Teringat pula olehku tentang sekian banyak quotes milik Tere Liye yang sering mengangkat urusan perasaan dan rasa suka yang umumnya tumbuh di kalangan remaja. Tentang bahwa sejatinya cinta itu bukan dengan mengumbar-umbar, mengatakan, atau memamerkannya kepada yang bersangkutan yang belum ada ikatan apa-apa dengannya. Yang membuat rasa suka itu berubah hambar, semakin sering ia menunjukkannya. Yang membuat diri sendiri bertanya-tanya, apakah benar sebesar itu rasa suka yang dimilikinya terhadap orang yang bersangkutan. Urusan rasa, jika tidak ditempatkan pada yang seharusnya, tidak akan membawa keberkahan apa-apa. Alih-alih malah membuat Yang Maha Mencinta menjadi tidak ridho pada ekspresi rasa yang kita tuangkan, naudzubillah kan jadinya.

Dono pernah memiliki rasa suka saat remaja. Ia, seperti kebanyakan para pecinta lainnya, juga mengekspresikan rasa sukanya pada yang dicinta. Namun, tidak berlebihan. Tidak diumbar hingga dunia tahu bahwa ia sedang menyukai seorang wanita. Tidak juga menyakiti harga diri yang disuka dengan mengajaknya kepada hal yang tidak Allah suka. Begitu pula sang wanita yang senantiasa menjaga diri dan hatinya, yang tidak mudah luluh pada perhatian dan kebaikan lelaki di sekitarnya, yang menyimpan kekayaan cintanya untuk dicurahkan pada saat yang seharusnya. Sehingga kesabaran mereka berbuah indah pada akhirnya. 

Dan....

Dari semua rasa takjub, kaget, bercampur senang yang kurasakan saat mendengar kabar bahagia kedua teman sekolahku tersebut, hal pertama yang aku ingat adalah kalimat yang pernah disampaikan oleh calon suamiku saat kami berproses dahulu. Kalimat yang menguatkanku bahwa ia bersungguh-sungguh terhadap niatan baiknya. Kalimat yang sekaligus membuatku tenang dan kembali mantap untuk berjuang bersamanya menuju ikatan suci, dan terus berjuang seterusnya di dalam ikatan ini. Tentang perjuangan, bahwa

"Kesungguhan hati seorang pria itu tidak bisa dilihat dari seberapa kuat ia mengejar seorang wanita. Tapi itu bisa terlihat dari seberapa kuat ia menjaga perasaannya agar tetap suci sampai saatnya halal tiba, kemudian ia lampiaskan perasaannya dengan bahagia tak terperi pada wanita yang Allah tunjukkan padanya."
(Yogaswara, 2015)

Akhir kata, barakallah untuk semua pasangan yang menikah pada bulan-bulan musim nikah ini, hehe.... Spesial untuk Manda, selamat yaa... telah menjadi istri seorang Dono yang begitu kuat dalam menjaga hati dan akhlaknya lurus sesuai ajaran-ajaran kewarganegaraan dan budi pekerti ibu pertiwi. Juga untuk Dono, selamat telah berhasil memperjuangkan cintanya pada koridor yang sewajarnya. Mendapatkan Manda yang cantik nan sholihah sebagai teman perjuangan dakwah dan penenteram jiwa dunia akhirat, insyaa Allah. Semoga keluarga kalian senantiasa berlimpah kebaikan dan keberkahan. Barakallahulaka wabaraka ‘alaika wajama’a bainakuma fii khaiir....

***