Kampusku

Rabu, 11 Maret 2015

Ini merupakan tulisan lama, beberapa bagian sudah berubah tidak seperti sedia kala, namun rasanya masih cukup relevan untuk sejenak bernostalgia.



#Kampusku itu tidak tergolong kampus yang memanusiakan manusia

Kampusku memiliki tangga yang sangaaaat banyak, hampir tidak memiliki ramp di setiap perbedaan level, tidak punya lift (kecuali di salah satu fakultas di ujung barat sana), dan sering membuat orang baru tersesat di dalamnya. Jangankan orang baru, dosen senior jika harus mengajar di fakultas lain saja sampai harus menelepon staf atau asisten mahasiswa dulu untuk menanyakan posisi ruangan. Jadi teringat zaman dahulu kala ketika saya menjadi panitia salah satu workshop di kampus yang mengundang dua orang aktivis lingkungan (salah satunya peraih piagam kalpataru) untuk menjadi tutor dalam workshop daur ulang. Beliau berdua sudah termasuk ke dalam golongan usia "nenek". Alhamdulillah, mereka menggunakan mobil pribadi ketika datang. Seenggaknya panitia tidak akan malu jika harus menjemput mereka dengan 'kendaraan kebangsaan'-nya mahasiswa (baca: angkot). Saya cukup menunggu di depan gerbang utama dengan sepeda kesayangan (dulu warna sepeda saya masih pink loh :D), dan menunjukkaan arah ketika sang mobil datang. Saat turun dari mobil dan menggandeng tlengan Eyang ke sebuah audit yang harus dicapai dengan bertangga-tangga -kau tahu di mana-, Eyang mulai protes, "Ya Allah, ini tangganya banyak sekali...". Saya hanya tersenyum, mengelus tangan Eyang, dan menyemangati Eyang untuk sampai di puncak. Maaf ya Eyang, kampusku memang istimewa.. Semangat mendaki, Eyang!

#Kampusku itu tidak bersahabat untuk orang difabel dan orang yang sakit-sakitan

Seorang dosen pernah berkata pada salah satu kuliahnya, "Orang cacat itu tidak bisa ya, kuliah di sini. Tangganya banyak banget."  Kembali lagi ke soal tangga -yang tidak memiliki ramp-. Para difabel pengguna kursi roda tentunya tidak akan bisa mengakses ruangan-ruangan yang berada di lantai atas. Jangankan ruangan, mengakses koridor dari jalan saja sudah berpindah level. Tanpa bantuan orang lain, tentunya akan sulit karena (lagi-lagi) tidak ada ramp yang bisa digunakan untuk kendaraan berroda. Oke, cukup pembahasan tentang ramp. Lalu, kenapa dengan orang yang sakit-sakitan? Absen 3x kuliah di IPB, artinya tidak bisa mengikuti ujian. Mengulang tahun depan. Tidak ada toleransi. Begitulah.... Rasanya sedih, ketika melalui semester demi semester, ada saja teman seangkatan yang berguguran. Semester ini sakit paru-paru, semester esok ada yang terserang tifus, semester esoknya lagi ada yang terserang hepatitis. Dan tidak seperti zaman sekolah yang walaupun tidak masuk sebulan, asal sang anak bisa mengejar ketertinggalan dan mengikuti ujian, sekolah memberikan toleransi dan ia tetap naik kelas. Dunia kampus tentu berbeda. Akhirnya walaupun kami masuk bersama-sama, ketika harus ada teman yang mengulang mata kuliah, jumlah orang di kelas praktikum kami terus berkurang. Artinya, civitas akademika kampusku itu harus sehat jiwa dan raga. Salah satunya ya dengan naik-turun tangga karena itu menyehatkan jantung (haha.. sekarang saya berbalik mendukung tangga). Harus ada olahraga lah ya, walaupun sudah tidak di tingkat 1 lagi yang masih ada matkul Olahraga dan Seni. Minimal kalau jalan atau bersepeda diniatkan untuk berolahraga. Harus sehat jiwa juga. Penting yang namanya 'mengelola stres'. Karena tidak sedikit di antara mahasiswa yang ketika saking stress-nya mengerjakan tugas-tugas praktikum terucap, pindah jurusan masih bisa gak sih.. atau yang lebih parah, pindah kampus aja apa yah? Yaa.. saya termasuk salah satunya sih, hehe.. Itu waktu jenuuuuh sekali. Tapi tetap konteksnya bercanda, lah... Wong masuk sini adalah impian dari kecil, mana mau saya korbankan gitu aja #tsaaah  

#Kampusku itu tidak tergolong kampus yang memanusiakan manusia

Bayangkan saja kalau sedang kebelet ingin menunaikan hajat, kita harus berlari ke fakultas tetangga karena tidak di setiap tempat toiletnya layak guna. Kalau tidak ke fakultas tetangga, pulang ke kosan, atau menumpang di kosan teman terdekat (saya tidak mungkin-lah lari ke SBJ hanya untuk mengejar toilet -__-"). Kalau mahasiswa yang dipercaya oleh dosen untuk memegang kunci sih, ada keuntungan khusus karena bisa menggunakan toilet dosen dan staf :p. Ini permasalahan klasik sebenarnya, permasalahan yang sudah lama juga dan selalu dikeluhkan. Tapi sepertinya kampusku mulai berbenah sedikit demi sedikit untuk urusan toilet yang satu ini. Beberapa yang kondisinya sangat parah sudah agak lebih baik dalam beberapa semester terakhir.

Lingkungan lingkar kampusku juga tidak tergolong memanusiakan manusia. Jalanan yang sempit dengan trotoar yang tidak seberapa, dan hampir seluruhnya dimanfaatkan oleh pedagang kaki lima. Kalau berjalan, mahasiswa harus bersaing dengan para angkot dan motor. Sering mahasiswa yang harus mengalah dan berjalan di atas kansteen pembatas antara jalan dan selokan. Pada salah satu praktikum mata kuliah, saya dan teman-teman pernah mengerjakan topik berkaitan lingkar kampus ini. Banyak contoh juga didapatkan dari senior yang membuat rancangan daerah lingkar kampus, walaupun hanya sebatas desain satu segmen jalan saja. Kalau melihatnya sangat idealis, membuat hati gembira dan kembali merangkai mimpi bahwa suatu hari kelak itu akan terwujud. Yah, maklum saja. Dunia mahasiswa adalah dunia idealisme di mana segalanya bisa dibuat ideal. Tapi sesungguhnya, 'ideal' itu bukan sesuatu yang tidak mungkin kan?

#Kampusku itu juga tidak tergolong bersahabat dengan sepeda

Tempat parkir sepeda hanya terdapat di halte sepeda yang dikhususkan bagi sepeda kampus saja. Karakter bersepeda itu mirip-mirip sih ya, dengan karakter manusia yang ingin mencapai suatu tempat dengan akses tercepat. Karena kalaupun ada parkiran khusus sepeda itu lokasinya jauh, jadi saya biasanya parkir sepeda di samping pos satpam, di tempat parkir motor, di atas tutupan drainase, atau di bawah tangga. Jalanan kampusku yang berkontur juga memang sebenarnya kurang cocok untuk bersepeda. Tapi, saya sih oke-oke saja. Karena jalanan kampus yang unik ini selalu bisa memberikan cerita. Teringat saat masih menjadi calon mahasiswa dulu, seorang senior sudah mewanti-wanti bahwa kampusku adalah institut pembesaran betis. Karena mahasiswa harus banyak berjalan. Kuliah pagi bisa di ujung barat, siangnya di ujung timur. Bis kampus hanya tersedia pada jam-jam pergantian kuliah normal, yakni jam 8, jam 10, jam 13, dan bis terakhir jam 17. Kalau kebagian kuliah di jam yang 'tidak normal', ya harus berjalan. Alhasil mahasiswa tingkat pertama sukses dengan ukuran betisnya yang berubah menjadi montok.

Untuk urusan bersepeda, akhirnya kampus memutuskan untuk meng-cut lahan menjadi datar pada beberapa segmen jalan. Salah satu alasannya agar pengguna sepeda lebih nyaman (selain alasan untuk pembangunan gedung baru). Di luar dari pendapat pro dan kontra yang dulu sempat beredar akibat penebangan pohon, mengubah profil jalan, kampus yang bertambah panas, atau apapun itu, saya hanya menangis untuk alasan saya pribadi. Saya kehilangan satu segmen jalan favorit di bawah deretan pohon-pohon saga di mana saya selalu merasa gembira ketika berjalan di bawah kanopinya. Saya kehilangan sebuah tanjakan tercuram di kampus yang bisa memberikan sensasi roller coaster kalau naik sepeda dalam posisi turun (haha, agak lebay sih) dan membuat nafas ngos-ngosan kalau harus menanjak. Akhirnya cerita itu hanya bisa dikenang karena jalanannya sudah hilang, hiks.. (haish, koq jadi melankolis gini?).

Baiklah, karena sejak tadi hanya membicarakan kekurangan kampusku, sekarang saatnya menuliskan kelemahannya. Eh, sama aja atuh ya... Maksudnya sisi yang lain dari kampusku (susah amat sih ngomong k*l*b*h*n -,-). Yaa... intinya di atas semua itu, AKU MENCINTAI KAMPUSKU.


#Kampusku itu istimewa

Kalau datang ke kampus di pagi hari melalui pintu Berlin, lalu berjalan melalui node ARL, atau berjalan sepanjang koridor di depan studio perencanaan, maka wangi tanaman-tanaman yang menyegarkan ditambah asupan oksigen yang dihasilkannya akan menambah semangat untuk beraktivitas. Tapi ini hanya berlaku di pagi hari sebelum jam 8 pagi, karena kalau sudah agak panas sedikit, wanginya hilang. Sejuknya sih tetap.
Kalau sore hari, tempat paling menawan untuk melihat matahari terbenam adalah dari lantai paling atas salah satu fakultas yang terletak di paling barat kampus. Kau tahu di mana. Satu-satunya fakultas ranah barat yang warna lantainya beda sendiri. Satu-satunya fakultas yang memiliki sebuah piano di ruang kuliahnya. Level 6 gedung adalah tempat terbaik menatap langit sore dan matahari terbenam dari sana.

#Kampusku itu istimewa

Kampusku memiliki koridor-koridor yang super lebar. Yang terkadang mobil saja masuk koridor hanya untuk promosi layanan dari salah satu bank swasta. Koridor-koridor yang tidak pernah sepi dari berbagai bazaar, kecuali saat musim ujian. Koridor yang kalau sore dan malam hari selalu ramai oleh lingkaran-lingkaran mahasiswa dari berbagai organisasi dan komunitas yang rapat atau sekedar berdiskusi. Koridor yang kalau misalkan para mahasiswa berjalan sejajar secara bersama-sama, itu seperti video  F4 di Meteor Garden atau video klip salah satu lagunya Westlife zaman lawas dulu, haha... Ini ngayal-nya agak berlebihan sih. Tapi yang jelas, walau kesan lantai dan kolom-kolomnya seperti rumah sakit, koridor-koridor di kampusku itu keren.

#Kampusku itu istimewa

Kampusku tidak hanya ramah oleh tanaman, tapi juga ramah untuk berbagai jenis hewan. Selain fakultas-fakultas yang memang sesuai untuk namanya masing-masing, kampusku juga ramah oleh berbagai jenis burung. Satwa burung paling mudah ditemukan di sekitar danau. Namun, di waktu-waktu tertentu ada kawanan burung  yang hanya sekedar singgah di kawasan kampus. Pernah sekali hujan gerimis di kampus, tiba-tiba ada banyak sekali burung beterbangan di atas lapangan rumput dan berputar-putar untuk beberapa saat. Itu seperti sebuah pertunjukan. Dan itu hanya bisa dinikmati di kampusku pada waktu-waktu tertentu saja. Selama empat tahun ini, baru sekali saya melihat pertunjukan burung-burung seperti itu. Bukan sekawanan burung yang beterbangan di atas langit saat pagi atau sore hari, tapi burung-burung yang terbang rendah dan berputar-putar di tengah gerimis sore. Subhanallah... menakjubkan sekali.

Kampusku juga tampaknya ramah bagi para kucing -___-". Ada saja kucing di mana-mana. Kadang kucing masuk ke studio dan mengikuti perkuliahan. Kadang saat tengah mengadakan acara berpanggung di node atau koridor, kucing melenggang begitu saja berlalu di atas karpet. Yang paling banyak biasanya di asrama. Kucing asrama itu paling banyak membuat cerita. Yang suka buang air di lorong-lah, yang suka menjatuhkan tong sampah sehingga sampah asrama jadi berantakan-lah, sampai yang suka masuk kamar melalui jendela dan mencuri lauk di atas meja belajar. Operasi kucing sampai jadi salah satu program asrama di antara para lurah waktu itu. Karena saya pernah memiliki fobia terhadap kucing, akhirnya saya hanya bertugas memerintah dan memantau jalannya proses operasi kucing untuk bermigrasi. Aparat gedung lainnya, seperti sekretaris, bendahara, dan sie keamanan gedung turut membantu. Para lurah putra yang nantinya bertugas membawa kucing-kucing yang sudah ditangkap ke luar kampus.  Biasanya saya mengerahkan para pecinta kucing untuk menangkap para kucing yang super lincah itu. Sebelum dimasukkan kardus atau karung, biasanya mereka mengelus-elus kucingnya dahulu. Saya ingat salah satu dari mereka benar-benar pecinta kucing dan matanya berkaca-kaca saat memaksa kucing untuk masuk ke dalam karung. Tidak jarang kucing yang bersikeras melawan membuatnya tercakar dan luka-luka. Kalau sudah seperti ini, dengan agak merasa bersalah dan turut bertanggung jawab, saya merawat luka-lukanya. Siapa suruh takut kucing hingga memegangnya saja tidak berani dan akhirnya mengorbankan warga gedung -___-". Maaf yaa...

#Kampusku itu istimewa

Dunia kampus bisa membuatku menangis hingga tertawa dalam tangis haru. Kampusku bisa memberi tekanan dan tuntutan yang menjenuhkan, tapi juga bisa memberi kebahagiaan dan rasa syukur yang dalam. Jika ada yang mengatakan bahwa masuk kampus ini adalah tersesat di jalan yang benar, saya tidak merasa demikian, karena berada di kampus ini adalah tujuanku sejak duduk di bangku sekolah dasar. Jika ada yang masih merasa kampus ini membosankan dan menyebalkan, dan kadang saya pun pernah berpikir demikian, saya tetap menyukai kampusku dengan segala keunikannya. Jika ada yang masih menjalani kehidupan kampus begitu saja, saya menikmati kehidupan kampus dengan segala pahit getir dan manisnya (haha..maaf, yang ini lebay parah).

Baiklah, saya menulis ini bukan dalam rangka pemilihan rektor di kampus hari ini, ataupun pemilihan ketua BEM dan presiden mahasiswa yang akan berlangsung tak lama lagi. Kalaupun terpaksa dikaitkan ke sana, saya hanya merasa bersyukur bahwa proses pemira ini berjalan tanpa kehebohan berarti. Tidak ada kampanye berlebihan, tidak ada debat-debat terbuka yang sampai menimbulkan kericuhan, tidak ada pula ribut-ribut sampai merusak hubungan pertemanan karena mendukung calon yang berbeda. Saya tidak mengamati ke semua tempat di kampus sih, tapi pertama kalinya mengikuti pemira untuk rektor baru hari ini membuat saya merasa sangat bersyukur bahwa saya berada di sini. Bahwa mahasiswa, dosen, dan staf lainnya saling bekerjasama (mengutip himne ARL :p). Well, #Kampusku itu istimewa.

Jadi sedih ya, berasa mau berpisah dengan kampus gitu...
Emang udah lulus?
Iya, belum...
Itu urusin seminar dan sidangnya
Iya....
Sana nge-draft, malah nulis catatan.
Sebentar lagi, kok..
Awas, jangan ketiduran lagi di depan laptop!
Hehe.. sudah dulu ya, saya mau nge-draft dulu ^^

Terima kasih.   

-catatan 31 Oktober 2012-

Suasana studio ARL setelah ujian tiga hari berturut-turut membuat peta kontur


0 komentar:

Posting Komentar