CATATAN DE GLEMPANGERS (bagian #2)

Kamis, 26 Maret 2015



Hari pertama IGTF setelah dosen pembimbing mengantarkan dan meninggalkan kami di desa sore harinya, kami memulai aktivitas berdasarkan jadwal yang telah disusun sambil bersosialisasi dengan warga demi melihat peluang potensi pertanian desa secara umum. Briefing pembagian tugas pun digelar pada pagi hari kedua, Selasa, 25 Juni 2013. Ada yang kebagian survei pemetaan petakan lahan dari jalur gerbang 1 dan gerbang 2, ada yang pemetaan dengan GPS untuk rencana jalur irigasi, ada yang berkonsultasi dengan Pak Kades mengenai kepemilikan petakan lahan di Pertapan, dan ada pula yang melakukan wawancara dengan beberapa petani.

Mereka yang kebagian survei pemetaan dan mendapatkan medan yang ekstrim, tentu ekstrim pula cerita yang dibawa pulang. Harus blusukan mencari jalur, melewati pematang berbukit yang kemiringannya nyaris 90 derajat, menyeberang dari kebun yang satu ke kebun yang lain, sambil mencocokkan posisi dengan gambar peta dasar yang dibawa ataupun mengukur dengan meteran. Beberapa mahasiswa ada yang menikmatinya sambil perosotan di lahan (baca: jatuh), tetapi ada satu anak yang kalau anggota yang lain baru berjalan satu meter, dia sudah melangkah lima meter pada lahan yang curam seperti itu. Kita sebut saja namanya Parid. Masalah blusukan, tampaknya dialah yang paling piawai. Mendaki dari satu pematang ke pematang lainnya, membabat hutan, loncat dari satu pohon ke pohon yang lain, eh... yaah.. pokoknya begitulah.

Selesai blusukan, kadang ada saja yang dibawanya pulang. Misalnya nanas. Ketika kutanya ia dapat darimana, dengan bangga ia akan mengatakan bahwa nanas tersebut dari kebun. Lalu teman yang lain akan menceritakan kronologis sebenarnya.

“Parid ngambil di kebun tuh, Kak, pakai golok.”

“Eh? Sudah bilang ke yang punya belum?”


“Sudah kok, Kak,”

“Apaan?? Orang sambil lewat dia cuma ngomong ‘Pak, minta nanasnya ya!’, terus di belakang Faisal yang jawab ‘Iya’.”

Baiklah. Apapun itu, kuyakin orang desa tidak akan berkeberatan. Toh beberapa kali mereka blusukan juga ditemani oleh petani yang juga memiliki petak lahan di sana. Petani-petani di desa terlihat senang dan bersemangat akan kehadiran kami. Tidak sulit meminta bantuan atau sekedar menanyakan informasi yang kami butuhkan. Seyogyanya petani memang membutuhkan pendampingan walau hanya berupa motivasi. Saya hanya membayangkan bahwa petani yang menemani timnya Parid tersenyum geli melihat tingkah polah mahasiswa saat blusukan, atau ketika Parid menebang buah nanas dengan golok yang ditentengnya sambil berlalu enteng dan wajah innocent (wajah innocent? bo’ong bgt!).

Akhirnya kami merujak. Agenda rujakan hampir kami adakan tiap siang saat istirahat selesai survei lapang. Rujak nanas, pepaya, mentimun, dll. Kalau urusan membuat sambal rujak, kami punya ahlinya di kelompok IGTF Banjarnegara ini. Nama samarannya Iti, aslinya sih Fitria. Hasil ulekan sambalnya itu loh,  maknyossss tenan :D.

IGTF selama tiga pekan di Glempang ini program utamanya memang pengabdian masyarakat dengan tema khusus agrowisata durian, tetapi program sampingannya adalah penggemukan badan. Bayangkan saja, baru sepekan kami berada di desa, salah satu kemeja anggota IGTF sudah ada yang tidak muat untuk dikancing ketika hendak dipakai lagi. Kami selalu makan teratur di sini, walaupun menunya sangat sederhana (kalau menu anak laki-laki sih beda, agak mewah gitu dimasakkan oleh indung semang mereka). Dosen ketua panitia IGTF, Pak Wayan, tersenyum saat mendengar jadwal makan kami yang begitu intensif. “Kalian di kampus terlalu irit, sih,” sindirnya. Kami juga bisa tidur siang setelah kerja lapang di pagi hari, sebelum evaluasi dan melanjutkan kerja sore hari nanti. 

Mungkin ini juga yang menyebabkan percepatan membengkaknya badan. Beberapa anggota IGTF mengekspresikan takjubnya karena bisa merasakan tidur siang, hal yang tidak pernah bisa dilakukannya ketika di kampus. Entah karena ada kuliah, tugas, kerja kelompok, atau urusan organisasi. Sepertinya dulu saya juga seperti itu. Hampir tidak pernah merasakan tidur siang. Ah, tidak... saya sering tidur saat perkuliahan sebenarnya. 

Kembali ke desa. Jika berbicara soal makanan, ada upacara adat desa yang selalu rutin dilakukan setiap  menjelang bulan puasa. Namanya Sadranan. Orang desa lebih sering menyebutnya Nyadran. Upacara ini diadakan di tiap dusun desa (semacam RW untuk level kelurahan) dan dilakukan di Pertapan yang ada di masing-masing dusun. Ibu-ibu warga desa akan menyiapkan tumpeng dan berbagai makanan yang lalu diangkutnya ke puncak Pertapan. Bapak-bapaknya akan melakukan ‘gugur gunung’ atau kerja bakti membersihkan sebagian area dari rumput dan gulma. Nantinya juru kunci makam akan memimpin doa dan tahlil sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan, kemudian acara akan ditutup dengan bersalam-salaman dan makan bersama di atas daun pisang. Berhubung orang desa masak makanannya berlimpah tidak terkira, tentu saja tumpeng, lauk pauk, dan kue-kuenya berlebih. Warga desa membekali kami dengan berkantong-kantong makanan, bahkan pada Sadranan pertama yang kami ikuti di Dusun 1 kami mendapat oleh-oleh sebakul tumpeng plus makanan pendampingnya. Semakin sukseslah program pelebaran badan akibat dua kali memboyong oleh-oleh Nyadran.



Ternyata Sadranan ini tidak hanya membawa dampak baik pada pemenuhan terhadap gudang penyimpanan jaringan adiposa pada tubuh (baca: lemak) saja, tetapi juga menyebabkan kadar gas yang berada di organ-organ pencernaan meningkat drastis. Entah apakah makanan-makanan yang disajikan pada saat Sadranan mengandung banyak gas, atau apakah kami yang makannya berlebihan sehingga tidak lama setelah Sadranan kedua yang kami ikuti di Pertapan Dusun 4 (tapak perencanaan agrowisata)  berita “perang bom” mulai santer terdengar. “Perang bom” ini tentu saja diawali dari kelompok anak laki-laki. Dan kehebohan tentang “perang” juga selalu datang dari kelompok anak laki-laki. Bagaimana dengan kelompok anak perempuan? Sebenarnya sih terjadi juga, tetapi karena kami lebih kalem jadi ceritanya tidak seheboh yang laki-laki. 

Cerita paling lucu tentang “perang” adalah saat sore hari sebagian anggota IGTF yang perempuan sedang membantu Bu Kades melinting nomor undian warga desa yang jumlahnya 3000-an dalam rangka persiapan Pilkades, sementara lima anggota IGTF yang laki-laki (termasuk ketua) sedang jalan-jalan ke Pertapan. Survei lapang tambahan, katanya. Saat sedang blusukan di pematang, tentu mereka berjalan bukan secara bersisian, melainkan beriringan. Tiba-tiba saja yang berjalan paling depan buang angin dengan dentum suara yang tidak bisa dibilang kecil. Orang kedua yang berjalan persis di belakangnya sontak mengajukan protes, “Anjir lu, Bro. Gua jalan depan lu ajah.” 

Masalah tentu saja tidak selesai sampai di situ, karena nyatanya mereka berlima saling “mengebom” sepanjang jalan, sehingga tiap orang selalu berlomba ingin jalan di posisi paling depan agar terhindar dari “serangan bom” orang di depannya. Akhirnya mereka jalan sambil saling mendahului, saling berebut, dan saling sikut..#ups. Engga ding, tidak sampai saling sikut-lah yaa.. Hanya saja saya yang membayangkan kondisi demikian sepertinya sangat lucu. Jalan berlima beriringan di pematang sawah, ladang, dan kebun dengan membawa peralatan survei tapi sambil dahulu mendahului untuk alasan yang engga banget -.-“...

Pekan pertama di desa mungkin merupakan pekan paling padat aktivitas yang kami lakukan. Kami melakukan survei lapang, sosialisasi awal dengan para petani dan poktan, berkunjung ke balai desa, mengikuti sadranan, membantu pelaksanaan pilkades, menyiapkan dokumen laporan kemajuan program untuk supervisi dari dosen, sampai rekaman syuting untuk acara TV lokal Yogyakarta (stasiun TV yang bekerjasama dengan IPB untuk program IGTF ini). Tentang kehebohan kami dalam upaya mencegah para dosen agar tidak hadir supervisi pada tanggal 30 Juni –karena kami sangat ingin pergi ke Dieng melihat upacara potong rambut gimbal- sudah pernah dibahas ya sebelumnya (lihat Catatan De Glempangers #1). Singkat cerita, semangat kami untuk menggagalkan kedatangan mereka tidak berhasil. Mereka tetap datang pada siang hari tanggal 30 Juni, setelah sepagian hari tersebut kami menunggu sambil sedikit mengomel.

“Jadi engga sih, datang?”

“Engga jadi kali?!”

“Sudah sampai mana memangnya?”

“Katanya sudah di jalan.”

“Jalan darimana? Bogor? Kalau begitu sampainya bisa nanti malam atau besok kan, kita seharusnya bisa ke Dieng dulu.”

“Dari Bogornya sudah dari kemarin. Mungkin dari Purwokerto. Tapi belum ada kabar lagi katanya.”

“Tuh kan, tidak ada kabar. Sudah, kita berangkat ke Dieng aja sekarang.”

“Sudah telat juga, Bro. Acara potong rambut gimbalnya dimulai jam 11. Engga keburu kita ke sana sekarang.”

Yah, para dosen yang membuat kami galau itu datang juga akhirnya. Tidak disangka mereka memberikan apresiasi tinggi terhadap hasil kerja kami selama sepekan itu. Kami melakukan diskusi, menunjukkan gambar dan pengukuran hasil survei lapang, dan kembali mengunjungi Pertapan ditemani Pak Kades dan beberapa petani. Pihak TV lokal yang datang bersama para dosen juga melakukan beberapa wawancara terhadap Pak Kades, penyuluh pertanian, salah satu perwakilan petani, dan tentu saja pada ketua kelompok IGTF sebagai perwakilan mahasiswa. Mereka juga merekam demo pembuatan silase (pakan ternak hewan ruminansia) yang dibuat dari jerami, bekatul, urea, dan pupuk NPK. Di sini, Nurul sebagai satu-satunya mahasiswa Fakultas Peternakan di kelompok IGTF Banjarnegara menjadi narasumber dari proses pembuatan silase. Nurul menggaet Etik sebagai asisten untuk membantunya menginjak-injak campuran bahan pembuatan pakan tersebut di dalam tong. Setiap Nurul selesai menyampaikan satu tahapan proses, memasukkan bahan ke tong, lalu Etik akan memasukkan sebelah kakinya ke dalam tong untuk memadatkan campuran bahan.



Yup, agenda supervisi ditutup dengan makan siang dan foto bersama di depan pohon durian yang belum berbuah. Sungguh bersyukur hari tersebut berjalan dengan lancar. Bersyukur para dosen dan perangkat desa memberikan apresiasi yang begitu baik atas hasil kerja kami dan membantu kami mencari solusi untuk beberapa permasalahan. Bersyukur seluruh anggota IGTF tetap bersikap kooperatif dan saling mendukung satu sama lain. Segala prasangka buruk kami terkait ketidakjelasan agenda supervisi sebelumnya dijawab oleh Allah dengan balasan yang sungguh di luar perkiraan. Allah sungguh baik, ada saja caranya untuk menghibur fisik dan hati kami yang terkadang lelah. Bersyukur bahwa saya tidak dibiarkan-Nya untuk berhenti belajar dan mereguk hikmah dari banyak hal.



Oke, cerita tentang program utama dan para dosen kita usaikan. Kita beralih ke program lain yang kami lakukan di desa. Pilkades. Yup, kami membantu persiapan sampai hari-H pelaksanaan pilkades. Ada yang lucu pada pilkades ini. Saat hari-H, tidak semua anggota IGTF yang turun langsung untuk membantu jalannya pemungutan suara di lapangan dekat balai desa, melainkan hanya beberapa orang saja yang saya pilih untuk mewakili IGTF. Anggota IGTF lainnya, saya dan ketua kelompok minta untuk berkumpul di basecamp melanjutkan pekerjaan dan mencicil laporan kemajuan program. Mereka yang dikirim ke lapangan untuk membantu pilkades adalah Anis, Atari, Dyah, dan Reza. Laki-lakinya hanya dipilih satu orang saja, karena sebagian yang lain harus kembali survei lapang membantu tim Rusli memetakan petakan lahan, sedangkan dua orang lainnya lagi sudah punya janji untuk social mapping dengan dusun tetangga.    

Tadinya saya mengira bahwa Anis, Atari, Dyah, dan Reza akan diminta tolong oleh desa untuk membantu teknis pelaksanaan pemungutan suara. Saya berpikir kalau mereka akan ditempatkan di pinggir-pinggir lapangan atau di sekitar bilik suara. Ternyata perkiraan saya meleset sama sekali. Mereka berempat ditempatkan di atas panggung layaknya penganten!! Haha... dan MC alias pembawa acara akan dengan heboh berteriak pada warga, “Ayo! Yang tertib! Yang tertib!! Kalian diawasi oleh mahasiswa dari IPB.... Dari IPB!!! Jangan bikin malu. Ayo, yang tertib!”

Setelah beberapa jam bertahan duduk di atas panggung dengan harus mempertahankan senyum manis masing-masing, tugas mereka belum usai. Kerja otot mereka justru baru dimulai selesai pemungutan suara dan beranjak ke pembagian hadiah undian. Ada yang tugas mencatat nomor undian yang keluar, ada yang bantu mengoper hadiah undian, dan ada juga yang harus bertahan mengangkat dan memegang hadiah-hadiah tersebut dengan kedua lengannya sebelum diserahkan ke warga. Heboh dan seru tampaknya sepanjang berlangsung acara pilkades tersebut. Apalagi di akhir acara kabarnya panggung sempat roboh >_<...

Program lain yang memang sudah direncanakan sebelumnya adalah social mapping. Kegiatan social mapping ini sebagian besar dilakukan saat saya dan Fariz sedang pulang ke Bogor untuk menghadiri wisuda, sementara Fariz mengurus tanggal ujian sidang. Kami meninggalkan Desa Glempang selama lima hari, dan selama lima hari itu pula hati rasanya tidak tenang. Oke, saya jujur. Ke-25 junior-juniorku itu sukses membuatku merasa khawatir dan kehilangan. IGTF yang tadinya saya ikuti dengan setengah hati pada awalnya berubah menjadi keluarga yang mampu memberi banyak rasa dan cerita.

Selama saya meninggalkan desa, otomatis saya meninggalkan banyak cerita juga. Ternyata cerita seru yang mereka buat tidak sedikit, bertambah banyak malah. Parid dan Nurul mengambil alih peran Fariz dan saya selama kami tidak ada. Mereka membagi tugas untuk pemetaan sosial dan analisis objek-atraksi wisata ke lima dusun yang ada di Desa Glempang. Ada yang melakukan diskusi dengan berbagai poktan, ada yang melihat proses pembuatan gula nira, ada yang mengikuti cara pembuatan sriping pisang, ada yang belajar membuat kerajinan, dan sebagainya. Dan ada saja oleh-oleh yang mereka bawa sepulang dari dusun-dusun tetangga. Entah hasil merampok atau merayu sehingga warga desa rela memberikannya dengan cuma-cuma :p. Pernah Widadi dan Dwi, duo spesialis social mapping yang selalu kompak ini pulang ke basecamp dengan membawa pepaya, singkong rebus, dan... apalagi ya? Katanya itu hasil mengobrol-ngobrol dengan petani dusun sebelah.  

Ada cerita heboh saat sedang pemetaan sosial ke dusun tetangga yang kondisi jalurnya curam dan licin. Lokasi yang jauh tentu mengharuskan mereka yang kebagian tugas ke sana meminjam motor sebagai transportasi. Salah satu personil De Glempangers yang badannya cukup gembul dan gembil ternyata agak menyulitkan personil lain saat sedang memboncengnya naik dan turun dusun yang jalannya agak horor itu. Kita sebut saja namanya Nida. Nida dua kali jatuh dari motor. Pertama saat dibonceng oleh Nurul. Kedua saat dibonceng oleh Dwi. Walaupun Nida ini anaknya sangat ceria dan perhatian, dua kali jatuh dari motor tentu saja membuatnya menangis. Syukurlah tidak ada yang terluka parah. Semoga saja pengalaman ini tidak membuatnya trauma dibonceng motor lagi ;), juga Dwi yang sebenarnya punya trauma naik motor, semoga saja kejadian ini membuat traumanya sembuh #eh. Buat yang ingin lebih mengenal Nida yang terkenal dengan before time (lebih keren dari on time) dalam menepati janji ini, bisa dibaca profilnya di http://prajanaparamita.tumblr.com/post/55926787527/oleh-oleh-igtf-2013-dari-banjarnegara. Hehe... ini rujukannya pasti membuat hidung Nida kembang-kempis lagi, semoga Nida tidak baca tulisan ini Ya Allah....

Cerita lucu lagi adalah saat Fariz sedang galau menunggu tanggal sidang yang diajukan pembimbing skripsinya di Bogor, tiba-tiba Mita cerita di telepon kalau ia sudah mendahului Fariz mendapatkan tanggal sidang. Sesaat Fariz kaget, bingung, dan cemburu (haha... ini lebay :p), tapi setelahnya ia tertawa terbahak-bahak begitu tahu sidang yang dimaksud adalah sidang tilang! Karena tidak memakai helm dan tidak memiliki SIM saat melewati perapatan kota, Mita dan Nurul terkena tilang oleh polisi dan STNK motor pinjaman tersebut harus ditahan. Polisi pun langsung menetapkan tanggal sidang untuk keduanya. Pada kasus ini, Reza dan Faisal juga turut berperan sebagai pahlawan karena datang menjemput Mita dan Nurul di polsek saat kena tilang, dan menemani mereka saat sidang minggu depannya.

Saya datang kembali ke desa tiga hari setelah acara wisuda di kampus usai. Begitu tiba, saya dan Fariz langsung bergabung dengan kelompok yang sudah mengagendakan untuk grobyokan tikus di sawah. Saya kebagian ikut grobyokan di Dusun 3. Grobyokan tikus ini dibagi dua, tiga belas orang di Dusun 3 dan empat belas orang lainnya di Dusun 1. Seperti apa sih, grobyokan tikus di sawah? Ini hanya istilah untuk proses membasmi dan memburu hama tikus dengan cara pengasapan belerang ke lubang-lubang tikus di pematang sawah. Selain diasapi dengan belerang, bisa juga menggunakan gas elpiji yang disemprotkan melalui selang besi. Kalau lubang-lubang tikus tersebut sudah diasapi, kemungkinannya dua, tikus mati di dalam lubang atau ia akan lari keluar lubang. Jika tikus keluar lubang, saat itulah kita memburu dan memukulnya hingga mati. Grobyokan ini rasanya jadi ajang uji nyali juga, siapa yang berani dan siapa yang takut tikus ;P...



Selesai grobyokan, kelompok kami yang kebagian di Dusun 3 diundang ke rumah Pak Ali -kepala dusun- untuk beristirahat. Kami disuguhi tiga piring pisang goreng yang seketika ludes tidak sampai lima menit. Kemudian keluar lagi suguhan singkong goreng. Kami merasa tidak enak karena takut merepotkan, namun nyatanya singkong goreng hangat tersebut juga ludes masuk ke perut-perut kami. Terpana atas suguhan yang luar biasa ini, kami pun saling pandang dan sempat berkomentar.

“Eh, jangan dihabiskan. Nanti kalau habis, pasti keluar makanan lagi.”

“Kalau tidak dihabiskan, kita justru bisa menyinggung hati tuan rumah karena dianggap tidak menghormati.”

“Kalau begitu setelah habis singkongnya langsung pulang saja. Tidak enak kalau nanti keluar makanan lagi.”

“Tunggulah... ngadem dulu sebentar lagi.”

“Ahh.. bilang aja seneng. Keluar makanan lagi juga dimakan.” 

Benar saja. Belum habis dua kerat singkong tersisa di atas piring, beberapa piring tempe mendoan sudah disajikan lagi. Kami kembali saling pandang, mengalihkan pandangan ke tempe mendoan hangat yang wanginya menggelitik hidung, lalu sikat habis :D. Pak Ali tampak gembira melihat kami melahap habis semua jamuan yang disajikan oleh keluarganya. Belum lagi suguhan teh manis hangat dan air mineral yang menambah kesyukuran kami bisa mengenal warga desa di sini. Alhamdulilllah... Terima kasih, Pak. Terima kasih, Bu.

Dua pekan beraktivitas di desa tak pelak membuat kami jenuh. Akhirnya kami memutuskan untuk liburan ke Dataran Tinggi Dieng sebelum Ramadhan benar-benar tiba. Ketika diumumkan mengenai keberangkatan ke Dieng, Widia-lah yang paling semangat di antara yang lain. Widia bahkan berharap bisa mendapatkan tempat KKP di Dieng tahun depan. Hehee...

Dibantu oleh Pak kades, kami ber-27 berangkat menggunakan truk pukul 3 dini hari. Niatnya agar sempat melihat matahari terbit dari Dieng. Ibu-ibu warga desa yang mengurusi makan kami selama di desa juga tak lupa membekali kami dengan rantang makanan dan termos untuk kami sarapan di sana. Kami pun berangkat saat hari masih begitu gelap. Langit begitu bersih dari awan, sehingga bintang-bintang di langit sangat jelas terlihat di langit memayungi kami. Indah sekali.

Mungkin langit tampak sangat indah dengan taburan bintang-bintangnya, tetapi fakta menjelaskan bahwa perjalanan menuju Dieng yang berjarak tempuh tiga jam itu tak berlalu mulus begitu saja seindah kedengarannya. Beberapa di antara kami muntah di atas truk karena guncangan dan aroma truk yang membuat mual. Terkadang untuk menghindari mual, sebagian orang berdiri dan menghadap ke luar dinding truk, sekedar berusaha melihat jalanan atau menghirup udara pagi lebih banyak. Namun lagi-lagi, guncangan truk yang keras menyebabkan pegangan tangan kami yang tak cukup kuat ini terlepas, sehingga yang berdiri jatuh menimpa yang duduk ataupun yang sedang tidur menangkupkan badan. “Hwaaa..!!” BUK-DRRDKK-BUK!!!

Belum lagi cerita tentang Aan yang tiba-tiba mendapat panggilan alam di pagi-pagi buta seperti ini. Di atas truk pula. Wajahnya pucat pasi sambil terus memegangi perutnya untuk menahan mulas. Kami pun ikutan panik, “Tahan, An! Jangan keluar dulu, tahan! Minta supirnya berhenti dulu aja, gimana?”

“Siapa nama supirnya?”

“Agung. Mas Agung.”

“Mas Agung! Berhenti di musala, Mas!!”

“Mas! Cari masjid. Cari musala!!!”

“Mas, berhenti di musala, Mas!!”

Aan teriak-teriak dari balik truk, entah sebenarnya terdengar atau tidak karena suara mesin truk berisik sekali. Akhirnya Mas Agung menghentikan truk-nya setelah beberapa kali kami berteriak dan mungkin melihat bangunan musala di pinggir jalan. Ternyata musala yang kami datangi tidak memiliki wc, alhasil Aan tergesa-gesa lari dan menggedor pintu rumah warga untuk menumpang buang hajat. Rasa lega hanya berlalu sesaat saja, karena saat kami selesai menunaikan keperluan kami ataupun hendak berwudhu dan mulai menyentuh air.... Allah! Dingin banget! Cssss.... ini lebih dingin dari air es. Kami lupa. Kami sudah sampai di Dataran Tinggi Dieng >_<.

Overall, segala puji hanya bagi Allah yang telah memberi kami nikmat kesempatan melihat dan menafakuri lukisan alam-Nya yang indah luar biasa. Walaupun akhirnya kami tidak sempat melihat matahari terbit dari spot terbaik di Dieng ini (saya juga belum tahu di mana letak spot sunrise tersebut, hehe..), kami bisa melihat matahari terbit dari kawasan kawah sikidang. Kami mengunjungi kawah belerang sikidang, bertualang di kawasan telaga warna sampai naik-turun bukit, dan berkeliling komplek Candi Arjuna yang eksotis. Kami juga mencicip kuliner khas Dieng, yakni kentang goreng dan mie ongklok. Yup, Dieng adalah salah satu sentra produksi kentang terbesar di Indonesia. Bukit-bukitnya terlihat gundul tanpa pepohonan karena sebagian besar dijadikan lahan kentang T_T... kentang Dieng memang enak sih, ukurannya juga besar-besar, dan rasanya manis. Tidak hambar seperti kentang impor. Kalau anak laki-laki kadang bercanda tentang minuman purwaceng yang juga banyak dijual di Dieng. Tadinya saya tidak mengerti purwaceng itu minuman seperti apa, mungkin semacam minuman hangat mirip jahe... atau ginseng. “Itu dari tanaman, Kak. Semacam rempah-rempah juga. Untuk obat kuat,” jelas seorang junior padaku. Haa? Oh.. Saya pun berhenti bertanya. Untung tidak jadi beli. Saya beli manisan carica saja untuk oleh-oleh.

Kami pulang pukul 1 siang dan tiba di desa pukul 4 sore. Tiga jam di atas truk lagi. Ada yang tidur, ada yang mengemil, dan ada pula yang menyanyi selama tiga jam non-stop. Pimpinan orkes menyanyi di sini adalah Etik. Playlist lagu di kepala Etik sungguh banyak tak terkira. Mulai dari lagu pop, lagu dangdut, lagu wajib nasional, lagu jawa, sampai lagu anak-anak dinyanyikannya bersama Mas Mun. Duet mereka berdua paling enak didengar. Terkadang teman-teman yang lain juga ikut menyanyi menambah ramai suasana di atas truk :).



Memasuki Ramadhan, kami berkesempatan merasakan berpuasa di desa selama empat hari pertama. Kami merasakan bagaimana salat tarawih di musala desa yang jumlahnya 23 rakaat, tetapi selesainya cepat bagai kilat. Membaca Al-Fatihah dalam satu tarikan nafas. Semakin tinggi rakaatnya, semakin cepat bacaannya. Baru ketika masuk salat witir, kecepatan bacaan akan melambat normal kembali. Kami juga sempat merasakan salat tarawih di masjid agung Banjarnegara yang terletak di alun-alun. Berkebalikan dengan salat tarawih di desa, tarawih di masjid agung jumlahnya hanya 11 rakaat, tetapi selesainya lebih lama dari tarawih di musala desa. Jika di desa kami salat layaknya olahraga, di masjid agung kami salat sambil menahan kantuk luar biasa. Astagfirullah... godaan ibadah itu selalu saja ada ya. Ah ya, kami juga jadi belajar menyanyikan niat puasa dalam bahasa Jawa. Rasanya unik, baru pertama kali saya mendengarnya.

Pekan terakhir kami berada di desa menjadi sangat berkesan dan mengharukan. Akhirnya saya bisa makan daging untuk pertama kalinya selama tiga pekan ini, haha... Pak Kades mengadakan syukuran pasca pilkades di rumahnya dan kami pun sekalian perpisahan dengan warga desa dalam forum tersebut. Kami berpamitan, mengucapkan banyak terima kasih, dan memohon maaf karena telah banyak merepotkan warga dan aparatur desa. Acara ditutup dengan buka puasa bersama. Menunya adalah daging kambing! :D

Malam harinya setelah tarawih kami mengadakan pesta kembang api. Pertama kalinya saya bermain kembang api mercon. Rasanya terakhir kali main kembang api juga saat Ramadhan dua tahun lalu bersama anak-anak di desa tempat saya KKP, itu pun hanya kembang api biasa. Kali ini kami bermain kembang api kecil dan besar, kembang api mercon, dan kembang api air mancur. Selesai kembang api mercon pertama dinyalakan, tiba-tiba saja teman-teman IGTF menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun yang diubah menjadi “Happy Graduation”. Lalu mereka menyerahkan hadiah berupa laminasi gabungan foto masing-masing orang yang sedang menggenggam ucapan “Happy Graduation” sebagai ungkapan selamat atas kelulusanku. Masya Allah, speechless saya dibuatnya. Pertama kalinya mendapat hadiah yang demikian :’).

Rasanya singkat waktu yang kami lewati, tapi begitu banyak cerita dan hikmah yang bisa kami bawa. Berinteraksi dan bersosialisasi dengan warga dan petani di desa, melaksanakan program yang telah ataupun belum direncanakan sebelumnya, dan bertemu banyak orang dengan beragam karakter, mulai dari ketua DRPD Banjarnegara, aparatur desa, penyuluh pertanian, orang-orang dinas di Bapeda,  dan kami juga berkenalan dan silaturahim dengan takmir masjid agung di kabupaten. Susan dan Mas Mun bahkan sempat bertemu dengan orang-orang dinas dari Disperindag kabupaten saat sedang pemetaan sosial ke desa tetangga dan menemukan cara pembuatan sriping pisang yang lebih menarik dari sriping pisang di Desa Glempang.   

Ah ya, tentu masih banyak hal yang terlewat untuk kuceritakan. Tentang Yae yang orang asli Banjar dan kalau pulang ke rumahnya lalu kembali ke desa selalu membawakan sekardus salak yang manis-manis, tentang beberapa anggota IGTF yang berulang tahun di desa (Dyah, Aan, Yuli) dan saat ulang tahunnya Yuli sempat dirayakan dengan makan es degan (es kelapa) yang baru diambil langsung dari pohonnya, tentang waduk sempor yang menawan (tapi saya belum berkesempatan pergi ke sana, hiks :’(, tentang anak-anaknya Pak Karmo.. eh, maksudnya anggota IGTF yang kebagian tinggal di rumah Pak Karmo dan hobi sekali menonton film-film Korea dari TV kabel dan hampir tiap malam mengadakan show time cerita hantu sebelum tidur. Haha... ada Rahma, Trini, Pelangi, Dyah, Dian, Atari, Yuli, dan Lilis. Kalau yang kebagian tinggal di rumahnya Bu Ratinem terkenal dengan selalu paling cepat kalau ada janji kumpul atau rapat. Ada Anis, Nida, Iti, dan Susan. Kelompok anak laki-laki yang tinggal di rumahnya Bu Karnem dan selalu heboh dengan ‘perang bom’-nya itu, atau kalau mengenai tontonan.. mereka masih suka menonton Power Ranger dari laptop, ckck... Ada Fariz, Parid, Rusli, Reza, Faisal, Aan, Mas Mun, Widadi, dan Dwi. Terakhir adalah yang tinggal di rumahnya Mbah Kartinem, di rumah yang paling sering dijadikan basecamp kumpul ini ada saya, Nurul, Mita, Yae, Widia, dan Etik.

Sebagai penutup, saya teringat oleh salah satu pertanyaan Pak Agus Widodo, Kepala Divisi Litbang Evaluasi dan Monitoring, saat penutupan dan perpisahan dengan Bapeda, sehari sebelum kepulangan kami ke Bogor. Beliau menanyakan secara retoris, “Petani-petani di sini memiliki semangat yang tinggi, tetapi bagaimana caranya agar petani kita memiliki daya saing yang baik agar tidak kalah dengan petani-petani di luar negeri?”

Entah kenapa, tiba-tiba saya berpikir. Kebanyakan petani yang saya temui di desa masih bekerja hanya dengan orientasi dunia. Entahlah, saya hanya merasa demikian. Saya tidak menemukan adanya pembinaan agama selama tiga pekan berada di desa. Berbeda dengan di kota, dimana kajian rutin masih mudah ditemukan, apalagi di masjid agung samping alun-alun. Saya berpikir kalau para petani tidak hanya membutuhkan ilmu dan pendampingan dari segi ilmu pertanian, tetapi juga dari ilmu agama. Semangat dan kreativitas tidak hanya dilahirkan dari fisik dan akal yang sehat, tetapi juga dari ruhani yang baik.

Setiap kerja dan aktivitas yang kita lakukan haruslah membuat kita lebih dekat kepada Yang Maha Pencipta. Profesi kita kelak seyogyanya mempertebal iman dan islam kita. Bukan hanya semata demi memakmurkan kehidupan dunia, tetapi juga untuk kehidupan nanti yang sesungguhnya di akhirat. Bukankah hidup kita yang sementara ini adalah untuk bekal dibawa pada kehidupan abadi di sana pula? Semoga semua pengalaman ini dapat membuat kita semakin dekat dengan-Nya. Semoga saya, kamu, dan kita semua bisa :).

Bogor, 22 Agustus 2013 
13.51


-catatan 22 Agustus 2013-

0 komentar:

Posting Komentar