Renungan Senja

Rabu, 01 April 2015


Semburat senja
Menyelip, menggoda pada yang terlupa
Menghibur raga-raga yang penat
Sedikit saja,
Jika setiap jiwa mau menikmatinya

Katakan saja pada semarak awan
atau sekumpulan burung layang-layang
Mungkin dengannya, 
resahmu akan dibawa terbang
Melepas segala kekhawatiran
Rekahkan kembali senyum untuk mengembang

Hari ini hanya ini saja
Satu kali saja
Lalu kau masih meminta udara
Merengek terhadap apa yang belum kau punya
Dunia.
Seisinya.
Berpikir seolah akan hidup selamanya
Padahal salah
Karena hanya itu
Satu kali saja
Tidakkah ingin,
mempersiapkan bekal
untuk hidup yang sebenarnya?

***

POLARIS, Februari 2011

sumber foto: Nurul Najmi, Pulau Lancang-Kep.Seribu

Aku Di Sini



Hanya angin berdesir
Dan guyuran hujan yang tak henti
Tapi Tuhanku melindungiku, di sini
Di hati ini

Ia kabulkan pintaku tanpa imbalan
Ia sungguh memudahkan langkah-langkahku
Menolongku tanpa kenal waktu
Mengarahkan jari-jemariku
Menggoreskan tinta
Di atas kertas buram ujian akhirku

Rasa yang sama di atas kereta
Hati yang luka seperti waktu yang lama
Jendela kaca
Tirai bersusun
Kursi nyaman dan lapang
Gerbong bersih dengan tukang sapunya
Aku dimanja
Tuhanku tak pernah bosan menghibur hatikiu

Kini, ku disini
Tak 'kan menyerah akan waktu
Tak mau jatuh oleh batu
Mimpiku bukan untuk kucapai
Tapi untuk kulampaui

***

POLARIS, 19 Januari 2009

"Ya Rabb, terima kasih atas segala kasih sayangMu... 

Be An Honest

Selasa, 31 Maret 2015



Tetaplah jujur....
Walau mungkin hal yang sulit terukur
Sebagai pelajar, mahasiswa, pekerja, manusia...

Kau mendengar cerita tentangnya
Sekolah yang bahu membahu membocorkan
soal dan jawaban ujian
Demi muridnya agar lulus semua
Tak perlu marah-marah
Cukuplah beristigfar
dan bersyukur bahwa kau tidak menjadi bagian mereka

Kau menyimak kisah para mahasiswa
Yang sibuk mengunjungi rumah dosen menjelang ujian
dengan buah tangannya
Demi nilai transkrip yang digantungkan
pada ada dan tidaknya sang buah tangan
Atau mereka yang membayar absen dengan uang puluhan
Tak perlu marah-marah
Cukuplah beristigfar
dan bersyukur bahwa kau tidak menjadi bagian mereka

Kau melihat pekerja dan pejabat
Yang berliku jemari di balik kantong jas mereka
Pada yang tercatat dan diperbuat tidaklah sama
Hingga mereka semakin kaya tanpa ada yang bersahaja
Tak perlu marah-marah
Cukuplah beristigfar
dan bersyukur bahwa kau tidak menjadi bagian mereka

Tetaplah jujur
Tak perlu ikut-ikutan menyontek, menyelipkan kertas catatan,
atau tergoda bertanya saat ujian
Tak perlu menitip absen pada teman
saat malas berangkat kuliah karena kesiangan
Tak perlu ikut-ikutan tanda tangan atau mengatakan suatu hal
yang sebenarnya tak kau kerjakan
Tetaplah jujur 
Walau mungkin hal yang sulit terukur
sebagai pelajar, mahasiswa, pekerja, manusia...

Namun,
Tak berarti pula engkau diam
Ajaklah sejauh kau bisa
Dan jika kau tak mampu menjangkau mereka
Tetap sajalah jujur
Buktikan pada dunia
Bahwa kejujuran belum sirna
Selama kau masih ada

Dan tetaplah jujur...
Karena jujur itu baik dan membawa pada kebaikan

***

POLARIS, 14 September 2011 

Edelweiss



Apa kabar edelweiss?
Masihkah dalam kukuh abadimu
di tempat tinggi nan menjulang di sana
Menyimpan indahmu dalam diam
Menyelip wangimu dengan kesahajaan
***
Ceritakanlah pada mereka
Para pencarimu nan gagah jumawa
Sukarnya pendakian tidaklah berjeda
Tapi mulailah dengan langkah pertama

Kau pasti 'kan temukan tanah beraral dan bebatuan
Lalu lelahmu meronta
Padahal kau baru berjalan sebentar saja
Maka rukuklah sejenak dan gumamkan,
Jangan menyerah!

Setelah kau bangkit dan melalui tikungan kedua
Kau pun bertemu dengan kawah belerang
Yang asapnya saja membuat perutmu mual dan ingin pulang
Jangan engkau duduk ataupun membungkuk
Tapi bersandarlah pada sebuah batu besar
dengan kepala tengadah dan ucapkan,
Jangan menyerah!

Perjalananmu sebenarnya tak 'kan selalu melelahkan
Di balik tebing kerikil yang katamu licin
Kau 'kan temukan tanah berumput yang menyejukkan
Yang dengannya semua pemandangan tampak menakjubkan
Lembah nan cantik dan gunung-gunung lain di seberang
Membuatmu melirihkan tasbih dan puji-pujian
Namun, tujuanmu jangan pernah kau lupakan
Berhentilah sebentar
untuk kembali berjalan dan katakan,
Jangan menyerah!

Jalan setapak berikutnya mungkin
akan membuatmu lebih cepat tersengal
Parit-paritnya menarik energimu
untuk menjaga keseimbangan
Pasir-pasir berdebu
Tanjakan curam berbatu
Dan tanyamu dalam keluh yang terlintas,
"Di manakah ujungnya?"
Teruslah saja berjalan dan pekikkan,
Jangan menyerah!

Sungguh,
akhir perjalananmu akan berbuah indah
Yakinkan tekadmu pada janji-Nya yang pasti
Bahwa ianya hanyalah untuk engkau,
sang pejuang sejati
***
Apa kabar edelweiss?
Rasa lelahkah yang kau dendangkan
dalam sunyi dan kesendirian
Dalam doa dan penantian yang tak kunjung datang
Maka tataplah langit yang berjarak sedepa
yang kau lukis segala mimpi dan cita-cita
Bahwa kau istimewa
Bahwa kesabaranmu, kelak berbuah surga
***

POLARIS, 4 Oktober 2012

Resume Materi CISAK 2012 (Plenary Talk)

Plenary Talk 1
Bapak Warsito P. Taruno
TOWARDS INDONESIA'S TECHNOLOGICAL RESURRECTION AND INDUSTRIAL SELF-RELIANCE

Berbicara tentang teknologi, sebenarnya Indonesia adalah pendahulu teknologi dunia. Jauh sebelum Amerika ditemukan, apalagi Jepang dan Korea dengan teknologinya sekarang. Abad VII Indonesia sudah menguasai dunia dengan teknologi baharinya. Bagaimanakah kapal pinisi-kapal pinisi sanggup dibuat? Desain dan teknologinya saat itu sudah sangat tinggi hingga sang kapal mampu mengarungi lautan dan menjadi begitu terkenal.

Pada tema ini Pak Warsito berbagi tentang tiga perusahaan swasta nasional yang memiliki peran besar dalam bidang teknologi.
1. Terafulk Megantara Design, perusahaan manufaktur ini dibangun oleh Dr.Kaharuddin Djenad, M.Eng.
2. Versatille Silicon Company, perusahaan pembuat IC ini dibangun oleh Dr.Eko, salah seorang peneliti elit di PT.Sony dan memutuskan untuk kembali ke Indonesia
3. Edwar Technology, perusahaan R&D yang merupakan rantai level ke-1 dalam global supply chain

Di sini tidak akan dibahas ulang mengenai profil ketiga perusahaan tersebut. Yang ingin Pak Warsito sampaikan adalah motivasi kepada para mahasiswa dan peneliti untuk membangun negeri. Tidak berhenti ilmunya hanya pada lembaran kertas dan disertasi. Pendiri ketiga perusahaan tersebut memiliki kesamaan, yakni bahwa mereka pernah belajar di luar negeri, pernah bekerja untuk negeri orang, tetapi memutuskan untuk kembali dan membangun di negeri sendiri. Ada beberapa poin penting yang menjadi kunci.

Pertama, bagaimana kita melihat adanya peluang dan mengambil kesempatan. Para pendiri perusahaan tersebut sadar bahwa mereka memiliki ilmu untuk dimanfaatkan, memiliki teman dan jaringan untuk mengembangkan sesuatu yang lebih besar, dan melihat bahwa inilah kesempatan itu.

Kedua, keberanian dalam mengambil keputusan. Keputusan untuk kembali ke Indonesia di saat sudah memiliki nama besar dan posisi nyaman di perusahaan asing bukanlah sesuatu yang ringan. Tetapi bukankah hanya mereka yang berani yang akhirnya berhasil untuk membangun perubahan?

Ketiga, membangun kapasitas.

Keempat, membuat rantai kerja.

Kelima, mengelola rantai kerja tersebut.

Dalam global supply chain aktivitas, dapat dikategorikan tiga level alur:
Level 1: basic research & technology
Level 2: R&D and manufacturing
Level 3: bussiness / customer service

Pada setiap level terdapat dinding barrier yang tinggi. Itulah mengapa para pemberani harus melewatinya jika ingin membuat perubahan. Rantai level ke-3 adalah rantai yang paling banyak menyerap sumber daya (tenaga kerja), juga merupakan ujung tombak dari penerapan basic research yang berada di rantai level 1. Para peneliti tidaklah boleh puas hanya dengan hasil penelitiannya. Ia harus menjadikannya bermanfaat untuk orang lain. Karena itulah dinding-dinding pembatas tersebut harus kau lampaui.

"You must be the first, the best, or different."
"Pushing the limit, going through the thresholds."
"How hard you can push yourself the very end?"

Plenary Talk 2
Bapak Ir. Yudiutomo Imardjoko, M.Sc., Ph.D.
PT. Batan Teknologi (Persero)
STRATEGY FOR PRODUCTION AND MARKETING RADIOISOTOPE FROM INDONESIA

Haduh, bingung nih nulisnya. Yang jelas bapak yang satu ini juga keren banget...

Beliau bukan hanya peneliti cerdas, tetapi juga pebisnis yang cemerlang. Beliau yang mendobrak berbagai sistem birokrasi yang merumitkan dan mengangkat Batan menjadi PT. Nuclear Industry Indonesia. Beliau salah satu pemain utama yang berhasil membuat rantai kerja level ke-1 berhasil sampai pada tahap level-level berikutnya dan membuat siklus yang saling menguntungkan. Biaya produksi yang awalnya 400 USD per gram currie (satuan nuklir) menjadi 70 USD. Ekspor penjualan sudah menjangkau Malaysia, China, Jepang, India, Vietnam, Bangladesh, dan Filipina dengan harga jual antara 1000-1900 USD. Ini ya, yang disebut dengan added value... Harga jual bisa mencapai 10 sampai 20 kali lipat dari biaya produksi. Pesannya, "Ayo belajar, ayo membangun Indonesia!" ^^

Plenary Talk 3
Bapak Suharna Surapranata
THE FUTURE OF TECHNOLOGY IN INDONESIA CHALLANGE AND OPPORTUNITY

Pak Suharna membahas tentang inovasi. Belum dikatakan inovasi jika suatu temuan tidak dapat memberikan manfaat atau tidak dapat digunakan dan hanya menjadi seonggok kertas. Daya saing Indonesia masih berada jauh di bawah negara-negara lainnya. Peringkat 1 dimiliki oleh Switzerland, peringkat 2 Singapore, Korea berada di peringkat 24, sementara Indonesia berada pada peringkat 46. Pembelanjaan Indonesia dalam bidang riset pun masih sangat rendah (GDP R&D), yakni 0.08% dari APBN. (perasaan dari dulu gak naik-naik ya persentasenya -_____-")

Nomor 1 GDP? Ternyata diraih oleh Israel..

Fffiuuh... banyak deh yang dibahas oleh Pak Suharna dan membuat semua orang termotivasi. Intinya, membangun bangsa itu tidak bisa dilepaskan dari membangun IPTEK. Jadi, jangan pernah berhenti belajar. Jangan berhenti untuk memberi manfaat pada orang lain. Saya dan teman-teman satu tim lalu saling pandang dan berkata, "Paper kita sepertinya harus dilanjutkan. Tidak boleh berhenti hanya di poster. Dan harus melibatkan banyak orang."

Insya Allah, Insya Allah, Insya Allah....
Semoga niatan ini diridhoi oleh-Nya. Kita tidak boleh berhenti hanya sampai di sini.

***

For my beloved friends, sisters, and partners.
Bersyukur Allah Swt mempertemukan aku dengan kalian..


Konservasi Air



Air. Salah satu syarat demi terbentuknya sebuah kehidupan. Bumi layak ditinggali oleh manusia karena ada air. Suatu daerah layak menjadi tempat tinggal karena ada air. Pegunungan memiliki tempat yang cocok untuk berkemah juga karena air. Bahkan tubuh manusia, sekitar 55-75% terdiri dari air (tergantung ukuran dan berat badan). Manusia dan hampir seluruh makhluk hidup lainnya memiliki ketergantungan terhadap air. Manusia membutuhkan air untuk minum, mandi, mencuci, memasak, dan melakukan berbagai aktivitas sehari-hari lainnya. Bagaimana kondisi air yang sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup ini? Apakah eksistensi air di bumi akan terus ada atau adakah kemungkinan hilang? Bagaimana cara terbaik untuk mengkonservasi air?

Sang Pencipta menciptakan air sebagai berkah untuk kesejahteraan manusia. Hakikat air adalah baik dan untuk kebaikan, namun belakangan ini sering kita jumpai bencana yang disebabkan oleh air. Beberapa permasalahan terkait air yang menjadi perhatian, antara lain banjir, berkurangnya pasokan air bersih, pencemaran sumber-sumber air, pendangkalan badan air, dan kekeringan.Permasalahan ini muncul sebagian karena faktor alam, seperti kondisi topografi dan geologi, serta iklim dan curah hujan. Namun permasalahan air lebih banyak disebabkan oleh faktor manusia yang tidak tepat dalam pemanfaatan dan pengelolaannya, sehingga dampak negatif yang dirasakan menjadi lebih besar dari yang seharusnya.

Pembahasan mengenai konservasi air sejalan dengan hukum termodinamika dan kekekalan energi dimana energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, hanya berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Sama halnya dengan air.Jumlah air di bumi adalah tetap.Air berpindah dari satu bentuk ke bentuk lainnya melalui siklus hidrologi. Air laut mengalami evaporasi menjadi uap air. Uap air tersebut menggumpal menjadi awan, dan terjadi kondensasi sehingga terbentuk massa hujan. Hujan atau presipitasi turun ke permukaan, masuk ke dalam tanah, ke sungai, ke danau, atau menggelontor begitu saja menjadi run-off.Air yang terserap ke dalam tanah (infiltrasi) dan terus masuk ke lapisan dalam akuifer (perkolasi) akan tersimpan sebagai air tanah dalam dan inilah yang biasanya menjadi sumber air sumur.Air di permukaan akan kembali mengalami evaporasi atau kembali ke laut dan siklus terus berulang.

Jika melihat siklus air yang demikian, dapat diterka bahwa hanya sedikit air di bumi yang dapat kita manfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Menurut Simonds (2007), jenis air di bumi didominasi oleh air laut sebesar 97% dan hanya 3% air tawar. Dari air tawar yang sedikit itu, 69% tersimpan dalam bentuk glasier&es, 30.1% dalam bentuk ground water, dan 0.9% air yang ada di permukaan. Jumlah 0.9% inilah yg digunakan oleh hampir seluruh manusia untuk aktivitasnya sehari-hari.

Permasalahan banjir, pencemaran air, intrusi air laut, dan kekeringan, sebagian besar disebabkan oleh pengelolaan air permukaan yang tidak terkendali sehingga timbul bencana.Satu daerah kelimpahan air, daerah lainnya kekeringan sampai menimbulkan kebakaran hutan.Sebagai contoh adalah kasus ibukota Jakarta yang hampir setiap tahun mengalami banjir. Sejarah mencatat bahwa banjir di Jakarta tidak hanya terjadi dalam kurun waktu 10-20 tahun terakhir dimana pembangunan dan pencemaran yang terus meningkat telah mengganggu siklus air.Banjir besar pertama Jakarta tercatat pada tahun 1621, lalu terjadi lagi tahun 1654, dan tahun 1876.Jakarta tergolong daerah yang sangat potensial banjir. Karakter geologis di Jakarta didominasi oleh batuan yang kedap air, sehingga tanpa meluapnya rob air laut atau melimpahnya kiriman air permukaan dari Bogor, Jakarta tetap akan banjir jika curah hujan setempat tinggi.Topografi Jakarta cenderung datar dengan rata-rata ketinggian 8 mdpl. Sebagian daerah, khususnya di bagian utara, ketinggian permukaannya lebih rendah dari tinggi muka air laut.Karakteristik fisik ini, ditambah pembangunan yang tidak terkendali sehingga terjadi banyak alih fungsi lahan, menyebabkan dampak banjir di Jakarta menjadi semakin besar dan merugikan.Salah satu solusi mengelola sumber daya air (termasuk masalah banjir) agar sirkulasinya seimbang adalah dengan mengelola penampangnya, yakni Daerah Aliran Sungai (DAS). 

DAS adalah area atau kawasan dimana seluruh air (hujan) yang jatuh di kawasan tersebut akan mengalir ke satu sungai utama. Oleh karena itu pembagian kawasan dalam satu pulau bisa habis oleh pembagian DAS, misalnya DAS ciliwung, DAS citarum,dan lain-lain.Jakarta yang dilalui oleh 13 sungai dan anak sungai termasuk ke dalam DAS Ciliwung.

DAS berhulu di puncak gunung dan berhilir di muara sungai. Berdasarkan profilnya,DAS terbagi tiga menjadi upper stream, middle stream, dan down stream. Upper stream adalah area pegunungan yg konturnya berbukit dan karakteristiknya ideal untuk optimalisasi penangkapan air. Eksistensi hutan dengan pohon dan berbagai vegetasi lainnya baik untuk memperlambat laju air, selain mendukung pula untuk pencegahan erosi. Down stream adalah dataran rendah/flat, paling sesuai untuk permukiman  dan pengembangan kota. Drainase yang baik akan mendukung sirkulasi air yg baik pula. Vegetasi-vegetasi di perkotaan dapat membantu tanah menyerap air. Middle stream adalah area pertengahan yg paling krusial, dsebut juga kawasan ekoton dimana karakter upper- bertemu dengan karakter down-. Penataan kawasan ekoton harus memperhatikan kepentingan dari kedua kawasan yang mengapitnya tersebut.

Profil DAS di atas menjelaskan bahwa permasalahan terkait air di satu bagian tidak terlepas dari bagian lainnya. Cara mengatasi masalah banjir di Jakarta yang merupakan hilir Sungai Ciliwung (down stream), juga harus memperhatikan daerah Puncak (upper stream) dan kota-kota yang dilaluinya (middle stream). Alih fungsi lahan di daerah hulu dari fungsi hutan dan lahan pertanian ke bentuk urban dengan bangunan-bangunan dan perkerasan, telah menutupi daerah-daerah resapan air sehingga jumlah aliran permukaan (run off) meningkat, melebihi kapasitas daya tampung badan air (sungai, danau, kanal, selokan), dan meluap sebagai banjir. Pendangkalan badan air akibat erosi dan terhambatnya aliran air oleh sampah industri dan rumah tangga juga menyebabkan dampak banjir semakin parah.





Hal yang harus dilakukan adalah memasukkan kembali air ke dalam tanah. Dapat dilakukan dengan cara membuat sumur resapan, biopori, reboisasi, sampai rekayasa konstruksi tanah (jika karakter tanah dan batuan rendah daya serap airnya, direkayasa dengan mengatur komposisi pasir-debu-liat yang ideal).Secara umum konservasi air dilakukan dengan dua cara, yaitu melalui stormwater harvesting dan rainwater storing.

Stormwater harvesting dilakukan dengan "menanam" air untuk "dipanen" pada waktunya.Caranya adalah dengan menggunakan pond (kolam), sumur resapan, biopori, embung, dan sebagainya.Intinya adalah menyimpan air tersebut untuk kemudian dipanen ketika musim kemarau. Selain dipanen, stormwater harvesting juga membuat tanah lebih gembur dan mencegah penurunan muka tanah.Cara kedua adalah denganrainwater storing, yaitu menyimpan air hujan di dalam tangki-tangki untuk digunakan secara langsung untuk keperluan sehari-hari.Berapa banyak yang harus disimpan? Rumusnya seperti bahasa Sunda ^^”: V=CxAxI. Volume yang disimpan adalah koefisien run-off dikali luas atap dikali intensitas curah hujan. Rainwater storing ini dilakukan untuk mengurangi kebutuhan air sekunder.Dengan dan tanpa filter, air hujan ini bisa digunakan untuk menyiram tanaman, mencuci mobil, flush, cooling tower,dan sebagainya.

Permasalahan air selain banjir adalah intrusi air laut. Eksploitasi air tanah secara berlebihan akan menyebabkan meningkatnya intrusi air laut.Intrusi air laut adalah masuknya air laut ke darat, mengisi pori-pori tanah, sehingga air tanah menjadi payau.Hal ini sering terjadi di kota-kota pesisir, seperti Jakarta, Cirebon, dan Semarang. Pembuatan sumur artesis dan menyedot air secara berlebihan juga dapat menyebabkan air tanah menjadi payau. Air laut memiliki densitas dan konsentrasi yang lebih tinggi dibandingkan air tanah. Massa jenis air laut 1,025 gr/cm3, sedangkan air tawar 1 gr/cm3.Dilihat dari aspek fisik, air tanah yang memiliki densitas lebih ringan, posisinya berada diatas air laut. Terdapat pembatas bidang cembung diantara keduanya. Jika air tanah terus-menerus disedot, batas tersebut akan semakin naik mendekati permukaan. Hal ini dapat dianalisis pula dari aspek kimiawi, yakni saat air tanah dan air laut yang memiliki perbedaan konsentrasi bertemu maka akan membentuk suatu lapisan permeabel.  Secara perlahan akan terjadi perpindahan massa/ion dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Ketika air tanah diambil, lapisan permeabel ini akan naik mendekati permukaan tanah, sehingga air tanah menjadi payau. Solusinya? Memperbanyak sumur resapan untuk menampung air hujan dan gunakanlah air secara hemat :).

Ketika  Jakarta mengalami kelimpahan air yang berdampak merugikan (banjir), terdapat fenomena kontras di daerah lain yang mengalami kekurangan air dan juga berdampak merugikan (kekeringan), misalnya Wonosari, Yogya. Karakter air di Jakarta adalah penuh di atas permukaan, namun kering di bawah. Sebaliknya di Wonosari penuh di bawah permukaan, namun kering di atas. Masyarakat Wonosari sulit memanfaatkan air karena letaknya jauh di lapisan bawah, padahal Wonosari memiliki lapisan akuifer yang besar. Karakter geologinya berupa batuan gamping yang bolong-bolong sehingga air hujan yang jatuh langsung tergelontor ke lapisan bawah membentuk sungai bawah tanah. Tanpa survei geologi, sulit untuk memanfaatkan air hanya dengan membuat sumur-sumur blind drill.

Kondisi berlawanan dialami oleh Jakarta dimana tanah dan batuannya sudah terlampau jenuh hingga sulit untuk menyerap air. Drainase yang terhambat, seperti sungai sebagai drainase alami yang mengalami pendangkalan ataupun tercemar sampah industri dan rumah tangga, serta drainase buatan lainnya (selokan, kanal) yang juga banyak tercemar oleh sampah, ditambah curah hujan yang tinggi, menyebabkan tingkat run-off sangat tinggi hingga menimbulkan banjir.Kondisi tanah jenuh ini tidak hanya dialami oleh kota Jakarta yang didominasi oleh bangunan, tetapi juga dapat terjadi di lahan pertanian yang didominasi oleh sistem penanaman monokultur.

Tanah jenuh, atau dikenal juga dengan istilah saturated land /‘tanah mutung’, adalah sebuah kondisi saat tanah tidak lagi memiliki unsur-unsur hara seperti kondisi awalnya dan kemampuannya dalam menyerap air semakin menurun.Hal ini berdampak pada menurunnya kualitas tanah sebagai media tanam dan fungsi konservasi air. Faktor penyebab tanah menjadi jenuh bermacam-macam. Ada yang disebabkan oleh aktivitas fisik, seperti pembangunan dan pertambangan. Ada pula yang diakibatkan oleh aktivitas kimiawi karena unsur-unsur hara yang terus-menerus diambil, misalnya kegiatan pertanian yang monoton atau hutan produksi.Beberapa solusi untuk mengatasi permasalahan tanah jenuh ini adalah dengan rekayasa unsur tanah, penghijauan, biopori, atau menggilir jenis tanaman pada lahan pertanian.Mengistirahatkan tanah melalui ‘bera’ juga penting agar tanah memiliki waktu untuk mengembalikan unsur-unsur haranya yang hilang. 

Ada satu pelajaran menarik dari Vietnam terkait masa bera. Vietnam membanjiri lahan pertanian padi dengan air sungai. Setelah panen, Vietnam mengistirahatkan tanahnya sebelum masuk ke musim tanam berikutnya. Namun ia tidak membiarkan lahan bera begitu saja. Lahan-lahan bera tersebut dialiri dengan air sungai yang ada di sekitarnya. Kandungan mineral yang terdapat di air sungai akan terbawa ke lahan sehingga pengembalian unsur hara ke dalam tanah akan berlangsung lebih cepat.

Dalam suatu kesempatan seminar, dijelaskan bahwa mengelola keberlanjutan ruang terbuka biru (RTB) merupakan solusi yang lebih efektif dalam mengatasi banjir daripada ruang terbuka hijau (RTH). Hal ini dikarenakan RTH lebih bersifat preventif dan membutuhkan periode jangka waktu yang cukup lama sampai manfaatnya dapat dirasakan, sedangkan RTB yang merupakan badan-badan air, seperti danau, sungai, dan waduk langsung menampung air dan menahan air agar tidak lantas meluap atau tergelontor begitu saja ke tempat yang lebih rendah.

Beberapa fungsi penting RTB, antara lain:
1. menampung air,
2. menurunkan suhu iklim mikro,
3. habitat wildlife dan berbagai tumbuhan,
4. sarana rekreasi cuma-cuma bagi warga kota.

Hal ini bukan berarti RTB menjadi lebih penting daripada RTH, meskipun untuk tindakan responsif banjir RTB dinilai lebih efektif. Keberadaan RTH dan RTB sama-sama penting karena keduanya saling mendukung untuk konservasi air. Pemerintah kota dapat menghitung luas badan air sebagai RTB yang dibutuhkan perkotaan berdasarkan jumlah penduduk yang ada di kota tersebut. Konservasi air di perkotaan juga harus dilihat dari aspek keberlanjutan, baik itu ekologi, ekonomi, maupun sosial. Oleh karena itu, keseimbangan dalam pembangunan dan penegakkan hukum dan aturan sangatlah penting. Kita semua tentu berharap bahwa kebijakan-kebijakan yang telah dibuat dapat diterapkan secara tepat. Pengelolaan sumber daya alam dan energi vital sudah jelas aturannya dalam UUD 1945 pasal 33 ayat 3. Peraturan tentang luasan RTH ada dalam UU No. 26 Tahun 2007. Pengelolaan sumber daya air ada dalam UU No. 7 Tahun 2004. Hampir semua kebijakan yang kita butuhkan telah tertuang dalam aturan di negeri ini, namun rendahnya law enforcement tentu menjadi permasalahan tersendiri yang butuh pembahasan khusus secara lebih lanjut.

Apakah yang dapat kita lakukan? Paling mudah adalah memulainya dari diri sendiri dan lingkungan terdekat. Tidak membuang sampah ke badan air (sungai, selokan, danau), menggunakan air secara hemat sesuai dengan kebutuhan, dan menanam pohon atau membuat lubang-lubang biopori di halaman rumah adalah langkah kecil yang dapat dilakukan oleh setiap individu. Jika kita menghitung kebutuhan air bersih per orang (berdasarkan standar PU) adalah sebesar 120 liter/hari, artinya kita bergantung pada ketersediaan sumber air bersih  sebanyak 840 liter seminggu atau 3.600 liter sebulan. Jika air bersih semakin sedikit ketersediaannya, maka air akan menjadi benda ekonomi yang semakin berharga untuk diperjualbelikan. Berapakah biaya yang harus kita keluarkan untuk memenuhi kebutuhan kita akan air? Asumsijika kita harus membeli air seharga dengan air  mineral dalam kemasan yakni Rp 4000/liter, artinya setiap orang harus mengeluarkan Rp 480.000/hari atau Rp 14.400.000/bulan. Betapa berharganya air. Itulah mengapa setiap individu memiliki kewajiban untuk menjaga air dan sumber-sumber air. Bukan untuk orang lain, melainkan untuk diri sendiri, keluarga, dan orang-orang terdekat yang kita miliki.

Sumber:
Diskusi Grup FC3 Eneling, Forum Indonesia Muda, 19 Februari 2014

Narasumber:
1. Nurul Najmi
2. Gugi Yogaswara
3. Aveliansyah

Selamat Hari Pahlawan!

"Merdeka, Allahuakbar!" -Bung Tomo-

Seperti apakah sosok pahlawan yang ada dalam benakmu?

Tiba-tiba saja saya teringat sebuah komik yang sejak zaman sekolah dulu selalu berhasil memotivasi saya dan memberi inspirasi. Judulnya Harlem Beat karya Yuriko Nishiyama. Dalam suatu episode (eh, komik mah bukan episode ya?)...oke, dalam suatu jilid (dih, kok kagak pas yah rasanya?)...fine, dalam suatu nomor jilid (ini ribet banget dah!). Hehee, woles ah, ngga usah pake sewot :p

Jadi ceritanya dalam satu episode (ujung-ujungnya balik lagi ke episode -_-“) salah satu tokoh utama, namanya Naruse, sedang mengikuti tanding basket ilegal bersama rekan-rekan satu timnya, Scratch. Street basket yang biasanya menggunakan peraturan three on three ini berlangsung sangat alot dan seru. Hingga akhirnya mereka sampai pada pertandingan final dan harus menghadapi tim yang terkenal sangat hebat karena permainan basketnya yang indah tetapi mematikan. Saya lupa nama tim lawan yang hebat ini. Yang jelas nama pimpinan tim ini adalah J. J berasal dari Amerika. Sering berkeliling ke tempat-tempat street basket di sudut kota untuk mencari bibit unggul yang menurutnya paling hebat dalam basket dan tidak terkalahkan. Untuk dijadikan calon atlet NBA? Bukan. Untuk dijadikan pahlawan menurut ukurannya. Dia berharap menemukan sosok yang kuat dan tidak terkalahkan, yang lebih kuat dari dirinya, yang selalu bisa ia kagumi, yang selalu dapat menjadi inspirasi.

Si J ini punya kemampuan seperti hipnotis melalui mata sehingga tubuh lawan main basketnya menjadi kaku dan sulit untuk bergerak. Dari seluruh anggota tim Scratch yang melawan J, hanya Naruse yang akhirnya mampu menghadapi mata medusa-nya J sehingga Scratch berhasil memperoleh angka dalam pertandingan. Rupanya itu adalah taktik J yang diberikan kepada Naruse untuk membuktikan bahwa Naruse pantas menjadi sosok pahlawan bagi dirinya. J mengatakan bahwa tidak seharusnya Naruse bersama dengan rekan-rekannya yang lemah dan ikut bersamanya ke Amerika. Karena Naruse yang piawai dalam air walk itu sepantasnya untuk menjadi pahlawan.

Naruse yang marah karena diberikan ekspektasi berlebihan, sedangkan teman-temannya justru direndahkan oleh J, lalu berujar, “Jangan ngawur! Setiap orang memiliki tempatnya masing-masing untuk menjadi pahlawan. Ada banyak sekali pahlawan di dunia ini.”

Teman-teman Scratch dan street basket lainnya yang direndahkan oeh J, justru merupakan pahlawan  bagi Naruse. Karena merekalah yang mengenalkan Naruse pada basket, mendorong keberanian Naruse untuk melompat dan terbang, dan memberinya kepercayaan untuk bermain. Bagi Naruse, mereka yang membantunya bangkit setelah jatuh, memarahinya ketika ia melakukan kesalahan, tetapi juga mengarahkannya menemukan potensi diri, adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan bukanlah sosok hebat tanpa kekalahan. Mereka yang walau hanya dengan senyuman dan kata-kata sederhana, tetapi mampu memberikan energi positif kepada orang di dekatnya yang hampir putus asa hingga ia bersemangat kembali, pantas untuk disebut pahlawan.



Well, kenapa kita justru membicarakan komik Jepang di Peringatan Hari Pahlawan milik Indonesia ya? Hhe... itu sedikit intermezo karena saya tiba-tiba teringat kata-katanya Naruse. Tokoh pahlawan di dunia nyata jelas sangat banyak. Sebutlah Bung Tomo. Pemuda Surabaya yang menjadi alasan ditetapkannya tanggal 10 November ini sebagai Hari Pahlawan. Yang walau badannya tidak kekar, tetapi pidato-pidatonya di radio dan suaranya di medan perang selalu berhasil membakar semangat seluruh rakyat. Atau Jenderal Sudirman. Satu-satunya jenderal yang berasal dari sipil dan satu-satunya yang mendapat penghargaan sebagai ‘panglima besar’ Indonesia. Jenderal yang memimpin perang dari atas tandu dengan bergerilya, tetapi sanggup membuat penjajah ketakutan oleh sosoknya. 

Sosok pahlawan dari kaum hawa, sebutlah Kartini. Orang umum mungkin hanya mengenal namanya sebagai pahlawan emansipasi yang memperjuangkan hak-hak wanita. Namun, saya selalu menilai Kartini bukanlah pahlawan emansipasi. Kesannya kalau menyebut kata emansipasi identik dengan menyamakan hak-hak gender, perempuan harus sama dengan laki-laki. Kartini sangat jauh dari sosok itu.  Ia bukan hendak merebut hak wanita agar diperlakukan sama seperti laki-laki. Ia memperjuangkan apa yang menurutnya tidak benar menurut hatinya melihat kebiasaan dan aturan ketat dalam budaya daerah tempatnya hidup dan dibesarkan. Benar, ia ingin perempuan memperoleh pendidikan yang sama seperti halnya laki-laki, karena ia pun memiliki kehausan ilmu yang sangat besar. Namun, ia tidak pernah minta perempuan untuk disejajarkan dengan laki-laki. Cukuplah pada porsi yang sesuai dengan sepantasnya. Menghormati orang sewajarnya, tidak perlu sampai membungkuk-bungkuk membentuk sudut sembilan puluh derajat sambil menundukkan kepala saat harus berlalu di depan orang yang lebih tua. Menghormati musuh juga sewajarnya. Tidak karena pihak penjajah berbaik hati padanya dan keluarganya karena berasal dari keluarga bangsawan, lalu ia pun selalu bersikap ramah pada bangsa penjajah. Tidak. Kartini tetap melawan bangsa penjajah yang menyengsarakan saudara-saudaranya setanah air, meski hanya dalam rangkaian kata surat-suratnya pada Nyonya Abendanon. 

Hmm..kita tidak sedang bicara tentang biografi Kartini, kan? Duh, saya kalau sudah bicara Kartini bawaannya tidak bisa berhenti. Haha... yah sederhananya saya ingin mengambil contoh bahwa pahlawan bukan hanya mereka yang berjuang di medan laga. Kartini mungkin tidak pernah ikut memanggul bedil, memegang bambu runcing, ataupun mengangkat parang dan ikut berperang. Ia tidak seperti Cut Nyak Dien atau Cut Meutia yang ikut berdarah-darah saat melawan penjajah. Juga tidak seperti Dewi Sartika yang aktivis pendidikan dan berhasil mendirikan berbagai kelas dan sekolah perempuan pertama se-Hindia Belanda. Kartini berjuang dengan caranya. Ia tidak hanya pahlawan bagi kaum wanita karena pemikiran-pemikirannya. Kartini pun berkontribusi melahirkan pahlawan seperti Agus Salim, tokoh Indonesia jenius yang belum ada gantinya hingga kini. Dan Agus Salim adalah salah satu inspirator Soekarno, sang proklamator kita. See? Kepahlawanan itu saling membentuk rantai kebermanfaatan yang indah sekali, walaupun mungkin satu atau dua mata rantainya harus berkorban dan tidak dilihat oleh yang lain.

Saya ingin meminjam istilah Bunda Tatty Elmir (Pembina Forum Indonesia Muda; penulis Keydo), bahwa betapa banyaknya “pahlawan di jalan sunyi” di negeri ini. Mereka yang tidak memiliki rekam jejak dalam dokumentasi, tidak diliput media, tetapi sungguh menjadi alasan bagi orang lain untuk terus hidup dan melangkah maju karena kebaikan yang mereka tebarkan. Mereka yang mungkin merasa dirinya bukan apa-apa dibandingkan orang-orang besar di negeri ini, tetapi sungguh ada jiwa-jiwa yang merasa berterima kasih oleh kehadirannya. Mereka yang mungkin tidak berinteraksi dengan orang-orang lainnya, tetapi sesungguhnya memberikan kontribusi bagi perbaikan lingkungan dan kondisi di negeri ini. 

Oleh karenanya, sungguh tidak ada alasan sedikitpun bagi kita untuk merasa sombong hingga meremehkan orang lain. Karena mungkin mereka yang tidak lebih kaya dari kita, tidak lebih tinggi pendidikannya dari kita, tidak lebih cantik dan ganteng dari kita (halah -,-), tetapi ternyata memiliki kontribusi manfaat yang lebih banyak dari kita. Mungkin ada lebih banyak orang yang merasa berterima kasih pada mereka dibandingkan orang yang merasa berterima kasih pada kita. Seorang sopir bajaj yang bekerja menafkahi keluarganya, mungkin pulang disambut dengan rasa terima kasih yang lebih besar oleh istri dan anak-anaknya karena perjuangannya hari itu sehingga mereka masih bisa makan, dibandingkan kita yang misalnya pulang sekolah dengan baju kotor dan perut lapar, lalu mendapat ucapan terima kasih dari orang rumah karena kita tidak berbuat onar dan jajan sembarangan di luar :p. 

Atau jangan-jangan kita kerjanya hanya merepotkan orang saja? ^^”

Satu kesadaran yang selalu menjadi pengingat saya di kala lemah adalah bahwa kita tidak pernah hidup sendirian. Bahkan Adam saja tidak sendirian saat diturunkan ke bumi. Disertainya Hawa, meski pada awalnya mereka harus terpisah jauh dan baru kembali bertemu dalam rentang waktu yang tidak sebentar. Separuh dari diri kita sekarang adalah karena keberadaan orang lain di sekitar kita. Kalau kata Pak Mario, jadilah mandiri pada tataran proporsional untuk bergantung pada diri sendiri, namun bersikap rendah hati saat membutuhkan bantuan orang lain, dan belajarlah santun ketika meminta tolong. 

Allah Swt adalah satu-satunya tempat kita bergantung. Saat kita membutuhkan pertolongan, terlalu mudah bagi Allah dengan kun fayakun-Nya untuk menolong kita secara langsung. Oleh karena itu Allah mengirimkan perantara-perantara hidayah-Nya bagi kita. Agar kita tidak larut dalam takabur dan kebesaran diri kita sendiri. Agar kita juga memiliki empati pada orang lain. Agar kita belajar dengan hikmah dari kisah-kisah.

Untuk setiap jiwa yang pernah memiliki jejak dalam perjalanan hidup saya, terima kasih. 

Untuk orang tua, keluarga, guru, tetangga, dan teman-teman yang selalu luar biasa, terima kasih. 

Untuk orang-orang sepintas yang bertemu di jalan dan hanya sekedar bersapa atau tersenyum, terima kasih. 

Untuk yang tidak bisa disebutkan satu-persatu, terima kasih
(aigoo...ini bocah lebay amat dah, berasa lagi penerimaan penghargaan di atas panggung Baeksang Award -,-). Ahaha... lagi sok romantis ceritanya :p.

Sip. Mari kita kembali pada setiap detik berjuang yang harus kita lakukan. Seperti pelajaran sebelum-sebelumnya yang selalu mengingatkan bahwa setelah selesai satu pekerjaan, segeralah berpindah untuk menyelesaikan pekerjaan berikutnya. Dulu saya selalu berharap, selesai ujian tengah semester atau ujian akhir semester bisa berlibur atau rehat lebih banyak. Nyatanya tidak,  tetap saja  jasad ini tidak bisa beristirahat kecuali sedikit saja (bo’ong banget kamu, wong lagi ujian aja tidur -,-“). Ssst....diam!    

Oke pemirsa, selamat hari pahlawan! Mari sejenak kita mengingat mereka yang pernah berjasa dan menorehkan jejak kepahlawanan dalam hidup kita untuk kita doakan kebaikan dan kesejahteraan dalam hidupnya. Dan segera berlari kembali fokus mengejar mimpi-mimpi kebaikan yang sedang kita lukis pada kanvas-kanvas kita.

Share your kindess, and be the hero ^^

Bogor, 10 November 2014