Tampilkan postingan dengan label pemuda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemuda. Tampilkan semua postingan

Konservasi Air

Selasa, 31 Maret 2015



Air. Salah satu syarat demi terbentuknya sebuah kehidupan. Bumi layak ditinggali oleh manusia karena ada air. Suatu daerah layak menjadi tempat tinggal karena ada air. Pegunungan memiliki tempat yang cocok untuk berkemah juga karena air. Bahkan tubuh manusia, sekitar 55-75% terdiri dari air (tergantung ukuran dan berat badan). Manusia dan hampir seluruh makhluk hidup lainnya memiliki ketergantungan terhadap air. Manusia membutuhkan air untuk minum, mandi, mencuci, memasak, dan melakukan berbagai aktivitas sehari-hari lainnya. Bagaimana kondisi air yang sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup ini? Apakah eksistensi air di bumi akan terus ada atau adakah kemungkinan hilang? Bagaimana cara terbaik untuk mengkonservasi air?

Sang Pencipta menciptakan air sebagai berkah untuk kesejahteraan manusia. Hakikat air adalah baik dan untuk kebaikan, namun belakangan ini sering kita jumpai bencana yang disebabkan oleh air. Beberapa permasalahan terkait air yang menjadi perhatian, antara lain banjir, berkurangnya pasokan air bersih, pencemaran sumber-sumber air, pendangkalan badan air, dan kekeringan.Permasalahan ini muncul sebagian karena faktor alam, seperti kondisi topografi dan geologi, serta iklim dan curah hujan. Namun permasalahan air lebih banyak disebabkan oleh faktor manusia yang tidak tepat dalam pemanfaatan dan pengelolaannya, sehingga dampak negatif yang dirasakan menjadi lebih besar dari yang seharusnya.

Pembahasan mengenai konservasi air sejalan dengan hukum termodinamika dan kekekalan energi dimana energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, hanya berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Sama halnya dengan air.Jumlah air di bumi adalah tetap.Air berpindah dari satu bentuk ke bentuk lainnya melalui siklus hidrologi. Air laut mengalami evaporasi menjadi uap air. Uap air tersebut menggumpal menjadi awan, dan terjadi kondensasi sehingga terbentuk massa hujan. Hujan atau presipitasi turun ke permukaan, masuk ke dalam tanah, ke sungai, ke danau, atau menggelontor begitu saja menjadi run-off.Air yang terserap ke dalam tanah (infiltrasi) dan terus masuk ke lapisan dalam akuifer (perkolasi) akan tersimpan sebagai air tanah dalam dan inilah yang biasanya menjadi sumber air sumur.Air di permukaan akan kembali mengalami evaporasi atau kembali ke laut dan siklus terus berulang.

Jika melihat siklus air yang demikian, dapat diterka bahwa hanya sedikit air di bumi yang dapat kita manfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Menurut Simonds (2007), jenis air di bumi didominasi oleh air laut sebesar 97% dan hanya 3% air tawar. Dari air tawar yang sedikit itu, 69% tersimpan dalam bentuk glasier&es, 30.1% dalam bentuk ground water, dan 0.9% air yang ada di permukaan. Jumlah 0.9% inilah yg digunakan oleh hampir seluruh manusia untuk aktivitasnya sehari-hari.

Permasalahan banjir, pencemaran air, intrusi air laut, dan kekeringan, sebagian besar disebabkan oleh pengelolaan air permukaan yang tidak terkendali sehingga timbul bencana.Satu daerah kelimpahan air, daerah lainnya kekeringan sampai menimbulkan kebakaran hutan.Sebagai contoh adalah kasus ibukota Jakarta yang hampir setiap tahun mengalami banjir. Sejarah mencatat bahwa banjir di Jakarta tidak hanya terjadi dalam kurun waktu 10-20 tahun terakhir dimana pembangunan dan pencemaran yang terus meningkat telah mengganggu siklus air.Banjir besar pertama Jakarta tercatat pada tahun 1621, lalu terjadi lagi tahun 1654, dan tahun 1876.Jakarta tergolong daerah yang sangat potensial banjir. Karakter geologis di Jakarta didominasi oleh batuan yang kedap air, sehingga tanpa meluapnya rob air laut atau melimpahnya kiriman air permukaan dari Bogor, Jakarta tetap akan banjir jika curah hujan setempat tinggi.Topografi Jakarta cenderung datar dengan rata-rata ketinggian 8 mdpl. Sebagian daerah, khususnya di bagian utara, ketinggian permukaannya lebih rendah dari tinggi muka air laut.Karakteristik fisik ini, ditambah pembangunan yang tidak terkendali sehingga terjadi banyak alih fungsi lahan, menyebabkan dampak banjir di Jakarta menjadi semakin besar dan merugikan.Salah satu solusi mengelola sumber daya air (termasuk masalah banjir) agar sirkulasinya seimbang adalah dengan mengelola penampangnya, yakni Daerah Aliran Sungai (DAS). 

DAS adalah area atau kawasan dimana seluruh air (hujan) yang jatuh di kawasan tersebut akan mengalir ke satu sungai utama. Oleh karena itu pembagian kawasan dalam satu pulau bisa habis oleh pembagian DAS, misalnya DAS ciliwung, DAS citarum,dan lain-lain.Jakarta yang dilalui oleh 13 sungai dan anak sungai termasuk ke dalam DAS Ciliwung.

DAS berhulu di puncak gunung dan berhilir di muara sungai. Berdasarkan profilnya,DAS terbagi tiga menjadi upper stream, middle stream, dan down stream. Upper stream adalah area pegunungan yg konturnya berbukit dan karakteristiknya ideal untuk optimalisasi penangkapan air. Eksistensi hutan dengan pohon dan berbagai vegetasi lainnya baik untuk memperlambat laju air, selain mendukung pula untuk pencegahan erosi. Down stream adalah dataran rendah/flat, paling sesuai untuk permukiman  dan pengembangan kota. Drainase yang baik akan mendukung sirkulasi air yg baik pula. Vegetasi-vegetasi di perkotaan dapat membantu tanah menyerap air. Middle stream adalah area pertengahan yg paling krusial, dsebut juga kawasan ekoton dimana karakter upper- bertemu dengan karakter down-. Penataan kawasan ekoton harus memperhatikan kepentingan dari kedua kawasan yang mengapitnya tersebut.

Profil DAS di atas menjelaskan bahwa permasalahan terkait air di satu bagian tidak terlepas dari bagian lainnya. Cara mengatasi masalah banjir di Jakarta yang merupakan hilir Sungai Ciliwung (down stream), juga harus memperhatikan daerah Puncak (upper stream) dan kota-kota yang dilaluinya (middle stream). Alih fungsi lahan di daerah hulu dari fungsi hutan dan lahan pertanian ke bentuk urban dengan bangunan-bangunan dan perkerasan, telah menutupi daerah-daerah resapan air sehingga jumlah aliran permukaan (run off) meningkat, melebihi kapasitas daya tampung badan air (sungai, danau, kanal, selokan), dan meluap sebagai banjir. Pendangkalan badan air akibat erosi dan terhambatnya aliran air oleh sampah industri dan rumah tangga juga menyebabkan dampak banjir semakin parah.





Hal yang harus dilakukan adalah memasukkan kembali air ke dalam tanah. Dapat dilakukan dengan cara membuat sumur resapan, biopori, reboisasi, sampai rekayasa konstruksi tanah (jika karakter tanah dan batuan rendah daya serap airnya, direkayasa dengan mengatur komposisi pasir-debu-liat yang ideal).Secara umum konservasi air dilakukan dengan dua cara, yaitu melalui stormwater harvesting dan rainwater storing.

Stormwater harvesting dilakukan dengan "menanam" air untuk "dipanen" pada waktunya.Caranya adalah dengan menggunakan pond (kolam), sumur resapan, biopori, embung, dan sebagainya.Intinya adalah menyimpan air tersebut untuk kemudian dipanen ketika musim kemarau. Selain dipanen, stormwater harvesting juga membuat tanah lebih gembur dan mencegah penurunan muka tanah.Cara kedua adalah denganrainwater storing, yaitu menyimpan air hujan di dalam tangki-tangki untuk digunakan secara langsung untuk keperluan sehari-hari.Berapa banyak yang harus disimpan? Rumusnya seperti bahasa Sunda ^^”: V=CxAxI. Volume yang disimpan adalah koefisien run-off dikali luas atap dikali intensitas curah hujan. Rainwater storing ini dilakukan untuk mengurangi kebutuhan air sekunder.Dengan dan tanpa filter, air hujan ini bisa digunakan untuk menyiram tanaman, mencuci mobil, flush, cooling tower,dan sebagainya.

Permasalahan air selain banjir adalah intrusi air laut. Eksploitasi air tanah secara berlebihan akan menyebabkan meningkatnya intrusi air laut.Intrusi air laut adalah masuknya air laut ke darat, mengisi pori-pori tanah, sehingga air tanah menjadi payau.Hal ini sering terjadi di kota-kota pesisir, seperti Jakarta, Cirebon, dan Semarang. Pembuatan sumur artesis dan menyedot air secara berlebihan juga dapat menyebabkan air tanah menjadi payau. Air laut memiliki densitas dan konsentrasi yang lebih tinggi dibandingkan air tanah. Massa jenis air laut 1,025 gr/cm3, sedangkan air tawar 1 gr/cm3.Dilihat dari aspek fisik, air tanah yang memiliki densitas lebih ringan, posisinya berada diatas air laut. Terdapat pembatas bidang cembung diantara keduanya. Jika air tanah terus-menerus disedot, batas tersebut akan semakin naik mendekati permukaan. Hal ini dapat dianalisis pula dari aspek kimiawi, yakni saat air tanah dan air laut yang memiliki perbedaan konsentrasi bertemu maka akan membentuk suatu lapisan permeabel.  Secara perlahan akan terjadi perpindahan massa/ion dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Ketika air tanah diambil, lapisan permeabel ini akan naik mendekati permukaan tanah, sehingga air tanah menjadi payau. Solusinya? Memperbanyak sumur resapan untuk menampung air hujan dan gunakanlah air secara hemat :).

Ketika  Jakarta mengalami kelimpahan air yang berdampak merugikan (banjir), terdapat fenomena kontras di daerah lain yang mengalami kekurangan air dan juga berdampak merugikan (kekeringan), misalnya Wonosari, Yogya. Karakter air di Jakarta adalah penuh di atas permukaan, namun kering di bawah. Sebaliknya di Wonosari penuh di bawah permukaan, namun kering di atas. Masyarakat Wonosari sulit memanfaatkan air karena letaknya jauh di lapisan bawah, padahal Wonosari memiliki lapisan akuifer yang besar. Karakter geologinya berupa batuan gamping yang bolong-bolong sehingga air hujan yang jatuh langsung tergelontor ke lapisan bawah membentuk sungai bawah tanah. Tanpa survei geologi, sulit untuk memanfaatkan air hanya dengan membuat sumur-sumur blind drill.

Kondisi berlawanan dialami oleh Jakarta dimana tanah dan batuannya sudah terlampau jenuh hingga sulit untuk menyerap air. Drainase yang terhambat, seperti sungai sebagai drainase alami yang mengalami pendangkalan ataupun tercemar sampah industri dan rumah tangga, serta drainase buatan lainnya (selokan, kanal) yang juga banyak tercemar oleh sampah, ditambah curah hujan yang tinggi, menyebabkan tingkat run-off sangat tinggi hingga menimbulkan banjir.Kondisi tanah jenuh ini tidak hanya dialami oleh kota Jakarta yang didominasi oleh bangunan, tetapi juga dapat terjadi di lahan pertanian yang didominasi oleh sistem penanaman monokultur.

Tanah jenuh, atau dikenal juga dengan istilah saturated land /‘tanah mutung’, adalah sebuah kondisi saat tanah tidak lagi memiliki unsur-unsur hara seperti kondisi awalnya dan kemampuannya dalam menyerap air semakin menurun.Hal ini berdampak pada menurunnya kualitas tanah sebagai media tanam dan fungsi konservasi air. Faktor penyebab tanah menjadi jenuh bermacam-macam. Ada yang disebabkan oleh aktivitas fisik, seperti pembangunan dan pertambangan. Ada pula yang diakibatkan oleh aktivitas kimiawi karena unsur-unsur hara yang terus-menerus diambil, misalnya kegiatan pertanian yang monoton atau hutan produksi.Beberapa solusi untuk mengatasi permasalahan tanah jenuh ini adalah dengan rekayasa unsur tanah, penghijauan, biopori, atau menggilir jenis tanaman pada lahan pertanian.Mengistirahatkan tanah melalui ‘bera’ juga penting agar tanah memiliki waktu untuk mengembalikan unsur-unsur haranya yang hilang. 

Ada satu pelajaran menarik dari Vietnam terkait masa bera. Vietnam membanjiri lahan pertanian padi dengan air sungai. Setelah panen, Vietnam mengistirahatkan tanahnya sebelum masuk ke musim tanam berikutnya. Namun ia tidak membiarkan lahan bera begitu saja. Lahan-lahan bera tersebut dialiri dengan air sungai yang ada di sekitarnya. Kandungan mineral yang terdapat di air sungai akan terbawa ke lahan sehingga pengembalian unsur hara ke dalam tanah akan berlangsung lebih cepat.

Dalam suatu kesempatan seminar, dijelaskan bahwa mengelola keberlanjutan ruang terbuka biru (RTB) merupakan solusi yang lebih efektif dalam mengatasi banjir daripada ruang terbuka hijau (RTH). Hal ini dikarenakan RTH lebih bersifat preventif dan membutuhkan periode jangka waktu yang cukup lama sampai manfaatnya dapat dirasakan, sedangkan RTB yang merupakan badan-badan air, seperti danau, sungai, dan waduk langsung menampung air dan menahan air agar tidak lantas meluap atau tergelontor begitu saja ke tempat yang lebih rendah.

Beberapa fungsi penting RTB, antara lain:
1. menampung air,
2. menurunkan suhu iklim mikro,
3. habitat wildlife dan berbagai tumbuhan,
4. sarana rekreasi cuma-cuma bagi warga kota.

Hal ini bukan berarti RTB menjadi lebih penting daripada RTH, meskipun untuk tindakan responsif banjir RTB dinilai lebih efektif. Keberadaan RTH dan RTB sama-sama penting karena keduanya saling mendukung untuk konservasi air. Pemerintah kota dapat menghitung luas badan air sebagai RTB yang dibutuhkan perkotaan berdasarkan jumlah penduduk yang ada di kota tersebut. Konservasi air di perkotaan juga harus dilihat dari aspek keberlanjutan, baik itu ekologi, ekonomi, maupun sosial. Oleh karena itu, keseimbangan dalam pembangunan dan penegakkan hukum dan aturan sangatlah penting. Kita semua tentu berharap bahwa kebijakan-kebijakan yang telah dibuat dapat diterapkan secara tepat. Pengelolaan sumber daya alam dan energi vital sudah jelas aturannya dalam UUD 1945 pasal 33 ayat 3. Peraturan tentang luasan RTH ada dalam UU No. 26 Tahun 2007. Pengelolaan sumber daya air ada dalam UU No. 7 Tahun 2004. Hampir semua kebijakan yang kita butuhkan telah tertuang dalam aturan di negeri ini, namun rendahnya law enforcement tentu menjadi permasalahan tersendiri yang butuh pembahasan khusus secara lebih lanjut.

Apakah yang dapat kita lakukan? Paling mudah adalah memulainya dari diri sendiri dan lingkungan terdekat. Tidak membuang sampah ke badan air (sungai, selokan, danau), menggunakan air secara hemat sesuai dengan kebutuhan, dan menanam pohon atau membuat lubang-lubang biopori di halaman rumah adalah langkah kecil yang dapat dilakukan oleh setiap individu. Jika kita menghitung kebutuhan air bersih per orang (berdasarkan standar PU) adalah sebesar 120 liter/hari, artinya kita bergantung pada ketersediaan sumber air bersih  sebanyak 840 liter seminggu atau 3.600 liter sebulan. Jika air bersih semakin sedikit ketersediaannya, maka air akan menjadi benda ekonomi yang semakin berharga untuk diperjualbelikan. Berapakah biaya yang harus kita keluarkan untuk memenuhi kebutuhan kita akan air? Asumsijika kita harus membeli air seharga dengan air  mineral dalam kemasan yakni Rp 4000/liter, artinya setiap orang harus mengeluarkan Rp 480.000/hari atau Rp 14.400.000/bulan. Betapa berharganya air. Itulah mengapa setiap individu memiliki kewajiban untuk menjaga air dan sumber-sumber air. Bukan untuk orang lain, melainkan untuk diri sendiri, keluarga, dan orang-orang terdekat yang kita miliki.

Sumber:
Diskusi Grup FC3 Eneling, Forum Indonesia Muda, 19 Februari 2014

Narasumber:
1. Nurul Najmi
2. Gugi Yogaswara
3. Aveliansyah

FIM Rescue Goes to Merapi

Selasa, 24 Maret 2015

Sedikit berbagi tentang perjalanan 4 hari 4 malam ke Magelang-Yogya pasca erupsi Gunung Merapi pada tahun 2010 silam.



Ini pertama kalinya saya naik kereta ekonomi jarak jauh, keluar Jawa Barat pula. Biasanya saya keluar Jawa Barat hanya saat pulang kampung ke Losari-Cirebon dan akses langsung menyeberang di pertigaan jalan menuju rumah kakek ditutup sehingga kami harus berputar di Jawa Tengah. Menyeberangi jembatan Sungai Cisanggarung yang menjadi batas antara Losari-Cirebon dan Losari-Brebes, lalu mencari median jalan yang tidak terhalang beton atau besi sehingga kami bisa berputar dan berbalik menuju Jawa Barat lagi. Ini nggak keren sih, sebenarnya -___-.

Oke. Kembali ke ‘naik kereta ekonomi untuk pertama kalinya’. Dulu kereta ekonomi masih bebas siapa saja dan berapa saja yang naik, belum ada peraturan ‘setiap orang harus memiliki tiket duduk’ seperti sekarang. Banyak penumpang yang mengantongi tiket berdiri, sehingga kapasitas kursi untuk dua orang menjadi empat, kursi untuk tiga orang menjadi lima, dst.  Karena sudah mempersiapkan mental, jadi tidak ada kekagetan yang berarti ketika kita harus merelakan kursi-kursi kita untuk berdesak-desakkan dengan orang lain. 

Rasanya benar-benar luar biasa. Sejak kereta beranjak dari St.Senen, penjaja berbagai jenis dagangan mulai berseliweran. Semakin lama semakin banyak yang berseliweran (;p)...tapi di sini kita bisa melihat berbagai macam orang, mengenali karakter-karakter orang, mengamati kreativitas dan budaya masyarakat kita yang berwarna. Termasuk kreativitas 35 orang FIM Rescue dengan cara-caranya yang unik untuk sekedar mengisi waktu atau mengusir kebosanan dan rasa pengap karena oksigen semakin menipis di dalam gerbong (main Uno benar-benar membuat saya merasa gerbong ini adalah rumah kami,haha..)

Di kereta selalu ada banyak cerita yang menurut saya dapat memperkaya jiwa. Tidak hanya sekedar candaan yang menghibur, tapi terkadang kita perlu mengerti cara menghargai orang lain lewat candaan kita. Sehingga candaan bukan membuat kita tertawa terbahak-bahak yg dapat mematikan hati, justru melembutkan jiwa yang membuat kita peka dengan lingkungan sosial kita (benar kan, Kak aka ‘Mbah’ Mario?). Tapi ending-nya di dalam kereta ketika 'entah siapa' yang menyetel lagu Justin Bieber dengan toa sehingga satu gerbong layaknya ruang karaoke, itu bisa dibilang peka lingkungan sosial atau tidak, saya tidak tahu.

Perjalanan panjang dengan kereta juga seyogyanya membuat kita semakin dekat dengan Sang Pencipta. Menafakuri alamnya yang tiada terukur keindahannya, memperhatikan perbedaan-perbedaan dari satu wilayah ke wilayah lainnya, menganalisis bentang alamnya (hhe..mentang-mentang saya anak lanskap). Intinya nikmat yang diterima setiap manusia itu sebenarnya sangat banyak, benar kan?

Sampai di tujuan pun kita semua memperoleh nikmat yang tidak disangka-sangka. Mungkin di satu sisi kita bingung dan kecewa 'Ke mana para FIM Yogya?'. Merasa agak ditelantarkan dan dilepas begitu saja tanpa kepastian dari tuan rumah. Mempersiapkan diri bermalam di stasiun dengan segala sesuatu yang tampaknya masih mengambang. Namun, bumi Allah ternyata sangat luas. Kita mendapatkan jauh lebih baik dari yang kita pikirkan. Menginjakkan kaki di Masjid Jogokaryan serasa pulang ke suasana rumah yang bertahun-tahun lamanya tidak saya rasakan (lebayy...). Namun, sungguh fasilitas yang jauh dari perkiraan saya ini mengobati semua penat dan letih selama perjalanan di kereta. Kami diterima begitu hangat oleh Ust. Salim A Fillah, diberikan tempat istirahat yang nyaman, sarapan soto, bahkan dus minum air mineral untuk perjalanan esok harinya. Alhamdulillah..... 

Petualangan di Magelang, tepatnya di Dusun Kradenan Desa Srumbung juga tidak kalah menarik. Sangat panjang kalau mau diceritakan, iya enggak? Bermacam konflik, musibah, kelucuan, keramahan penduduk, masalah pasca erupsi, dan segala kebersamaan lainnya.

Mungkin saat ini cerita sedikit tentang kondisi lahan wilayah Srumbung yang mayoritas 90% ekonomi masyarakatnya bertopang pada perkebunan salak. Wilayah perkebunan salak di sana sangat luas. Hasil salaknya juga terkenal lebih enak dari salak Banjar. Meskipun bentuknya masih lebih bagus salak Banjar, tapi rasa salak pondoh di sana terkenal lebih manis dan enak.

Erupsi Merapi membuat lahan kebun salak rusak, tertutup abu dan pasir 70 cm sampai 1 m. Kondisi buah-buahnya yang masih menggantung sebenarnya masih bagus walaupun tertutup abu, namun buah dan batang pohon yang terkena lumpur sehingga membusuk membuat kondisi masyarakat semakin sulit. Butuh sekitar 2 tahun untuk pemulihan lahan. Sementara jika dilakukan penambahan bahan organik ke tanah ataupun mengalihkan jenis tanaman perkebunan menjadi jagung atau sayur-sayuran juga butuh waktu yang tidak sebentar. Jagung dan tanaman sayur bisa ditanam dan dipanen dalam waktu relatif singkat (3 bulan). Hanya saja hasil panen ini bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan pangan warga, tetapi juga pemenuhan aspek ekonomi terkait pangsa pasar yang ada. 



Sejauh ini warga terlihat sangat mandiri dan keadaan sudah jauh lebih kondusif dibandingkan wilayah yang terkena erupsi merapi lainnya (yang lebih parah), petak-petak sawah sudah menghijau kembali, lahan cabai, singkong, ketela pohon (ubi jalar), kacang panjang, dan beberapa tanaman lain berada dalam kondisi baik. Log-log kayu durian dan kayu dadap juga masih bisa diandalkan. Sebenarnya kayu-kayu ini juga berpotensi untuk dijadikan media tumbuh jamur sebagai alternatif pertanian warga untuk beternak jamur.

Hmmm...cukup kompleks membahas masalah pertanian pada wilayah bencana sebenarnya. Di sini juga terkait interdisiplin ilmu, tidak hanya pertanian. Keberadaan kita sudah menjadi dukungan moral yang cukup berarti bagi mereka (ini tipe dukungan yang masih sangat minim y?). Namun, tekad-tekad itu pasti ada dalam setiap jiwa kita kan, bahwa kita tidak akan berhenti untuk berkontribusi. Tak ‘kan berhenti untuk selalu menebar manfaat sebanyak-banyaknya kepada orang lain.

***

Agenda FIM Rescue dalam penugasan lapang ke Magelang, tepatnya di Desa Kradenan, Srumbung, memang difokuskan untuk bidang pendidikan dan kesehatan. Fimers Yogya telah survei sebelumnya dan memutuskan sekolah mana yang akan kami kunjungi, sehingga kepala desa dan pihak sekolah pun telah mengetahui akan kehadiran kami. Tidak disangka, anak-anak MI (madrasah ibtidaiyah) yang seharusnya libur pada hari itu sengaja datang ke sekolah demi menunggu kami.Mereka terus menunggu padahal bel pulang juga sudah berbunyi sejak lama. Kami yang berjanji datang pukul 8 pagi baru sampai pukul 11 siang. Merasa tidak enak, sangat, ketika mengobrol dengan para guru dan mengetahui bahwa mereka memang sengaja menunggu.

Sempat bingung awalnya, karena begitu FIM Rescue datang, anak-anak langsung menyerbu dan mengerubungi, menanti sesuatu yang -mereka pikir- akan luar biasa. Menurut beberapa guru pula, mereka memang ingin segera bermain dan diajari oleh kakak-kakak relawan. Akhirnya, tanpa briefing dan tanpa instruksi, FIM Rescue langsung menyebar ke kelas-kelas dan anak-anak MI dengan cepatnya duduk rapi berlipat tangan di atas meja. Berbagai permainan dan kreativitas kakak-kakak relawan pun 'dimuntahkan' demi meramaikan kelas, mengambil hati, serta menghibur adik-adik MI. Saya yang terdampar di kelas satu menjadi satu-satunya relawan wanita di sana (permintaan khusus Bu Guru yang katanya anak-anak meminta supaya ada kakak perempuannya, -ihik, jadi enak-). Kami yang berada di kelas satu, mengajak berkenalan adik-adik, mengajak mereka bernyanyi, membaca puisi, belajar bahasa inggris, membuat beberapa games seperti game jari yang diperkenalkan oleh ust.Hasan, dan game-game lainnya (lupa game apaan aja). Kelas diakhiri dengan pengumuman untuk kegiatan esok hari dan berdoa bersama. Rata-rata semua kelas berakhir pada pukul 12 siang. Namun, ada dua kelas yang keluar paling akhir karena begitu semangatnya bermain (entah yang bersemangat adik-adik MI-nya atau justru kakak-kakak FIM Rescue? :p). 

Sungguh bersyukur berada dalam satu tim yang penuh dengan orang-orang luar biasa dan memiliki inisiatif tinggi. Sumberdaya FIM Rescue bisa menyebar dengan baik ke semua lini dalam waktu singkat. Kelas 1 sampai kelas 6 tertangani, konfirmasi dan urusan perizinan dengan Pak Kades diurus dengan baik, komunikasi dengan guru-guru dan kepala sekolah oke, urusan logistik berupa hadiah tas beserta perangkat isinya dipindahkan dan ditata rapi di ruang perpustakaan dengan cepat, beramah tamah singkat dengan penduduk (atau orangtua murid) juga tidak terlewatkan. Inisiatif dan kreativitas tinggi tim kadang benar-benar menakjubkan, kadang juga jadi sumber konflik internal yang 'menghangatkan suasana', (ya, enggak?;p)  

Rasanya senang sekali bisa bercengkrama dengan banyak anak dan melihat wajah ceria mereka (entah bagaimana mimik wajah mereka saat kejadian 'Merapi' berlangsung). Semoga saja kehadiran kami dapat membantu menyalurkan harapan dan membawa asa untuk semangat belajar mereka di hari-hari berikutnya.

Ada sebuah insiden terkait kedatangan FIM Rescue yang mungkin agak 'rusuh' karena personelnya banyak. Seorang anak yang memiliki masalah psikologis berat kaget akan kehadiran kami. Ia tiba-tiba mengamuk, lalu pingsan (ini agak lebay ceritanya). Seorang relawan menggendongnya dan berusaha menyelamatkannya (hahaa..yang ini lebay lagi). Setelah dikonfirmasi, kegiatan mengamuk sang anak ternyata sudah sering terjadi. Sekolah maklum. Bukan akibat efek psikologis bencana, tapi karena memiliki masalah dalam keluarga. Hmmm..seharusnya hal seperti ini juga menjadi perhatian untuk ditangani, bukan sekedar dibiarkan. Saya tidak tahu rincian kejadiannya dan bagaimana pembahasannya -yang sepertinya sempat memanas di ruang kelas 3- terkait anak ini. Saat itu saya sedang ada urusan kunci-perkuncian dengan salah seorang guru. 

Membahas terkait kondisi psikologis anak pasca bencana sepertinya tidak sesederhana yang terpikir. Bukan hanya sekedar menghibur mereka, mengajak bermain dan belajar, tetapi juga terkait latar belakang dan permasalahan mereka bahkan sebelum bencana terjadi. Kasus di atas adalah salah satunya. Seorang anak lain, Shifa, bersyukur karena memiliki keluarga yang cukup harmonis. Sang ibu sangat perhatian dan secara ekonomi kondisi keluarganya cukup mapan. Shifa hanya terkena sindrom trauma pada saat berada di pengungsian selama dua hari. Ia tidak berhenti mengompol sampai ibunya harus memakaikan popok (bahasa gampangnya pampers). Padatnya barak pengungsi dan tidak nyamannya kondisi mungkin menjadi penyebab traumatis sang anak. Begitu ia kembali ke rumahnya, ngompolnya pun berhenti.

 Seorang anak lain, Surya, terbiasa ditinggal berdua saja dengan adiknya di rumah karena orangtuanya bekerja. Sebagian FIM Rescue putri menginap dua malam di rumahnya untuk menemani. Surya duduk di kelas enam, terlihat sangat mandiri. Begitu pula adiknya. Meskipun tidak terlalu terlihat ekspresif, tapi jelas dia sangat senang akan kehadiran kakak-kakak FIM Rescue. Sampai sekarang Surya masih mengirim sms ke kakak-kakak FIM Rescue putri yang menginap di rumahnya (benar, tidak?). Saya tidak ikut menginap di sana, jadi tidak kebagian sms dari Surya, hhe.

Agak dilematis sebenarnya. Membawa dan memberikan keceriaan pada anak-anak, kemudian risiko akan rasa kehilangan terhadap kebersamaan dan keceriaan itu pasti ada dalam setiap kegiatan kerelawanan. Baik dalam diri relawan, terlebih yang dirasakan oleh anak-anak yang ditinggalkan.

Di sini sebenarnya peran orangtua sangatlah penting. Kondisi trauma baru akibat rasa kehilangan mungkin bisa dihindari jika orangtua dan lingkungan (guru, dll) mampu memberikan perhatian jauh lebih baik daripada para relawan. Relawan hanya bersifat mendampingi, menghibur, menolong, dan sementara. Bagaimanapun, tanggung jawab terhadap perkembangan mental anak juga berada di tangan ayah-ibu sang anak sendiri. Benar, kan? Cinta orang tua bukan hanya disampaikan melalui materi dan pemenuhan kebutuhan fisik anak, tetapi juga perhatian terhadap kondisi psikologis mereka. Semoga para Fimers dapat menjadi orangtua-oranguta teladan yang melahirkan generasi terbaik masa depan ^^.

Hmmm… masih banyak sepertinya yang belum diceritakan...

Cerita-cerita heboh saat outbond (hayyoo..sape aje nieh yg terlibat?), kegiatan penyuluhan "CARA HIDUP SEHAT" bersama dr. Mea dan dr. Lela di mesjid desa, acara cuci tangan bersama sabun *sensor*__________ (gak boleh sebut merek) -pake acara sabun hilang pula sehingga harus beli lagi, atau jangan-jangan tuh sabun emang belum dibawa dari minimarket malemnya??-, sampai penutupan acara dengan pembagian tas dan susu. Oh ya, malam hari sebelumnya juga ada agenda para FIM Rescue ngopi bareng warga. Entah sampai jam berapa, tidak tahu pasti juga hal-hal apa saja yang diobrolkan. Tapi pada intinya masing-masing relawan memiliki cara-cara tersendiri dalam pendekatan ke warga, beberapa bahkan sangat gesit karena sejak awal tiba di Srumbung sudah melakukan pengkajian (analisis sosial) dan permasalahan warga bisa langsung diangkat pada saat rapat.

Melesat ke hari terakhir, Jumat pagi tanggal 24 Desember.

Akhirnya FIM Rescue Rangers bisa bangun lebih pagi (termasuk saya). Merasa malu karena pagi hari sebelumnya ditanyakan oleh warga karena hanya sedikit dari kami yang shalat subuh di mesjid, sementara saya datang ke mesjid ketika semua jamaah sudah bubar (hwaa...ketangkap basah). Setiap ibu-ibu yang lewat tersenyum dan menyapa, salah seorang nenek bahkan bertanya dengan ramah "Ngantuk ya?" 

Jawab saya, "He..he..iya mbah, kesiangan" *dengan mata setengah terpejam*. Padahal baru jam setengah 5, kok jamaah cepat sekali bubarnya? Saya baru sadar ini di Magelang, makin ke timur waktu shalat makin cepat. Jam 4 kurang 5 menit azan subuh! Setidaknya di pagi hari terakhir di Srumbung hampir semua dari kita shalat di mesjid, be better in every second of life, khan???

Alhamdulillah, rencana kegiatan pagi untuk senam bersama dan dilanjutkan dengan kerja bakti juga berjalan dengan lancar. Sarapan pagi hari juga luar biasa (katanya). Special morning day, deh. Kalau saya tidak ikut sarapan di rumah Pak Kades karena ditawari makan di rumahnya Shifa. Ibunya Shifa selalu dengan merendah berkata bahwa makanannya sangat sederhana, seadanya. Tapi saya merasa sarapan pagi hari itu dengan sayur bening dan tempe goreng tepung buatannya enak sekali. Feel homing. Entah karena sayurnya memang enak, atau karena ketulusan sang ibu yang sampai pada papila-papila lidahku sehingga saya merasakan nikmat makan yang luar biasa.

Berpamitan kepada kepala desa dan keluarganya, kepala sekolah, bertandang ke beberapa rumah guru, bersalaman dengan warga, dan yang pasti foto-foto sebelum keberangkatan kami kembali ke Yogya. 



Rencana awal untuk kerja bakti di Yogya dialihkan menjadi survei lapang (assessment). Karena memang tidak ada link dan belum memiliki gambaran mengenai kondisi fisik dan sosial di sana, kami tidak merencanakan untuk mengadakan kegiatan -terlebih menurut kabar yang kami dapat saat rapat malam hari sebelumnya wilayah di sana memang sudah dijadikan area wisata yang mewajibkan setiap pengunjung untuk membayar-.

Sesampainya di Desa Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, semua FIM Rescue turun dari bis dan berjalan memasuki daerah yang terkena langsung jalur lahar dingin saat Merapi meletus. Di sini kondisinya benar-benar memprihatinkan. Seluruhnya rata menjadi seperti padang pasir abu. Pertanian hancur, rumah-rumah terkubur, pohon-pohon mati. Batu-batu besar berserakan. Kedalaman pasir dan abu mencapai 7-8 m. Seolah membuat 'sungai pasir' yang sangat lebar, area ini membentuk alur turun terus ke arah Selatan. Tidak tergambar jelas bekas-bekas perkampungan ataupun petak-petak lahan perkebunan seperti apa sebelumnya. Di sini emosi saya mulai campur aduk. Kami berjalan di atas perkampungan yang terkubur, kami berjalan di atas rumah dan kebun penduduk, dan mungkin kami berjalan di atas mayat-mayat yang tidak terangkut karena tertimbun lahar dan pasir. Butuh waktu berapa lamakah untuk pemulihan ini? Bagaimana baiknya perencanaan panataan wilayah selanjutnya agar dapat mengurangi dampak bencana? Karena bukan hanya faktor alam yang harus diperhatikan di sini, tetapi juga aspek budaya dan karakter sosial masyarakat yang cukup kompleks perlu dipikirkan.

Tiga orang warga yang merupakan korban Merapi tengah berada di 'padang pasir abu' berdiri dan duduk di dekat pohon nangka yang sudah tak nampak lagi daunnya. Dua diantaranya suami-istri, seorang lagi adalah tetangga dekat. Sang istri menceritakan tentang hari saat kejadian berlangsung, tentang anak-anaknya, dan juga tentang ibunya yang berusia 90 tahun dan sangat ingin kembali ke rumahnya yang lama dua hari saja sebelum kematian menjemputnya. Ia bercerita sambil menangis, berharap mampu membeli angkong untuk mengeruk pasir yang menimbun rumahnya. Bercerita pula tentang seluruh lahan kebun salak yang hancur, tentang 70 ribuan pengungsi yang ditempatkan di GOR, tentang kondisi ekonomi, tentang keadilan Allah...

Rasanya sangat bingung saat itu, tidak ada yang dapat dilakukan selain mendengarkan. Dalam hati,"Ya Allah, apa yang dapat kuberikan?".  Akhirnya saya pun pergi setelah mendengar azan zuhur berkumandang. Setelah menanyakan posisi mesjid, saya beranjak. Heran, karena dua orang Bapak tersebut tetap bergeming dan tidak bernjak untuk jumatan. Tambah heran lagi, karena dalam kondisi susah akibat bencana -bahkan untuk makan sekalipun-, sang bapak tetap menghisap rokok. Rokok benar-benar sudah menjadi kebutuhan primer ya, melebihi sandang, pangan, dan papan?!

Saya berjalan sendiri waktu itu. Para relawan putra sepertinya sudah beranjak lebih dulu untuk jumatan. Yang putri entah pada ke mana, sepertinya berada di posisi 'padang pasir' yang berbeda.Keluar dari area 'padang pasir', saya masuk ke perkampungan yang cukup hijau dan lembap. Seperti masuk hutan rasanya. Antara ingin mencari tahu, dan meredakan emosi diri sendiri. Terus saja berjalan sampai bertemu penduduk yang bisa saya sapa. Akhirnya berkenalan dengan seorang nenek bernama mbah Supi. Saya mendapat cerita lagi dalam versi yang berbeda, kali ini tidak begitu membuat shock. Mbah Supi mengantar saya ke mushala, kami berwudhu di tengah perjalanan, menimba air dari sumur untuk dituang ke dalam kendi untuk air wudhu. Kami shalat berjamaah, dan saya menangis.

Mbah Supi mengajak saya ke rumahnya setelah mengantar berkeliling melihat kondisi kampung, memperkenalkan saya dengan beberapa keluarganya, dan meminta cucu perempuannya mengambilkan wedang putih untuk saya (duh, kenapa jadi bertamu begini?!). Kami mengobrol, sampai akhirnya handphone saya berbunyi. Hmm..rupanya ada juga yang mencari^^? Sempat berpikir apakah mungkin ya kalau saya ditinggal rombongan?! Karena sudah jam 1 siang dan tidak ada juga yang menelepon. Jujur, saya agak lupa jalan pulang keluar kampung.

Begitu tahu saya dicari, Mbah Supi menyudahi obrolan dan mengantar saya keluar kampung. Awalnya saya menolak diantar, tapi simbah keukeuh mau mengantar sampai depan (dalam hati sih sebenarnya sangat bersyukur karena berarti saya tidak akan kesasar). Saya berpisah dengan Mbah Supi setelah sungkem dan melambaikan tangan, lalu berlari mengejar langkah pimpinan rombongan yang wajahnya sudah mulai jutek karena ada anggotanya yang bandel sehingga menghambat keberangkatan.

Sebelum ke stasiun kami mampir di toko oleh-oleh, membeli penganan khas Yogya sekedarnya untuk dibawa pulang. Kereta Progo yang akan mengangkut kami sudah datang meskipun keberangkatannya baru pukul 16.45 nanti. Kami menge-take bangku di awal, bersyukur karena kursi masih banyak kosong. Hanya 19 orang yang pulang ke Jakarta dengan kereta.

Beberapa FIM Rescue sempat keluar masuk gerbong (karena berpikir keberangkatannya masih lama). Ada yang mengambil laundry, ada yang shalat ashar, ada yang makan, dan ada yang keluar untuk nongkrong sekedar cari angin. Sampai kereta hampir berangkat, yang katanya keluar cari angin belum juga kembali. Akhirnya kami harus menelepon dan diketahui bahwa mereka kesasar!!!Lupa gerbongnya yang mana. Dua orang FIM Rescue putra yang diutus untuk menjemput mereka justru iseng dan membuat DUA DOKTER yang kesasar itu tambah bingung. Akhirnya kedua dokter yang kesasar bisa juga menemukan gerbong kami. Ketika tiba di tempat, tawa khas salah seorang dokter yang -kau tahu siapa- bagai virus menular itu langsung menggelegar, membuat kami semua tertawa atas kekonyolan kami sendiri.

FIM Rescue di gerbong kereta tetap menjadi trend setter. Bahkan seorang ibu yang berbaik hati karena merasa berterima kasih telah diberi kursi memberikan kami banyak salak dan makanan lainnya. Belum lagi permainan-permainan asah otak seperti: berpikir sebelum menjawab yang kemudian dimodifikasi menjadi menjawab sebelum berpikir, bumi itu bulat, keliling dunia, membawa barang yang sesuai dan tahu diri, segitiga, dengarkan saya, saya memotret siapa,tebak angka, de el el yang membuat satu gerbong memperhatikan karena kami begitu berisik. Yaa...cukup menakjubkan. Dalam rasa kantuk dan lelah kami masih bisa melakukan hal-hal yang seru dan menghibur. Perjalanan malam yang terasa panjang, tapi indah. Bersyukur masih bisa melihat matahari terbenam dari dalam kereta.  -THE END-


-catatan 14 Maret 2014-

Lebah-Lebah Madu untuk Indonesiaku

Rabu, 11 Maret 2015

sumber: www.rantplaces.com

Menjadi tua itu pasti, tapi menjadi dewasa adalah pilihan. Kalimat tersebut bukanlah sesuatu yang baru, bahkan mungkin sebagian besar orang pernah mendengarnya. Namun, berapa banyakkah manusia yang memahami maknanya dan menjadikan kalimat tersebut sebagai salah satu pecutan bagi dirinya sendiri?

Tumbuh dan berkembang adalah suatu sunnatullah, keniscayaan. Seseorang yang terlahir ke dunia pasti mengalami pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan llingkungan dan segala yang ia pelajari dari komunitas di sekitarnya. Sebuah keniscayaan pula, setiap orang selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Saat ibu kita membimbing belajar jalan sewaktu kecil dulu, kita diharuskan memilih untuk berani melangkah atau tetap diam. Saat kita sakit dan ibu hendak menyuapkan sesendok obat yang kita tahu rasanya pahit, kita pun harus memilih untuk berani meminum ‘pahit yang sesaat’ itu atau menolak mati-matian menghindari pahitnya obat. Terpaksa meminum obat pahit dengan alasan takut diomeli ibu juga merupakan pilihan ;p.

Kemudian, semakin besar kekuatan seseorang seiring tumbuhnya badan dan otak kita, semakin besar pula tanggung jawab yang dimilikinya. Itulah yang disampaikan oleh tokoh Ben Parker dalam Spiderman I. Semua orang termasuk saya pun begitu. Di keluarga, di institusi pendidikan, di kelembagaan-kelembagaan, kita ditantang untuk mengemban tanggung jawab-tanggung jawab. Selanjutnya, pilihan kita bersedia memikul tanggung jawab itu ataukah selalu menghindar dari setiap ajang untuk mengambil peran besar.

Hal tersebut saya alami ketika masih menjadi mahasiswa baru di Institut Pertanian Bogor. IPB merupakan kampus pertama yang menerapkan sistem wajib asrama. Jadi, semua mahasiswa baru termasuk saya harus tinggal di asrama dan mengikuti Program Pembinaan Akademik dan Multibudaya. Kehidupan asrama layaknya miniatur kehidupan masyarakat yang akan kami hadapi di masa yang akan datang. Di sini semua belajar berbagi, belajar bertoleransi, belajar lebih mandiri, dan belajar untuk lebih bertanggung jawab.

Asrama kami memiliki 7 gedung. Di setiap gedung terdiri dari 10 lorong dengan jumlah kamar 10 sampai 15 kamar setiap lorongnya. Setiap kamar dihuni oleh 4 orang. Jadi, dari mulai lingkup terkecil kami sudah hidup ‘bermasyarakat’.

Awal masuk asrama, dilakukan pemilihan RT di setiap lorong, yakni orang yang bertugas memimpin dan mengatur segala yang berhubungan dengan warga lorong masing-masing. Saya merupakan salah satu kandidatnya waktu itu, namun tidak terpilih. Sekitar sepekan kemudian, diadakan pemilihan lurah, orang yang akan memimpin gedung dan mengepalai RT-RT lorong. Fungsi lurah di sini adalah sebagai penyambung suara warga gedung dengan Badan Pengelola Asrama (BPA) dan sebaliknya.

Saya ditunjuk RT lorong untuk menjadi calon lurah. Awalnya saya menolak, karena saya pikir amanah (tanggung jawab) tersebut terlalu berat. Akhirnya saya mengerti bahwa sebenarnya tidak ada amanah berat dan ringan, yang ada hanyalah amanah yang harus dijalankan sebaik mungkin. Saya pun terpilih. Konsekuensinya, harus meluangkan waktu lebih untuk rapat dengan RT-RT, rapat seluruh lurah gedung dengan pihak BPA, dan menggagas program-program yang sesuai dengan program asrama untuk warga gedung.

Lurah maupun RT dituntut untuk kreatif dan proaktif. Saya belum merasa cukup kreatif sebagai lurah, namun saya mencoba melakukan segala yang bisa saya lakukan dan saya berikan untuk warga gedung. Kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dan mendukung kebersamaan warga, saya bentuk bersama para RT dan dewan gedung lainnya. Misalnya Jumat Bersih, yaitu kegiatan kerja bakti membersihkan gedung yang rutin dilaksanakan seminggu sekali. Lalu kegiatan peringatan hari-hari besar, lomba-lomba antar lorong, dan lain-lain. Saya menyadari bahwa hal-hal seperti ini adalah pembelajaran dan rasanya seperti simulasi untuk terjun ke masyarakat nantinya. Kebebasan kita untuk mengambil suatu peran dan tanggung jawab, sebebas kita memilih impian di masa yang akan datang.

Terkadang saya begitu kagum (campur iri) melihat sosok-sosok yang memiliki banyak peran, amanah di sana-sini, sibuk dengan kegiatan-kegiatan positif di luar aktivitas utamanya (sebagai mahasiswa), namun tetap memiliki segudang prestasi dalam akademik dan non akademik. Mereka, misalnya kakak-kakak tingkat saya yang memilih menjadi ‘orang luar biasa’, tidak pernah berpikir bahwa dengan ‘banyak memberi’ akan menjadi orang yang kekurangan. Kekurangan waktu untuk belajar, untuk berhibur, untuk memikirkan diri sendiri. Justru keaktifan membuat mereka lebih mahir dalam mengatur waktu, mengatur emosi, dan meningkatkan kepribadian yang lebih baik.

Saya pun tidak ingin menjadi ‘orang biasa’. Karena di tangan para pemuda terdapat harapan untuk membangun masa depan lebih baik, karena di tangan pemuda pula segala potensi dapat dimaksimalkan, karena itulah saya ingin turut berperan dalam membawa perubahan. Setiap pemuda, tak terbatas asal daerah, status, dan kekayaan, pasti memiliki impian disadari atau tidak. Setiap pemuda selalu ingin menjadi yang terbaik di alam bawah sadarnya. Karena sejak lahir, setiap orang telah dibekali dengan mental seorang pemenang. Jadi, tak ada kata tak mungkin untuk sebuah perubahan. Saya dan setiap pemuda lainnya adalah agen-agen perubahan itu.

Berkaitan dengan perubahan menuju keadaan yang lebih baik, saya memilih untuk lebih fokus pada hal yang berkaitan dengan lingkungan. Mungkin karena saya sudah bersentuhan dengan materi dan kampanye-kampanye berkaitan dengan lingkungan sejak SMP, kesadaran untuk peduli telah tertancap di dada ini. Sewaktu SMP saya menyadari akan pentingnya hemat air dan menjaga sumber daya alam kita meskipun itu dapat diperbaharui. Saat SMA saya mendapatkan lebih banyak materi akan pentingnya menjaga lingkungan dan kebersihan. Saya sering merasa heran melihat begitu banyak orang yang dengan mudahnya membuang sampah di mana saja, sementara hal tersebut termasuk hal yang tidak berani saya lakukan. Mungkin mereka belum mendapatkan materi tentang lingkungan, kampanye cinta lingkungan, atau hal sejenis lainnya sehingga belum tumbuh kesadaran pada diri mereka. Atau kalaupun cukup sering mendengar dan mengetahuinya, hati mereka terlampau keras untuk sekedar mencintai lingkungan mereka sendiri. Saya akan merasa sangat bersalah, seperti dosa besar rasanya, jika membuang sampah sembarangan sampai saya lakukan. Karena saya tahu, satu sampah yang saya buang telah membebani bumi untuk ratusan bahkan ribuan tahun ke depan. Bumi tidak bertambah luas ataupun bertambah besar, tapi setiap hari sampah dan bermacam limbah lainnya terus bertambah. Lalu, ke mana bumi harus manampungnya?

Indonesia tertinggal dua puluh tahun dalam sistem pengolahan sampah. Saya berharap dari tangan pemuda lah ketertinggalan tersebut dapat dikejar. Sebenarnya sudah cukup banyak praktisi dan aktivis yang peduli pada masalah lingkungan (terutama global warming yang selalu menjadi isu lingkungan terkini), hanya saja jika dibandingkan antara masyarakat Indonesia yang peduli dan tidak, mereka yang tak acuh tetap jauh lebih banyak.

Saya bukan termasuk orang yang sangat peka dan ketat pada masalah kebersihan, karena terkadang untuk membersihkan dan memebereskan kamar sendiri sewaktu masa sekolah masih harus disuruh-suruh. Tapi saya mencoba untuk melakukan perubahan kecil-kecilan. Misalnya dengan menyapu dan mengepel kelas di pagi hari meskipun bukan di hari jadwal piket. Dari sana saya menyadari bahwa untuk melakukan sebuah perubahan kecil saja tidaklah mudah. Sindiran di sana, kritik di sini, yang mengatakan “Untuk apa dipel pagi-pagi, nanti juga kotor lagi!”, atau yang merasa kesal karena mereka tidak dapat melewati jalur yang basah karena sedang dipel.

Saya belum seperti para praktisi lingkungan lainnya yang telah memiliki kontribusi besar untuk kelestarian lingkungan. Saya dan beberapa teman sewaktu SMA hanya mencoba membuat sampah produksi siswa tersortasi dan melakukan sedikit program pengolahan limbah skala sekolah. Semangat itu pun timbul karena didukung oleh program lomba yang kami ikuti. Memang hanya hal kecil, tapi sekali lagi, impian untuk menjadikan Indonesia negara yang bersih dan asri selalu ada, dan seharusnya itu menjadi cita-cita setiap orang untuk mewujudkannya. Mungkin tidak cukup sebatas peraturan yang dikeluarkan pemerintah. Setiap warga harus sering-sering mendapatkan materi dan sosialisasi akan lingkungan yang harus mereka lindungi.

Tak ada habisnya jika membahas tentang impian-impian untuk Indonesia, negeri kita tercinta. Namun, bukankah dari impian seseorang termotivasi untuk bergerak? Setiap pemuda yang memiliki impian, setiap itu pula harapan Indonesia menuju lebih baik bertambah. Terus membentuk dan membangun generasi yang lebih baik ibarat kawanan lebah yang terus menghasilkan madu terbaik. Para pemuda adalah lebah-lebah madu yang terus bergerak untuk memberikan sebanyak-banyaknya manfaat bagi orang lain, bagi lingkungannya. Mungkin madu itu tidak bisa dirasakan sekarang, karena ia harus dikumpulkan banyak sampai manis dan khasiatnya terasa. Tapi para lebah tak pernah lelah mencari madu, tak lelah bergotong royong membuat sarang terbaik untuk madu-madu mereka, dan seperti itulah impian para pemuda untuk Indonesia. Pemuda, lebah-lebah madu untuk Indonesiaku.

31/3/2009

Sebuah tulisan kecil yang ternyata membuatku bisa berada di antara orang-orang besar. Terima kasih