Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan

Kyoto in Autumn

Sabtu, 08 Februari 2020


 
Fushimi Inari, senbon torii

10 Oktober 2019

Hari ini adalah tahun keempat usia pernikahan saya dengan suami. Kami dalam posisi sedang long distance marriage. Saya di Jepang dan ia di Vietnam. Hanya berjumpa via suara. Namun ku slalu menunggu saat kita akan berjumpa. Meski kau kini jauh disanaa… tuuuuut…..(sinyal spotify hilang). Oke, lanjut. Berhubung saya ingin memberi hadiah spesial untuk suami, pun untuk diri saya sendiri, maka bertualang-lah saya ke Fushimi Inari bersama kedua buah hati. Di sana, kami, lebih tepatnya saya, berkeliling senbon torii (deretan seribu torii/gerbang) yang eksotis dan misterius. Kedua bocah sukses tertidur di stroller dan gendongan selama saya mengelilingi torii. Tujuan utama saya tercapai: memotret tulisan dengan latar belakang senbon torii. Tujuan lainnya juga tercapai: saya jalan-jalan dan anak-anak bergembira. Kami jajan takoyaki, taiyaki, dorayaki, dan jeruk peras yang diminum langsung dari buah jeruknya. Segar, alhamdulillah!  


Sepeda

Bulan Oktober-November sudah memasuki musim gugur di Kyoto. Udara terasa sejuk, berada di kisaran 18-25 derajat celcius. Bersepeda juga mulai lebih nyaman karena angin yang menerpa wajah saat berkendara tidak lagi angin panas. Yang lebih menyenangkan lagi adalah saya sudah memiliki sepeda listrik dalam dua bulan terakhir. Model mamachari tentu (mamachari adalah istilah model sepeda mini yang ada keranjangnya, biasa dipakai para ibu untuk berbelanja atau antar jemput anak), dengan satu keranjang di depan dan satu boncengan anak di belakang. Bagi emak berbocil dua seperti saya, memiliki sepeda listrik menjadi seperti kebutuhan primer. Dulu awal-awal masih menggunakan sepeda biasa yang bergigi, masih sanggup sih. Sanggup ngos-ngosan tapi, kalau berkendara jauh, seperti ke masjid, ke sungai, atau ke kampus. Setelah ada sepeda listrik, hidup terasa lebih mudah!

sepeda mamachari listrik

Meski demikian, model sepeda listrik yang saya miliki sebenarnya adalah model sepeda untuk ibu beranak satu. Hanya ada satu boncengan di belakang dengan desain stang depan biasa. Jadi biasanya Yujin bonceng di belakang, sementara Yumna saya gendong pakai gendongan bayi di depan. Kalau desain sepeda mamachari untuk ibu beranak dua, terdapat satu boncengan anak di belakang, dan satu boncengan anak lagi di depan dengan desain stang yang sudah disesuaikan. Desain boncengan anak yang belakang berbentuk kursi untuk posisi duduk seperti biasa, sedangkan boncengan depan ada yang berbentuk kursi duduk, ada pula yang berbentuk seperti baskom mandi bayi yang berbentuk lonjong, untuk anak posisi tiduran. Ini sangat cocok untuk anak kedua yang masih bayi, sementara usia kakaknya sudah lebih dewasa dan bisa duduk dengan tenang di belakang. Selain itu, idealnya di sini untuk anak yang duduk di belakang seharusnya mengenakan helm sepeda. Idealnya naik sepeda memang pakai helm sih untuk siapa saja, tetapi saya belum, hehe. Dahulu semasa bersepeda ria saat sekolah dan kuliah S1 juga tidak pernah pakai helm. Hanya pakai topi sebagai pengganti helm. Tidak menggantikan fungsi safety sih yaa sebenarnya, tapi lumayan lah menjaga jilbab saya tidak berkibar-kibar atau berantakan oleh angin, hhe.

Kembali ke sepeda listrik ‘baru’ saya. Kini saya bisa bepergian dengan lebih nyaman dan menyenangkan. Tidak ngos-ngosan lagi. Selain bermanfaat untuk mengantar saya dan anak-anak berbelanja, hadir pengajian TPA, main ke kampus atau ke teman, bersepeda juga menjadi pintu darurat kalau saya sudah terlalu jenuh dan mulai marah-marah terus di rumah. Saat emosi sudah memuncak, sedangkan anak-anak tidak bisa dititip ke siapa-siapa, saya lebih baik mengajak mereka ke luar. Bersepeda kemana saja. Menyusuri trotoar atau pergi ke rumah teman untuk bergosip, eh. Dan saat sepedaku sudah meluncur di atas trotoar dan melewati kanopi-kanopi pohon yang berjajar indah, emosiku berangsur reda saat itu juga. Jadi kalau lagi marah posisi berdiri, maka duduklah. Kalau belum reda juga, berbaringlah. Kalau belum reda juga, ke kamar mandilah ambil wudlu atau sekalian mandi. Kalau belum reda juga akibat bocah nangisnya malah tambah kenceng karena ditinggal ke kamar mandi, maka ke luar rumah dan bersepedalah!

I love you, bicycle.


Pengajian dan TPA

Bersyukur sekali saya memiliki banyak teman Indonesia di sini. Ada komunitas para ibu di Kyoto yang dinamakan Annisa Shalihah. Ada program pengajian untuk anak-anak juga yang dinamakan TPA Annisa Shalihah. Ada juga grup khusus belanja online tempat para ibu borongan janjian belanja supaya gratis ongkir. Ada grup besar, tempat hampir seluruh warga Indonesia di Kyoto, yang dinaungi oleh PPI Kyoto-Shiga. Dominan anggota grup adalah mahasiswa yang sedang menempuh studi dan keluarga yang berstatus dependant. Cukup banyak pula warga yang tinggal di sini dengan tujuan bekerja di perusahaan, mengajar di kampus, ataupun melaksanakan tugas negara sebagai peneliti.

Saya sendiri berstatus dependant di sini. Aktivitas harian saya bersama anak-anak selain di rumah, jalan-jalan, dan main ke taman, adalah ikut pengajian dan mengisi kajian. Ah ya, ikut TPA (taman pendidikan alquran) juga tentu. TPA biasanya diadakan dua pekan sekali. Agenda rutin TPA adalah belajar mengaji, hafalan surat pendek dan doa-doa harian, materi keislaman, dan membuat kerajinan tangan/craft. Saya ikut membantu pengurus TPA untuk mendampingi anak-anak mengaji iqro, membuat craft, dan sesekali membawakan kisah nabi untuk mereka. Kalau anak-anak saya sendiri biasanya ngerusuh sih kerjaannya di TPA. Belum bisa diajak duduk manis mendengarkan materi dan mengaji. Kegiatan TPA sesekali juga digabung dengan acara besar Annisa Shalihah, seperti seminar kesehatan, kecantikan, dan yang berhubungan dengan topik kewanitaan lainnya. Sesekali juga kami melakukan rihlah. Saya baru sekali mengikuti rihlah TPA saat ke sungai Yase. TPA membawakan materi tentang tafakur alam sebenarnya. Namun, saya dan anak-anak lebih fokus main air dan menangkap ikan di sungai, wkwk.

Acara kajian keislaman di sini tidak sebanyak dan semudah di Indonesia tentunya. Oleh karena itu, bisa menghadiri ceramah ulama yang sedang berkunjung ke Jepang, mengikuti dauroh keislaman yang biasanya hanya setahun sekali, atau silaturahim bulanan bersama teman-teman Indonesia yang suka disisipi berbagi tausiyah, menjadi sangat berharga. Salah satu hal baru dan paling mengesankan buat saya di sini adalah mengisi kajian sekaligus mengajar tahsin untuk para muslimah di kota Shiga. Shiga adalah kota di sebelah Kyoto, PPI-nya (Perkumpulan Pelajar Indonesia) pun satu, PPI Kyoto-Shiga. Salah seorang volunteer yang sudah lama hidup di Jepang, pun bersuamikan warga Jepang, menginisiasi perkumpulan Silaturahim Muslim Shiga (SMS) sebagai wadah para muslimah Shiga bersilaturahim. Mbak Lilis, namanya. Kajian SMS diadakan sebulan sekali dengan menggilir lokasi di rumah para anggotanya. Sebagian besar anggota SMS adalah mix married, alias muslimah Indonesia yang menikah dengan lelaki Jepang, baik muslim ataupun mualaf. Sebagian lainnya adalah para kensushei yang bekerja di berbagai perusahaan Jepang di Shiga dengan kontrak kerja beragam. Ada yang tiga, lima, sampai enam tahun. Ah, banyak sekali sebenarnya cerita seru tentang para ibu mix married dan kensushei ini. Jika ada kesempatan, in syaa Allah lain waktu akan saya ceritakan. Yang jelas, saya merasa sangat bersyukur bahwa di negeri minoritas muslim ini, jodoh saya tidak jauh-jauh bertemu dengan orang-orang yang juga gemar mengaji dan gemar bersilaturahim. Padahal saya tidak mencari, tiba-tiba saja dihubungi. Tiba-tiba saja diajak. Tiba-tiba saja diminta mengisi kajian. Ah, memang rezeki dari Allah itu luar biasa. Kita tidak perlu repot-repot mencari, mereka yang mendatangi. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihittatimushaalihaat.

TPA

Bakda kajian SMS di Shiga



Kyoto in Autumn

Suatu hari pintu kamar asrama saya diketuk dari luar. Tetangga sebelah rumah ternyata. Mahasiswa asal New Zealand yang juga sudah bekeluarga, Rory namanya. Istrinya bernama Catherine dan ananya bernama Julian. Ia memberikan saya setangkai buah yang katanya habis diambilnya dari pohon di kebun. Masih dengan tangkai dan daunnya! Buah persimmon alias buah bedak. Di Jepang disebut buah khaki. Ternyata itu kesemek kalau di Indonesia, haha. Jujur, saya belum pernah mencicip buah kesemek. Dan kesemek Jepang itu enak sekali, maa syaa Allah. Jadi, buah khaki ini adalah buah khas musim gugur. Kalau sebelumnya saya mencicip buah persik yang khas di musim panas dengan merogoh kantong lumayan, di musim gugur ini saya bisa menikmati buah khaki dengan mudah karena tetangga rutin memberi hasil petikan kebunnya. Kalaupun membeli di supa, harganya pun tidak terlalu mahal. Masih sebelas dua belas dengan harga jeruk atau apel.

kesemek Jepang

Awal musim gugur ini juga saatnya suami yang saya tunggu-tunggu pulang dari Vietnam. Setelah perjuangan saya mengasuh dua bocil yang super aktif ini sendirian di sini, dan perjuangan suami yang riset sampai harus menempuh drama operasi batu ginjal sendirian di sana, kami pun kembali bersua. Alhamdulillah…alhamdulillah. Momen pertemuan kami juga begitu dramatis. Saya dan anak-anak hendak menjemput suami di stasiun kereta. Kami berjalan lewat pintu belakang. Setelah keluar pintu otomatis gedung, kami menyusuri lorong konblok menuju gerbang. Sesaat hampir sampai gerbang pagar yang membatasi wilayah asrama dan jalan raya, ada seorang lelaki gagah berompi dan bertopi yang berjalan ke arah gerbang dengan menenteng koper besar dari arah berlawanan. Itu abi! Saya bersorak dalam hati. Si abi setengah berlari langsung menggendong sulung kami yang masih menatap bingung dan kaget. Apalagi bocil kedua yang mimik wajahnya sempurna bengong karena hampir tidak mengenali abinya yang berpisah selama dua bulan (padahal hampir tiap hari video call). Saya? Hanya sanggup mencium tangan dan sedikit memeluk tanpa berkata apapun. Padahal suami saya berkata, “Maa syaa Allah, bunda cantik banget!” saya hanya tersenyum. Iyah, saya mah begitu. Kalau terlalu gembira jadi hlang kata-kata. Hanya bisa tersenyum, tapi lidah menjadi kelu. Lebay yah? Biar saja.

Setelah suami pulang, sesungguhnya diri ini ingin sejenak bersantai dan bersenang-senang. Namun, seyogyanya aktivitas muslim memang tidak boleh banyak bersantai-santai. Setelah selesai satu urusan, bersegeralah untuk menyelesaikan urusan berikutnya. Dan begitulah Allah mengatur segala urusan kami. Tidak sampai sepekan berikutnya, kami harus bertolak ke Indonesia. Suami melanjutkan risetnya di lokasi baru, sementara saya dan anak-anak mendampinginya sekaligus melepas rindu dengan keluarga besar. Sepekan di Kyoto ini suami langsung sibuk bolak-balik kampus mengurus administrasi, sedangkan saya mencicil berkemas bawaan dan belanja oleh-oleh yang hendak dibawa ke Indonesia. Kami pun tidak sempat menikmati ‘momiji’ tahun pertama kami di Kyoto. Momiji saat puncak musim gugur dan semua daun berubah warna menjadi merah dan kuning berlangsung di pertengahan bulan November, sementara kami berangkat ke Indonesia tanggal 5 November. Aih, sedihnya. Tertinggal satu momen indah di Jepang, meskipun kami juga gembira karena mau pulang. Akhirnya, saya dan keluarga menyempatkan piknik singkat berupa makan siang bersama di tepi sungai Kamogawa bersama pasangan Wawe-Kamil. Dedaunan di sepanjang tepi sungai belum berubah warna semua, tetapi tampak sedikit yang mulai memerah dan mencoklat. Tetap indah. Sungai Kamogawa ini adalah lokasi favorit para penduduk dan turis untuk berpiknik atau sekedar berolahraga. Ia selalu indah di segala musim. Kami pun mengambil spot di sisi sungai yang terdapat dipan kayu lebar di bawah pohon untuk lesehan, lalu makan bersama sambil menikmati pemandangan Kamogawa. Setelahnya, Yujin bermain di sungai bersama abi dan Wawe, sementara Yumna sibuk naik turun di tanah miring sambil tertawa-tawa bersama Kamil. Bundanya? Memotret mereka semua, hehe. 


tepi sungai Kamogawa

Semoga kami bisa menikmati momiji di tahun 2020 yaa.

Kyoto in Autumn


Komunikasi Efektif dan Berpengaruh pada Anak (resume seminar)

Kamis, 26 April 2018

Metode hypnosis menjelang anak tidur


Peringatan Hari Kartini di Kota Bogor tahun ini dimeriahkan oleh salah satu kegiatan peragaan busana adat untuk anak dan seminar parenting bersama seorang praktisi hypnoparenting, Ibu Titik Maryani, SE.Ak. CHt. dengan tema “Tips & Trik Membangun Komunikasi yang Efektif dan Berpengaruh pada Anak”. Saya ingin sedikit berbagi hasil seminar yang saya ikuti bersama komunitas Cacabun (Cerita Cinta Ibu dan Anak). Semoga bermanfaat ya.

Seminar ini dibawakan oleh seorang praktisi hypnoparenting, Ibu Titik Maryani, SE.Ak. CHt. Acara seminar diawali dengan melakukan senam otak bersama, dilanjutkan dengan permainan ilusi mata untuk menguji konsentrasi para peserta seminar. Lumayan, penyegaran di siang hari yang biasanya membawa kantuk dan sulit fokus. Hehe... Setelah para peserta yang didominasi kaum ibu fokus, barulah materi dimulai.

Secara singkat materi seminar berisi tentang definisi komunikasi efektif dan penerapan metode hypnoparenting dalam mencapai komunikasi efektif terhadap anak. Komunikasi dibagi menjadi komunikasi verbal (tulis, lisan) dan komunikasi non-verbal (mimik, intonasi, ekspresi, sentuhan, isyarat, gerakan tubuh, dll.). Efektif  dalam komunikasi bermakna tepat sasaran dan sesuai dengan tujuan komunikasi. Lalu apa sajakah tantangan berkomunikasi dengan anak pada masa sekarang?

Beberapa orangtua menyampaikan bahwa kondisi anak-anak sekarang lebih cuek, susah kalau dipanggil atau diminta tolong. Ada pula yang mengeluhkan bahwa kalau anak sudah fokus sama televisi dan gadget, akan menjadi lebih cuek dan apatis lagi. Tantangan lainnnya adalah anak-anak zaman sekarang lebih ‘berani’ pada orangtua. Orangtua berkata satu kata, mereka membalas seribu kata. Ada banyak tantangan dan permasalahan lainnya yang dikeluhkan oleh para orangtua.

Sejenak marilah kita saksikan video tentang “Nilai Mama” terhadap anak berikut  https://www.youtube.com/watch?v=pxt5S4ZgTAU (“Nilai Mama”).

Bagi para orangtua, khususnya ibu yang lebih banyak berinteraksi dengan anak, ada berbagai macam perilaku anak yang membuat ibu kesal dan lelah. Sang ibu pun memberikan nilai negatif terhadap anak. Namun, tahukah bahwa bagi anak, sosok ibu adalah ‘dunia’ baginya?

Pada dasarnya, tidak ada anak yang bermasalah. Semua kesalahan yang dilakukan anak adalah karena kesalahan program yang dimasukkan ke dalam pikiran anak. Bu Titik menyampaikan bahwa secara umum 77% program yang dimasukkan ke pikiran anak adalah salah. Darimana sajakah program-program tersebut masuk? Dari lingkungan. Dan lingkungan terdekat anak adalah orangtua. Selanjutnya kerabat (termasuk yang tinggal bersama di rumah), teman, guru, televisi, internet, dan buku. Padahal setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, orangtua-nya lah yang menjadikan ia seorang yahudi, nasrani, atau majusi (HR. Bukhari no.1296). Termasuk perilaku anak juga adalah cerminan dari orangtua dan lingkungannya.
Lihat video https://www.youtube.com/watch?v=5JrtpCM4yMM (“Children See Children Do”).

Selanjutnya adalah pembahasan mengenai hypnoparenting. Hypnoparenting merupakan seni berkomunikasi dengan anak melalui pikiran bawah sadar. Jadi, orangtua memasukkan program-program positif melalui pikiran bawah sadar anak. Konsep dasarnya membentuk perilaku awal yang di-intervensi oleh metode hypnosis sehiungga terbentuk perilaku baru.



Hypnoparenting terbagi menjadi dua, yakni berkomunikasi dengan anak dan selftalk (komunikasi dengan diri sendiri). Kedua hal ini menjadi sangat penting dalam penerapan hypnoparenting, karena sebelum kita (orangtua) memberikan afirmasi positif terhadap anak, tentunya kita harus membentuk afirmasi positif terlebih dahulu pada diri sendiri. Cara berkomunikasi dengan anak pun terbagi lagi menjadi hypnosis formal (terdiri dari 20 teknik) dan hypnosis informal.

Baik hypnosis formal maupun hypnosis informal, keduanya dilakukan terhadap pikiran bawah sadar. Pikiran bawah sadar ini lah yang sesungguhnya secara dominan mengendalikan aktivitas dan perilaku anak sehari-hari, meliputi keyakinan, intuisi, persepsi, memori jangka panjang, dan kebiasaan (88%). Sementara pikiran sadar yang meliputi logika, analisis, dan kemampuan untuk memutuskan hanya berperan sebesar 12% saja.


Melakukan hypnosis terhadap pikiran bawah sadar bisa dilakukan terhadap siapapun pada usia berapapun. Namun, pada usia kanak-kanak 0-8 tahun, penerapan metode ini akan lebih efektif, karena pintu RAS (Reticular Activating System) atau penghubung antara pikiran sadar-bawah sadar selalu terbuka.

Secara umum, pintu RAS ini akan terbuka pada empat kondisi:

1.     1.  Gelombang alpha dan tetha, biasa dikenal juga dengan hypnosleep. Afirmasi positif dimasukkan menjelang tidur dan saat baru bangun tidur.
2.   2. Emosional. Saat emosi sedang memuncak merupakan saat yang tepat untuk memberikan pengaruh, misalnya saat sedang marah, sedih, dan bahagia.
3.     3.  Fokus. Dalam kondisi fokus, justru merupakan saat yang tepat untuk melakukan hypnosis. Jadi, saat anak sedang fokus bermain atau menonton TV (kondisi yang sering dikeluhkan orangtua sebagai penyebab anak cuek), berikanlah afirmasi positif tersebut secara ringkas, sederhana, dan berulang-ulang. Hypnosis bukanlah memberikan perintah, tetapi melakukan aktivasi terhadap pikiran bawah sadar. Wajar jika kita memberi suatu perintah lugas saat anak sedang fokus menonton TV tidak didengar, karena hal tersebut masuk ke pikiran sadar. Sedangkan yang kita lakukan dengan hypnosis adalah masuk ke dalam pikiran bawah sadar.
4.     4. Terkejut. Saat sedang terkejut juga merupakan kondisi saat pintu RAS yang menghubungkan pikiran sadar-bawah sadar terbuka.
Cara melakukan hypnosis adalah dengan bahasa sugesti. Bahasa sugesti ini memiliki persyaratan, yakni harus jelas dan sederhana, positif, personal, menggunakan time present tense, dan persisten (berulang-ulang).  Salah satu model kalimat hypnosis adalah mengawali afirmasi positif dengan kata “Entah mengapa”. Misalnya, “Entah mengapa, mulai hari ini, Aisyah adalah anak yang mudah mengucapkan maaf.” atau “entah mengapa, mulai hari ini, Rasyid rajin mendirikan salat lima waktu.”

Sebagai orangtua, kita juga harus sering melakukan selftalk positif untuk selalu berprasangka baik terhadap anak. Mengenali modalitas belajar anak juga penting dalam berkomunikasi efektif terhadap anak (karakter visual, auditi, kinestetik).
Sebagai simpulan, ada empat langkah untuk mencapai komunikasi efektif dan berpengaruh pada anak. Pertama, menjadi teladan yang baik. Kedua, melakukan hypnosis pada saat yang tepat. Ketiga, menerapkan selftalk positif. Keempat, mengenali modalitas belajar anak.


Tanya-Jawab

1.    1.   Bagaimana caranya menghilangkan bayangan buruk masa lalu, sehingga kita tidak mengulangi kesalahan yang sama dalam mendidik anak? Misalnya agar tidak marah saat anak tantrum?

Jawab: Menghilangkan sampah emosi, caranya dengan 1. Relaksasi (tarik nafas 3x), 2. Ubah gerakan (dari berdiri ke duduk), 3. Melihat ke atas dan mengucapkan syukur (“Alhamdulillah saya masih punya anak, dll..), dan 4. Buat anchor/engker dengan cara memeluk atau membatasi ruang dengan menghilangkan benda-benda berbahaya sampai tantrum anak selesai.


2.    2.   Bagaimana caranya menyamakan nilai dengan kerabat (misalnya kakek nenek) sehingga program-program yang masuk ke pikiran anak tidak kontradiktif?

Jawab: cara paling mudah adalah dengan menimpa program negatif dengan program positif. Jika sulit menyamakan nilai, tidak perlu dipaksa. Pikiran bawah sadar anak yang kita kendalikan agar pengaruh positif kita lebih besar.


3.       3. Sebagai guru, mengapa kalau ke anak orang lain lebih sabar daripada kepada anak sendiri?

Jawab: karena dalam mindset kita itu adalah amanah dari orang lain. Kita dibayar oleh sekolah/negara untuk mendidik mereka. Padahal, anak sendiri adalah amanah yang lebih besar, karena Allah Swt yang telah menitipkannya kepada kita untuk kita asuh dan kita didik. Jadi, seyogyanya anak sendiri bukanlah milik kita, melainkan juga titipan yang harus kita jaga baik-baik fitrahnya, jiwanya, dan raganya.

Wallahu a’lam bisshawab.

Kontak narasumber: 0818-0747-368 (Ibu Titik)

Tentang Kita Nak (2)

Kamis, 16 November 2017

source: ummionline.com


Susu, vitamin, dan suplemen ibu hamil

Memasuki trimester kedua dan ketiga kehamilan, mual hamil akibat perubahan hormon mulai berkurang. Sebaliknya, nafsu makan semakin meningkat. Bawaannya ingin mengunyah, mengunyah, dan mengunyah... haha....

Pada umumnya ibu hamil meminum susu hamil untuk tambahan nutrisi. Saya memilih untuk tidak minum susu khusus ibu hamil secara rutin. Mengapa? Pertama, dari beberapa info yang saya peroleh, minum susu khusus ibu hamil itu tidak wajib. Susu biasa pun tidak masalah. Saya lebih senang minum susu cair pasteurisasi, selain lebih praktis, kandungan gizi susu pasteurisasi juga ditengarai sebagai yang paling baik dibandingkan produk susu lainnya (UHT dan bubuk). Kedua, rasa susu khusus ibu hamil itu lebih memicu mual. Dasarnya saya memang tidak terlalu suka susu sejak kecil, hampir selalu muntah setiap minum susu, dan ini susu khusus ditambah zat besi yang aromanya kuat pula. Semakin menolak lah diri ini, huuufft... Tetapi demi janin yang sehat, pintar, kuat, dan bertakwa, saya memutuskan harus tetap minum susu. Akhirnya saya memilih minum sari kedelai organik sebagai pengganti sumil. Loh, kok susu kedelai? Bukan susu kedelai, melainkan sari kedelai. Soalnya kedelai tidak punya puting susu, jadi kata para senior di kampus harusnya tidak disebut susu kedelai, wkwk. Lalu susu sapinya bagaimana? Tetap minum kok, kadang-kadang. Kadang pas beli, kadang pas dapet gratisan promo sumil, kadang-kadang saja. Hehe. Tetap yang rutin saya konsumsi adalah sari kedelai organik. Lebih enak, gizinya tinggi, dan bagus untuk melancarkan serta memperbanyak produksi ASI pasca melahirkan nanti.

Vitamin hamil juga salah satu hal utama yang tidak boleh dilupakan para ibu hamil. Pertama kali saya periksa kandungan di bidan, saya hanya diberi vitamin penambah darah. Saat berikutnya periksa kandungan di dokter, saya ditanya sudah memiliki vitamin atau belum. Saya jawab sudah. Di rumah sudah ada suplemen penambah darah, minyak ikan, kalsium, madu, kurma, pokoknya komplit saya jabarkan. Akhirnya sang dokter tidak memberikan resep vitamin apapun. Mungkin beliau mengerti akan kekhawatiran saya jika diberi resep vitamin mahal, haha. Namun, selanjutnnya saya rutin membeli sendiri suplemen ibu hamil ber-merk Obimin. Kandungannya cukup lengkap. Harganya tidak sampai membuat dompet tersedak.

Suplemen lain yang saya juga minum adalah salah satu resep dari bidan ber-merk Gestiamin. Suplemen ini lebih lengkap lagi kandungannya dibandingkan Obimin. Selain kandungan vitamin lengkap ABCD, kalsium, asam folat, dan besi, di Gestiamin juga ada tambahan AA dan DHA, serta tambahan kalium juga. Harganya? Tetap ramah di kantong (asumsi ramah di kantong adalah kurang dari 100 ribu rupiah untuk kebutuhan suplemen selama sebulan, hehe..). Jadi, setelah Obimin saya habis, saya beralih ke Gestiamin.

Memilih lokasi persalinan

Sejak awal kehamilan, saya dan suami sudah berbeda pendapat terkait lokasi bersalin. Suami bersikukuh agar saya melahirkan di rumah sakit, sementara saya lebih nyaman untuk bersalin di bidan saja. Alasan suami memilih rumah sakit? Lebih aman dan cepat penanganannya jika terjadi sesuatu. Alasan saya memilih bidan? Lebih sepi dan lebih hemat yang pasti (ckck.. lagi lagi urusan hemat :p). “Jangan pikirkan uang, Neng. Insya Allah rezeki nanti ada. Itu tugas Aa. Yang penting Neng sama dede aman, sehat, selamat.”

Bagaimana ya? Namanya emak-emak ya tidak mungkin tidak memikirkan masalah uang. Terlebih lagi, saya paling tidak ingin membuat suami susah dan pusing masalah uang. Akhirnya demi tidak membuat suami semakin pusing saat itu, saya menyetujui untuk bersalin di rumah sakit. Kami mencari rumah sakit khusus bersalin yang tidak terlalu ramai, dekat dari rumah, dan dokter-dokter kandungannya terekomendasi dari beberapa teman. Alhamdulillah, RSIA Bunda Suryatni yang berjarak tidak sampai 5 km dari rumah kami, memenuhi kriteria tersebut.

Saya rutin kontrol kandungan setiap bulan. Di bidan. Lah? Wkwk, tadi katanya tidak ingin membuat suami pusing? Yaaaa kalau suami sedang libur kerja dan bisa menemani kontrol kandungan, kami kontrol di dokter. Kalau saya harus kontrol sendiri, saya pergi ke bidan atau ke puskesmas yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari rumah. Bisa dijangkau hanya dengan jalan kaki.

Selama perjalanan kehamilan pertama ini, mobilisasi saya ke luar kota cukup tinggi: Bogor, Bandung, Jakarta, Serang, dan Depok. Oleh karena itu, saya kontrol kandungan sesuai posisi saya saat jadwal kontrol tiba. Kalau dijumlahkan, saya kontrol kandungan berganti-ganti diantara tiga dokter dan tiga bidan pada tiga rumah sakit dan tiga tempat praktik bidan yang berbeda. Saya tidak terlalu masalah berganti-ganti bidan atau dokter, karena bisa sambil survei juga saya cocoknya dengan dokter/bidan yang mana. Saya juga bisa survei tempat yang kira-kira paling nyaman untuk saya bersalin nantinya. Yang terpenting adalah catatan kehamilan alias rekam medik kehamilan kita tertulis pada satu buku yang sama. Jadi, setiap saya pergi kemanapun (bahkan walau hanya pergi ke kampus), saya selalu membawa buku rekam medik tersebut.

Lalu, akhirnya dimana lokasi bersalin tempat saya melahirkan anak pertama? Rumah sakit, bidan, rumah, mobil, atau angkot? Wkwk... masak di angkot? Kemungkinan inilah yang disampaikan oleh bidan sehingga saya harus melakukan suntik tetanus. Kalau ternyata keburu brojol di perjalanan/kendaraan yang tidak steril tempatnya, setidaknya aman dari infeksi tetanus. Jadi, saya lahiran dimana? Tunggu di episode selanjutnya ya.

Ikat panggul pashmina

Melihat aktivitas dan mobilisasi saya selama hamil yang cukup tinggi, salah satu tetangga rumah yang sudah seperti keluarga sendiri menyarankan saya untuk mengikat panggul dengan kain jika bepergian. Terlebih karena saya sempat mengalami flek saat awal-awal hamil, beliau mewanti-wanti agar saya lebih berhati-hati. Mengikat panggul dengan kain akan membantu menopang perut sehingga janin di dalah rahim tidak mudah terguncang.

Saya sedikit mengobrak-abrik lemari, mencari kain panjang yang kira-kira bisa dipakai layaknya ikat pinggang. Saya belum memiliki kain jarik saat itu, jadi agak bingung juga. Kain sarung kurang panjang, kain selendang yang saya miliki terlalu tipis, kurang nyaman untuk menopang perut. Celana panjang suami? Ya masak saya pakai, wkwk. Akhirnya pilihan saya jatuh pada kain pashmina warna putih yang biasa saya pakai ke kondangan. Kerudung pashmina ini cukup panjang dengan bahan wol, sehingga nyaman untuk saya ikatkan ke panggul. Tidak terlalu tipis, tidak juga terlalu tebal, pas.

Saya juga berhenti mengendarai motor setelah usia kandungan empat bulan. Beberapa orang berpendapat bahwa setelah usia empat bulan atau masuk trimester dua  kehamilan merupakan masa yang paling aman. Namun, karena pada masa ini saya justru mengalami flek, saya memutuskan untuk cuti bermotor-motor ria. Lalu saya naik apa kalau ke kampus atau ke tempat lainnya? Naik angkot, mobil, atau menumpang bonceng motor dengan teman. Tentu tetap dengan mengenakan ikat panggul pashmina, hehe.

Asisten dosen

Saya bersyukur penelitian saya telah selesai dan revisi tesis saya pun telah usai saat testpack hamil menunjukkan tanda positif. Aktivitas saya di kampus hanya tinggal mengurus persyaratan wisuda yang ternyata itu pun tertunda hampir tiga bulan. Sampai saya diprotes oleh pihak administrasi kampus karena dinilai lambat mengurus kelulusan sendiri. Ketika beliau mengetahui saya terhambat datang ke kampus karena ngidam mual dan muntah, berangsur wajahnya berubah sumringah dan mengucapkan selamat. Hihi, bersyukur sekali, kabar hamil selalu membawa gembira hati tidak hanya keluarga, tetapi juga hampir setiap orang yang mendengarnya.

Pasca mengurus adminstrasi kelulusan dan mendaftar wisuda, tibalah saya pada hari bersejarah kedua tersebut. Wisuda magister. Hari yang sama, lokasi yang sama, dan rektor yang sama. Jika pada wisuda sarjana yang lalu saya mempersembahkan kelulusan untuk ibunda tercinta, maka pada wisuda magister ini saya mempersembahkannya untuk ayahanda saya yang telah begitu besar memberikan percaya dan cintanya untuk saya. Bedanya, pada wisuda ini saya lebih beruntung karena tidak hanya didampingi oleh orangtua di dalam gedung prosesi, tetapi juga ditemani oleh suami, adik, dan janin yang ada dalam kandungan. Peluk hangat berjuta terima kasih untuk sahabat paling kece Shafira Adlina yang berbaik hati memberikan undangan wisudanya, sehingga jatah untukku jadi bertambah. FYI, Shafira ini salah satu sahabat paling inspiratif yang berhasil menyelesaikan studinya tepat waktu, padahal dalam masa studi itu ia menikah, hamil, melahirkan, dan mengasuh anak. Daebak!

Pasca lulus dan wisuda, awalnya saya berniat untuk bersantai-santai menikmati kehamilan sambil meningkatkan ibadah. Rupanya Allah menakdirkan agar saya tidak hanya berleha-leha di rumah, haha. Dosen pembimbing tesisku meminta tolong untuk membantunya dalam mengasuh salah satu mata kuliah di S2. Setelah meminta izin pada suami sambil merayu dan meyakinkannya bahwa kehamilanku baik-baik saja, dan menjelaskan panjang lebar kali tinggi bahwa mata kuliah ini tidak ada praktikum lapang-nya (walau sebenarnya saya sangat suka pada praktikum lapang ^^”), saya diizinkan untuk menjadi asisten dosen. Hanya untuk satu semester, hehe. Sampai hari perkiraan lahir (HPL) saya tiba.

Alhamdulillah, aktivitas di kampus walau hanya seminggu sekali ini cukup banyak membantu saya lepas dari kejenuhan. Saya merasa lebih bersemangat dan tidak gampang letih. Walaupun amunisi saya pergi ke kampus harus lolos screening pertimbangan ekstra, saya merasa gembira. Mencukupkan asupan makanan sebelum dan setelah kuliah praktikum, membawa bekal praktis dan memakannya diam-diam sambil mendengarkan penjelasan dosen, serta membawa tumblr minum  ukuran satu liter.

Saya tidak hanya mendampingi dosen saat kuliah, mengabsen mahasiswa yang hadir, dan memimpin sesi praktikum presentasi saja, tetapi saya diberikan hak oleh dosen untuk menyusun konten praktikum dan menentukan topik untuk pekan praktikum tertentu. Saya juga diberikan keleluasaan untuk menilai hasil praktikum mahasiswa. Hal ini membuat saya sangat senang karena merasa begitu dihargai. Kalau menggunakan istilah suami saya, salah satu kebutuhan orang dalam berkarir adalah acknowledgment. And i got it even just a little bit. And I was so happy. Buat para ibu hamil, tetaplah melakukan hal yang membuatmu gembira :)

Senam hamil
source: mommys-daily.com

Senam hamil mulai saya lakukan saat usia kehamilan 32 minggu. Pertama kali saya mengikuti senam di RS Hermina, Bogor. Selain di Hermina, saya juga mengikuti senam di Bidan Srie Dodi yang berada di belakang pasar Gunung Batu, Bogor. Senam hamil di kedua tempat ini sangat menyenangkan.

Ada perbedaan dan persamaan antara senam di RS dan bidan. Di RS, tempatnya lebih nyaman, ber-AC, dan matrasnya lebih empuk. Hanya saja durasi waktunya lebih singkat (sekitar 30 menit) dan gerakan senam yang diajarkan lebih soft. Kalau di bidan, durasi waktunya lebih lama (sekitar 60 menit), dan gerakan-gerakannya lebih variatif. Ada gerakan lembut, gerakan dinamis, sampai gerakan berpasangan dengan sesama ibu hamil. Lebih seru! Persamaannya, instruktur senam di kedua tempat ini sama-sama dipimpin oleh bidan. Kedua, biaya senam di kedua tempat ini sama-sama murah, hehe. Di Hermina hanya 15 ribu rupiah, sudah plus teh manis hangat dan makanan ringan. Di bidan Srie Dodi hanya 20 ribu rupiah dengan durasi senam panjang plus tausiyah tambahan yang menyejukkan hati dari instrukturnya ^^.

Selain senam di RS dan bidan, sesekali saya juga senam di rumah. Aktivitas rutin yang saya lakukan untuk mendukung kelancaran persalinan selain senam hamil, adalah jalan kaki pagi dan melakukan gerakan jongkok berdiri (seperti bending) setiap pagi dan malam hari. Tujuannya untuk menguatkan pernafasan dan melenturkan otot pintu jalan lahir. Saya juga sempat berenang dua kali sepanjang masa hamil. Namun, setelah berenang yang terakhir kali, saya berhenti. Karena tidak lama setelah itu saya masuk rumah sakit.

Kontraksi prematur

Pada bulan ke-8, saya meminta tolong suami untuk menemani saya ke RS di luar jadwal kontrol kandungan. Sudah beberapa hari perut terasa kencang di luar kebiasaan. Meskipun saya tidak merasakan sakit atau mulas yang sangat, saya ingin memastikan janin kami dalam keadaan baik. Sebelum melakukan USG, dokter menanyakan keluhan yang saya rasakan. Saya bilang perut terasa kencang sekali. Ternyata benar, dokter pun mengatakan hal yang sama. Perut saya sangat kencang. Dokter melanjutkan pemeriksaan dengan alat USG (alhamdulillah air ketuban masih banyak dan bagus), lalu menyarankan saya untuk lanjut tes CTG (cardiotocography). Tes CTG ini bertujuan untuk mengetahui benar tidaknya terjadi kontraksi dan memeriksa frekuensi gerakan janin di rahim.

Saya melakukan tes CTG di salah satu ruang bersalin. Berbaring selama kurang lebih 30 menit dengan dua alat yang ditempelkan di perut. Satu untuk memantau detak jantung janin, satu lagi untuk memeriksa level kontraksi rahim. Bidan yang memeriksa saya menjelaskan bahwa seharusnya grafik pada kertas CTG tidak boleh naik untuk menandakan saya tidak mengalami kontraksi. Hasilnya? Grafik yang tercetak pada kertas naik tiga kali dalam 30 menit pemantauan dengan angka yang cukup tinggi (sekitar 50 dari skala kontraksi maksimal 100). Dokter pun memberikan saya obat anti kontraksi dan penguat paru bagi janin, serta menyarankan saya untuk rawat inap selama dua hari. Saya harus bedrest.

Pasca keluar rumah sakit, saya tidak diizinkan lagi untuk mengikuti senam hamil ataupun aktivitas berat lainnya. Namun, saya tetap diperbolehkan melakukan senam ringan di rumah untuk sekedar melenturkan otot dan melatih pernapasan. Tidak untuk gerakan yang memicu kontraksi.

Pengalaman mengalami kontraksi prematur ini membuat saya mempelajari beberapa hal baru. Tentang CTG, tentang obat penguat paru pada janin, dan yang pasti membuat saya pertama kalinya mencicipi peran sebagai pasien rawat inap di rumah sakit. Pertama kalinya diinfus. Hoo... begini yah rasanya.

Kalau kontraksi prematur itu sendiri apa sih? Apa bedanya dengan kontraksi palsu? Pertanyaan itu yang saya lontarkan pertama pada perawat saat hasil CTG keluar. Kontraksi prematur ya terjadinya kontraksi sebelum waktunya. Kontraksi prematur berpotensi pada terjadinya kelahiran prematur. Oleh karena itu obat penguat paru pada janin dibutuhkan. Kalau kontraksi palsu, misalnya saya merasakan perut keras atau kejang seperti yang saya keluhkan sebelumnya, tetapi saat diperiksa oleh CTG tidak tampak adanya kontraksi. Itu baru kontraksi palsu.

Oke, sehat-sehat selalu ya para bumil disana. Be pretty, be happy ^6^.


Sampai jumpa di episode selanjutnya...

Tentang Kita Nak (1)

Sabtu, 05 Agustus 2017


4 November 2016

Bada salat Asar, aku bersimpuh lebih lama setelah berdoa di atas sajadah. Itu hari Jumat, hari besarnya umat muslim. Hari itu perasaanku sedikit berkecamuk. Betapa inginnya aku mengikuti AKSI 4/11 di Jakarta yang bagiku seperti panggilan jihad tersebut. Apalah daya, oleh sebab beberapa hal, aku tidak bisa turut serta.

Sore itu, aku berbicara sambil mengelus perut, “Nak, walaupun raga kita tidak ikut ke sana, semangat juang kita jangan pernah sirna ya. Untuk membela agama, untuk berjihad di jalan-Nya.”

Dan aku sungguh tidak tahu bahwa saat itu memang sedang bertumbuh bakal janin dalam rahimku!

***

Sejak awal menikah pada Oktober 2015, hampir setiap bulan aku membeli alat tes kehamilan di apotek. Pernah sekali membeli alat tes kehamilan yang harganya lumayan, Rp 40.000. Mungkin hasilnya lebih akurat, kupikir. Lebih jauh dan tidak logisnya lagi, aku berpikir saat menggunakan alat tes kehamilan mahal ini, mungkin hasilnya bisa ‘garis dua’. Haha.... yang membuat ‘garis dua’ itu kan bukan alatnya, melainkan kadar HCG dalam urin sebagai indikator kehamilan. Yaa siapa tahu karena alat ini harganya mahal, terus aku jadi hamil, wkwk. Well, jangan ditiru yah sodara-sodara, pola pikir lulusan S2 ini yang kalau lagi berharap punya anak, logikanya mendadak hilang tenggelam di dasar bumi. Nyatanya, garis yang muncul saat aku melakukan tes tetap satu. Negatif. Aku pun menghela nafas dan tidak pernah lagi membeli alat tes yang mahal. Bulan-bulan berikutnya, setiap ke apotek untuk membeli alat tes kehamilan dan ditanya mau yang mana, dengan tegas aku menjawab, “Yang harganya Rp 4.000 saja.”

Selain kebiasaan membeli testpack (alat tes kehamilan) setiap bulan, kebiasaanku yang lainnya adalah mengajak ngobrol perutku di saat-saat tertentu. Terkadang aku berimajinasi bahwa aku sedang hamil, dan mengajak bicara anak dalam kandunganku tentang apa saja. Bagiku realisasi imajinasi adalah salah satu bentuk ikhtiar mewujudkan doa dan harapan. Atau anggap saja aku sedang berlatih cara mengobrol dengan janin dalam kandungan. Padahal berkali-kali yang saat itu sedang aku ajak bicara sesungguhnya adalah baso, tahu, atau nasi goreng di dalam perut!

Aku rasa sudah menjadi hal yang umum terjadi pada setiap pasangan baru menikah jika ditanya perihal momongan. Bulan pertama menikah, tetangga sebelah bertanya, “Sudah isi belum?”... Bulan kedua menikah, keluarga dari pihak istri bertanya, “Sudah isi belum?”... Bulan ketiga, keluarga dari pihak suami giliran bertanya, “Sudah isi belum?”... Dan bulan-bulan berikutnya, setiap orang yang ditemui seolah-olah mendapat giliran pesan berantai untuk menanyakan hal serupa.

Dan aku? Saat suasana hati sedang tenang, aku dengan santai akan menjawab, “Alhamdulillah, tadi baru isi nasi,” atau “sudah isi lontong tadi,” atau “tadi barusan isi risol.” Atau minimal menjawab dengan kalimat normal, seperti “mohon doanya”. Namun, terkadang mendapat pertanyaan demikian juga bisa mencipta baper. Aku pun mengalami pasang surut emosi tersebut. Mulai dari hati yang penuh harap bahwa aku bisa segera hamil, mendadak risih dengan pertanyaan orang-orang, meminta doa dari banyak orang, berpikir apakah aku bisa hamil?, sampai............... sampai sampai aku lupa emosi apa saja yang pernah kurasakan ^^”.

Aku dan suami beberapa kali membahas tentang perlu tidaknya kami mengikuti program hamil, tetapi pada akhirnya kami memutuskan untuk menjalaninya secara alami. Toh, tesisku saat itu belum selesai. Kami baru menikah dan masih banyak adaptasi dalam berbagai hal. Awal-awal menikah juga diriku masih disibukkan oleh beberapa proyek dari konsultan tempatku bekerja. Bagaimanapun, ketenangan hati dan kesehatan fisik diperlukan untuk suksesnya proses pembuahan, bukan?

Aku menyelesaikannya satu per satu. Setelah usai beberapa proyek, aku memutuskan untuk off terlebih dahulu dari dunia perproyekan. Suamiku terus memberikan semangat dan dukungan agar aku segera menyelesaikan studi. Dinamika dalam rumah tangga juga kami coba kelola dengan komunikasi yang baik. Aku terus menanamkan afirmasi positif bahwa semua akan selalu hadir tepat pada waktunya. Toh, Rasulullah Saw dan Khadijah pun baru memiliki anak setelah tiga tahun pernikahan mereka. Sudah sepatutnya aku mampu untuk lebih bersabar, kan?

Akhirnya aku memutuskan untuk sungguh-sungguh menikmati masa berdua. Agar tidak perlu ada keluhan di masa mendatang saat anggota keluarga kami nanti bertambah, lalu aku berkata, “Pengen bisa berduaan lagi deh, sekarang susah sekali mau jalan berduaan kayak dulu.” Pun aku bertekad dan berdoa agar tidak sampai keluar dari lisanku ucapan, “Duh, anak banyak kayak gini repot banget yah, beda sama kayak dulu waktu masih satu.” Nikmati...nikmati...syukuri.... Saat sudah ada anak nanti, pasti akan berbeda dengan saat masih berdua. Saat punya anak dua, tiga, atau empat, pasti berbeda juga dengan saat masih baru punya satu anak. Jadi, aku ingin sungguh-sungguh menikmati setiap fase yang kulalui. Dan diantara semua rasa harap dan cemas akan hadirnya buah hati, aku terdiam saat ayahku mengatakan, “Itu hak prerogatif Allah.” Entah kenapa, kalimat tersebut membuat hatiku begitu tenang. Mengingatkanku kembali bahwa setelah ikhtiar dan doa, kewajiban berikutnya adalah tawakal. Tidak seharusnya aku merasa terlalu cemas ataupun terpengaruh karena pertanyaan dari orang-orang.

***

17 November 2016

Kejutan itu pun datang. Pagi hari selepas suamiku berangkat kerja, aku penasaran ingin melakukan tes, walaupun baru telat dua hari. Jeng... jeng... jeng...!!! Dua garis!!!!! Subhanallah, ini sungguhan? Apa alat testpack-nya valid? Biasanya aku sudah telat seminggu saja hasilnya tetap satu garis. Masih dalam rasa tidak percaya, aku mengulangi tes. Hasilnya sama, dua garis. Dengan mata nyaris tak berkedip dan hati yang mulai meletup-letup takjub, aku pun mengucap hamdalah. “Alhamdulillah.... Alhamdulillah.... Alhamdulillah....”

Aku mengirimkan foto hasil tes ke suami melalui whatsapp tanpa penjelasan apapun. Penasaran mengetahui reaksinya. Satu menit, dua menit, kok tidak direspon? Padahal sudah dibaca, hmmm... Menit ketiga, teleponku berdering. Suara suamiku terdengar serak di ujung sana. “Neng? Neng hamil?”

Aku mengangguk. Lupa bahwa itu telepon, bukan video call. Buru-buru aku ralat, “Iya A, alhamdulillah.”

Dan suamiku mengucap hamdalah berkali-kali. Mengatakan ingin menangis, tetapi malu karena sedang berada di dalam kereta. Itu pertama kalinya suamiku berbicara di telepon dengan begitu ekspresif. Aku yang tadinya tidak terpikir untuk menangis, jadi ikutan menangis karena mendengar suamiku ingin menangis. Dan akhirnya aku pun menangis, sambil tersenyum. Haduh, apa sih ini bolak-balik gini kalimatnya >D<....

Hari itu, aku pun periksa kehamilan di bidan untuk pertama kalinya. Bu bidan meyakinkanku bahwa hasil tes-ku memang positif dengan usia kehamilan kurang lebih empat minggu. Beliau menanyakan kondisiku, menyemangatiku untuk bersiap-siap jika terjadi perubahan fisik dan psikis, dan memberiku selamat atas kehamilan pertamaku. Alhamdulillah, ternyata tanda cinta itu datang, tepat satu tahun pernikahan kami. Dan tepat setelah aku menyelesaikan revisi tesis pasca sidang di bulan lalu.

Awalnya kupikir aku tidak akan merasakan mual dan muntah, seperti diwanti-wanti oleh bidan. Ternyata aku mengalami masa-masa tersebut. Memasuki bulan kedua kehamilan, aku mulai merasakan mual. Bukan di pagi hari seperti teori umum bercerita (morning sick), melainkan siang sampai sore. Terkadang, sepanjang hari juga sih mualnya, tetapi dalam kadar yang ringan.

Sempat mual mencium bau ikan dan bau-bau tajam lainnya juga. Sempat kesulitan untuk mencuci piring, karena tidak tahan oleh bau piring kotor. Alhamdulillah, suami beberapa kali dengan sigap mengambil alih tugasku. Beberapa kali juga muntah selama trimester pertama tersebut, apalagi kalau mencium bau asap kendaraan di jalan. Setiap pagi aku menjadi sebal sama orang-orang yang berangkat kerja atau sekolah dengan kendaraan bermotor dan asapnya tercium hingga ke kamar. Suami pun menjadi korban mualnya istri saat pulang kerja. Maklum, sepanjang perjalanan pergi-pulang kantor, pasti banyak asap dan debu yang menempel. Alhasil saat aku mencium tangan suami, bereaksi-lah hormon-hormon mualnya, hehe.


Kontrol hamilku berganti-ganti antara bidan dan dokter. Saat ada suami yang bisa mendampingi, aku kontrol ke dokter di rumah sakit. Bisa sekalian USG juga. Kalau sedang sendiri, aku cukup kontrol ke bidan saja, haha. Hemat. Urusan hemat perhematan ini sempat menjadi dinamika rumah tangga juga selama proses kehamilan, khususnya dalam memutuskan tempat persalinan nanti. Tunggu ya, aku akan menceritakannya di episode berikutnya, insyaallah.

Cerita seru selama trimester awal kehamilan ini adalah saat aku masih harus bolak-balik kampus mengurus perbanyakan tesis dan daftar wisuda. Aku juga harus mengurus pengembalian biaya SPP semester ganjil yang sudah sempat kubayarkan sebelumnya karena jadwal sidangku yang sudah masuk semester baru. Lumayan bisa kembali 30%. Itu harus diperjuangkan. Namun, apalah daya sebab mualku kian hari kian bertambah. Aku tidak bisa setiap hari ke kampus. Akhirnya menyelesaikan segala tetek bengek administrasi pun berjalan lebih lambat dari yang seharusnya. Saat petugas TU Pascasarjana IPB melihat tanda pengambilan berkasku, ia pun heran.

“Kok baru diambil sekarang, Mbak?”

“Lagi hamil muda, Pak. Mual-mual saya.”

Mimik wajah si bapak yang awalnya agak jengah, seolah berkata ‘Males gue ngurusin mahasiswa yang lambat ngurus administrasi’ berubah menjadi sumringah, dan sambil tersenyum mengucapkan selamat padaku. Masih ditambah pula dengan sedikit ramah tamah menanyakan kondisi kehamilanku dan asal daerahku darimana, wkwk. Jadi ramah banget pokoknya! Bersyukurnya tinggal dengan budaya timur itu adalah fakta ibu hamil selalu bisa menjadi alasan dan dispensasi untuk banyak hal :p...

Contoh lainnya adalah saat naik kereta commuter Jadebotabek. Kondisi hamil muda tentunya belum terlalu kelihatan seperti orang hamil, karena perutnya belum membesar. Namun, setiap kali aku harus naik kereta, suamiku akan mengajakku ke arah kursi prioritas dan meminta penumpang yang kurang berhak untuk memberikan kursinya padaku. Jikapun aku harus naik kereta sendiri (tanpa suami), aku pun akan mengatakan bahwa aku sedang hamil. Untuk berjaga-jaga, aku selalu membawa buku rekam medik kehamilan kemana-mana. Supaya kalau ada oknum penumpang yang tidak percaya tentang kehamilanku, aku akan langsung mengeluarkan buku tersebut agar mereka paham bahwa ‘Nih, gue beneran hamil!’ wkwk... Tapi alhamdulillah sih, penumpang selalu percaya. Jadi aku tidak perlu sampai mengeluarkan buku rekam medik kehamilan, hhe.

Poin penting saat di tempat publik seperti kereta adalah kita harus mengatakan dan meminta dengan jelas hal yang kita butuhkan. Jangan selalu berharap bahwa orang-orang di sekitar kita harus paham dengan kode-kode yang kita berikan, seperti memaju-majukan perut (supaya orang tahu kita sedang hamil), atau misalnya pura-pura mual (tapi kalau aku memang mual sungguhan sih ^^”). Katakan dengan jelas, “Permisi, boleh gantian duduknya? Saya sedang hamil.” Urusan orangnya percaya atau tidak, bukan tanggung jawab kita.

Cara menyiasati lainnya adalah dengan naik ke gerbong campuran. Kalau sedang hamil, sebisa mungkin hindari naik kereta khusus wanita di jam-jam sibuk. Persaingan antar-wanita itu bisa lebih kejam daripada soal ujian nasional!!! Lagipula, kursi prioritas di gerbong wanita biasanya cepat penuh dengan orang-orang yang memang prioritas, seperti para lansia. Jadi, aku selalu memilih gerbong campuran dan mencari kursi prioritas yang isinya ‘tidak prioritas’. Kalau kondisi di gerbong sedang sulit karena terlalu penuh atau penumpangnya pada tidur semua (haha, ini lebay sih,,,), cara jitu terakhir adalah dengan mencari petugas dan meminta tolong, wkwk.

It’s really happy moment to be a pregnant woman. Alhamdulillah.... :D

Nantikan cerita berikutnya yah ^.^  



-to be continued-

sumber gambar:
1. soloraya.net/mendorong-keberfungsian-kelas-ibu-hamil/kartun-ibu-hamil-muslimah/
2. https://www.brilio.net/life/13-ilustrasi-ini-ungkap-suka-duka-jadi-ibu-hamil-jangan-durhaka-ya-1603026.html