Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan

Komunikasi Efektif dan Berpengaruh pada Anak (resume seminar)

Kamis, 26 April 2018

Metode hypnosis menjelang anak tidur


Peringatan Hari Kartini di Kota Bogor tahun ini dimeriahkan oleh salah satu kegiatan peragaan busana adat untuk anak dan seminar parenting bersama seorang praktisi hypnoparenting, Ibu Titik Maryani, SE.Ak. CHt. dengan tema “Tips & Trik Membangun Komunikasi yang Efektif dan Berpengaruh pada Anak”. Saya ingin sedikit berbagi hasil seminar yang saya ikuti bersama komunitas Cacabun (Cerita Cinta Ibu dan Anak). Semoga bermanfaat ya.

Seminar ini dibawakan oleh seorang praktisi hypnoparenting, Ibu Titik Maryani, SE.Ak. CHt. Acara seminar diawali dengan melakukan senam otak bersama, dilanjutkan dengan permainan ilusi mata untuk menguji konsentrasi para peserta seminar. Lumayan, penyegaran di siang hari yang biasanya membawa kantuk dan sulit fokus. Hehe... Setelah para peserta yang didominasi kaum ibu fokus, barulah materi dimulai.

Secara singkat materi seminar berisi tentang definisi komunikasi efektif dan penerapan metode hypnoparenting dalam mencapai komunikasi efektif terhadap anak. Komunikasi dibagi menjadi komunikasi verbal (tulis, lisan) dan komunikasi non-verbal (mimik, intonasi, ekspresi, sentuhan, isyarat, gerakan tubuh, dll.). Efektif  dalam komunikasi bermakna tepat sasaran dan sesuai dengan tujuan komunikasi. Lalu apa sajakah tantangan berkomunikasi dengan anak pada masa sekarang?

Beberapa orangtua menyampaikan bahwa kondisi anak-anak sekarang lebih cuek, susah kalau dipanggil atau diminta tolong. Ada pula yang mengeluhkan bahwa kalau anak sudah fokus sama televisi dan gadget, akan menjadi lebih cuek dan apatis lagi. Tantangan lainnnya adalah anak-anak zaman sekarang lebih ‘berani’ pada orangtua. Orangtua berkata satu kata, mereka membalas seribu kata. Ada banyak tantangan dan permasalahan lainnya yang dikeluhkan oleh para orangtua.

Sejenak marilah kita saksikan video tentang “Nilai Mama” terhadap anak berikut  https://www.youtube.com/watch?v=pxt5S4ZgTAU (“Nilai Mama”).

Bagi para orangtua, khususnya ibu yang lebih banyak berinteraksi dengan anak, ada berbagai macam perilaku anak yang membuat ibu kesal dan lelah. Sang ibu pun memberikan nilai negatif terhadap anak. Namun, tahukah bahwa bagi anak, sosok ibu adalah ‘dunia’ baginya?

Pada dasarnya, tidak ada anak yang bermasalah. Semua kesalahan yang dilakukan anak adalah karena kesalahan program yang dimasukkan ke dalam pikiran anak. Bu Titik menyampaikan bahwa secara umum 77% program yang dimasukkan ke pikiran anak adalah salah. Darimana sajakah program-program tersebut masuk? Dari lingkungan. Dan lingkungan terdekat anak adalah orangtua. Selanjutnya kerabat (termasuk yang tinggal bersama di rumah), teman, guru, televisi, internet, dan buku. Padahal setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, orangtua-nya lah yang menjadikan ia seorang yahudi, nasrani, atau majusi (HR. Bukhari no.1296). Termasuk perilaku anak juga adalah cerminan dari orangtua dan lingkungannya.
Lihat video https://www.youtube.com/watch?v=5JrtpCM4yMM (“Children See Children Do”).

Selanjutnya adalah pembahasan mengenai hypnoparenting. Hypnoparenting merupakan seni berkomunikasi dengan anak melalui pikiran bawah sadar. Jadi, orangtua memasukkan program-program positif melalui pikiran bawah sadar anak. Konsep dasarnya membentuk perilaku awal yang di-intervensi oleh metode hypnosis sehiungga terbentuk perilaku baru.



Hypnoparenting terbagi menjadi dua, yakni berkomunikasi dengan anak dan selftalk (komunikasi dengan diri sendiri). Kedua hal ini menjadi sangat penting dalam penerapan hypnoparenting, karena sebelum kita (orangtua) memberikan afirmasi positif terhadap anak, tentunya kita harus membentuk afirmasi positif terlebih dahulu pada diri sendiri. Cara berkomunikasi dengan anak pun terbagi lagi menjadi hypnosis formal (terdiri dari 20 teknik) dan hypnosis informal.

Baik hypnosis formal maupun hypnosis informal, keduanya dilakukan terhadap pikiran bawah sadar. Pikiran bawah sadar ini lah yang sesungguhnya secara dominan mengendalikan aktivitas dan perilaku anak sehari-hari, meliputi keyakinan, intuisi, persepsi, memori jangka panjang, dan kebiasaan (88%). Sementara pikiran sadar yang meliputi logika, analisis, dan kemampuan untuk memutuskan hanya berperan sebesar 12% saja.


Melakukan hypnosis terhadap pikiran bawah sadar bisa dilakukan terhadap siapapun pada usia berapapun. Namun, pada usia kanak-kanak 0-8 tahun, penerapan metode ini akan lebih efektif, karena pintu RAS (Reticular Activating System) atau penghubung antara pikiran sadar-bawah sadar selalu terbuka.

Secara umum, pintu RAS ini akan terbuka pada empat kondisi:

1.     1.  Gelombang alpha dan tetha, biasa dikenal juga dengan hypnosleep. Afirmasi positif dimasukkan menjelang tidur dan saat baru bangun tidur.
2.   2. Emosional. Saat emosi sedang memuncak merupakan saat yang tepat untuk memberikan pengaruh, misalnya saat sedang marah, sedih, dan bahagia.
3.     3.  Fokus. Dalam kondisi fokus, justru merupakan saat yang tepat untuk melakukan hypnosis. Jadi, saat anak sedang fokus bermain atau menonton TV (kondisi yang sering dikeluhkan orangtua sebagai penyebab anak cuek), berikanlah afirmasi positif tersebut secara ringkas, sederhana, dan berulang-ulang. Hypnosis bukanlah memberikan perintah, tetapi melakukan aktivasi terhadap pikiran bawah sadar. Wajar jika kita memberi suatu perintah lugas saat anak sedang fokus menonton TV tidak didengar, karena hal tersebut masuk ke pikiran sadar. Sedangkan yang kita lakukan dengan hypnosis adalah masuk ke dalam pikiran bawah sadar.
4.     4. Terkejut. Saat sedang terkejut juga merupakan kondisi saat pintu RAS yang menghubungkan pikiran sadar-bawah sadar terbuka.
Cara melakukan hypnosis adalah dengan bahasa sugesti. Bahasa sugesti ini memiliki persyaratan, yakni harus jelas dan sederhana, positif, personal, menggunakan time present tense, dan persisten (berulang-ulang).  Salah satu model kalimat hypnosis adalah mengawali afirmasi positif dengan kata “Entah mengapa”. Misalnya, “Entah mengapa, mulai hari ini, Aisyah adalah anak yang mudah mengucapkan maaf.” atau “entah mengapa, mulai hari ini, Rasyid rajin mendirikan salat lima waktu.”

Sebagai orangtua, kita juga harus sering melakukan selftalk positif untuk selalu berprasangka baik terhadap anak. Mengenali modalitas belajar anak juga penting dalam berkomunikasi efektif terhadap anak (karakter visual, auditi, kinestetik).
Sebagai simpulan, ada empat langkah untuk mencapai komunikasi efektif dan berpengaruh pada anak. Pertama, menjadi teladan yang baik. Kedua, melakukan hypnosis pada saat yang tepat. Ketiga, menerapkan selftalk positif. Keempat, mengenali modalitas belajar anak.


Tanya-Jawab

1.    1.   Bagaimana caranya menghilangkan bayangan buruk masa lalu, sehingga kita tidak mengulangi kesalahan yang sama dalam mendidik anak? Misalnya agar tidak marah saat anak tantrum?

Jawab: Menghilangkan sampah emosi, caranya dengan 1. Relaksasi (tarik nafas 3x), 2. Ubah gerakan (dari berdiri ke duduk), 3. Melihat ke atas dan mengucapkan syukur (“Alhamdulillah saya masih punya anak, dll..), dan 4. Buat anchor/engker dengan cara memeluk atau membatasi ruang dengan menghilangkan benda-benda berbahaya sampai tantrum anak selesai.


2.    2.   Bagaimana caranya menyamakan nilai dengan kerabat (misalnya kakek nenek) sehingga program-program yang masuk ke pikiran anak tidak kontradiktif?

Jawab: cara paling mudah adalah dengan menimpa program negatif dengan program positif. Jika sulit menyamakan nilai, tidak perlu dipaksa. Pikiran bawah sadar anak yang kita kendalikan agar pengaruh positif kita lebih besar.


3.       3. Sebagai guru, mengapa kalau ke anak orang lain lebih sabar daripada kepada anak sendiri?

Jawab: karena dalam mindset kita itu adalah amanah dari orang lain. Kita dibayar oleh sekolah/negara untuk mendidik mereka. Padahal, anak sendiri adalah amanah yang lebih besar, karena Allah Swt yang telah menitipkannya kepada kita untuk kita asuh dan kita didik. Jadi, seyogyanya anak sendiri bukanlah milik kita, melainkan juga titipan yang harus kita jaga baik-baik fitrahnya, jiwanya, dan raganya.

Wallahu a’lam bisshawab.

Kontak narasumber: 0818-0747-368 (Ibu Titik)

Tentang Kita Nak (2)

Kamis, 16 November 2017

source: ummionline.com


Susu, vitamin, dan suplemen ibu hamil

Memasuki trimester kedua dan ketiga kehamilan, mual hamil akibat perubahan hormon mulai berkurang. Sebaliknya, nafsu makan semakin meningkat. Bawaannya ingin mengunyah, mengunyah, dan mengunyah... haha....

Pada umumnya ibu hamil meminum susu hamil untuk tambahan nutrisi. Saya memilih untuk tidak minum susu khusus ibu hamil secara rutin. Mengapa? Pertama, dari beberapa info yang saya peroleh, minum susu khusus ibu hamil itu tidak wajib. Susu biasa pun tidak masalah. Saya lebih senang minum susu cair pasteurisasi, selain lebih praktis, kandungan gizi susu pasteurisasi juga ditengarai sebagai yang paling baik dibandingkan produk susu lainnya (UHT dan bubuk). Kedua, rasa susu khusus ibu hamil itu lebih memicu mual. Dasarnya saya memang tidak terlalu suka susu sejak kecil, hampir selalu muntah setiap minum susu, dan ini susu khusus ditambah zat besi yang aromanya kuat pula. Semakin menolak lah diri ini, huuufft... Tetapi demi janin yang sehat, pintar, kuat, dan bertakwa, saya memutuskan harus tetap minum susu. Akhirnya saya memilih minum sari kedelai organik sebagai pengganti sumil. Loh, kok susu kedelai? Bukan susu kedelai, melainkan sari kedelai. Soalnya kedelai tidak punya puting susu, jadi kata para senior di kampus harusnya tidak disebut susu kedelai, wkwk. Lalu susu sapinya bagaimana? Tetap minum kok, kadang-kadang. Kadang pas beli, kadang pas dapet gratisan promo sumil, kadang-kadang saja. Hehe. Tetap yang rutin saya konsumsi adalah sari kedelai organik. Lebih enak, gizinya tinggi, dan bagus untuk melancarkan serta memperbanyak produksi ASI pasca melahirkan nanti.

Vitamin hamil juga salah satu hal utama yang tidak boleh dilupakan para ibu hamil. Pertama kali saya periksa kandungan di bidan, saya hanya diberi vitamin penambah darah. Saat berikutnya periksa kandungan di dokter, saya ditanya sudah memiliki vitamin atau belum. Saya jawab sudah. Di rumah sudah ada suplemen penambah darah, minyak ikan, kalsium, madu, kurma, pokoknya komplit saya jabarkan. Akhirnya sang dokter tidak memberikan resep vitamin apapun. Mungkin beliau mengerti akan kekhawatiran saya jika diberi resep vitamin mahal, haha. Namun, selanjutnnya saya rutin membeli sendiri suplemen ibu hamil ber-merk Obimin. Kandungannya cukup lengkap. Harganya tidak sampai membuat dompet tersedak.

Suplemen lain yang saya juga minum adalah salah satu resep dari bidan ber-merk Gestiamin. Suplemen ini lebih lengkap lagi kandungannya dibandingkan Obimin. Selain kandungan vitamin lengkap ABCD, kalsium, asam folat, dan besi, di Gestiamin juga ada tambahan AA dan DHA, serta tambahan kalium juga. Harganya? Tetap ramah di kantong (asumsi ramah di kantong adalah kurang dari 100 ribu rupiah untuk kebutuhan suplemen selama sebulan, hehe..). Jadi, setelah Obimin saya habis, saya beralih ke Gestiamin.

Memilih lokasi persalinan

Sejak awal kehamilan, saya dan suami sudah berbeda pendapat terkait lokasi bersalin. Suami bersikukuh agar saya melahirkan di rumah sakit, sementara saya lebih nyaman untuk bersalin di bidan saja. Alasan suami memilih rumah sakit? Lebih aman dan cepat penanganannya jika terjadi sesuatu. Alasan saya memilih bidan? Lebih sepi dan lebih hemat yang pasti (ckck.. lagi lagi urusan hemat :p). “Jangan pikirkan uang, Neng. Insya Allah rezeki nanti ada. Itu tugas Aa. Yang penting Neng sama dede aman, sehat, selamat.”

Bagaimana ya? Namanya emak-emak ya tidak mungkin tidak memikirkan masalah uang. Terlebih lagi, saya paling tidak ingin membuat suami susah dan pusing masalah uang. Akhirnya demi tidak membuat suami semakin pusing saat itu, saya menyetujui untuk bersalin di rumah sakit. Kami mencari rumah sakit khusus bersalin yang tidak terlalu ramai, dekat dari rumah, dan dokter-dokter kandungannya terekomendasi dari beberapa teman. Alhamdulillah, RSIA Bunda Suryatni yang berjarak tidak sampai 5 km dari rumah kami, memenuhi kriteria tersebut.

Saya rutin kontrol kandungan setiap bulan. Di bidan. Lah? Wkwk, tadi katanya tidak ingin membuat suami pusing? Yaaaa kalau suami sedang libur kerja dan bisa menemani kontrol kandungan, kami kontrol di dokter. Kalau saya harus kontrol sendiri, saya pergi ke bidan atau ke puskesmas yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari rumah. Bisa dijangkau hanya dengan jalan kaki.

Selama perjalanan kehamilan pertama ini, mobilisasi saya ke luar kota cukup tinggi: Bogor, Bandung, Jakarta, Serang, dan Depok. Oleh karena itu, saya kontrol kandungan sesuai posisi saya saat jadwal kontrol tiba. Kalau dijumlahkan, saya kontrol kandungan berganti-ganti diantara tiga dokter dan tiga bidan pada tiga rumah sakit dan tiga tempat praktik bidan yang berbeda. Saya tidak terlalu masalah berganti-ganti bidan atau dokter, karena bisa sambil survei juga saya cocoknya dengan dokter/bidan yang mana. Saya juga bisa survei tempat yang kira-kira paling nyaman untuk saya bersalin nantinya. Yang terpenting adalah catatan kehamilan alias rekam medik kehamilan kita tertulis pada satu buku yang sama. Jadi, setiap saya pergi kemanapun (bahkan walau hanya pergi ke kampus), saya selalu membawa buku rekam medik tersebut.

Lalu, akhirnya dimana lokasi bersalin tempat saya melahirkan anak pertama? Rumah sakit, bidan, rumah, mobil, atau angkot? Wkwk... masak di angkot? Kemungkinan inilah yang disampaikan oleh bidan sehingga saya harus melakukan suntik tetanus. Kalau ternyata keburu brojol di perjalanan/kendaraan yang tidak steril tempatnya, setidaknya aman dari infeksi tetanus. Jadi, saya lahiran dimana? Tunggu di episode selanjutnya ya.

Ikat panggul pashmina

Melihat aktivitas dan mobilisasi saya selama hamil yang cukup tinggi, salah satu tetangga rumah yang sudah seperti keluarga sendiri menyarankan saya untuk mengikat panggul dengan kain jika bepergian. Terlebih karena saya sempat mengalami flek saat awal-awal hamil, beliau mewanti-wanti agar saya lebih berhati-hati. Mengikat panggul dengan kain akan membantu menopang perut sehingga janin di dalah rahim tidak mudah terguncang.

Saya sedikit mengobrak-abrik lemari, mencari kain panjang yang kira-kira bisa dipakai layaknya ikat pinggang. Saya belum memiliki kain jarik saat itu, jadi agak bingung juga. Kain sarung kurang panjang, kain selendang yang saya miliki terlalu tipis, kurang nyaman untuk menopang perut. Celana panjang suami? Ya masak saya pakai, wkwk. Akhirnya pilihan saya jatuh pada kain pashmina warna putih yang biasa saya pakai ke kondangan. Kerudung pashmina ini cukup panjang dengan bahan wol, sehingga nyaman untuk saya ikatkan ke panggul. Tidak terlalu tipis, tidak juga terlalu tebal, pas.

Saya juga berhenti mengendarai motor setelah usia kandungan empat bulan. Beberapa orang berpendapat bahwa setelah usia empat bulan atau masuk trimester dua  kehamilan merupakan masa yang paling aman. Namun, karena pada masa ini saya justru mengalami flek, saya memutuskan untuk cuti bermotor-motor ria. Lalu saya naik apa kalau ke kampus atau ke tempat lainnya? Naik angkot, mobil, atau menumpang bonceng motor dengan teman. Tentu tetap dengan mengenakan ikat panggul pashmina, hehe.

Asisten dosen

Saya bersyukur penelitian saya telah selesai dan revisi tesis saya pun telah usai saat testpack hamil menunjukkan tanda positif. Aktivitas saya di kampus hanya tinggal mengurus persyaratan wisuda yang ternyata itu pun tertunda hampir tiga bulan. Sampai saya diprotes oleh pihak administrasi kampus karena dinilai lambat mengurus kelulusan sendiri. Ketika beliau mengetahui saya terhambat datang ke kampus karena ngidam mual dan muntah, berangsur wajahnya berubah sumringah dan mengucapkan selamat. Hihi, bersyukur sekali, kabar hamil selalu membawa gembira hati tidak hanya keluarga, tetapi juga hampir setiap orang yang mendengarnya.

Pasca mengurus adminstrasi kelulusan dan mendaftar wisuda, tibalah saya pada hari bersejarah kedua tersebut. Wisuda magister. Hari yang sama, lokasi yang sama, dan rektor yang sama. Jika pada wisuda sarjana yang lalu saya mempersembahkan kelulusan untuk ibunda tercinta, maka pada wisuda magister ini saya mempersembahkannya untuk ayahanda saya yang telah begitu besar memberikan percaya dan cintanya untuk saya. Bedanya, pada wisuda ini saya lebih beruntung karena tidak hanya didampingi oleh orangtua di dalam gedung prosesi, tetapi juga ditemani oleh suami, adik, dan janin yang ada dalam kandungan. Peluk hangat berjuta terima kasih untuk sahabat paling kece Shafira Adlina yang berbaik hati memberikan undangan wisudanya, sehingga jatah untukku jadi bertambah. FYI, Shafira ini salah satu sahabat paling inspiratif yang berhasil menyelesaikan studinya tepat waktu, padahal dalam masa studi itu ia menikah, hamil, melahirkan, dan mengasuh anak. Daebak!

Pasca lulus dan wisuda, awalnya saya berniat untuk bersantai-santai menikmati kehamilan sambil meningkatkan ibadah. Rupanya Allah menakdirkan agar saya tidak hanya berleha-leha di rumah, haha. Dosen pembimbing tesisku meminta tolong untuk membantunya dalam mengasuh salah satu mata kuliah di S2. Setelah meminta izin pada suami sambil merayu dan meyakinkannya bahwa kehamilanku baik-baik saja, dan menjelaskan panjang lebar kali tinggi bahwa mata kuliah ini tidak ada praktikum lapang-nya (walau sebenarnya saya sangat suka pada praktikum lapang ^^”), saya diizinkan untuk menjadi asisten dosen. Hanya untuk satu semester, hehe. Sampai hari perkiraan lahir (HPL) saya tiba.

Alhamdulillah, aktivitas di kampus walau hanya seminggu sekali ini cukup banyak membantu saya lepas dari kejenuhan. Saya merasa lebih bersemangat dan tidak gampang letih. Walaupun amunisi saya pergi ke kampus harus lolos screening pertimbangan ekstra, saya merasa gembira. Mencukupkan asupan makanan sebelum dan setelah kuliah praktikum, membawa bekal praktis dan memakannya diam-diam sambil mendengarkan penjelasan dosen, serta membawa tumblr minum  ukuran satu liter.

Saya tidak hanya mendampingi dosen saat kuliah, mengabsen mahasiswa yang hadir, dan memimpin sesi praktikum presentasi saja, tetapi saya diberikan hak oleh dosen untuk menyusun konten praktikum dan menentukan topik untuk pekan praktikum tertentu. Saya juga diberikan keleluasaan untuk menilai hasil praktikum mahasiswa. Hal ini membuat saya sangat senang karena merasa begitu dihargai. Kalau menggunakan istilah suami saya, salah satu kebutuhan orang dalam berkarir adalah acknowledgment. And i got it even just a little bit. And I was so happy. Buat para ibu hamil, tetaplah melakukan hal yang membuatmu gembira :)

Senam hamil
source: mommys-daily.com

Senam hamil mulai saya lakukan saat usia kehamilan 32 minggu. Pertama kali saya mengikuti senam di RS Hermina, Bogor. Selain di Hermina, saya juga mengikuti senam di Bidan Srie Dodi yang berada di belakang pasar Gunung Batu, Bogor. Senam hamil di kedua tempat ini sangat menyenangkan.

Ada perbedaan dan persamaan antara senam di RS dan bidan. Di RS, tempatnya lebih nyaman, ber-AC, dan matrasnya lebih empuk. Hanya saja durasi waktunya lebih singkat (sekitar 30 menit) dan gerakan senam yang diajarkan lebih soft. Kalau di bidan, durasi waktunya lebih lama (sekitar 60 menit), dan gerakan-gerakannya lebih variatif. Ada gerakan lembut, gerakan dinamis, sampai gerakan berpasangan dengan sesama ibu hamil. Lebih seru! Persamaannya, instruktur senam di kedua tempat ini sama-sama dipimpin oleh bidan. Kedua, biaya senam di kedua tempat ini sama-sama murah, hehe. Di Hermina hanya 15 ribu rupiah, sudah plus teh manis hangat dan makanan ringan. Di bidan Srie Dodi hanya 20 ribu rupiah dengan durasi senam panjang plus tausiyah tambahan yang menyejukkan hati dari instrukturnya ^^.

Selain senam di RS dan bidan, sesekali saya juga senam di rumah. Aktivitas rutin yang saya lakukan untuk mendukung kelancaran persalinan selain senam hamil, adalah jalan kaki pagi dan melakukan gerakan jongkok berdiri (seperti bending) setiap pagi dan malam hari. Tujuannya untuk menguatkan pernafasan dan melenturkan otot pintu jalan lahir. Saya juga sempat berenang dua kali sepanjang masa hamil. Namun, setelah berenang yang terakhir kali, saya berhenti. Karena tidak lama setelah itu saya masuk rumah sakit.

Kontraksi prematur

Pada bulan ke-8, saya meminta tolong suami untuk menemani saya ke RS di luar jadwal kontrol kandungan. Sudah beberapa hari perut terasa kencang di luar kebiasaan. Meskipun saya tidak merasakan sakit atau mulas yang sangat, saya ingin memastikan janin kami dalam keadaan baik. Sebelum melakukan USG, dokter menanyakan keluhan yang saya rasakan. Saya bilang perut terasa kencang sekali. Ternyata benar, dokter pun mengatakan hal yang sama. Perut saya sangat kencang. Dokter melanjutkan pemeriksaan dengan alat USG (alhamdulillah air ketuban masih banyak dan bagus), lalu menyarankan saya untuk lanjut tes CTG (cardiotocography). Tes CTG ini bertujuan untuk mengetahui benar tidaknya terjadi kontraksi dan memeriksa frekuensi gerakan janin di rahim.

Saya melakukan tes CTG di salah satu ruang bersalin. Berbaring selama kurang lebih 30 menit dengan dua alat yang ditempelkan di perut. Satu untuk memantau detak jantung janin, satu lagi untuk memeriksa level kontraksi rahim. Bidan yang memeriksa saya menjelaskan bahwa seharusnya grafik pada kertas CTG tidak boleh naik untuk menandakan saya tidak mengalami kontraksi. Hasilnya? Grafik yang tercetak pada kertas naik tiga kali dalam 30 menit pemantauan dengan angka yang cukup tinggi (sekitar 50 dari skala kontraksi maksimal 100). Dokter pun memberikan saya obat anti kontraksi dan penguat paru bagi janin, serta menyarankan saya untuk rawat inap selama dua hari. Saya harus bedrest.

Pasca keluar rumah sakit, saya tidak diizinkan lagi untuk mengikuti senam hamil ataupun aktivitas berat lainnya. Namun, saya tetap diperbolehkan melakukan senam ringan di rumah untuk sekedar melenturkan otot dan melatih pernapasan. Tidak untuk gerakan yang memicu kontraksi.

Pengalaman mengalami kontraksi prematur ini membuat saya mempelajari beberapa hal baru. Tentang CTG, tentang obat penguat paru pada janin, dan yang pasti membuat saya pertama kalinya mencicipi peran sebagai pasien rawat inap di rumah sakit. Pertama kalinya diinfus. Hoo... begini yah rasanya.

Kalau kontraksi prematur itu sendiri apa sih? Apa bedanya dengan kontraksi palsu? Pertanyaan itu yang saya lontarkan pertama pada perawat saat hasil CTG keluar. Kontraksi prematur ya terjadinya kontraksi sebelum waktunya. Kontraksi prematur berpotensi pada terjadinya kelahiran prematur. Oleh karena itu obat penguat paru pada janin dibutuhkan. Kalau kontraksi palsu, misalnya saya merasakan perut keras atau kejang seperti yang saya keluhkan sebelumnya, tetapi saat diperiksa oleh CTG tidak tampak adanya kontraksi. Itu baru kontraksi palsu.

Oke, sehat-sehat selalu ya para bumil disana. Be pretty, be happy ^6^.


Sampai jumpa di episode selanjutnya...

Tentang Kita Nak (1)

Sabtu, 05 Agustus 2017


4 November 2016

Bada salat Asar, aku bersimpuh lebih lama setelah berdoa di atas sajadah. Itu hari Jumat, hari besarnya umat muslim. Hari itu perasaanku sedikit berkecamuk. Betapa inginnya aku mengikuti AKSI 4/11 di Jakarta yang bagiku seperti panggilan jihad tersebut. Apalah daya, oleh sebab beberapa hal, aku tidak bisa turut serta.

Sore itu, aku berbicara sambil mengelus perut, “Nak, walaupun raga kita tidak ikut ke sana, semangat juang kita jangan pernah sirna ya. Untuk membela agama, untuk berjihad di jalan-Nya.”

Dan aku sungguh tidak tahu bahwa saat itu memang sedang bertumbuh bakal janin dalam rahimku!

***

Sejak awal menikah pada Oktober 2015, hampir setiap bulan aku membeli alat tes kehamilan di apotek. Pernah sekali membeli alat tes kehamilan yang harganya lumayan, Rp 40.000. Mungkin hasilnya lebih akurat, kupikir. Lebih jauh dan tidak logisnya lagi, aku berpikir saat menggunakan alat tes kehamilan mahal ini, mungkin hasilnya bisa ‘garis dua’. Haha.... yang membuat ‘garis dua’ itu kan bukan alatnya, melainkan kadar HCG dalam urin sebagai indikator kehamilan. Yaa siapa tahu karena alat ini harganya mahal, terus aku jadi hamil, wkwk. Well, jangan ditiru yah sodara-sodara, pola pikir lulusan S2 ini yang kalau lagi berharap punya anak, logikanya mendadak hilang tenggelam di dasar bumi. Nyatanya, garis yang muncul saat aku melakukan tes tetap satu. Negatif. Aku pun menghela nafas dan tidak pernah lagi membeli alat tes yang mahal. Bulan-bulan berikutnya, setiap ke apotek untuk membeli alat tes kehamilan dan ditanya mau yang mana, dengan tegas aku menjawab, “Yang harganya Rp 4.000 saja.”

Selain kebiasaan membeli testpack (alat tes kehamilan) setiap bulan, kebiasaanku yang lainnya adalah mengajak ngobrol perutku di saat-saat tertentu. Terkadang aku berimajinasi bahwa aku sedang hamil, dan mengajak bicara anak dalam kandunganku tentang apa saja. Bagiku realisasi imajinasi adalah salah satu bentuk ikhtiar mewujudkan doa dan harapan. Atau anggap saja aku sedang berlatih cara mengobrol dengan janin dalam kandungan. Padahal berkali-kali yang saat itu sedang aku ajak bicara sesungguhnya adalah baso, tahu, atau nasi goreng di dalam perut!

Aku rasa sudah menjadi hal yang umum terjadi pada setiap pasangan baru menikah jika ditanya perihal momongan. Bulan pertama menikah, tetangga sebelah bertanya, “Sudah isi belum?”... Bulan kedua menikah, keluarga dari pihak istri bertanya, “Sudah isi belum?”... Bulan ketiga, keluarga dari pihak suami giliran bertanya, “Sudah isi belum?”... Dan bulan-bulan berikutnya, setiap orang yang ditemui seolah-olah mendapat giliran pesan berantai untuk menanyakan hal serupa.

Dan aku? Saat suasana hati sedang tenang, aku dengan santai akan menjawab, “Alhamdulillah, tadi baru isi nasi,” atau “sudah isi lontong tadi,” atau “tadi barusan isi risol.” Atau minimal menjawab dengan kalimat normal, seperti “mohon doanya”. Namun, terkadang mendapat pertanyaan demikian juga bisa mencipta baper. Aku pun mengalami pasang surut emosi tersebut. Mulai dari hati yang penuh harap bahwa aku bisa segera hamil, mendadak risih dengan pertanyaan orang-orang, meminta doa dari banyak orang, berpikir apakah aku bisa hamil?, sampai............... sampai sampai aku lupa emosi apa saja yang pernah kurasakan ^^”.

Aku dan suami beberapa kali membahas tentang perlu tidaknya kami mengikuti program hamil, tetapi pada akhirnya kami memutuskan untuk menjalaninya secara alami. Toh, tesisku saat itu belum selesai. Kami baru menikah dan masih banyak adaptasi dalam berbagai hal. Awal-awal menikah juga diriku masih disibukkan oleh beberapa proyek dari konsultan tempatku bekerja. Bagaimanapun, ketenangan hati dan kesehatan fisik diperlukan untuk suksesnya proses pembuahan, bukan?

Aku menyelesaikannya satu per satu. Setelah usai beberapa proyek, aku memutuskan untuk off terlebih dahulu dari dunia perproyekan. Suamiku terus memberikan semangat dan dukungan agar aku segera menyelesaikan studi. Dinamika dalam rumah tangga juga kami coba kelola dengan komunikasi yang baik. Aku terus menanamkan afirmasi positif bahwa semua akan selalu hadir tepat pada waktunya. Toh, Rasulullah Saw dan Khadijah pun baru memiliki anak setelah tiga tahun pernikahan mereka. Sudah sepatutnya aku mampu untuk lebih bersabar, kan?

Akhirnya aku memutuskan untuk sungguh-sungguh menikmati masa berdua. Agar tidak perlu ada keluhan di masa mendatang saat anggota keluarga kami nanti bertambah, lalu aku berkata, “Pengen bisa berduaan lagi deh, sekarang susah sekali mau jalan berduaan kayak dulu.” Pun aku bertekad dan berdoa agar tidak sampai keluar dari lisanku ucapan, “Duh, anak banyak kayak gini repot banget yah, beda sama kayak dulu waktu masih satu.” Nikmati...nikmati...syukuri.... Saat sudah ada anak nanti, pasti akan berbeda dengan saat masih berdua. Saat punya anak dua, tiga, atau empat, pasti berbeda juga dengan saat masih baru punya satu anak. Jadi, aku ingin sungguh-sungguh menikmati setiap fase yang kulalui. Dan diantara semua rasa harap dan cemas akan hadirnya buah hati, aku terdiam saat ayahku mengatakan, “Itu hak prerogatif Allah.” Entah kenapa, kalimat tersebut membuat hatiku begitu tenang. Mengingatkanku kembali bahwa setelah ikhtiar dan doa, kewajiban berikutnya adalah tawakal. Tidak seharusnya aku merasa terlalu cemas ataupun terpengaruh karena pertanyaan dari orang-orang.

***

17 November 2016

Kejutan itu pun datang. Pagi hari selepas suamiku berangkat kerja, aku penasaran ingin melakukan tes, walaupun baru telat dua hari. Jeng... jeng... jeng...!!! Dua garis!!!!! Subhanallah, ini sungguhan? Apa alat testpack-nya valid? Biasanya aku sudah telat seminggu saja hasilnya tetap satu garis. Masih dalam rasa tidak percaya, aku mengulangi tes. Hasilnya sama, dua garis. Dengan mata nyaris tak berkedip dan hati yang mulai meletup-letup takjub, aku pun mengucap hamdalah. “Alhamdulillah.... Alhamdulillah.... Alhamdulillah....”

Aku mengirimkan foto hasil tes ke suami melalui whatsapp tanpa penjelasan apapun. Penasaran mengetahui reaksinya. Satu menit, dua menit, kok tidak direspon? Padahal sudah dibaca, hmmm... Menit ketiga, teleponku berdering. Suara suamiku terdengar serak di ujung sana. “Neng? Neng hamil?”

Aku mengangguk. Lupa bahwa itu telepon, bukan video call. Buru-buru aku ralat, “Iya A, alhamdulillah.”

Dan suamiku mengucap hamdalah berkali-kali. Mengatakan ingin menangis, tetapi malu karena sedang berada di dalam kereta. Itu pertama kalinya suamiku berbicara di telepon dengan begitu ekspresif. Aku yang tadinya tidak terpikir untuk menangis, jadi ikutan menangis karena mendengar suamiku ingin menangis. Dan akhirnya aku pun menangis, sambil tersenyum. Haduh, apa sih ini bolak-balik gini kalimatnya >D<....

Hari itu, aku pun periksa kehamilan di bidan untuk pertama kalinya. Bu bidan meyakinkanku bahwa hasil tes-ku memang positif dengan usia kehamilan kurang lebih empat minggu. Beliau menanyakan kondisiku, menyemangatiku untuk bersiap-siap jika terjadi perubahan fisik dan psikis, dan memberiku selamat atas kehamilan pertamaku. Alhamdulillah, ternyata tanda cinta itu datang, tepat satu tahun pernikahan kami. Dan tepat setelah aku menyelesaikan revisi tesis pasca sidang di bulan lalu.

Awalnya kupikir aku tidak akan merasakan mual dan muntah, seperti diwanti-wanti oleh bidan. Ternyata aku mengalami masa-masa tersebut. Memasuki bulan kedua kehamilan, aku mulai merasakan mual. Bukan di pagi hari seperti teori umum bercerita (morning sick), melainkan siang sampai sore. Terkadang, sepanjang hari juga sih mualnya, tetapi dalam kadar yang ringan.

Sempat mual mencium bau ikan dan bau-bau tajam lainnya juga. Sempat kesulitan untuk mencuci piring, karena tidak tahan oleh bau piring kotor. Alhamdulillah, suami beberapa kali dengan sigap mengambil alih tugasku. Beberapa kali juga muntah selama trimester pertama tersebut, apalagi kalau mencium bau asap kendaraan di jalan. Setiap pagi aku menjadi sebal sama orang-orang yang berangkat kerja atau sekolah dengan kendaraan bermotor dan asapnya tercium hingga ke kamar. Suami pun menjadi korban mualnya istri saat pulang kerja. Maklum, sepanjang perjalanan pergi-pulang kantor, pasti banyak asap dan debu yang menempel. Alhasil saat aku mencium tangan suami, bereaksi-lah hormon-hormon mualnya, hehe.


Kontrol hamilku berganti-ganti antara bidan dan dokter. Saat ada suami yang bisa mendampingi, aku kontrol ke dokter di rumah sakit. Bisa sekalian USG juga. Kalau sedang sendiri, aku cukup kontrol ke bidan saja, haha. Hemat. Urusan hemat perhematan ini sempat menjadi dinamika rumah tangga juga selama proses kehamilan, khususnya dalam memutuskan tempat persalinan nanti. Tunggu ya, aku akan menceritakannya di episode berikutnya, insyaallah.

Cerita seru selama trimester awal kehamilan ini adalah saat aku masih harus bolak-balik kampus mengurus perbanyakan tesis dan daftar wisuda. Aku juga harus mengurus pengembalian biaya SPP semester ganjil yang sudah sempat kubayarkan sebelumnya karena jadwal sidangku yang sudah masuk semester baru. Lumayan bisa kembali 30%. Itu harus diperjuangkan. Namun, apalah daya sebab mualku kian hari kian bertambah. Aku tidak bisa setiap hari ke kampus. Akhirnya menyelesaikan segala tetek bengek administrasi pun berjalan lebih lambat dari yang seharusnya. Saat petugas TU Pascasarjana IPB melihat tanda pengambilan berkasku, ia pun heran.

“Kok baru diambil sekarang, Mbak?”

“Lagi hamil muda, Pak. Mual-mual saya.”

Mimik wajah si bapak yang awalnya agak jengah, seolah berkata ‘Males gue ngurusin mahasiswa yang lambat ngurus administrasi’ berubah menjadi sumringah, dan sambil tersenyum mengucapkan selamat padaku. Masih ditambah pula dengan sedikit ramah tamah menanyakan kondisi kehamilanku dan asal daerahku darimana, wkwk. Jadi ramah banget pokoknya! Bersyukurnya tinggal dengan budaya timur itu adalah fakta ibu hamil selalu bisa menjadi alasan dan dispensasi untuk banyak hal :p...

Contoh lainnya adalah saat naik kereta commuter Jadebotabek. Kondisi hamil muda tentunya belum terlalu kelihatan seperti orang hamil, karena perutnya belum membesar. Namun, setiap kali aku harus naik kereta, suamiku akan mengajakku ke arah kursi prioritas dan meminta penumpang yang kurang berhak untuk memberikan kursinya padaku. Jikapun aku harus naik kereta sendiri (tanpa suami), aku pun akan mengatakan bahwa aku sedang hamil. Untuk berjaga-jaga, aku selalu membawa buku rekam medik kehamilan kemana-mana. Supaya kalau ada oknum penumpang yang tidak percaya tentang kehamilanku, aku akan langsung mengeluarkan buku tersebut agar mereka paham bahwa ‘Nih, gue beneran hamil!’ wkwk... Tapi alhamdulillah sih, penumpang selalu percaya. Jadi aku tidak perlu sampai mengeluarkan buku rekam medik kehamilan, hhe.

Poin penting saat di tempat publik seperti kereta adalah kita harus mengatakan dan meminta dengan jelas hal yang kita butuhkan. Jangan selalu berharap bahwa orang-orang di sekitar kita harus paham dengan kode-kode yang kita berikan, seperti memaju-majukan perut (supaya orang tahu kita sedang hamil), atau misalnya pura-pura mual (tapi kalau aku memang mual sungguhan sih ^^”). Katakan dengan jelas, “Permisi, boleh gantian duduknya? Saya sedang hamil.” Urusan orangnya percaya atau tidak, bukan tanggung jawab kita.

Cara menyiasati lainnya adalah dengan naik ke gerbong campuran. Kalau sedang hamil, sebisa mungkin hindari naik kereta khusus wanita di jam-jam sibuk. Persaingan antar-wanita itu bisa lebih kejam daripada soal ujian nasional!!! Lagipula, kursi prioritas di gerbong wanita biasanya cepat penuh dengan orang-orang yang memang prioritas, seperti para lansia. Jadi, aku selalu memilih gerbong campuran dan mencari kursi prioritas yang isinya ‘tidak prioritas’. Kalau kondisi di gerbong sedang sulit karena terlalu penuh atau penumpangnya pada tidur semua (haha, ini lebay sih,,,), cara jitu terakhir adalah dengan mencari petugas dan meminta tolong, wkwk.

It’s really happy moment to be a pregnant woman. Alhamdulillah.... :D

Nantikan cerita berikutnya yah ^.^  



-to be continued-

sumber gambar:
1. soloraya.net/mendorong-keberfungsian-kelas-ibu-hamil/kartun-ibu-hamil-muslimah/
2. https://www.brilio.net/life/13-ilustrasi-ini-ungkap-suka-duka-jadi-ibu-hamil-jangan-durhaka-ya-1603026.html

Saatnya Lebaran, Saatnya Kondangan :p

Selasa, 04 Oktober 2016

sumber gambar: katakata.me

Suasana lebaran di negeri ini, biasanya tidak jauh-jauh dari suasana hajatan dan memenuhi undangan walimahan kawan, rekan, ataupun sanak-saudara. Bulan Syawal (lebaran Idul Fitri) yang lalu ramai rasanya undangan datang silih berganti. Memasuki Bulan Dzulhijah (lebaran Idul Adha) sampai tahun baru di Bulan Muharam sekarang, masih berduyun-duyun undangan datang melalui bentuk tercetak ataupun pesan elektronik.

Seharusnya aku juga tidak boleh lupa bahwa tahun lalu aku pun menikah di bulan “musim nikah”, wkwk... Aku menikah di penghujung Bulan Dzulhijah. Dan sekarang sudah masuk tahun baru lagi di Bulan Muharam. Baru kusadari kembali saat tadi pagi berpapasan dengan pawai tahun baru Hijriyah yang disemarakkan oleh anak-anak sekolah dengan berkeliling jalan dan komplek, membawa poster sambil membagikan permen, serta memainkan musik dan bunyi-bunyian sepanjang perjalanan. Iring-iringan pawai yang kutaksir mencapai panjang satu kilometer. Seingatku, tahun lalu aku menyaksikan pawai yang begitu ramai di sepanjang jalan lingkar Kebun Raya Bogor setelah aku menikah pada 10 Oktober. Kenapa sekarang sudah pawai lagi yah, padahal belum waktunya anniversary?

“Ukuran tahun Hijriyah ‘kan lebih pendek dari tahun Masehi, duduuuul....” otak bagian logika-ku berkomentar sebal.

Oh iya, benar juga. 

Well, senang sekali rasanya bisa berpapasan dengan pawai tahun baru hari ini. Seperti sedang menonton pertunjukan yang tidak kurencanakan sebelumnya. Seperti tahun lalu yang tidak kusangka-sangka. Suamiku jatuh sakit selepas acara pernikahan, sehingga rencana jalan-jalan bulan madu kami ke luar kota pun batal. Namun, dalam sakitnya ia tetap memaksakan diri mengajakku berkeliling kota. Walaupun itu hanya mengunjungi stasiun dan makan bersama di kafe, tetapi nyatanya aku beroleh gembira lebih dari yang kukira. Aku bisa menyaksikan pawai kolosal yang begitu seru di jalan. Aku bisa menikmati hujan sambil ditemani sup panas dalam temaram lilin yang romantis. Dan... aku jadi berharap bahwa aku bisa menyaksikan pawai seperti ini setiap tahun. Pawai Tahun Baru Islam. Pengingat bahwa aku harus memulai segalanya dengan penuh syukur. Pengingat bahwa aku harus memulai kembali berkarya dan menebar sebanyak-banyaknya manfaat. Pengingat bahwa aku telah memulai untuk memberikan baktiku pada seseorang yang disebut suami, hehe....

***

Baiklah, di episode kali ini, aku ingin bercerita tentang salah satu undangan pernikahan yang kuhadiri beberapa waktu lalu bersama suamiku. Pernikahan dua orang teman SMA yang proses perjalanannya unik. Kita sebut saja mereka sebagai Dono dan Manda. Dono adalah temanku dari SMP-SMA, satu organisasi di Rohis, dan pernah satu tempat les bahasa Inggris juga saat SMP. Manda baru kukenal saat bertemu di SMA, satu organisasi juga di Rohis, dan satu tempat bimbingan belajar saat kelas 3 SMA.

Proses perjalanan mereka menuju pernikahan membuatku begitu penasaran, karena aku cukup dekat dengan keduanya saat masa sekolah dulu. Aku dan sahabatku, Irma, sering sekali membicarakan Dono sejak SMP kala kami membahas tentang dinamika organisasi sekolah ataupun tentang ragam uniknya teman-teman kami. Dan tidak pernah nama Dono tidak disebut dalam setiap obrolan. Bagi kami, Dono adalah teman yang paling kami apresiasi tinggi atas “catatan bersih”-nya dalam pergaulan. Saat SMP dan banyak dari teman kami di Rohis terjerat ‘virus merah jambu’ dan mengekspresikan masa puber dengan saling memberi perhatian pada lawan jenis, menolak untuk berpacaran tetapi menjalani HTS (hubungan tanpa status), ataupun mengatakan hanya berteman tetapi sering terlihat jalan bersama berdua, Dono adalah satu-satunya anggota Rohis laki-laki yang tidak kami kirimkan surat kaleng. Yup, dalam kepengurusan Irma sebagai ketua keputrian saat itu dan aku sebagai penasihat bayangannya (haha... beneran, dulu itu jabatanku ^^”), kami berdua memutuskan untuk menuliskan surat kaleng yang kami kirimkan diam-diam sebagai bentuk peringatan dan kepedulian kami kepada saudara-saudara kami di Rohis. Hampir seluruh pengurus Rohis laki-laki dalam kepengurusan kami saat itu mendapatkan surat kaleng tersebut, kecuali Dono. Aku lupa bagaimana Dono sampai bisa memiliki catatan paling bersih dalam catatanku dan Irma, padahal perilakunya di kelas tak jarang membuat kami berdua sebal. Namun, selain pintar dan rajin, Dono memang ringan tangan untuk membantu teman, tidak pernah menyontek saat ujian, dan tidak pernah sekalipun pacaran.

Rupanya saat masuk SMA, Dono jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu Manda, alumni SMP sebelah. Aku baru tahu menjelang pernikahan mereka, bahwa sebagai remaja, Dono juga pernah melakukan seperti kebanyakan remaja yang jatuh cinta lainnya, pedekate. Dono sering mengirimkan pesan singkat pada Manda sebagai ekspresi perasaannya, walaupun tidak secara langsung. Sahabat Manda, kita panggil saja Aisha, melihat itu seperti sebuah kode. Aisha pun mengomeli Dono untuk lebih menjaga sikap. Dan, perilakunya itu tidak tertangkap oleh rekam jejak aku dan Irma, haha. Bagi kami berdua, ia tetaplah teman satu pemahaman yang sangat kami hargai atas keteguhannya dalam menjaga hati.

Saat lulus SMA, Dono dan Manda berada pada fakultas yang berbeda (saat SMA juga sudah beda jurusan sih ^^”), tetapi mereka masih berada pada universitas yang sama. Selama empat tahun kuliah, Dono tidak berkutat pada perasaan yang sempat menyapanya semasa SMA itu, bahkan mungkin ia sempat lupa dan tidak lagi memikirkan Manda karena padatnya aktivitas, perkuliahan, dan tugas-tugas. Barulah setelah lulus sarjana, ia mulai menata kembali rencana masa depan dan memikirkan perkara pendamping hidup. Dono mengajak Manda untuk berproses ke arah yang serius. Manda menolak. Ia belum berencana untuk menikah saat itu, alasannya.

Dono pun pergi ke Edinburg untuk melanjutkan studi program magister. Selama di sana, ia masih berusaha  untuk menghubungi Manda, dan mencoba kembali untuk meluluhkan hati Manda agar besedia berproses untuk menikah dengannya. Rencana Dono adalah Manda bersedia untuk berproses jarak jauh, sehingga saat ia kembali ke Indonesia, mereka tinggal melangsungkan acara pernikahan. Apalah mau dikata, takdir selalu mengajarkan bahwa kenyataan tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan. Komunikasi diantara mereka tidak berjalan mulus. Dono merasa ‘digantung’, sedangkan Manda berpikir tidak ada kejelasan dan kepastian dari komunikasi yang mereka jalani. Untuk kedua kalinya, Dono merasa bahwa Manda menolaknya.  

Aku membayangkan kisah Dono yang mirip dengan Arai. Ditolak dan diabaikan oleh Zakiah Nurmala berkali-kali. Terdampar di benua Eropa, lalu membacakan puisi untuk Zakiah dan mengungkapkan segala resah rindunya dalam penghayatan yang begitu dalam di hadapan orang-orang asing yang tidak mengerti bahasa Indonesia, hehe... 

Sayangnya, hal tersebut hanya ada dalam bayangan hiperbola-ku. Dono bukan tipe orang galau yang suka mendramatisasi perasaan. Ia menyelesaikan studinya tepat waktu, pulang ke Indonesia, dan mencoba memperjuangkan Manda kembali. Salah seorang sahabat Manda mencoba menjembatani mereka, hingga akhirnya mereka memulai proses ke arah serius dengan murabbi mereka sebagai perantara-nya. Di tengah jalan, Dono menghentikan proses. Ada hal tertentu yang dirasa tidak sesuai dengannya. Mereka pun kembali berjalan sendiri-sendiri.

Dono sempat hendak berproses dengan yang lain, begitu pula dengan Manda. Tidak ada yang cocok. Dan sekali lagi, begitulah takdir berbicara. Sejauh apapun kita melangkah, sebanyak apapun jarak memisahkan, orang-orang yang ditakdirkan bersama, pasti akan bertemu kembali. Dan untuk kesekian kalinya, setelah meminta maaf berkali-kail, Dono memohon kembali untuk berproses serius dengan Manda. Perjuangannya kali ini berbuah manis. Manda telah menjadi istrinya, kini.

***

Aku mengingat beberapa petuah tentang layaknya rasa suka dan perjuangan akan cinta. Salah satu orangtua ideologisku yang biasa kupanggil dengan sebutan Pa’e, selalu berkata untuk

“Jangan menyerah sebelum ditolak 21 kali!”

Fitrahnya laki-laki adalah untuk mengejar dan memperjuangkan. Kisah Dono dan Manda menjadi bukti nyata yang kurasakan langsung dari mereka yang pernah berinteraksi dekat denganku. Dono tidak menyerah dan berputus asa, walaupun Manda pernah menolaknya. Dan begitulah seharusnya mental pejuang! Tunjukkan kesungguhan dengan tidak mudah menyerah, sebelum ditolak 21 kali, hehe... Kalau ingin tahu kenapa harus 21 kali, ikut pelatihan Forum Indonesia Muda dulu, kuy! Nanti dikasih tahu langsung rumusnya oleh Pa’e ^.^....

Teringat pula olehku tentang sekian banyak quotes milik Tere Liye yang sering mengangkat urusan perasaan dan rasa suka yang umumnya tumbuh di kalangan remaja. Tentang bahwa sejatinya cinta itu bukan dengan mengumbar-umbar, mengatakan, atau memamerkannya kepada yang bersangkutan yang belum ada ikatan apa-apa dengannya. Yang membuat rasa suka itu berubah hambar, semakin sering ia menunjukkannya. Yang membuat diri sendiri bertanya-tanya, apakah benar sebesar itu rasa suka yang dimilikinya terhadap orang yang bersangkutan. Urusan rasa, jika tidak ditempatkan pada yang seharusnya, tidak akan membawa keberkahan apa-apa. Alih-alih malah membuat Yang Maha Mencinta menjadi tidak ridho pada ekspresi rasa yang kita tuangkan, naudzubillah kan jadinya.

Dono pernah memiliki rasa suka saat remaja. Ia, seperti kebanyakan para pecinta lainnya, juga mengekspresikan rasa sukanya pada yang dicinta. Namun, tidak berlebihan. Tidak diumbar hingga dunia tahu bahwa ia sedang menyukai seorang wanita. Tidak juga menyakiti harga diri yang disuka dengan mengajaknya kepada hal yang tidak Allah suka. Begitu pula sang wanita yang senantiasa menjaga diri dan hatinya, yang tidak mudah luluh pada perhatian dan kebaikan lelaki di sekitarnya, yang menyimpan kekayaan cintanya untuk dicurahkan pada saat yang seharusnya. Sehingga kesabaran mereka berbuah indah pada akhirnya. 

Dan....

Dari semua rasa takjub, kaget, bercampur senang yang kurasakan saat mendengar kabar bahagia kedua teman sekolahku tersebut, hal pertama yang aku ingat adalah kalimat yang pernah disampaikan oleh calon suamiku saat kami berproses dahulu. Kalimat yang menguatkanku bahwa ia bersungguh-sungguh terhadap niatan baiknya. Kalimat yang sekaligus membuatku tenang dan kembali mantap untuk berjuang bersamanya menuju ikatan suci, dan terus berjuang seterusnya di dalam ikatan ini. Tentang perjuangan, bahwa

"Kesungguhan hati seorang pria itu tidak bisa dilihat dari seberapa kuat ia mengejar seorang wanita. Tapi itu bisa terlihat dari seberapa kuat ia menjaga perasaannya agar tetap suci sampai saatnya halal tiba, kemudian ia lampiaskan perasaannya dengan bahagia tak terperi pada wanita yang Allah tunjukkan padanya."
(Yogaswara, 2015)

Akhir kata, barakallah untuk semua pasangan yang menikah pada bulan-bulan musim nikah ini, hehe.... Spesial untuk Manda, selamat yaa... telah menjadi istri seorang Dono yang begitu kuat dalam menjaga hati dan akhlaknya lurus sesuai ajaran-ajaran kewarganegaraan dan budi pekerti ibu pertiwi. Juga untuk Dono, selamat telah berhasil memperjuangkan cintanya pada koridor yang sewajarnya. Mendapatkan Manda yang cantik nan sholihah sebagai teman perjuangan dakwah dan penenteram jiwa dunia akhirat, insyaa Allah. Semoga keluarga kalian senantiasa berlimpah kebaikan dan keberkahan. Barakallahulaka wabaraka ‘alaika wajama’a bainakuma fii khaiir....

***

Nikmati Perjalananmu, Kawan!

Kamis, 27 Agustus 2015

Dalam suatu perjalanan sore untuk pulang, terlintas sebuah renungan singkat yang membuatku tersenyum.

Saat itu aku baru pulang dari sebuah acara di hotel bersejarah di kotaku. Aku menuju stasiun dengan berjalan kaki menyusuri trotoar. Jarak antara hotel dan stasiun sekitar satu kilo, tak begitu jauh menurutku. Tapi rupanya lumayan juga buatku berkeringat, haha... ketauan jarang jalan, nih...

Begitu melihat arena stasiun dengan rel-relnya dan rangkaian gerbong kereta yang berjajar rapi di kejauhan, rasanya ingin masuk segera dan duduk di dalam kotak besi ber-AC itu sambil menyelonjorkan kaki. Namun, aku harus menahan sejenak harap tersebut. Sesaat aku merindukan akses pintu utama stasiun lama yang terletak di sisi timur, sementara sekarang posisi pintu utama  terletak di sisi barat. Aku yang berjalan kaki dari arah timur tentu harus memutar untuk masuk ke stasiun.


Jalur masuk di sisi barat sebenarnya bukan satu-satunya akses untuk masuk ke dalam stasiun. Terdapat jembatan penyeberangan yang menghubungkan langsung pejalan kaki dari luar ke dalam. Setelah aku melewati trotoar di Jl.Nyi Raja Permas, melewati pemandangan jajaran rangkaian gerbong kereta dari balik pagar pembatas, melihat keriuhan calon penumpang di arena lobi sekitar loket, aku sempat terdiam selama satu detik. Yap. Hanya satu detik. Karena hanya itu waktu yang kumiliki untuk segera mengambil keputusan. Apakah aku akan masuk stasiun melalui pintu barat? Ataukan naik tangga melalui jembatan?

Oke, berpikir memilih jalan yang mana yang harus ditempuh hanya dalam waktu singkat bukanlah perkara sepele. Ini harus dipikirkan masak-masak. Jika aku memilih untuk mengambil pintu barat, itu berarti aku harus berjalan lebih memutar, lebih jauh, dan otomatis waktu yang dibutuhkan untuk sampai di kursi kereta yang empuk akan lebih lama, padahal aku ingin sekali segera masuk ke dalam! Sementara jika aku memilih untuk naik tangga jembatan yang terletak di sisi selatan, itu akan memakan waktu lebih cepat, tetapi energi yang akan kukeluarkan akan lebih besar karena harus naik tangga yang anak tangganya terhitung tidak manusiawi. Aku tidak paham siapa yang mendesain jembatan ini di masa lalu, tapi yang jelas ukuran anak-anak tangganya yang terlalu tinggi selalu membuatku ngos-ngosan begitu tiba di atas. Hmm.. apa karena badanku yang tidak tinggi semampai yah, sementara jembatan ini dibuat untuk kaum kolonial di zaman dulu yang badannya besar-besar? Entahlah.

Yang jelas, aku harus segera memutuskan. Mau pilih jalan memutar yang lebih lama, atau jalan menanjak yang lebih melelahkan? Tidak ada waktu untuk menghitung kancing, apalagi untuk salat istikharah. Aku harus memilih dalam waktu satu detik! (soalnya kalau aku diam terlalu lama di trotoar, tentu akan menghalangi para pejalan kaki yang lain, hee ^^")

Dan.... aku pun memilih jalan memutar dan masuk lewat pintu barat. Lebih jauh memang, mungkin memakan waktu lebih lama daripada lewat jembatan, tetapi kurasa aku bisa lebih menikmatinya dibanding ngos-ngosan begitu tiba di dalam stasiun. Yaah.. dan aku pun menikmatinya.

Ini hanya soal pilihan. Tidak ada yang salah dalam memilih jalan, selama jalan itu memang disediakan untuk dilewati. Toh, tujuannya sama. Stasiun Kereta. Alasanku memilih jelas, walaupun kedua pilihan sama tidak enaknya. Tapi aku memilih jalan yang kurasa bisa lebih kunikmati daripada kurutuki. Dan jika ada orang lain yang memilih jalan menanjak lewat jembatan, tentu pilihannya pun tidak salah. Ia lebih nyaman untuk sampai lebih cepat walaupun dengan energi yang lebih banyak harus dikeluarkan. Yang salah adalah jika aku memilih melompati pagar stasiun dan langsung masuk ke lobi. Itu cara yang paling cepat sebenarnya, dan sempat juga terlintas di benak. Tapi yaa... itu curang... dan risikonya juga besar. Aku bisa ditangkap petugas. Paling keren bisa masuk koran pagi esok harinya.

Hal yang membuatku tersenyum adalah, seketika aku mengingat perjalanan hidupku yang penuh liku dan berputar-putar (halah!). Dalam setiap fase yang harus kau lalui, kau selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Dan tugasmu hanya memilih. Tujuanmu satu, tapi mungkin jalan yang ada sangat banyak. Pilih saja jalan yang menurutmu paling benar, dan nikmatilah perjalananmu. Pada saatnya, kau pasti akan sampai. Tidak perlu menyesal pada pilihan yang telah kau ambil, karena kau memilih jalan yang benar. Bukan dengan cara 'melompati pagar'. Jadi, nikmati saja. Karena aku pun menikmatinya :)

NIkmati perjalananmu, kawan!

Pesan Buya #3 Sabar

Selasa, 28 April 2015



"Kesempuranaan tanggung jawab adalah sabar. Bukan hanya halangan dari yang benci dan sayang yang akan menghambat. Bahkan, banyak keadaan lain yang harus dihadapi, dilalui, atau diatasi. Pengalaman hidup menunjukkan bahwa suatu keadaan yang sulit tidaklah terus dalam kesulitannya. Hari ini ada kemudahan, besok pasti ada kesulitan. Namun, kita percaya kesulitan itu tidak terus-menerus melainkan akan terlepas dan akan menjadi salah satu mata rantai dari kenangan hidup.

William Pitt, negarawan Inggris yang terkenal, pernah bertanya kepada teman-temannya, "Sifat apakah yang harus ada pada seorang perdana menteri?" Seseorang menjawab, "Lidah yang jelas berkata-kata." Seorang lagi menjawab, "Luas ilmunya." Kata yang seorang lagi, "Giat bekerja!" Akhirnya William Pitt berkata, "Pada hemat saya, syarat yang utama bagi seorang perdana menteri adalah kesabarannya."

Teringatlah kita Dr.H.Muhammad Hatta, ketika menjadi perdana menteri. Ingatlah Perjanjian Renville yang ditinggalkan Amir Syarifuddin. Dengan matanya yang tenang, dia melihat dari pinggir Ngarai Bukittinggi, bagaimana kekalahan dan kesalahan kita, yang telah terjadi sejak Revolusi Surabaya, penculikan Syahrir. Linggarjati, tindakan pertama, lalu kepada Renville. Kesudahannya yang lain tidak dapat dilaksanakan lagi, benang telah bertambah kusut. Wakil presiden Hatta pun dijemput ke Sumatera. Hanya dialah yang ditunggu. Dialah "orang waktu".

Sampai di Jawa, dilaksanakan perkataannya yang pernah diucapkan bahwa pemimpin pada suatu waktu harus sanggup menjadi perdana menteri. Kepercayaan rakyat belum rusak kepada Soekarno dan Hatta. Jatuhlah kabinet Amir Syarifuddin lalu berdiri kabinet presidentil. Hatta, dari wakil presiden menjadi perdana menteri. Diterimanya Perjanjian Renville, tetapi tangannya sendiri yang harus memegang walaupun sebetulnya hatinya tidak menyetujui. Seakan dia berkata, "Hancur negara ini kelak jika yang muda-muda dibiarkan juga."

Amir menyusun kekuatan. Muso datang dari Moskow. Dengan berbagai akal perang ingin menjatuhkan kabinetnya. Dahulu, KNIP di Malang, pertama kali dia menunjukkan siapa dia dan siapa Soekarno. Dia berkata, "Jika undang-undang yang kami kemukakan tidak diterima, Tuan boleh mencari presiden dan wakil presiden yang lain!" Majelis diam.

"Singa Hatta" keluar kembali, setelah dia mengetahui bahwa Muso-Amir akan melakukan tindakan tidak sah. Dalam sidang KNIP telah dinyatakan, "Kita tidak mau menjadi obyek dari dua negara besar yang sedang bertentangan.  Kita akan menentukan nasib kita sendiri! Segala sikap yang mengganggu keamanan akan kita tindas dengan tangan besi!" Timbullah pemberontakan Madiun yang menyedihkan. Hatta menebus apa yang telah dinyatakan mulutnya. Aksi Madiun dipatahkan dengan tidak mengenal ampun.

Masih belum selesai di Madiun, Belanda mengambil kesempatan, tindakan agresi kedua dilakukan. Dengan perhitungan tepat, Hatta telah mengatur lebih dahulu segala persiapan. Maramis ke luar negeri, Syafruddin meneruskan perjuangan gerilya di Sumatera dan Presiden beserta dia menjadi tawanan. Gerilya menghebat, dunia geger. Belanda terpaksa melanjutkan pembicaraan dan mengajukan jempolan ulungnya, Van Royen. Hatta memberikan anak caturnya, Roem.

Konferensi Inter-Indonesia, Konferensi Meja Bundar, Penyerahan Kedaulatan dan Republik Indonesia Serikat. Dan kembali lagi ke negara kesatuan. 

Belum berapa hari penyerahan kedaulatan, muncul peristiwa Westerling. Kedapatan niat Hamid II merobohkan pemerintahannya dan membunuhnya. Timbul peristiwa Makassar. Akan adakah lagi?

Akan banyak lagi perkara besar yang dihadapinya. Tetapi pribadi Hatta, selain Presiden Soekarno, akan tetap menjadi salah satu bintang kemanusiaan di Asia, bahkan di dunia karena kesabarannya. Jika kita ingin mencari arti yang sebenarnya tentang sabar, setelah Indonesia merdeka, ambil saja artinya dari pribadi Hatta.

Apa sebab kami berkata seperti itu? Sebab pada zaman penjajahan, karena kelajuan aniaya dan penjajahan, menahan hati melihat kehinaan jiwa, kita telah salah memberi arti sabar. Menahan hal yang menimpa bangsa sehingga semangat menjadi pasif, itulah arti sabar pada bangsa yang lemah.

Sekarang Hatta sudah meninggal. Penghargaan yang kita berikan adalah haknya. Sebagai manusia, tentu dia memiliki kekurangan, yang akan cepat tampak oleh orang-orang yang tidak menyetujuinya. Bukankah itu yang bernama politik?

Khalid bin Walid dalam pidatonya mengatakan, "Hai umat Islam! Sabar adalah kemuliaan dan kalah adalah kehinaan. Kemenangan ada pada kesabaran."

Memang, jika tidak ada kesabaran menderita, kesabaran yang ada pada rakyat yang berjuang dan bergerilya selama empat tahun, ditimpa kemelaratan dan kemiskinan, dengan kekurangan alat senjata--selain adanya iman--agaknya tidaklah akan sampai terpancang bendera Dwiwarna di puncak Istana Merdeka. Keguncangan menghadapi keadaan genting dan hebat adalah tanda kelemahan jiwa. Itulah pangkal kekalahan.

Pribadi yang kuat tidak cepat terguncang. Apa dikatakan yang sulit oleh si lemah jiwa, adalah "perkara kecil" kata pribadi besar. Orang yang lemah tetapi bersabar akan lebih menang daripada orang kuat tetapi terburu-buru dan terlalu bernafsu.

Jika kesabaran telah menjadi sebab kemenangan bagi orang besar, seperti William Pitt dan Hatta, kesabaran pulalah yang akan mengukuhkan pribadi orang biasa hingga dapat menjadi orang besar. Isaac Newton menjadi orang besar karena kemarahan gurunya sebab menyangka otaknya tumpul. Suatu hari gurunya marah, "Hai, Isaac! Kenapa engkau tidak juga paham apa yang saya ajarkan?" Dengan sedih murid yang tumpul otak itu menjawab, "Janganlah marah kepada saya, Pak Guru! Anda saya perhatikan, tidak ada ajaran guru yang saya biarkan lepas dari telinga saya dan saya tidak pemalas. Namun, belum juga bisa! Tetapi Pak Guru, saya yakin kelak akan dapat juga." Gurunya terdiam mendengar jawaban itu.

Setelah itu, karena kesabarannya ia dapat menaiki jenjang filsafat yang tinggi sehingga dia terhitung sebagai salah seorang ahli ilmu alam yang besar. Dialah yang mendapat teori ilmu alam tentang kekuatan gravitasi karena melihat buah apel jatuh dari tangkainya. Dia pun mengaku bahwa kenaikannya lantaran kesabarannya walaupun pada mulanya otaknya tumpul.

Oleh karena itu, tepatlah di sini kita kutipkan perkataan Syekh Muhammad Abduh, seorang ahli filsafat Islam, "Sabar adalah ibu segala akhlak.""

(Buya Hamka)