Tampilkan postingan dengan label asmara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label asmara. Tampilkan semua postingan

SYUKUR DAN CINTA (3). Yang jauh itu dekat

Jumat, 17 Juni 2016




Jika biasanya sebuah kisah nyata dituliskan ke dalam bentuk cerita, novel, atau film, apakah namanya jika sebuah cerpen berubah wujud menjadi kenyataan? Berkebalikan dari yang umumnya terjadi. Sang penulis bukanlah peramal atau cenayang. Namun, hal yang harus dihadapinya dalam dunia nyata menjadi mirip dengan cerita yang pernah ditulisnya dahulu.

***

“Tak bisakah kau menutupi sedikit saja rasa beratmu dan melepasku dengan senyuman?”

Kalimat tersebut merupakan pembuka  cerpen yang pernah kutulis dua tahun silam. Cerpen berjudul Gadisku yang kutulis untuk komunitas Writinc dan diterbitkan dalam bentuk e-book. Cerpen ini terinspirasi dari salah satu lagu Michael Learns To Rock berjudul Love Will Never Lie.

Tokohnya bernama Fay dan Anisa. Mereka teman satu akademi selama empat tahun, lalu teman satu pekerjaan selama tiga tahun berikutnya, sebelum Fay  akhirnya pindah bekerja di tempat yang berbeda. Fay orang yang populer dan humanis. Tinggi, putih, tampan, cerdas, dan tentu saja digemari banyak orang. Suka iseng dan sedikit menyebalkan, karena hobinya meledek  teman-temannya yang nilai pelajarannya lebih rendah dari dirinya, termasuk Anisa.

Anisa seorang yang kalem dan anggun. Sejak awal perkenalan sudah membuat tertarik hati Fay karena Anisa berbeda dari wanita kebanyakan. Tidak banyak bicara. Tidak acuh pada tingkah iseng Fay, termasuk pada popularitas atau ketampanannya. Fay berusaha merebut perhatian Anisa dengan berbuat baik dan memberikan perhatian. Namun, Anisa tetap dingin dan tidak juga bicara, selain mengucapkan kata “terima kasih” sebagai respon terhadap kebaikan dari Fay. Anisa akan bicara agak banyak hanya jika Fay mengusiknya saat belajar. 

“Sebaiknya gunakan energi sombongmu itu untuk sesuatu yang lebih berguna, bukan dengan menumpahkannya di meja belajarku.” 

Lima belas kata itulah yang membuat Fay bahagia dibandingkan perhatiannya yang tidak diacuhkan. Baginya, pelototan gadis yang disukainya merupakan tatapan yang meneduhkan. Fay terus mengejar Anisa selama sepuluh tahun. Sampai akhirnya ia memberanikan diri untuk mempersunting gadisnya, justru saat ia tengah bergelut pada pekerjaan penuh risiko. Fay sudah bersiap untuk ditolak, toh selama ini pun ia selalu diabaikan. Namun sebaliknya, Anisa menerima lamaran Fay. Sepaket dengan risiko dari pekerjaan yang digeluti Fay saat ini.

Pekerjaan Fay adalah jenis pekerjaan yang tidak memiliki ketetapan waktu dan tempat, serta tidak ada jaminan pulang dengan selamat. Harus selalu siap sedia dikirim ke tempat yang tak jarang langka sinyal, sehingga sang istri tidak bisa mendapatkan kabar. Pernah sekali waktu Anisa sakit parah karena kehilangan kontak dengan Fay. Akhirnya saat pulang, Fay meminta Anisa untuk berhenti menghubunginya. Fay yang akan menghubunginya lebih dulu. Jika merindu, cukup tulis surat yang disimpannya di kotak di atas meja makan. Fay akan membacanya saat pulang. Begitu terus berjalan. Saling mencinta, menjaga, dan merindu dalam harap dan cemas.

Cerita lengkap cerpen Gadisku dan cerpen-cerpen lainnya yang bertema lagu dan ditulis oleh komunitas Writinc 3.0 dapat diunduh pada link dropbox berikut E-writinc #7 . 

Itu cerita Fay dan Anisa.

Tentu berbeda dengan cerita Gugi dan Najmi. 

Gugi bukan Fay. Namun, jika kubaca kembali cerita yang kutulis, Fay memiliki kemiripan karakter dengan kekasihku itu. Agak songong, suka sekali iseng dan meledek, juga populer. Aku menulis cerita Gadisku dua tahun silam. Sebulan sebelum aku mulai berpartner kembali dengan Gugi di kantor konsultan tempat kami bekerja bersama dulu. Padahal aku tidak sedang memikirkannya saat itu, apalagi menjadikannya inspirasi. Lalu bagaimana karakter mereka bisa mirip?

Aku juga bukan Anisa. Dan jika kubaca kembali cerita yang pernah kutulis, memang tidak ada satu pun karakter Anisa yang mirip denganku. Anisa kalem dan anggun, aku sebaliknya. Anisa sangat lembut perangainya, aku sebaliknya. Anisa senang belajar, aku lebih sering tertidur saat perkuliahan. Meskipun kuyakin aku lebih cerdas dari Anisa dan nilai-nilaiku juga lebih tinggi, tetapi karakterku tidak mirip dengannya. Lalu dimana kaitannya?

Perasaan.

Setelah menikah, aku justru lebih bisa merasakan emosi dari karakter yang pernah kutulis dalam cerpen tersebut. Menghadapi jenis pekerjaan kekasihku kini, mengingatkanku pada jenis pekerjaan yang juga digeluti oleh Fay dalam Gadisku. Tak pernah kubayangkan sebelumnya bahwa aku akan memiliki partner kerja yang menjadi partner hidupku selanjutnya. Partner yang kemudian berpindah kerja ke tempat yang menugaskannya pada pekerjaan yang lebih berisiko. Bepergian ke luar daerah hampir tiap pekan. Bertugas di daerah risiko tinggi dan tidak ada sinyal.

Aku tidak menuliskan secara detail tentang pekerjaan Fay dalam Gadisku. Aku hanya membayangkan bahwa Fay mungkin bekerja untuk sebuah NGO atau semacam lembaga kemanusiaan. Atau biarlah pembaca yang menentukannya sendiri. Dan aku baru tahu bahwa ada jenis pekerjaan bernama “auditor” yang mirip gambaran kerjanya dengan risiko pekerjaan yang dimiliki oleh Fay. Meskipun berasal dari perusahaan besar yang memiliki jaminan lebih baik untuk keamanan dan keselamatan, tidak pernah ada yang tahu takdir apa yang harus kita hadapi esok hari, bukan?

Pada musim hujan, kekasihku harus pergi audit ke perusahaan minyak asing di tengah laut Jawa, tidak lama setelah ia bercerita tentang kasus meledaknya galangan minyak lepas pantai dari perusahaan minyak asal Inggris di Teluk Meksiko lima tahun silam. Pernah juga ia ditugaskan berangkat ke Kalimantan, tidak lama setelah di kantor ada kabar duka tentang salah satu karyawan yang mengalami kecelakaan, diserang oleh buaya rawa, pada pulau yang sama.

Aku merasa mengerti perasaan Anisa yang berat tiap kali ditinggal pergi Fay untuk bekerja. Sama hal nya ketika aku tidak bisa menghubungi kekasihku melalu pesan singkat ataupun telepon karena tidak ada sinyal. Kali kedua kekasihku pergi ke laut lepas, aku tidak lagi berusaha menghubunginya. Mendengar nada tidak aktif dari selularnya hanya membuat khawatirku bertambah-tambah. Akhirnya aku menuggu, seperti Anisa, biarkan ia yang menghubungiku lebih dulu. Membuatku bersyukur dan lega bukan kepalang demi membaca pesan singkat yang dikirimkannya dari telepon selular rekan kerja yang mendapat sinyal lebih baik. Isinya hanya dua kalimat. Neng, aa baik-baik aja di sini. Neng sehat?

***

Teringat salah satu diskusi dengan teman hidupku yang membicarakan tentang hukum fisika yang disebut juga dengan hukum cinta. Entahlah, katanya begitu yang disampaikan oleh guru fisikanya dulu. Namanya Hukum Faraday, disebut juga dengan hukum cinta. Aku tidak pernah piawai pada hal-hal berbau fisika, walaupun banyak orang mengatakan fisika itu lebih mudah dan lebih logis dari biologi. Tetap saja aku lebih mudah mengerti biologi daripada fisika. Urusan Hukum Newton dan Hukum Relativitas Einstein saja masih suka tertukar, apalagi jika ditanya tentang perbedaan teori, hukum, dan postulat.

Baiklah, kembali ke hukum cinta. Aku tertarik mendengarnya karena pelajaran fisika ini terkesan ada unsur-unsur sastra-nya. Gugi mengatakan bahwa gaya merupakan cinta. Ia dapat berbentuk tarik-menarik atau pun tolak-menolak. Kekuatan gaya, yang juga dimaksud sebagai kekuatan cinta, berbanding lurus dengan jumlah muatan-muatannya dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak yang memisahkan kedua muatan tersebut. Ketika analogi ini dimasukkan dalam perumpamaan sepasang manusia yang saling mencinta, rasanya aku begitu mudah mencernanya. Benar juga, dua orang yang saling mengenal akan semakin kuat ikatan yang mereka rasakan apabila bertemu. Artinya jarak mereka dekat. Jika perasaan yang ada di tiap orang kuat, akan semakin kuat pula kekuatan ikatan di antara mereka.

Apakah benar begitu? Lalu mengapa saat jarak itu semakin jauh, gaya tarik-menariknnya justru membesar? Mengapa rasa rindu justru membuncah saat jarak berjauhan? Bukankah rindu itu gaya?

“Ketika jarak membesar, muatan yang terkandung di tiap elemen juga membesar,” jawab Gugi. Itu yang menyebabkan gaya tarik-menariknya tetap besar, atau bahkan membesar dan membentuk rindu. Ada penyesuaian jumlah besaran pada setiap elemennya. Muatan dan jarak dapat berubah-ubah. Yang tetap adalah konstanta. Konstanta dapat diartikan sebagai lingkungan, yakni keberadaan sanak keluarga, kerabat, tetangga, atau teman. Begini rumusnya.



F merupakan kekuatan ikatan atau cinta, q1 dan q2 adalah muatan cinta yang ada di masing-masing orang, r2 adalah jarak antara kedua orang tersebut, dan k adalah lingkungan. Hmm... rasanya rumus ini menjadi begitu mudah untuk diingat. Mengapa tidak dari dulu saja aku menggunakan analogi ini?

Hmm... setelah itu aku mencoba berselancar di internet untuk mencari tahu lebih jauh tentang bunyi hukumnya yang asli. Ternyata rumus tersebut bukan Hukum Faraday, tetapi Hukum Coulomb, haha. Ya sudahlah, apapun namanya, aku sekarang menyebutnya hukum cinta. Begini bunyi aslinya hukum cinta, eh... maksudnya Hukum Coulomb.

“Gaya  tarik menarik atau gaya tolak menolak antara dua muatan listrik sebanding dengan muatan-muatannya dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak yang memisahkan kedua muatan tersebut.” (Hukum Coulomb)


F = gaya tarik manarik/tolak menolak (newton)
q = muatan listrik (coulomb)
r = jarak antara kedua muatan
k = konstanta = 1/4πεo = 9 x 109 N.m2/C2
εo = permitivitas listrik dalam ruang hampa/udara = 8,85 x 10-12 C2/Nm2

Aku termasuk tipe orang yang tidak menyukai hubungan jarak jauh atau yang biasa disebut orang LDR. Sekarang tampaknya mulai populer juga istilah LDM a.k.a long distance marriage. Aku sudah pernah menyampaikan hal ini pada kekasihku. Ia paham, karena ia pun memiliki prinsip yang sama denganku. Tidak suka berjauhan. Meskipun kami tidak termasuk dalam kategori LDM, sering berjauhan tetap saja menjadi kondisi yang tidak menyenangkan. Jika sudah begitu, ia akan mengeluarkan jurus pamungkasnya yang berasal dari QS. Al-Baqarah ayat 216.

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” 
(QS.2:216)

Kami menyadari bahwa yang perlu kami lakukan hanyalah menguatkan keyakinan dan berpasrah kepada-Nya. Kala jarak kami jauh, kami hanya perlu memperbesar muatan dan doa dalam diri kami, sehingga hati kami tetap terasa dekat. Dan kala jarak kami dekat, kami hanya perlu bersyukur bahwa nikmat bersama itu masih kami miliki.

***

Yang jauh itu dekat. Begitulah tiap kali aku berpikir tentang kematian dan perpisahan. Bahwa kita menjalani hidup menuju mati. Bahwa menikmati sebuah pertemuan adalah untuk menuju perpisahan. Saat ada awal, maka disana telah ditetapkan akhir. Maka iman-lah yang membuat kita yakin bahwa setelah akhir dan berpisah, ada saat pertemuan kembali yang juga merupakan niscaya.

Jadi kekasih, cukuplah kita senantiasa bersyukur untuk tiap detik kebersamaan yang kita miliki. Cukuplah kita mengingat jikalau emosi sedang menguasai diri, kita tidak memiliki waktu untuk marah, karena kita harus saling mencintai. Kurasa kalimat tersebut lebih cocok kuarahkan untuk diri sendiri yang seringkali meluapkan cemas dalam bentuk amarah. Mohon bukakan pintu maafmu untukku yah, atas segala perilaku yang mungkin tidak membuatmu nyaman. Terima kasih karena engkau telah bekerja keras.

Di sini, aku selalu menunggumu pulang.  

***


SYUKUR DAN CINTA (2). Yang sedikit itu banyak

Kamis, 25 Februari 2016



“Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah : 155)

Aku pernah mendapatkan kalimat bahwa tabiat dasar manusia adalah tergesa-gesa dan senang berkeluh kesah. Kurasa itu benar. Namun, Islam juga selalu siap dengan solusinya. Karena itulah setiap hari kita dianjurkan untuk bermuhasabah. Untuk merenung dan memohon ampun pada setiap salah. Untuk memaafkan mereka yang hari itu membuat hati kesal dan resah. Untuk tidak terburu-buru pada setiap cita dan mimpi sehingga kita tidak pernah menyerah. Untuk selalu bersyukur pada  yang kita dapatkan sedikit maupun banyaknya yang tercurah.

Sampai akhirnya kita menyadari bahwa Allah Yang Maha Pemberi telah menganugerahkan begitu banyak untuk kita. Semua yang kecil tampak menjadi besar. Semua yang sedikit tampak begitu banyak. Karena begitulah konsep rasa syukur bekerja. Ia membuat menusia tidak pernah merasa kekurangan. Menghargai setiap yang ada. Mensyukuri segala yang diterima.

***

Sebuah kejadian heboh sempat kualami dalam perjalanan pulang pada malam hari dari Bandung ke Bogor bersama seorang teman. Belum lima kilo mobil kami berlalu di jalan tol, tiba-tiba jarum indikator panas mobil memberi sinyal bahwa mobil kepanasan. Mobil pun segera menepi begitu menemukan tempat peristirahatan pertama. Saat memeriksa mesin, mengertilah kami sebab yang terjadi. Tutup air radiator mobil hilang!

Berbagai solusi coba kami pikirkan, mulai dari mencari alternatif tutup, menelepon bengkel, hingga memanggil layanan derek. Ketika akhirnya tutup pengganti sudah didapatkan, mobil tidak juga bisa mengebut dengan normal akibat panas yang terjadi sebelumnya. Kami pun mengendarai mobil pelan-pelan. Saat jarum indikator panas sudah menunjukkan kode mengkhawatirkan, kami lekas-lekas menepi ke pinggir tol dan berdiam sampai suhu mobil normal kembali. Setelah mobil lebih dingin, kami berjalan lagi. Tetap pelan-pelan. Sampai kami tiba di rumah.

Perjalanan Bandung-Bogor kami lalui selama hampir 9 jam. Padahal jalanan tidak dalam keadaan macet waktu itu. Normalnya waktu perjalanan adalah 2-3 jam. Tak kusangka, sebuah tutup radiator yang begitu kecil sangat besar nilainya. Membuat kami bolak-balik mengambil air di toilet, mencari-cari kayu dan kawat di tengah kebun gelap (padahal sekitarnya sih terang, kebunnya doang yang gelap haha..), berurusan dengan petugas keamanan, berurusan dengan petugas mobil derek, hingga bermalam di tepi jalan tol. Aku diingatkan betapa kita tidak boleh meremehkan hal-hal kecil, meskipun hal itu kecil seperti tutup radiator.

Aku pun diingatkan kembali betapa harus bersyukurnya  diri ini. Dan salah satu bentuk syukur bukan saja hanya dengan mengucap syukur alhamdulillah, tetapi juga dengan tidak mengeluh saat sesuatu tidak berjalan dengan semestinya. Seperti saat beberapa kali temanku terlambat pulang ke rumah. Terkadang tanpa kabar, karena telepon selulernya mati. Ada pekerjaan tambahan di kantor, katanya. Ada kereta yang bermasalah. Ada pohon tumbang akibat hujan. Adaaa.... ada-ada saja deh. Memang ia belum pernah memberikan alasan terlambat pulang karena ada si komo lewat, tetapi tetap saja itu adalah terlambat pulang yang menyebabkan hatiku khawatir bukan kepalang.  

Keterlambatannya tanpa kabar sering membuatku tidak menyambutnya pulang dengan senyuman. Mungkin karena hati terlanjur khawatir bercampur kesal menantinya pulang, yang muncul bukan bibir yang tertarik ke samping, melainkan ke depan. Sampai aku disadarkan bahwa hal-hal yang telah diberikannya padaku jauh lebih banyak daripada sekedar terlambat pulang yang lalu membuatku merasa pantas untuk mengeluh padanya. Aku sama sekali tidak pantas untuk mengeluh. Seharusnya aku lebih banyak bersyukur dan tersenyum.

Suatu hari saat ia pulang tepat waktu, tanpa banyak berbincang, ia bergegas ke luar rumah lagi menuju masjid. Iqamah tanda shalat isya berjamaah segera dimulai telah dikumandangkan. Aku melepasnya di pintu bersamaan dengan berbunyinya android-ku tanda sebuah pesan personal masuk. Darinya. Rupanya ia mengirimiku pesan sesaat sebelum pergi ke masjid tadi. Ia mengirimiku pesan panjang layaknya surat cinta. Dan bagiku, inilah surat cinta pertama darinya.

***

Untuknya

24 Agustus 2015

Sayang, yang kutahu... 

Kamu dulu menyimpan erat-erat masalahmu dalam hati dan pikiranmu...

Begitu dalam kau pendam... Sakitnya, kecewanya, dan lukanya kamu rasakan sendiri... Kamu telan sendiri... Menyayat-nyayat hati... Menyengat semua syaraf jiwa dan ragamu... Air mata yang keluar sebelum tidur... Bayangan-bayangan akan kejadian yang tak diinginkan itu... Harapan-harapan yang pupus karenanya... Harapan yang seolah sirna dan hangus terbakar....

Yang kubayangkan, mungkin jika kamu menatap langit, kamu lihat ‘dirimu’ di sana, meratapi bahwa sinarmu tak seindah mereka... Sementara mungkin berat bagimu menyandang namanya.. Seolah dituntut untuk bersinar selalu pada setiap suka dan duka..

Kamu kerap ingin menyesali hidupmu, tapi kamu tetap lebih takut dosa jika demikian. Sehingga, kamu seka airmatamu... Kamu dandan sebisanya untuk menutupi gurat sedih, dan berangkat ke kantor. Menemuiku untuk diskusi pekerjaan. Kamu paksakan senyummu demi kenyamanan tim dalam diskusi. Namun, jika saatnya shalat zuhur tiba, aku shalat di masjid dan kamu shalat di kantor. Selepas shalat aku masih melihatmu berdoa dan berdzikir di kamar gelap dan lembab itu.....

Hatiku gerimis, perempuan sejujur, sebaik, dan selucu kamu harus menerima beban yang demikian berat sendirian.

Aku ingin menolongmu.. tapi tak bisa kulakukan apa-apa...  Aku ingin mengusap air matamu, tapi tak berani ku memikirkan lebih jauh untuk itu... Aku hanya bisa menolongmu dengan ledekan hangat yang membuatmu nyaman... Aku hanya bisa membuatmu bercanda dan memberikan kesan kuat dalam hatimu.. Hingga kamu senang dan sedikit bahagia...

Supaya, jika kamu sedih... Kamu akan ingat momen-momen senang dan sedikit bahagia itu, sampai kamu mengusap sendiri air matamu dan senyum-senyum sendiri. Sehingga, tujuanku tercapai... Menolongmu dan mengusap air matamu... Walau tak kulakukan sendiri.
Begitu pula saat aku berusaha membujuk teman-teman agar bisa ikut wisata ke Bandung. Dan meminta sodaraku di Bandung untuk menyiapkan tempat dan makanan.

Itu adalah waktu-waktu krusial saat kamu sedang menghadapi ujian beruntun. Demi riang dan tawa dari wajahmu lagi... Walaupun sempat ku merasa gagal karena sebersit melihatmu menangis...

Aku tidak menghubungimu lagi... Berbulan-bulan, karena aku ingin fokus pada persiapan dan prosesku menikah. Sampai kita bertemu lagi di kantor... Wajahmu murung, sesekali saja tersenyum... Tak kuasa ku melihatnya... Ingin rasanya kupeluk dirimu dari belakang dan berkata, “akan kuganti getirmu dengan kebahagiaan selamanya...”, ah apalah daya. Membayangkan lebih dari itupun aku tak berani. Hingga aku hanya manja meminta jam tangan padamu...

Sampai suatu ketika, di hari kamu mengabulkan permintaan manjaku, ayahmu menghubungiku.. Untuk menyampaikan sebuah rahmat, hidayah, sekaligus ujian untukku... Beliau bermaksud untuk menjadikanku suamimu...

Bermalam-malamnya ku tak bisa pejamkan mata... Berlamanya ku termenung melihat langit... Berkali-kalinya ku shalat untuk meminta petunjuk... Kenyataannya... Keyakinan itu datang begitu saja... Dan menguat... Semakin lama kian menguat... Hingga kuberanikan diri untuk menghadapi orangtuaku yang banyak berseberangan denganku... Dan kuberanikan diri untuk menghadapi orang tuamu.

Hingga, sampailah pada keputusan aku akan menikahimu... Untuk 4 bulan lamanya kita diminta menunggu... 4 bulan yang tidak mudah.... 4 bulan cobaan, ujian, dan godaan....

Saat kamu membaca ini, kamu telah menjadi istriku... yang sangat kucintai... Maka, keluarkanlah tangismu yang selama ini kamu tahan, semuanya. Sampaikanlah keluh kesahmu dalam hidup. Akan aku dekap kamu erat-erat untuk meyakinkanmu bahwa aku akan melindungimu selalu.

***

Sayang, aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu karena kamu mencintai Penciptaku melebihi apapun. Aku mencintaimu karena aku tahu kamu mencintaiku. Aku mencintaimu karena aku tahu kamu cinta seseorang yang mencintai ibunya. Aku mencintaimu karena kekuatanmu dalam menghadapi perihnya hidup. Kecintaanmu pada kebenaran. Kebencianmu pada keburukan. Aku mencintaimu karena semua perhatianmu padaku. Apalah aku ini? Sebaik itukah aku, sampai aku dianugerahkan dirimu... Perempuan yang suci pikirannya, menyenangkan perangainya, tulus cintanya, setia rasanya, baik agamanya, cerdas pikirannya.

Melanglang buana aku mencari, meminta dicarikan, dan memohon ini itu padaNya. Namun, Allah menyadarkanku... Kriteria yang kuinginkan bukanlah yang kubutuhkan. Allah mengatur sedemikian rupa agar aku mendapatkanmu.

Allah mengatur segalanya untuk menguji iman dan kesungguhanku dalam beragama, sehingga menjadikanmu istriku. 

Allah sekaligus memberikan rahmat yang begitu besar padaku dengan memberikan salah satu makhluk terbaikNya yang begitu mencintaiNya melebihi apapun. Yang begitu menjaga kesucian hati dan amalnya. Yang berusaha kuat menjaga imannya sementara ujian begitu mendera.

Segala rahmat itu aku terima. Rahmat yang begitu luas, mulia, baik, lagi begitu istimewa... Ditujukan padaku.... Makhluk nista, pendosa, dan kotor ini.

Sayang.... Aku mencintaimu karena kamu mencintai Allah melebihi apapun. Semoga kamu bisa mengajariku untuk selalu bisa mencintaiNya melebihi apapun. Sebab, aku adalah seorang pendosa.... Karena sering mencintaimu melebihi apapun.... Astagfirullah....

Aku mencintaimu....

Inilah cerita singkatku mengapa aku bisa mencintaimu.

Jika masih belum cukup alasannya.. Aku pun bingung karena cinta yang kuat.. Datang begitu saja.

Kekasih, kukira hanya cintaku lah yang besar dan lama berada dalam penantian. Mungkin dugaanku ini tidak sepenuhnya benar. Terima kasih karena telah mencintaiku.

***

Kota Belimbing, 25 Februari 2016

sumber gambar: www.theresborchard.com


SYUKUR DAN CINTA (1) Yang biasa itu berharga

Kamis, 31 Desember 2015

“Ka Najmi, sesuatu yang biasa dan membosankan itu kadangkala bisa menjadi hal yang sangat dirindukan.”

Begitu yang pernah dikatakannya dulu saat aku meledeknya karena tiba-tiba saja ia rindu dengan masakan Bu Ati di kantor. Dulu sewaktu kami masih bekerja di kantor yang sama dan tiba waktunya makan siang, beberapa kali si bos berkomentar, “Bosan gak sih dengan makanan kantor, itu-itu saja. Biasa.”

Yaah.. walaupun makhluk satu ini bisa memakan apapun yang disebut dengan makanan, namun sesungguhnya selera terhadap jenis makanannya cukup tinggi. Baginya makanan kantor yang biasanya hanya terdiri dari dua jenis masakan (misal: sayur lodeh dan telur balado, tumis kacang dan rempeyek, atau tumis buncis dan oreg tempe), menjadi membosankan karena setiap hari ia makan dengan cita rasa yang serupa. Terang saja model masakannya memiliki rasa yang sebelas dua belas, wong yang masaknya satu orang. Bu Ati. Dulu aku biasa menyebutnya big mother karena selama enam bulan lebih aku tidak pernah tahu namanya.

Mungkin si bos sedang kangen daging saat itu. Bu Ati tentu saja tidak pernah memasak daging karena mungkin budget belanja yang diberikan tidak cukup untuk membeli daging. Paling mewah telur, ati ampela, atau ikan kue. Hmm.. menurutku masakan paling istimewanya adalah sayur asem dan ikan kue balado, enak banget!

Sayang sekali si bos belum pernah mencicipi jengkol baladonya Bu Ati. Bu Ati memasak jengkol justru setelah bos pindah kerja ke Jakarta, ke kantor yang lebih mewah dan mesjidnya sangat bagus. Kurasa ia akan mengeluarkan komentar berbeda jika dalam seminggu sempat mencicipi jengkol buatannya Bu Ati. Pasti tidak akan bosan!

Nyatanya, walau ia belum pernah mencicip jengkol balado buatan Bu Ati, ia tetap merindukan masakan kantor setelah pindah bekerja di tempat yang baru. Masakan yang menurutnya biasa saja.

Begitulah. Yang biasa jadi begitu berharga.

***

Setelah pernikahan kami yang terselenggarakan pada tanggal sepuluh bulan sepuluh tahun dua ribu lima belas, si bos yang telah berubah status menjadi suamiku itu berencana mengajakku berlibur ke Kota Batu-Malang. Ia sudah membeli tiket kereta pulang pergi untuk kami berdua sebelumnya... sebelum.... ia jatuh sakit!

Tepat sehari setelah hari-H, kepalanya panas dan tubuhnya menggigil. Ia masih berharap untuk pulih sebelum hari keberangkatan ke Malang yang direncanakan dua hari lagi demi istrinya tidak merasa kecewa. Padahal rencana berlibur itu pun awalnya menjadi kejutan karena ia tidak menceritakannya padaku sebelumnya.  Aku ragu ia masih ingin pergi, karena sampai keesokan harinya, panasnya belum reda.

Akhirnya aku yang memutuskan fix tidak jadi berangkat dan membatalkan tiket kereta yang sudah dipesan. Berhubung panasnya yang masih naik turun setelah lewat 24 jam, ditambah muntah sekali di pagi hari, aku meminta bantuan Mas Bagus untuk menjemput kami dengan mobil dan membawanya periksa di rumah sakit. Tidak lama, Ka Ario juga menyusul ke IGD untuk menjenguk si bos setelah membantu kami mengurus pembatalan tiket kereta. Bersyukur sekali memiliki saudara yang senantiasa siap membantu kala kami membutuhkan.

Dulu saat kami sedang proses mempersiapkan pernikahan, si bos terlihat begitu khawatir pada persiapan yang tampak rumit dan ribet. Sejauh aku mengenalnya, ia adalah orang yang paling tidak suka ribet dan merepotkan orang lain, termasuk keluarga. Lalu aku mengatakan padanya, “Jangan menyamakan orang lain dengan kita. Jangan dibuat ribet. Yang kita cari keberkahan, bukan resepsi yang bagus dan mewah. Memang ada banyak yang harus dipersiapkan dan direncanakan, tapi jangan dipikirkan terlalu rumit. Dan kita punya banyak teman lebih dari siapapun.”

DAN KITA PUNYA BANYAK TEMAN LEBIH DARI SIAPAPUN.

Ternyata si bos suka dengan kata-kataku itu. Hatinya pun berangsur-angsur lebih tenang. Syukurlah.

Oke, kembali ke rumah sakit. Setelah disuntik dan mendapat obat dari dokter, kami pun pulang. Aku merawat suamiku dengan membuat makanan lunak untuknya, meminumkan obat tepat waktu, dan mengompres kepalanya saat panas. Tidak lupa ditambah zikir dan doa agar ia lekas sembuh.

Selama dalam sakit, berkali-kali ia mengungkapkan rasa bersalahnya terkait rencana jalan-jalan kami yang tidak jadi. Ia ingin membuatku gembira, tapi rencana yang telah disusunnya batal. Berkali-kali aku bilang tidak apa-apa, tetap saja ia merasa bersalah.

Entahlah. Kurasa hati kecilku pun sebenarnya mengharap kami bisa berekreasi. Buktinya saat ia mengajakku berkendara ke stasiun (masih belum pulih kesehatannya waktu itu) untuk mengurus pembatalan tiket kereta, aku merasa begitu senang bisa keluar rumah dan menghirup udara jalanan Kota Bogor. Tak disangka waktu itu bertepatan dengan perayaan Tahun Baru Hijriyah 1 Muharram, sehingga jalanan kota ramai oleh pawai.

Malam harinya (masih belum benar-benar pulih), si bos memaksakan diri mengajakku ke puncak untuk sekedar makan sate dan jagung bakar. Padahal aku tidak memintanya. Tapi nyatanya aku senang sekali. Pertama kalinya aku mengunjungi kawasan Puncak Pass saat hari lewat tengah malam. Saat bintang  gemintang banyak bermunculan. Saat langit menambah pesona lautan cahaya bumi yang tersebar dari lampu-lampu bangunan rumah di lembah bawahnya. Bagiku itu menakjubkan. Tapi  si bos masih saja meminta maaf karena honey moon kami yang batal berangkat.

Hey, Bos!

Kita punya honey moon yang langka dan luar biasa. Destinasi pertama kita adalah IGD Rumah Sakit Medika Dramaga. Apakah ada pasangan lain yang seseru ini? Destinasi kedua adalah Stasiun Paledang. Walaupun perjalanan kita hanya berakhir di depan loket dan berbincang dengan mbak-mbak penjaga loketnya, tetapi ini unik, bukan? Kita melihat pawai tahun baru yang ramai sekali, mulai dari barisan marching band yang keren, anak-anak muda yang begitu bersemangat membawa umbul-umbul, sampai ibu-ibu majlis taklim yang heboh menyanyikan salawat sepanjang pawai, diiringi pengawalan polisi yang memblokade setengah jalan agar pawai berjalan aman. Kau menyaksikannya, bukan? Ratusan warga kota beragam usia turun ke jalan dan meramaikan tahun baru Islam. 

Mungkin kita tidak kemana-mana, hanya jalan-jalan sebentar keliling kota yang menurutmu biasa. Hanya makan kwetiau di sebuah warung makan sambil ditemani oleh hujan deras. Hanya menikmati dua mangkuk sekoteng di dalam mobil, karena engkau tidak kuat dingin. Hanya pergi sebentar ke Puncak lalu pulang lagi.

Benar. Mungkin itu biasa. Namun, percayalah. Semua yang kau lakukan adalah berharga untukku.

Begitulah. Yang biasa jadi begitu berharga.

***

Seorang senior yang tentunya lebih senior juga dalam urusan rumah tangga pernah berkata, “Najmi. Bagi pasangan yang sudah menikah, romantis adalah saat bisa melakukan pekerjaan rumah tangga bersama-sama.”

Lima tahun kemudian, masih dengan senior yang sama -sebut saja namanya ujangfahmee- ia menyampaikan tentang teori antimainstream yang telah berubah menjadi mainstream, sedangkan mainstream justru berbalik jadi antimainstream.

“Ada tulisan bagus tentang rumah tangga yang memaparkan secara ilmiah, bahwa sesungguhnya hal-hal kecil yang menjadi rutinitas, yang menurut kebanyakan orang sesuatu yang lumrah dan biasa saja, atau yang biasa kita sebut sudah mainstream, justru menjadi penting dan berharga. Seperti menyiapkan makanan pagi untuk sarapan atau saling mengucap salam saat berangkat dan pulang kerja. Itu justru yang memegang nilai penting.”

Hmm.... sepertinya itu benar. Apa karena statusku yang kata orang masih ‘pengantin baru’ ini yah? Rasanya saat di rumah begitu ingin menikmati status sebagai istri. Memasak, mengantar suami ke stasiun saat berangkat kerja, belanja sayur, mencacah sayuran dan mengiris bawang sambil menonton dorama Korea, lalu menunggu suami pulang, hingga aku lupa bahwa aku juga masih berstatus mahasiswa. MA-HA-SIS-WA. Ya Allah! Ternyata aku belum lulus >_<

Aku menyadari bahwa kebiasaan-kebiasaan sederhana dalam rumah tangga, seperti memasak, mengantar suami pergi dan menyambut suami pulang, atau sekedar duduk bersama sambil minum kopi atau teh, adalah momen-momen berharga. Oleh karenanya aku tidak ingin merasa lelah, juga tidak ingin berpikir jenuh. Karena jika aku merasa demikian sekali saja, aku akan kehilangan momen berharga untuk menikmatinya. Namun, aku juga disadarkan bahwa aku tidak bisa terlena pada sesuatu yang membuatku bahagia. Aku masih memiliki tugas ‘biasa’ sebagai seorang mahasiswa. Komitmen yang telah kubuat untuk menyelesaikan studi dan tugas akhir haruslah kutunaikan. Dan aku pun harus menikmatinya. Agar momen yang juga berharga tersebut tidak hilang. Agar aku tidak lulus dengan biasa-biasa saja.

Aku jadi teringat pada suatu teori juga. Kalau yang ini teorinya aku buat sendiri, haha...
Nikmatilah masa-masa sendirimu, karena jika sudah menikah akan ada hal-hal yang hanya bisa kau nikmati sendiri dan tidak bisa lagi kau lakukan saat sudah berdua. Dan saat sudah berdua, nikmatilah kebersamaanmu dengan penuh syukur. Bersyukur bahwa kau pernah menikmati masa sendirimu penuh manfaat, tanpa galau dan rasa sesal, dan kini bisa mensyukuri kebersamaan dengan sepenuh hati. Kelak, jika sudah beranak pinak, aku juga ingin bersyukur bahwa aku pernah menikmati masa-masa berdua, hingga aku merasa lebih bersyukur lagi karena Allah Swt menganugerahkan jumlah anggota keluarga kami yang bertambah banyak. 

Bukankah segala persoalan dalam hidup ini hanyalah tentang bersikap syukur dan sabar? Dalam bentuk manapun, semua itu akan jadi indah kala dibingkai oleh cinta. Cinta dalam kesyukuran. Cinta dalam kesabaran. Yang terpenting sih, cinta sama kamu #eeaaa....

***

“Sesuatu yang kita anggap biasa setiap harinya ternyata begitu berharga.”
-Stand by Me-

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
(QS. Ibrahim:7)

sumber gambar: perezhilton.com

SABAR DAN CINTA (3). Cinta Adalah Menepati Janji

Rabu, 28 Oktober 2015



“Para pencinta sejati tidak suka berjanji. Tapi begitu mereka memutuskan mencintai seseorang, mereka segera membuat rencana memberi. Setelah itu mereka bekerja dalam diam dan sunyi untuk mewujudkan rencana-rencana mereka...”
(Anis Matta)

***

Itu adalah hari Jumat. Saat ayahku menjemputku di Kota Bogor, lalu mengajakku makan di sebuah warung bubur ayam terenak di kawasan Gunung Batu yang sudah berdiri sejak lama, sejak... mungkin sejak dari Stasiun Kota, dan baru kebagian tempat duduk di Stasiun Bojong Gede. Ini bukan kereta woy! Oh iya, lupa. Ini warung bubur ayam. Namanya Bubur Kabita. Dulu, zaman ayah dan ibuku masih suka pacaran setelah menikah tapi gak punya duit, mereka akan berjalan kaki dari rumah di Sindang Barang ke Gunung Batu yang berjarak kurang lebih 3 km. Hanya untuk makan bubur ayam. Dulu, aku belum lahir. Sekarang, aku sudah lahir. Dan aku diajak juga makan bubur di sana. Sebenarnya walaupun tidak diajak, aku pun suka makan di sana tanpa sepengetahuan ayah dan ibu. Soalnya buburnya enak. 

Et dah, kenapa ini jadi ngomongin bubur yah?

Kita mau ngomongin cinta, bukan bubur.

Oke. Jadi ceritanya, saat aku sedang menyuap bubur bertabur kacang kedelai yang di dalamnya tersembunyi harta berupa suir-suir ayam itu, ditambah aroma seledri, ayahku berkata, “Teh, ada teman Ayah yang mau kenalan.”

Aku terdiam. Sedetik bubur yang sudah tersuap di mulut tidak bisa kutelan, pun sendok yang masih berada di dalam mulut tak bisa kukeluarkan. Aku menatap ayah. Untung saja reaksiku bukan dengan menyemburkan bubur di wajahnya. Aku kaget. Sungguh. Kaget.

Bukan tipe ayah yang akan mengenalkanku pada laki-laki. Ayah mungkin pernah ingin mengenalkan laki-laki solih pada sahabatku, atau mengenalkan laki-laki yang juga solih pada adik perempuanku (yang sekarang menjadi suaminya), tetapi tidak padaku. Itu bukan gayanya ayah. Ayah terlalu mempercayaiku untuk banyak hal. Sehingga aku bebas berteman, beraktivitas, dan pergi ke tempat manapun aku suka. Ayah selalu percaya bahwa aku mampu menjaga kepercayaannya sebagai putrinya. Terkadang aku berpikir, ayah terlalu menyayangiku. Sehingga ia tidak berani memilihkan untukku. Membebaskanku untuk memilih.

Oleh karena itu aku kaget. Sesaat aku berpikir bahwa teman ayah yang ingin berkenalan denganku adalah tipe om-om yang usianya tidak jauh berbeda dengan ayah. Oh, tidak! Tenang... mungkin bukan. Rasanya tidak mungkin ayah akan mengenalkanku pada om-om. Aku pun langsung mengeluarkan pertanyaan dengan nada curiga pada ayah.

“Siapa?”

Awalnya ayah tidak ingin menyebutkan nama, hanya bertanya ulang tentang kesiapanku untuk menikah. Aku kembali terdiam. Begitu banyak hal terlintas dalam sekejab sebelum aku harus segera menjawab tawaran ayah. Aku sudah siap untuk menikah. Aku sudah menuliskan sebuah nama di hati. Namun, aku tahu pasti bahwa kedua kalimat itu bukanlah sesuatu yang selalu berbanding lurus. Saat aku berkata ‘sudah siap’ sejak lima tahun lalu, bisa jadi Allah berkata aku belum cukup siap saat itu. Saat aku sudah ‘menuliskan’ di hati nama seorang yang menurutku baik untukku, bisa jadi menurut Allah bukan itu yang terbaik. Karena itulah aku tidak ingin serta merta menolak ataupun menerima tawaran dari ayah. Aku hanya berkata pada ayah bahwa aku tidak ingin dikenalkan pada seorang yang sama sekali tidak kukenal sebelumnya. Ayah mengangguk kalem. Tanpa ekspresi.

Aku pun beristikharah. Berharap Allah membersihkan hatiku dari segala kecenderungan yang bersifat duniawi. Memohon agar Allah menunjukkan yang menurut-Nya terbaik bagiku. Aku ingin Allah yang menunjukkannya padaku. Meskipun begitu, tetap saja nama yang sudah lama tertulis di hati yang terpikirkan. Laa hawla walaa quwwata illa billah.

Dua hari setelah ayah mengajakku makan di Bubur Kabita, ayah berkata, “Teh, besok malam ta’aruf sama Gugi.” (ta’aruf = kenalan)

Aku terdiam terpaku. Nama yang ayah sebutkan adalah nama yang tertulis di hatiku. Pendengaranku masih tidak percaya oleh berita yang barusan kudengar. Tubuh tiba-tiba terasa beku (oke, ini lebay.. tapi beneran, rasanya kayak gitu!). Meskipun hampir seluruh indra seolah mati rasa, dalam sedetik mulutku bergerak otomatis dan berkata, “Iyah.”

Senin, 25 Mei 2015. 
Kau datang ke rumahku dengan niatan yang berbeda dari kedatangan-kedatanganmu sebelumnya. Ini bukan pertama kalinya kau datang ke rumah. Ini sudah yang kelima. Kau sudah pernah bolak-balik ke rumah untuk meminjam mobil untuk urusan pekerjaan, bukan? Tapi untuk pertama kalinya kau kesasar menuju rumahku! Kau tahu, Kekasih? Saat itu aku panik bukan kepalang menunggumu yang tak kunjung datang. Berpikir bahwa kau salah jalan, atau mungkin ayah telah salah mengirimkan pesan. Tetapi wajah ayah tampak begitu santai, padahal asam lambung putrinya ini sudah mulai naik karena cemas dan bimbang. Gatal jari ini ingin mengirimimu pesan, “Woy! Kamu ada dimana? Ketemuannya di masjid samping rumah. Bukan di masjid Depok tengah. Jangan-jangan kamu salah arah??” tapi pertanyaan itu aku telan dalam-dalam. Pada saat seperti itu, tidak mungkin aku menghubungimu.

Sampai akhirnya aku tahu (karena dapat bocoran dari ibuku), bahwa ayah-lah yang pertama kali menghubungimu. Berniat menikahkanku denganmu, sejak dua pekan sebelum aku nyaris tersedak saat makan bubur itu. Dan yang kuingat kau masih menghubungiku soal pekerjaan dengan biasa saja. Berpapasan denganku saat di stasiun kereta dengan wajah biasa saja. Kau bisa berakting seperti itu dalam proses istikharahmu tentangku dengan biasa saja. Tapi mengapa saat hari ta’aruf tiba kau justru grogi? Haha... Sampai kita semua harus diusir dari tempat makan karena mungkin dianggap mengobrol terlalu lama. Sampai ayah harus meminta waktu tambahan kepada pramusaji restoran, lalu adik dan ibuku tertawa-tawa karena akhirnya kita harus pergi dengan cara yang tidak biasa.

Kau tahu, Kekasih? Hal yang sungguh mengejutkanku bukanlah karena namamu yang dilontarkan oleh ayah. Namun, karena sungguh aku tidak menyangka ayah akan berlaku demikian untukku. Sejak masa remaja, tiap kali aku bercerita tentang teman-temanku pada ibuku, atau menyebut nama teman laki-laki satu kelas, satu organisasi, satu lomba, satu kegiatan, atau siapa saja yang aku ceritakan, ayah selalu tampak tidak terlalu tertarik. Seolah-olah tidak tahu (atau mungkin memang tidak tahu?). Seolah-olah tidak peduli (tapi kuyakin sebenarnya sih peduli). Kalau ada laki-laki yang meneleponku ke rumah, ayah tidak pernah bertanya. Selalu ibuku yang bertanya, “Dari siapa?”

Kalau aku bertanya pada ayah, mengapa ayah tidak pernah mencandaiku tentang pernikahan atau menjodoh-jodohkanku dengan laki-laki yang kukenal ataupun dikenalnya, tidak seperti ia yang sering menggoda teman dan sahabat-sahabatku bila main ke rumah dan mengompori mereka untuk segera menikah,  ayah selalu hanya akan menjawab asal sambil tetap menonton berita di TV, “Tidak usah ditanya. Teteh pasti sukanya yang model Ayah, kan?” Ge er abis!

Jadi sebenarnya aku menyerah. Aku menyerah pada kemungkinan bahwa ayah akan menjadi bagian besar dalam proses ini. Aku menyerah karena selalu berpikir bahwa ayah sangat mempercayaiku dan membebaskanku untuk memilih. Aku menyerah karena sempat berpikir bahwa ayah akan cemburu jika aku menemukan laki-laki yang akan menempati posisi di hatiku lebih besar dari dirinya. Aku menyerah pada kemungkinan tersebut, dan tidak tahu dengan cara seperti apa harapanku akan terwujud. Karena ayah sama sekali tidak tahu tentang nama yang tertulis di hatiku.

Kau ingin tahu, Kasih? Bagaimana caraku bersabar?

Karena aku percaya bahwa janji Allah itu pasti. Kalau menurut-Nya bukan engkau orangnya, Ia pasti sudah menunjukkan padaku hal-hal yang membuat harapan ini pergi. Tapi nyatanya tidak, meskipun aku tetap tidak bisa menebak bagaimana jalannya, harapan itu justru semakin kuat. Seperti dirimu yang merealisasikan harapan-harapan konyolku. Kau senantiasa menepati setiap janji yang pernah kau ucap. Terkadang memang tidak sesuai dengan yang direncanakan, tapi pada akhirnya, kau menepatinya. Kau tahu, Kasih? Janji yang pernah kau ucapkan menumbuhkan harapan di hatiku. Dan saat kau menepatinya, itu membuatku yakin bahwa harapan ini bukanlah kosong. Bagaimana mungkin aku bisa berhenti berharap setelah engkau memberi?

Kau berjanji akan memberiku es krim jika aku memberitahumu sesuatu hal tentang pekerjaan waktu itu. Aku tahu ini barter yang konyol, tetapi kau yang menawarkannya dan aku bersedia. Informasi ditukar dengan es krim. Aku nego padamu meminta Magnum, dan kau berekspresi jengah saat itu. Kupikir kau menganggapku bercanda dan tidak berniat untuk menepatinya, tetapi ternyata kau menepatinya. Kau membelikanku dan Agit es krim Magnum saat rapat kerja berikutnya. Kau tahu, ini pertama kalinya aku makan es krim Magnum yang menurutku mahal dan paling enggan kubeli jika aku sedang ingin makan es krim. Dan kau membelikannya untukku. Untuk kita bertiga satu tim kerja sih, tapi tetap saja kau membelikannya. Kau tahu? Aku terharu.

Kau pernah berjanji untuk mengajak liburan bersama setelah selesai satu proyek yang cukup banyak memakan waktu, tenaga, dan emosi jiwa ini. Bolak-balik revisi. Diskusi dan kerja tidak kenal waktu, sampai waktu libur akhir pekan pun harus digunakan untuk rapat dan mengolah data. Kita ingin berlibur melepas penat waktu itu. Menentukan destinasi dan waktu liburan. Dan berkali-kali batal. Tidak masuk bajetnya. Tidak pas waktunya. Saat akhirnya sudah menemukan destinasi dan waktu yang sesuai, tiba-tiba batal karena ada presentasi mendadak dari dinas untuk proyekmu yang lain. Selalu seperti itu. Sampai akhirnya aku lupa pada janjimu untuk mengajak kami berlibur. Namun, akhirnya janji itu pun terwujud. Kita pergi berlibur bersama teman-teman. Meskipun cukup jauh dari proyek ‘seribu candi’ yang akhirnya selesai itu, dan kau pun sudah pindah kerja di kantor yang baru, kau tetap menepati janji untuk liburan bersama. Kau tahu? Aku terharu.

Pernah sekali waktu kau membuatku marah karena melupakan janji untuk rapat. Mungkin bukan lupa, tetapi salah paham dalam komunikasi saking sibuknya dirimu yang memiliki kegiatan seabrek-abrek di luar pekerjaan. Dan kau menyesal, berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Dan kau menepatinya. Sampai akhir proyek selesai, kau tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kau tahu? Aku terharu.

Kekasih, mungkin bagimu itu hal-hal kecil yang bisa kau lakukan terhadap setiap orang dengan alasan profesionalisme, integritas, atau sekedar menjaga perasaan seorang teman. Janji-janji yang pernah kau ucapkan mungkin kecil, tetapi saat kau menepatinya, itu menjadi besar untukku. Dan kutahu, atas izin Allah pula hingga engkau mampu menepati itu. 

Mungkin itu sedikit terlambat dari yang kuinginkan, dari yang kita rencanakan, tetapi kau menepatinya. Seperti saat kau dan keluargamu datang melamarku pada hari Sabtu, 1 Agustus 2015. Rombonganmu dan keluarga datang agak terlambat karena macet. Aku sedikit cemas karena hari semakin siang. Dan kau menenangkanku dengan memastikan bahwa janji melamarku akan kau tepati. Mungkin itu sedikit terlambat, tetapi kau menepatinya.

Kau suka meledekku karena impian masa kecilku yang ingin menikah pada usia yang kau anggap terlalu cepat. Dalam kacamataku, itu adalah target dan cita-citaku sehingga aku mulai belajar dan mempersiapkan diri lebih cepat dari orang kebanyakan. Dan usiaku kini sudah lewat dari target waktu yang aku cita-citakan tersebut. Kau tahu, Kasih? Bagiku kau datang agak terlambat. Tapi kuyakin ini adalah waktu dan tempat terbaik untuk kita. Dengan segala proses dan cerita yang pernah kita lalui jauh sebelum kita bertemu. Jika menurutku ini sedikit terlambat, maka ini menjadi berkah yang jauh berlipat-lipat untuk kusyukuri. Karena akhirnya kau datang.

Tentang janji. Ternyata kalimat itu benar. Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu (Arai, dalam Sang Pemimpi-Andrea Hirata). Allah Swt mengabulkan doa-doa kita dalam bentuk terbaik menurut-Nya. Dan bukankah hanya Ia yang tahu segala yang terbaik untuk kita? Selalu.

 Kau tahu, Kasih? Aku pernah bergumam dalam hatiku saat dulu masih menjadi mahasiswa baru dan masih terkagum-kagum pada luasnya kampus kita ini. Dalam sebuah acara penyambutan mahasiswa baru yang diadakan di halaman masjid kampus, aku berimajinasi tentang masjid kampus yang akan menjadi tempat pernikahanku, rasanya pasti akan sangat menyenangkan. Aku sangat suka pada masjid kampus kita yang megah namun tidak tampak angkuh. Masjid yang tatanan arsitekturnya unik dengan perpaduan unsur vertikal yang membuat manusia tampak kecil berada di tempat ibadah, sekaligus unsur horizontal yang membuatnya tampak humanis sehingga sangat nyaman untuk berinteraksi sosial. Masjid yang selalu adem, sepanas apapun cuaca di luarnya. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di masjid kampus kita, aku sudah jatuh cinta, sehingga muncul cita-cita konyol itu. Rupanya malaikat mencatatkannya untukku. Dan Allah mengabulkannya, justru saat aku sudah melupakan cita-cita itu. Mungkin bagi orang lain, menikah di masjid adalah sesuatu yang biasa. Masjid di kampus kita, hanyalah salah satu masjid dari sekian banyak masjid yang ada. Namun bagiku, saat kau mengucapkan janji mitsaqon ghaliza di tempat tersebut, itu adalah keajaiban bagiku. Karena Allah Swt mengabulkan sesuatu yang tidak kuminta. Hanya sebuah lintasan konyol, meski hati kecilku menyebutnya cita-cita. Tapi aku tidak berani memintanya. Jika yang tidak kuminta saja Ia kabulkan, apalagi terhadap sesuatu yang kuminta. Sungguh, janji-Nya adalah benar untuk mengabulkan setiap permintaan hamba-Nya. Selalu dijawab-Nya dengan cara terbaik-Nya.

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu...” (QS. Al-Mu’min: 60)

Dan lagi...

Rasulullah Saw pernah menyampaikan sebuah Hadits Qudsi bahwa Allah Swt berkata, “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku pun akan mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam suatu jemaah manusia, maka Aku pun akan mengingatnya dalam suatu kumpulan makhluk yang lebih baik dari mereka. Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.” (Shahih Muslim No.4832)

Kau tahu, Kasih? Janji Allah itu selalu benar. Dan itu adalah tanda cinta-Nya untukku, untukmu, yang tak pernah dapat kita ukur.

Kau ingat, Kasih? Pada bulan yang sama setahun yang lalu, aku pernah bertanya padamu tentang target usiamu menikah. Kupikir kau akan mengatakan angka dua puluh lima. Sama seperti target usia yang ditetapkan oleh ibumu. Sama seperti usia saat Rasulullah Saw menikah dengan Khadijah Ra. Namun, kau mengatakan hal yang berbeda dari ekspektasiku. Kau bilang ingin segera menikah jika sudah memiliki pekerjaan yang settle. Yaah... karena pekerjaan yang kau geluti saat itu terhitung sebagai pekerjaan lepas, bukan? Kita baru akan mendapat bayaran jika proyek sudah selesai, itu pun jika dana proyeknya sudah cair. Dan terkadang kita bahkan tidak tahu berapa jumlah yang akan kita terima. Haha....

Aku pun mencandaimu, bertanya bagaimana jika ibumu tidak setuju. Mengapa tidak kau tetapkan saja angkanya menjadi dua puluh lima? Lalu kau menjawab dengan serius bahwa kau akan merengek agar ibumu ridho dan mengizinkan jika demikian. Sungguhkah? Mengapa kau ingin sekali segera menikah?

“Saya butuh partner, Kak,” jawabmu.  

Aku diam sesaat. Kau menyebutkan kata partner, itu seolah sedang membicarakan diriku. Karena aku sering sekali bercanda dengan menyisipkan kata tersebut dalam obrolan kita. Bukan aku berbesar rasa saat itu, tetapi ucapanmu sedikit membuatku terhentak, menumbuhkan secuil harap. Aku sama sekali sedang tidak memikirkan tentang pernikahan saat itu. Tidak memikirkan tentang kemungkinan bahwa kau adalah belahan jiwaku. Aku hanya senang meledekmu yang juga sangat sering meledekku. Aku sama sekali tidak berpikir bahwa mungkin aku bisa jatuh cinta. Namun kata-katamu mampu membuatku terdiam , walau sebentar. Yaa... sebentar doang. Kau tahu kan, aku sangat cerewet. Mana bisa aku diam lama-lama? Dan kau menepati kata-katamu tersebut. Tidak lama setelah kau memperoleh pekerjaan yang menurutmu settle, kau menikah dengan partner kerjamu yang bawel dan tidak pandai teknologi itu. Kau menikahiku. Kau tidak menyesal, kan?

Kekasih, jika dahulu aku adalah partner kerja, maka sekarang aku adalah partner hidup untukmu. Benar, kan? Untuk dunia dan akhirat. In Sha Allah.

***

Terima kasih Ya Allah, Kau kabulkan segala pintaku. Tak mengapa meski harus kulalui banyak jalan berliku. Dari-Mu, cerita itu selalu menjadi indah. Bukankah hujan sehari telah menghapus panas setahun lamanya? Dan anugerah-Mu, selalu menjadikan bibir ini kelu. Alhamdulillah... alhamdulillah... alhamdulillah....

Terima kasih Ayah, kau menepati janjimu hingga engkau menyerahkan urusan dunia-akhiratku pada suamiku. Kau melaksanakan tugasmu untuk mencarikanku seorang imam yang kau percaya mampu membimbingku. Kau beriku tidak hanya nafkah selama membesarkan dan menyekolahkanku hingga pendidikan tinggi, tetapi juga beribu nasihat baik dan kepercayaan hingga aku seperti sekarang ini.

Terima kasih Gugi, kau selalu berusaha menepati setiap janji yang terucap. Dan setelah janji yang kau ucapkan pada Allah dengan menjabat tangan Ayah, kuyakin kau pun akan selalu berusaha menepatinya hingga akhir hayat. Hingga jiwa-jiwa kita kembali bersatu nanti di akhirat. Di surga-Nya, mengumpulkan kita pada sebaik-baiknya tempat kembali. Aamiin....

“Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.” (QS. Ar-Rum: 60)

Terima kasih, kau mau menjadi kekasihku.

-the end-


SABAR DAN CINTA (2). Cinta Adalah Peduli

Jumat, 23 Oktober 2015



“Kau bisa memberi tanpa cinta, tetapi kau tidak bisa mencintai tanpa memberi.”
(Tere Liye )

***

Saat aku kecil, aku sudah pernah mendapatkan nasihat dari ibuku, tentang kebaikan hati laki-laki yang jangan selalu diartikan sebagai perhatian atau rasa suka. Kalau tidak salah saat itu habis nonton drama keluarga Taiwan jadul berjudul Belenggu Pintu Cinta.. atau Kekasih... apa Kasih Abadi ya? Ah, aku lupa.

 “Teh, laki-laki itu bersikap baik belum tentu dia memiliki perasaan khusus. Belum tentu suka. Bisa jadi itu karena memang sifatnya yang baik, karakternya yang memang perhatian dan suka menolong. Bisa jadi ia melakukan itu sama kepada semua orang. Jadi, jangan mudah jatuh hati. Jangan mudah ge er.”

Aku ditanamkan sejak kecil untuk berhati-hati terhadap kebaikan hati laki-laki. Berhati-hati agar tidak gampang jatuh hati. Bukan bermaksud untuk bersikap antipati, namun lebih untuk menjaga diri. Akhirnya aku dikenal judes jika baru pertama kali bertemu dengan orang yang tidak dikenal, terutama jika itu lelaki. Namun, karena aku tahu sikap judes itu kurang baik, aku mensiasatinya dengan lebih dulu menyapa dan bersikap ramah kepada orang lain, sebelum orang lain beramah-ramah duluan kepadaku. Soalnya kalau ada laki-laki yang lebih dulu ramah, nyapa, atau bahkan mau nraktir padahal belum kenal, aku biasanya jadi takut bahkan kabur. Padahal mah mungkin dianya hanya baik aja, biasa aja, tapi akunya yang serem.

Dan aku tumbuh sebagai wanita yang suka berbagai aktivitas kelelakian. Bertualang, memanjat pohon, naik-naik genting, bermain layang-layang, main kelereng, atau bermain bola. Aku terbiasa mendapatkan perlakuan yang melatih wanita agar tidak manja. Tiap kali dalam tugas kelompok sekolah yang mengharuskan anggotanya turun ke sungai, aku pasti ikut turun. Tiap kali mendapat pekerjaan yang bersifat ‘lapangan’, entah itu ukur-mengukur, panjat-memanjat, lari-berlari, aku pasti turut serta. Bagiku, jika itu bukan masalah prinsip antara tugas laki-laki dan wanita, maka tidak ada larangan bagiku untuk mengerjakannya. Tidak ada alasan bagiku untuk menghindari tanggung jawab tugas dengan dalih karena aku wanita. Atau mungkin sebenarnya gengsiku yang enggan dianggap lemah. Entahlah. Yang jelas, aku terbiasa untuk tidak membedakan tugas lelaki dan wanita jika itu tidak bertentangan dengan agama. Aku terbiasa memimpin, membagi tugas, dan mengambil keputusan sejak duduk di sekolah dasar.

Sikap kerasku kepada diri sendiri kuakui tidak selalu berdampak baik. Salah satu dampak tidak baiknya adalah fitrah kewanitaanku yang tidak bisa dibohongi, akhirnya justru membuatku mudah jatuh hati pada kebaikan hati lelaki yang bersikap tulus membantu dan menolongku. Kau tahu, Kekasih? Kau pernah membantuku membawakan tas ranselku yang super duper berat oleh laptop dan buku-buku pada suatu hujan lebat di sore hari. Kau berpayung, aku pun membawa payungku sendiri. Tetapi kau tetap menghampiriku dan menawarkan diri untuk membawakan ranselku. Pedulimu. Mungkin bagimu itu biasa saja. Tapi aku tidak.

Saat sepatuku basah kuyup karena hujan, kau menawarkan sandal besarmu untuk kupakai agar aku tidak masuk angin. Saat kakiku kram karena kedinginan, kau menawarkan diri bertukar motor, sehingga aku menggunakan motor matic-mu, sementara kau mengendarai motorku yang bergigi. Saat aku tampak kesulitan menggunakan motor pinjaman teman karena tidak terbiasa, kau pun kembali menawarkan diri untuk bertukar motor. Pedulimu. Mungkin bagimu itu biasa saja. Tapi aku tidak.

Saat kau dan Agit membantuku mengangkat meja dan kursi di rumahku, membantuku mengangkat dan memasang galon yang berat, membagiku roti atau menawarkan gorengan saat di kantor. Pedulimu. Mungkin bagimu itu biasa saja. Tapi aku tidak.

Saat aku belum mengerti cara mengoperasikan microsoft office secara efisien, lupa rumus-rumus microsoft excel saat hendak mengolah data, atau belum tau cara unik mengubah tampilan microsofft power point sehingga lebih menarik dalam waktu singkat, kau yang mengajariku. Bukan sampai aku bisa, tetapi sampai aku bersedia mengubah pola pikirku saking seringnya kau berkata, “Teknologi itu ada untuk memudahkan manusia, Ka Najmi...” dengan tatapan meledek. Yaah... akhirnya aku bisa. Bukan karena kau yang mengajari. Tetapi karena kata-katamu yang mendorongku untuk mau belajar lagi. Mungkin bagimu itu biasa saja. Tapi aku tidak.

Aku terharu.

Aku selalu terharu setiap kali menerima kebaikan orang. Laki-laki maupun perempuan. Dan terhadap setiap kebaikan yang pernah kau berikan padaku, aku berusaha untuk menganggapnya biasa saja. Karena aku tahu, kau pun melakukan hal sama terhadap yang lainnya. Benar, kan?

Namun kenyataannya, hatiku tidak mengaggapnya biasa saja. Aku yang terbiasa mandiri dan melakukan berbagai pekerjaan sendirian, seolah tersadar kalau aku ini wanita, tiap kali kau menawarkan bantuan dan menolongku. Dan begitulah reaksi kimia cinta bekerja. Ibuku sudah jauh hari sejak zaman azali memperingatkanku untuk tidak mudah jatuh hati. Tapi aku tetap jatuh hati. 

Kepedulianmu yang meluluhkan hatiku. Kebaikan spontanmu yang menumbuhkan penghargaanku padamu. Berkali-kali aku menepis rasa ge-er yang berpotensi mencuatkan harap, berkali-kali juga aku gagal. Kekasihku, ini bukan salahmu. Salahku yang menganggap diriku terlalu kuat. Nyatanya tidak. Mungkin bagimu segala perhatian dan kebaikan itu biasa saja. Tapi aku tidak.

Saat aku mengalami kecelakaan motor di depan kantor dan nyaris terlindas mobil, kau adalah orang pertama yang keluar dari pintu kantor dan berlari menghampiriku. Mengapa harus dirimu? Kau mengambilkanku air hangat untuk meredakan shock yang kualami. Orang-orang lain juga membantuku. Ada yang memasakkan air hangat untuk mengompres luka, ada juga yang membelikan kapas dan obat luka. Tetapi kau yang pertama berlari keluar kantor dan menghampiriku, memastikan aku baik-baik saja. Dan itu yang kuingat. Pedulimu.  Mungkin bagimu perhatian itu biasa saja. Tapi aku tidak.

Kau tahu, Kasih? Pada satu fase yang kau ketahui karena aku beritahu... maksudku pada saat aku pernah memberitahukanmu suatu hal sehingga engkau jadi tahu. Saat itu adalah masa aku hampir berputus asa pada hidup. Sempat terlintas dalam pikirku untuk berhenti kuliah karena sesuatu hal. Lalu kau menawarkan pekerjaan untukku. Lalu aku menerima tawaran tersebut karena kupikir bisa membantuku menyibukkan diri dan mencegahku bertindak bodoh atau melakukan hal-hal tidak berguna. Lalu kau menceritakan sesuatu hal sehingga aku mendengarkan ceritamu. Lalu kau minum, tapi aku tidak ikut minum. Lalu kau mengakhiri ceritamu. Lalu kau memakai jaket, hendak pergi dengan sok gaya sambil berkata, “Be strong!”

Pedulimu. Mungkin bagimu itu biasa saja. Tapi aku tidak.

Ceritamu mampu membuatku kembali bersemangat memasak setelah kurang lebih satu bulan aku tidak menyentuh dapur. Bagiku, memasak adalah tanda hatiku senang. Dan kata-katamu menjadi satu titik balik untukku tetap melangkah maju. Aku bisa bersemangat lagi untuk melakukan sesuatu.

Aku tidak berpikir macam-macam saat itu. Kita belum lama kenal. Namun, aku sungguh bersyukur Allah mempertemukanku denganmu dan memberiku kesibukan bekerja. Kau tidak menghakimiku atas segala keburukan yang kumiliki. Kau tidak mengguruiku seolah-olah aku tidak dewasa dan butuh diberitahu pelajaran dasar. Kau peduli. Dan pedulimu yang membuatku lambat laun jatuh hati.

Kekasih, ini bukanlah salahmu. Aku jatuh hati. Bukan karena kau yang membuatku begitu. Tetapi Allah Yang Maha Pemberi yang menganugerahkan rasa ini padaku. Padaku yang sulit jatuh cinta. Padaku yang lebih sering judes kepada laki-laki, alih-alih bersikap ramah. Padaku yang memiliki ego sangat tinggi.

Aku jatuh hati padamu. Pada pedulimu. Pada kebaikan-kebaikanmu. Namun tidak mungkin bagiku untuk mengatakannya. Akhirnya aku hanya menganggapmu sebagai seorang yang begitu kuhargai dan kusyukuri. Terkadang jika aku rindu, aku akan menganggapmu pahlawanku. Dan tidak pantas rasanya seorang aku jatuh cinta pada pahlawannya sendiri. Kau terlalu tinggi untuk itu. Jadi aku diam saja. Tetapi, hatiku berontak. Hatiku berharap lebih untuk bisa bersama dengan pahlawannya itu. Meskipun logika selalu mengejek. “Da aku mah apa atuh!”

Aku tidak pantas untuk bersanding denganmu. Tapi aku ingin mendampingimu. Manusia itu aneh terkadang. Apa yang dibilang sama otak, suka berlainan dengan apa yang dirasa oleh hati. Ya sudah, jadi aku sabar saja. Sabar hingga Tuhanku Yang Maha Berkehendak menurunkan keputusan-Nya. Kau tahu, Kasih? Pasal satu, Tuhanku tidak pernah salah. Pasal dua, kalau aku merasa Ia salah, berarti harus kembali ke pasal satu. Tuhanku tidak pernah salah. Dan Ia pasti memberiku keputusan terbaik-Nya. Dan pasti itu adalah yang terbaik. Jadi kata-Nya, aku harus bersabar. Jadi aku pun bersabar. Hingga tiba waktunya. Hingga saatnya aku tahu, ternyata kaulah kekasihku. Terima kasih karena telah melamarku.   
“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah:153)

“Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas.” (QS. Ad-Duha:5)

-to be continued-